Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Bersikap


__ADS_3

Dari jarak yang tidak begitu jauh, Mawar memicingkan matanya mengamati Arka dari kejauhan.


"Mas Arka? pelukan sama siapa?" gerutu Mawar.


Tanpa berpikir panjang Mawar turun dari mobil dan menghampiri mereka.


"Mas Arka." Ucap Mawar sedikit tegas.


Dengan tangan lembutnya Mawar melepaskan pelukan Sherly.


"Ih biasa dong jangan kasar." Protes Sherly.


Mawar menghela nafas dengan kasar.


"Mawar kamu ngapain turun dari mobil, kamu kan lagi sakit." Ujar Arka.


"Aku lebih sakit kalo lihat suami aku dipeluk wanita lain." Tegas Mawar.


"Mas Arka aku ikut ya, soalnya aku gak bawa kendaraan." Tutur Sherly dengan manjanya.


Arka terbelalak dengan ucapan Sherly itu, ia tak menyangka Sherly akan senekat itu di depan istrinya.


"Yaudah Mas, kamu anterin Sherly pulang aku bisa naik taksi." Desis Mawar.


"Oh kalo gitu bagus, biar aku bisa berduaan sama kekasih aku." Ucap Sherly.


"Oke, silakan." Mawar beranjak melangkah kakinya namun Arka menahan tangannya.


"Masuk ke mobil, kamu jangan dengerin Sherly." Ujar Arka.


Sherly tampak kesal dengan ucapan Arka itu, ia sama sekali tidak dipedulikan lagi oleh mantan kekasih yang masih ia harapkan itu.


Mawar menatap sinis Sherly lalu pergi ke mobil.


Setelah selesai membeli nasi kuning, Arka hendak masuk ke mobil namun Sherly memaksa untuk masuk ke dalamnya.


"Sherly kamu apa-apaan sih, malu tahu dilihat orang!" bentak Arka.


"Terserah kamu Mas Arka pokoknya aku ikut!" ucap Sherly lalu masuk ke dalam mobil.


Melihat itu Arka pun segera menyusul masuk.


"Sherly sekarang kamu turun!" titah Arka.


"Gak!" ucap sherly.


Mawar tampak diam tak lagi bersuara, ia tak ingin menghabiskan energinya untuk berseteru dengan Sherly.


"Turun!" ucap Arka lagi.


"Gak mau Mas! kamu mau anak kamu kenapa-kenapa kalo aku jalan sendirian!" ujar Sherly.


"Udah Mas, gak usah ribut aku pengen cepet-cepet pulang, pengen istirahat. Lagian ini masih suasana lebaran gak enak kalo kamu paksa dia keluar." Tandas Mawar.


Dengan terpaksa Arka melajukan mobilnya.


**


Akhirnya mereka sampai ke depan rumah Sherly.

__ADS_1


"Turun." Ucap Arka dingin.


"Hm, makasih ya ayah dari anak-anakku. Oh iya kamu gak mau mampir dulu sekalian ajakin istri terpaksa kamu ini?" ucap Sherly.


"Udah cepetan turun!" tegas Arka.


Sherly pun turun dari mobil Arka tak lama setelah itu Arka langsung menancap gasnya lagi.


"Kamu mau sampai kapan Mas kaya gini?" tanya Mawar.


"Gini? gimana maksud kamu?" tanya Arka.


"Ya, hidup dalam bayang-bayang Sherly."


"Biarin aja lah dia mau bersikap seperti apa, yang jelas aku yakin itu bukan anak aku." Balas Arka.


"Kamu gak bisa gitu Mas, semuanya harus jelas. Aku yang risih loh digangguin Sherly terus." Tegas Mawar.


"Ya aku harus gimana, aku gak bisa membuktikan apa-apa karena mau tes DNA pun anak itu masih dalam kandungan, mau gak mau aku harus nunggu sampai anak itu keluar."


"Udah gila ya kamu Mas? nunggu waktu selama itu? santai banget sih hidup kamu, kamu lupa kalo mama itu belum tahu soal masalah ini? kalo sampe dia tahu gimana?" ucap Mawar.


"Mama gak bakalan tahu kalo kita gak ngomong." Balas Arka.


Mawar diam tak mau lagi menjawab pernyataan Arka.


***


Di sisi lain Sherly tampak senang karena berhasil mengganggu momen berdua Arka dan Mawar.


"Lihat aja kamu Mas, aku bakalan bikin rumah tangga kalian hancur. Aku bakalan bongkar soal kehamilan aku ini sama mama kamu." Ucap Sherly dengan senyum iblisnya.


**


"Nih makan." Ucap Arka memberikan 2 bungkus nasi kuning kepada Mawar.


"Kamu gak makan Mas?"


"Gak mood, gak level juga makan di pinggiran kaya gitu." Ketus Arka.


"Terus ngapain beli 2 kan aku gak mungkin habisin semuanya."


"Buang aja sih kenapa bawel banget." Ujar Arka.


"Gak boleh tahu buang-buang makanan, orang lain banyak yang lebih membutuhkan daripada kita."


"Yaudah terserah, aku cape mau istirahat." Ujar Arka meninggalkan Mawar yang sedang menyantap nasi kuning itu.


Selesai makan Mawar membawa nasi bungkus itu keluar rumah dan mencari pemulung yang sering lewat depan rumah.


Lalu ia melihat seorang anak kecil berkulit putih seperti orang bule sedang mengkoreh-koreh makanan di tong sampah.


"Dek? kamu ngapain?" sapa Mawar.


Anak itu hanya menggelengkan kepalanya, Mawar langsung menghampirinya.


"Kamu laper? ini kakak punya 1 nasi bungkus buat kamu." Ucap Mawar.


Anak laki-laki itu berusia 5 tahun, masih sangat kecil untuk hidup sendiri di dunia yang sangat keras ini.

__ADS_1


"Makasih kakak." Ucap anak itu.


"Masuk dulu yu ke rumah kakak." Ajak Mawar.


"Enggak, aku harus pulang soalnya temen-temen aku nungguin mereka pasti laper." Balasnya.


Hati Mawar seolah teriris mendengar pernyataan anak malang itu.


"Ya udah, kamu ikut kakak pulang nanti kakak beliin makanan yang banyak buat temen-temen kamu." Ucap Mawar.


"Gak usah kakak cantik, ini aja udah cukup buat bareng-bareng."


Mawar tersenyum tipis mendengar ucapan anak laki-laki itu.


Tanpa ia sadari Arka sedang mengamatinya di balik gerbang.


"Oh iya nama kamu siapa?" tanya Mawar.


"Nama aku Adit."


"Oh Adit, yaudah ayo masuk ke rumah kakak." Ajak Mawar.


"Ehemm, Mawar kamu ngapain di sini?" tanya Arka basa-basi


"Mas Arka? bukannya Mas mau tidur?"


"Aku tadi turun nyari kamu ternyata di sini."


"Ini Mas, aku ketemu Adit tadi dia lagi nyari makanan di tempat itu aku kasih aja nasi bungkus tadi."


"Oh gitu, yaudah Adit sekarang itu kita ya ke rumah nanti om beliin kamu es krim." Ucap Arka.


"Es krim? es krim itu apa kak?" tanya adit polos.


Mendengar pertanyaan itu Mawar dan Arka saling bertatapan.


Adit memang tidak tahu banyak tentang makanan karena ia terbiasa hidup susah.


"Eu sayang es krim itu makanan yang manis dan dingin, enak pokoknya. Kamu mau kan?" ujar Mawar.


Adit menganggukan kepalanya.


"Kamu gak usah ikut ya biar aku sama Adit aja, kamu istirahat kamu kan lagi sakit." Ucap Arka pada Mawar


"Mas, aku ini udah sehat kok, aku pengen jalan-jalan bertiga sama kamu sama Adit."


"Enggak, pokoknya kamu tidur. Istirahat." Balas Arka.


"Ayo Adit ikut om." Ajak Arka.


Adit pun mengikuti mereka sampai ke rumah.


"Wahh ini rumah om, besar sekali kayanya kasurnya di dalam empuk." Tutur polos Adit.


"Ayo Adit masuk mobil kita beli semua yang kamu mau, dan kamu Mawar ayo masuk kamar istirahat."


"Iya Mas, aku titip Adit ya jangan kamu galakin." Ucap Mawar.


"Iya iya, baru juga ketemu beberapa menit yang lalu udah kaya anak sendiri." Gerutu Arka.

__ADS_1


__ADS_2