
Setelah menolak mediasi akhirnya Mawar dan Arka resmi bercerai. Ya, tidak ada yang suka dengan perceraian namun siapa yang mampu bertahan dengan laki-laki seperti Arka.
Tuhan memang membenci perceraian tapi ia tidak pernah mengatakan membenci umatnya yang bercerai.
Mawar merasa lebih lega karena resmi berpisah dengan Arka, ia berjanji pada dirinya akan merawat anaknya dengan sebaik mungkin.
sampai saat ini Arka dan Rita belum tahu kalau salah satu anak Mawar selamat. Mawar tahu Arka adalah ayahnya namun Arka tidak pantas disebut seoran ayah jadi ia memutuskan untuk tidak memberi tahu keluarga Rita soal itu.
**
Mawar duduk di kantin rumah sakit dengan tatapan kosong tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Aku cariin ternyata di sini," tutur Langit.
Mawar tersenyum tipis. "Kenapa?"
"Aku tahu kamu cape ya sama semua ini, pulang dari pengadilan kamu harus ke rumah sakit."
"Kalo cape namanya juga manusia, tapi aku jalanin aja semua ini sesuai skenario Tuhan," tutur Mawar.
"Saking cape nya sampe lupa ngasih nama sama anak kamu ya?" goda Langit.
Mawar tercengang seolah diingatkan. "Astaga iya ya? Aku sampe lupa nyari nama yang baik buat anak aku,"
"Tenang aja, aku udah punya nama yang bagus buat dia,"
"Oh ya? Apa namanya?"
__ADS_1
"Matteo Dewantara," jawab Langit.
"Gak usah pake Dewantara deh,"
"Kamu jangan gitu dong, bagaimana pun anak kamu itu ada darah keluarga Dewantaranya,"
"Ya emang, tapi anak aku gak pernah diharapkan sama ayahnya sendiri jadi buat apa pake nama belakang itu?"
"Kamu yakin mau nutupin ini semua dari Arka dan mamanya?"
"Iya, aku yakin kok. Dari awal hamil sampe melahirkan aku berjuang sendirian tanpa andil mereka jadi buat apa mereka tahu soal ini?"
"Tapi kan mertua kamu itu baik Mawar, kamu yakin tega sama dia?"
"Mungkin suatu saat aku bakalan temuin mertua aku, tapi bukan sekarang waktu yang tepat. Mental aku baru dibangun dan aku belum siap menghadapi sesuatu yang buruk lagi," ucap Mawar.
Mawar membalas pelukan itu. "Makasih kamu selalu ada buat aku," ujar Mawar.
Mereka berpelukan beberapa saat sampai akhirnya saling melepaskan.
"Ya udah ke ruangan Matteo yu, kayanya ada kabar baik hati ini,"
**
Hari ini dokter melepaskan semua alat yang ada ditubuh Matteo. Beratnya sudah 2,8 kilogram.
"Hari ini anak ibu sudah bisa dibawa pulang, organ tubuhnya semua sehat dan normal dan juga beratnya juga sudah cukup," ucap dokter.
__ADS_1
Mawar berkaca-kaca mendengar itu semua, di saat pengadilan mengeluarkan keputusan di hari yang sama anaknya sudah sehat.
"Terimakasih Dok, makasih," ucap Mawar senang.
"Sama-sama Bu, selamat atas buah dari kesabaran Ibu. Silakan digendong anaknya,"
Mawar segera menggendong Matteo, ini pertama kali baginya. Meskipun dokter sempat memberi izin untuk Mawar menggendongnya tapi Mawar belum berani karena takut menyakiti anaknya.
"Ya ampun anak Bunda," ucap Mawar.
"Kalau begitu saya permisi Bu," ucap dokter.
"Iya Dok, sekali lagi terimakasih."
"Aku seneng lihat kamu ceria kaya gini," ucap Langit.
"Makasih kamu selalu jagain aku," ucap Mawar.
"Eu kamu mau pulang ke rumah kamu itu?" tanya Langit.
"Hmm gak tahu, kayanya Mas Arka gak akan berhenti gangguin aku,"
"Ya udah kamu pulang ke rumah aku aja gimana?" tanya Langit.
"Hmm, enggak deh. Masa pulang ke rumah yang bukan mahrom,"
"Ya udah ayo sah in," goda Langit.
__ADS_1
"Ih Langit apaan sih aku baru aja resmi cerai kamu udah godain aku kaya gitu," ucap Mawar tersipu malu.