Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Karma itu ada


__ADS_3

Arka terburu-buru pulang ke rumah Rita dengan perasaan campur aduk takut Mawar membocorkan semua kebusukannya pada Rita.


"Ma, Mama buka pintunya!" teriak Arka dari luar.


Tak lama Rita pun keluar dan membuka pintu, "Ada apa sih Arka teriak-teriak bikin kuping Mama sakit!" omel Rita pada anak semata wayangnya itu.


"Mawar mana Ma? Pasti dia udah ngomongin aku yang jelek-jelek, plis Ma dengerin aku dulu Jenni itu cuman sekertaris aku yang baru kita gak ada hubungan apa-apa kok. Mama tolong percaya ya sama aku," ujar Arka tanpa jeda.


Rita memijat keningnya sebentar. "Arka kalo ngomong itu pelan-pelan bisa gak sih Mama pusing dengernya!" ujar Rita.


"Pasti Mawar ada di sini kan, dia pasti udah ngadu ke Mama yang enggak-enggak Arka yakin dan Mama pasti lebih percaya dia," ucap Arka.


"Mawar dari pagi juga gak ada ke sini, oh gitu ya kamu sama aja membongkar keburukan kamu sendiri di depan Mama. Apa yang udah kamu lakukan lagi Arka jawab Mama!" bentak Rita.


"Ma kita masuk dulu ya, Arka jelasin semuanya di dalam." Ucap Arka.


Namun Rita menghalangi anaknya untuk masuk ke rumah paling mewah itu. "Kamu gak boleh masuk sebelum jelasin semuanya ke Mama, perbuatan apa lagi yang kamu lakukan Arka!" tegas Rita.


"Ma, Arka cuma terima sekertaris baru udah itu aja dan kebetulan sekertarisnya itu perempuan," ucap Arka.


"Dan bodohnya kamu gak jujur sama Mawar iya kan Arka? Kamu diam-diam menerima sekertaris itu makannya Mawar marah?" sarkas Rita.

__ADS_1


"Mawar itu keterlaluan Ma, cuma masalah kaya gini dia ngambek di depan semua orang di restoran Arka malu dilihatin orang-orang,"


"Kenapa dia bisa marah sama kamu di depan banyak orang Arka? Apa jangan-jangan kamu lagi berduaan sama sekertaris baru kamu itu kan?" tegas Rita.


"Apa salahnya sih Ma, Arka lagi ada meeting sama klien wajar dong kalo Arka duduk berdua sama Jenni di restoran itu?"


Plak.. satu tamparan mendarat di pipi Arka. "Keterlaluan kamu Arka! Semua hal bodoh kamu wajarkan, perempuan sesabar Mawar bisa marah di depan banyak orang mungkin karena dia sudah tidak tahan dengan perilaku kamu itu!" teriak Rita.


Arka menyentuh pipinya yang terasa panas karena tamparan Rita. "Ma! Kenapa sih Mama selalu belain menantu Mama itu padahal belum tentu dia bener! Asal Mama tahu Arka itu cape nikah sama dia, Arka gak bisa jadi diri sendiri, semuanya harus Arka tahan demi mempertahankan dia. Mungkin ya awalnya Arka emang gak bisa kehilangan dia tapi setelah Arka kembali menjalani semuanya Arka malah merasa kehilangan diri sendiri!" tegas Arka.


"Jadi selama ini kamu gak merasa bersalah sudah berbuat banyak salah sama istri kamu Arka? Mama gak habis pikir sama tingkah laku kamu ini, papa dan kakak kamu selalu setia pada satu wanita mereka bisa menghargai wanita tapi kamu sebenarnya apa sih yang ada di otak kamu itu!!" teriak Rita.


"Jangan harap kamu bisa pulang ke rumah ini, kamu pulang ke rumah istri kamu selesaikan masalah kalian!" tegas Rita.


"Buat apa? Dia juga bilang dihadapan semua orang kalo dia udah gak mau jadi istri Arka lagi," jawab Arka dengan santainya.


Rita menghela nafas sejenak. "Dan kamu terima begitu aja apa yang istri kamu bilang?" tanya Rita.


"Ya jelas, dia udah mempermalukan Arka di depan banyak orang buat apa pertahanin istri kaya gitu?" ucap Arka.


"Oke kalo kamu mau pisah sama Mawar, kamu jangan pernah pulang ke rumah ini lagi. Hidup sesuka hati kamu Arka dan jangan datang lagi ke kantor biar Mama yang handle semuanya!" tegas Rita.

__ADS_1


Lalu menutup pintu dengan keras. Arka berusaha masuk namun Rita sudah lebih dulu menguncinya.


"Ma, buka pintunya Ma. Ini semua gak adil buat Arka, Mama gak berhak ikut campur masalah rumah tangga Arka Ma!!" teriak Arka dari luar, namun sama sekali tidak digubris oleh Rita.


**


Sementara itu Mawar sedang disuapi oleh Mirna, kakaknya. "Bentar lagi kakak pulang ya, maaf gak bisa nginep jagain kamu soalnya suami kakak baru pulang dari luar kota maaf ya Mawar," ucap Mirna tak enak hati pada adiknya itu.


"Gapapa kok, lagian nanti ada suster yang nemenin aku Kak," jawab Mawar.


Langit mengetuk pintu ruangan dari luar lalu masuk. "Langit mba titip Mawar ya sama kamu, tolong banget jagain dia soalnya mba mau pulang," pinta Mirna.


Mawar melirik Mirna dengan tatapan kode agar tidak meminta bantuan pada Langit karena sudah terlalu banyak bantuan dari Langit.


"Oiya mba tenang aja, aku juga udah beres kerjanya tinggal pulang tapi kayanya jam pulang aku pake nungguin Mawar aja di sini," jawab Langit.


"Gak usah deh, aku bisa kok sendirian di sini," tolak Mawar.


"Mawar, tolong ya jangan keras kepala." Ujar Mirna.


..

__ADS_1


__ADS_2