Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 117


__ADS_3

Laras mempertajam pendengarannya saat mendengar isakan dari kamar Tiwi. Dia melihat jam tangannya. Udah hampir jam satu. Kenapa Tiwi menangis ?


Akhirnya dia melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk minum. Kemudian kembali kekamarnya.


*****


Laras membawa nampan berisi satu teko kopi jahe dan beberapa gelas. Meletakkannya di atas meja dimana keluarganya tengah berkumpul. Diluar sedang hujan. Rencana untuk jalan-jalan akhirnya diurungkan.


" Sekolah mereka bertambah jauh ya Ryan. " keluh Bram.


" Iya Pi. Tapi ada gojek kok. "


" Pi,, kenapa gak beli aja elf biar bisa dipake antar jemput sekolah mereka ? " usul Laras seraya membagikan gelas yang sudah diisinya dengan kopi jahe.


" Makasi Ras. "


" Boleh juga itu Bram. Mereka jadi lebih aman juga."


" Terima kasih. Apa boleh adik-adik saya bekerja di perkebunan ? "


" Ryan. Kami bukannya tidak memperbolehkan. Hanya saja, adik-adik kamu masih kecil. "


" Tapi adik-adik saya sudah biasa bekerja."


" Ryan. Bukannya bermaksud melaraang. Tapi, Papi Bram benar. Mereka bisa kena pasal eksploitasi anak."


" Ada pasal seperti itu Kak ?"


Laras mengangguk.


" Mereka kan dulu kerja untuk biaya hidup mereka. Sekarang kan kehidupan mereka lebih baik. Biarkan mereka mengerjakan tugas mereka. Belajar. " tegas Nenek.


Ryan menunduk mengerti.


" Kalo sekedar sesekali membantu memetik bunga-bunga bisa aku ijinkan. Tapi tidak untuk bekerja." tegas Sekkar.


" Terima kasih Mi. " jawab Ryam sumringah.


" Lagipula bulan depan kita akan sedikit merepotkan mereka." celetuk Damian.


" Apa maksud kamu Damian ?"


" Mama tanyakan saja sendiri pada Laras. "


" Ada apa Ras ?"


Laras tersenyum keki saat semua mata memandangnya.


" Aku ingin akad nikah di masjid ini Ma. "


" Aku juga. " seru Azka senang.


" Aku juga. Interior dan designnya keren. Di Jakarta gak ada masjid seperti ini. " puji Mei.


" Hanya akad nikah ya. Resepsinya tetap diadakan di Jakarta. " tegas Pratama.


" Tapi, disini juga bagus lho Pa. Bisa sekalian untuk mempromosikan agrobisnis dan juga penginapan Papi Bram. "


" Tidak perlu Ras. Penginapan ini sudah ramai tanpa harus dipromosikan lagi. Papi setuju resepsinya tetap di Jakarta. " tegas Bram.


Laras mengerucutkan bibirnya kesal. Damian tertawa melihatnya.


" Ayolah Ras. Kamu tahu sendiri. Disini sering hujan. Pokoknya tetap diJakarta ya. " pinta Nico.


Laras menghela nafas sejenak.


" Mau gimana lagi. Setuju atau gak, tetap aja harus diadakan di Jakarta. Dan alasannya,, bukan karena hujan. Tapi karena nanti pengawalannya gak bisa maksimal kan. "


Bram, Nico dan Pratama tertawa mendnegarnya.


" Seperti biasa kamu memang peka sayang. " gurau Damian.


" Kami akan segera menyiapkannya. " kata Bram dan dijawab anggukan oleh Sekar.


" Libatkan warga sekitar juga. " pinta Pratama.


" Pasti. " jawab Sekar.


" Ryan,, apa kamu gak minta Papi untuk melamar Tiwi pada Papi Bram ? Bisa sekalian juga pernikahnnya nanti. " tanya Nico.


Ryan yang baru saja minum menjadi tersedak. Apalagi semua mata tengah beralih padanya. Dia melihat Tiwi yang menunduk malu. Sedangkan Joe dan Mei hanya tertawa melihatnya.


" Apa,, boleh Pi ?" jawab Ryan gugup sembari mengeluarkan cincin dari dompetnya.


" Wahh,, bahkan sudah menyiapkan cincinnya. " goda Laras dan menoel hidung Tiwi agar mendongak.


" Kak Laras ih,, " gumam Tiwi malu.


" Bram,, gimana ini ? Aku mewakili anakku Ryan. Apa kamu mau menerimanya ?"


" Tentu saja. Kalo Tiwi menerimanya. Gimana Wi ?"


Tiwi melihat Bram dan Nico bergantian kemudian mengangguk.

__ADS_1


" Terima kasih. " jawab Ryan sembari menyerahkan cincin itu pada Bram.


" Kenapa diserahkan padaku. Yang akan menikah kan kalian. "


Ryan menunduk malu dan mendekat ke arah Tiwi yang ditarik Azka agar berdiri. Kemudian mereka kembali duduk.


" Nanti akan aku bicarakan dengan Bu Sasi. " kata Nico saat Ryan tengah melihat ke arah panti asuhan.


" Itu,, Pi,," kata Ryan ragu.


" Ada apa ?" tanya Bram.


" Bisakah kami hanya akad nikah saja yang bersamaan dengan pernikahan kakak- kakak ? "


" Maksudnya ?" tanya Nico tak mengerti.


" Kak Ryan benar. Akad nikahnya saja yang bareng Pi."


" Kalian mau resepsi pernikahan disini ?" tebak Pratama.


" Iya Pa. " jawab Tiwi dan Ryan bersamaan.


" Kalian yakin ?" seru Nenek.


" Biar kami tetap bisa melakukan tugas kami untuk mengawal Kak Joe dan Kak Laras. " jawab Ryan dan Tiwi kembali bersamaan. Hingga keduanya menoleh kaget.


" Wahhh,, kompak sekali. " puji Azka.


" Terima kasih. Tapi, kalian tidak perlu melakukannya." jawab Laras


" Kami sudah membicarakan ini jauh sebelumnya. Kami inngin menjadi pengawal pribadi saat pernikahannya nanti. " jawab Tiwi.


Laras dan Joe saling berpandangan. Kemudian menatap Ryan dan Tiwi penuh terima kasih.


" Baiklah kalo memang itu sudah menjadi keputusan kalian." sahut Pratama.


" Terima kasih. "


*****


Setelah makan siang, Nico menemui Bu Sasi bersama Valencia dan Ryan. Kemudian Bram dan Sekar menyusulnya. Bu Sasi pun sangat senang mendengarnya. Karena dia tak harus pergi ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan anaknyaa nanti.


Setelah membicarakan semua persiapan yang akan dibeli. Para tetua sudah kembali berada di penginapan. Mereka kembali membicarakan persiapan akad nikah dan resepsinya nanti.


Sedangkan, calon pengantin sudah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Damian sedang rapat virtual dengan Raka. Sam sedang telpon dengan orang tuanya mengenai akad nikah mereka nanti. Rey sedang telpon asisten yang menangani semua kebutuhan cafenya. Joe sendiri juga tengah mengecek email dari beberapa perusahaan Pratama.


Laras duduk diantaara Mahira dan Tiwi yang membawa satu novel miliknya begitupun dengan Mahira. Keduanya sama-sama konsentrasi pada novelnya.


" Iihhh,, Kak Laras. Aapaan sih. " gerutunya.


" Kalian ini yang apaan. Masa aku dicuekin sih. "


" Ini lagi seru-serunya Kak. " jawab Tiwi.


" Seru apanya. Buku itu biasa aja kok. "


" Itu karena Kak Laras yang nulis. "


" Hira,, udah dong baacanya. Kalian ini bisa-bisanya baca novel didepan penulisnya. "


" Lhoo memangnya kenapa ?"


" Tau nih Kak Laras. " gerutu Mahira.


" Kalian gak seru ah. "


" Aku telponin Kak Damian aja deh biar bisa kencan."


" Lalu,, apa kamu mau aku panggill Rey. "


" Jangan,, jangan,, dia lebih resek dari Kak Laras. "


" Oh iya Wi. Semalam aku denger kamu nangis. Kenapa ?"


" Karena Kak Laraslah. "


" Aku ? "


Mahira nampak terkekeh lucu.


" Aku tahu ! Pasti karena baca novel itu kan ?!" tebak Mahira.


" Iya Kak Hira. "


" Masa baca novel aja bisa sampai nangis. " sindir Astrid yang baru saja ke teraas.


" Iihh,, Tante belum baca aja. Coba baca Tante. Hira yakin Tante jadi nangis juga. "


" Oh iya ? Kalo gitu Tante bawa dulu Wi. "


" Ahh kan lagi seru-serunya Tante. "


" Tenang aja. Nanti sore aku kembalikan. " kata Astrid seraya beranjak keluar setelah menerima novel itu dari Tiwi yang terlihat cemberut.

__ADS_1


Laras tertawa kemudian menarik bibir Tiwi yang manyun.


" Bibirnya biasa aja dong. "


" Iihh Kak Laras,,!!" pekik Tiwi.


" Ada apa Wi ?" tanya Ryan yang tiba-tiba masuk karena mendnegar pekikan Tiwi.


Laras dan Mahira semakin tergelak melihat Tiwi yang kaget sembari menutup mulutnya. Lalu menggeleng cepat.


" Gak ada apa-apa Ryan. Kami hanya sedang bercanda saja tadi. " kata Laras.


Ryan mengangguk mengerti. Kemudian melihat novel yang dibawa Mahira. Sekilas nampak berfikir sejenak.


' Dimaana aku lihat novel itu ya,, eehhhmmm,, oh iya !! Si kembar Syakira dan Syakila !!! '


" Kenapa Ryan ? Kok senyum-senyum sendiri sih. Aneh deh. Hayooo lagi bayangin apa ?!" goda Mahira.


Ryan menggeleng cepat sambil menatap Tiwi yang juga tengah menaatapnya penuh selidik.


" Itu,, Kak Hira. Kakak juga punya novel itu juga ?"


Mahira mengangkat novel Laras.


" Ini ?? "


Ryan mengangguk.


" Kamu juga bacaa Kak Ryan ?!" seru Tiwi kaget.


" Bukan. Bukan aku yang baca. Tapi adik panti. "


" Oh iya ? Aku senang mendengarnya. "


" Kok seneng Kak Laras ? "


" Tentu saja. Karena Kak Laras penulisnya. "


" Benarkah Kak Laras ?? "


Laras tersenyum dan mengangguk.


" Si kembar pasti senang bisa bertemu penulis novel kesayangannya. "


" Si kembar ? "


" Iya Kak. Tujuh tahun yang lalu, ada yang menaruh dua bayi perempuan kembar didepan panti asuhan. "


" Astaghfiirullahaladzim. Kenapa sampai setega itu ?" keluh Laras hingga matanya berkaca-kaca.


Ryan mengangkat bahunya.


" Pertanyaan yang sama yang dulu pernah aku tanyakan pada Ibu panti Kak. Sewaktu Ibu memujiku karena prestasiku disekolah."


" Kak Ryan tanya apa ?"


" Kalo Ibu saja bisa bangga dengan prestasiku. Kenapa orang tuaku justru membuangku ?"


" Lalu,, Bu Sasi jawab apa Ryan ?" tanya Laras penasaran.


" Mungkin karena orang tuaku hatinya masih belum terbuka dan tidak bisa melihat prestasiku. "


" Gimana perasaanmu waktu itu ?"


" Kalo mau jujur,, sakit hati, bahkan lebih ke benci. Aku gak mau diadopsi. Aku hanya mau bersama Bu Sassi. Aku sudah berjnaji pada diriku sendiri. Untuk selalu menjaga Bu Sasi dan adik-adik panti. Aku sudah menganggap orang tuaku sudah meninggal. "


" Dan kamu sudah membuktikan baktimu Ryan. " puji Laras.


" Semua karena kebaikan Kak Laras dan juga keluarga Kak Laras. "


" Bukan karena kami. Tapi rejeki dari Allah."


" Si kembar,, kenapa dibuang Kak ? Maksudku,, pasti ada kekurangan mereka yang membuat orang tuanya malu untuk mengakui mereka. "


Ryan terdiam. Menunduk lebih dalam seolah tengah menyembunyikan sesuatu.


" Boleh aku minta tolong Kak Laras ?" tanya Ryan mengalihkan pertanyaaan.


" Iya. "


" Bisakah Kak Laras menanda tangani novel si kembar ? Mereka pasti senang. Mereka selalu menyisihkan uang untuk membeli novel Kak Laras. Bahkan mereka membaca novel itu sampai lima kali. Kak Laras pasti kaget kalo mereka sampai hafal setiap dialog di novel itu. "


" Benarkah ? Apa aku bisa bertemu dengan mereka ?"


" Benarkah ? Aku akan membawa mereka kesini. Sebelum kita pulang. Terima kasih Kak Laras. " seru Ryan kegirangan saambil berlari keluar dari penginapan. Meninggalkan ketiga wanita yang hanya melongo melihatnya kegirangan seperti anak kecil.


" Baru kali ini aku lihat wajahnya sesumringah itu. "


" Iya. Gak ada jaim-jaim lagi tadi. "


" Aku juga Kak Laras,, Kak Hira. "


Ketiganya saling berpandangan lalu sama-sama tertawa lucu.

__ADS_1


__ADS_2