
Fras berdiri di depan jendela apartementnya memikirkan apa yang harus ia katakan kepada bosnya itu. Ia ingin berhenti bekerja karena harus lebih fokus menjaga Sherly yang sedang hamil anaknya.
Laki-laki itu tak ingin Sherly terus berbuat jahat kepada siapa pun termasuk Mawar. Apa lagi Sherly sedang mengandung anaknya ia tak ingin anaknya menjadi jahat seperti ibunya.
"Kamu kenapa sih Fras kaya gelisah gitu?" tanya Sherly yang sedang duduk santai dengan perut buncitnya.
"Gapapa, aku keluar dulu kamu jangan kemana-mana." Tegas Fras.
**
Hari ini hari libur, Arka sedang sibuk menonton acara kesukaannya di laptop.
"Sayang?" panggil Arka pada Mawar yang sedang sibuk memasak.
"Apa?" jawab Mawar.
"Udah selesai belum? Sini deh temenin aku nonton," ujar Arka.
"Iya bentar,"
Setelah menyelesaikan masakannya Mawar mendekati suaminya itu. "Nonton apaan sih Mas?" ucap Mawar duduk di samping Arka.
"Bola sayang," jawab Arka singkat tapi lembut.
"Udah deh matiin laptopnya, bantuin aku nyuci emangnya kamu gak kasihan sama aku yang udah gendut gini. Kamu kok malah enak-enakan sih duduk santai di sofa," protes ibu hamil itu.
"Ya udah iya ayo nyuci, aku kan gak bisa nyuci. Emang gimana sih cara nyalain mesin cuci?" tanya Arka.
Sejak kecil Arka sudah terbiasa hidup enak, ia tak pernah menyentuh apa pun pekerjaan rumah.
"Kamu gak tahu cara nyalain mesin cuci? Aneh deh, selama ini kamu kemana aja?" tanya Mawar heran.
"Iya, makannya ajarin sayang. Haduh, kamu ini cepet emosi ya sekarang."
Di tengah perbincangan itu tiba-tiba saja ada yang mengetuk pjntu depan.
"Bentar ya aku buka pintu dulu," ucap Mawar.
Arka menutup laptopnya. "Gak usah, aku aja."
Arka melangkahkan kakinya menuju pintu setelah itu membukanya.
"Fras? Ngapain kamu pagi-pagi dateng ke rumah saya, hari ini kan libur kamu lupa?" tanya Arka heran.
__ADS_1
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan Pak," ucap Fras berusaha tenang.
"Oh ya udah ayo masuk."
Fras duduk di ruang tamu, sementara itu Arka memanggil istrinya.
"Sayang, ada Fras di depan. Aku ambilin dia minum dulu ya kamu duduk aja kasihan istri aku udah gendut susah jalan," ucap Arka.
"Mulai deh bikin kesel," ucap Mawar memajukan bibirnya.
**
"Ada perlu apa Fras sebenarnya kamu dateng ke sini pagi-pagi?" tanya Arka.
Fras menarik nafasnya dalam-dalam mengumpulkan energi agar tidak mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar oleh Arka dan Mawar.
"Jadi gimana Pak, saya mau berhenti bekerja sebagai sekertarus Bapak," ucap Fras pelan.
Mata Arka membulat medengar ucapan yang keluar dari mulut sekertaris handalnya itu.
"Apa? Berhenti? Kamu becanda?" ucap Arka tak percaya.
"Enggak Pak, saya serius dengan keputusan saya." Ucap Fras.
"Astaga, kenapa mendadak gini sih? Terus kerjaan kemarin gimana? Alasan kamu berhenti bekerja itu kenapa Fras, gaji kamu kurang saya naikin 5 kali lipat atau kamu mau 10 kali lipat saya sanggup," tutur Arka tegas.
"Bukan itu Pak, saya mau fokus sama Sherly yang sedang mengandung anak saya. Saya sering kecolongan sama sikap jahat dia, saya gak mau anak saya kenapa-kenapa karena ulah ibunya sendiri," ucap Fras.
"Kamu kan bisa sewa bodyguard buat jagain Sherly kenapa harus berhenti kerja, bukannya kamu ini sekertaris almarhum kakak saya? Kamu udah cukup lama loh kerja di perusahaan Dewantara." Ucap Arka.
Mawar berusaha menenangkan suaminya itu karena sudah mulai naik pitam.
"Saya rasa itu bukan keputusan yang tepat Pak, Sherly mengandung anak saya jadi saya harus jagain dia betul-betul." Ujar Fras.
Arka mengacak-acak rambutnya prustasi. "Terus gimana sama pekerjaan saya? Saya butuh sekertaris seperti kamu, cari sekertaris sebaik kamu itu susah loh. Kamu kalo gak kerja dan cuma urus Sherly gimana, emang kamu bakal selamanya punya uang?" tanya Arka.
"Soal itu saya bisa pikirkan nanti Pak yang pentig tabungan saya cukup buat sehari-hari," ucap Fras.
"Ya udah terserah, saya kecewa sama kinerja kamu."
"Ini Pak saya bawa surat pengunduran diri," ucap Fras.
"Kamu yakin sama keputusan kamu itu Fras?" tanya Mawar.
__ADS_1
"Yakin Bu, saya gak punya pilihan lain dan saya rasa ini keputusan yang tepat," jawab Fras.
"Oke terserah kamu Fras, pesangon kamu akan saya kirim nanti sore. Silakan keluar dari rumah ini, saya muak lihat kamu." Ucap Arka.
"Mas, jangan kaya gitu gak baik ngomongnya," ucap Mawar.
"Kalau begitu saya permisi," Fras pun hengkang dari rumah Mawar dengan perasaan lega karena telah mengambil keputusan itu.
Sementara itu Arka kelabakan harus bagaimana, pekerjaan yang menumpuk membuat dia harus mencari sekertaris pengganti.
"Aku harus cepet-cepet cari sekertaris pengganti sayang, aku gak mungkin bisa handle pekerjaan sendiri aku gak sepintar Mas Dika dulu," lirih Arka.
"Ya udah kamu cepet-cepet pasang banner lowongan pekerjaan aja Mas, nanti rapat dulu sama yang lain gimana baiknya." Ucap Mawar.
"Aku gak habis pikir deh sama Fras, bisa-bisanya dia ninggalin pekerjaan cuma demi perempuan ular itu."
"Perempuan ular yang kamu omongin kan pernah kamu sayang, kamu juga pernah nyakitin aku demi dia," tutur Mawar.
Arka menatap istrinya. "Udah deh sayang jangan bahas itu aku mohon ya,"
Mawar tersenyum tipis. "Ya udah enggak."
Melihat senyuman itu Arka menjadi ingin sesuatu dari Mawar.
"Sayang?" ucap Arka.
"Hem?" jawab Mawar.
"Aku minta itu boleh?" tanya Arka ragu.
Mawar yang mengerti dengan apa yang dipinta suaminya itu diam tak menjawab.
"Gak boleh ya?" tanya Arka.
"Aku takut kepala anak kita nanti dia keramas karena kamu," tutur Mawar polos.
Arka tertawa kecil. "Aku pelan kok sayang, lagi pula sejak dulu kita gak pernah lakuin itu lagi."
"Aneh deh tadi marah-marah karena Fras berhenti sekarang malah minta jatah," ucap Mawar.
"Itu kan obatnya, mau ya? Aku juga mau tengokin si kembar aku," goda Arka.
Mawar tertawa kecil sambil menatap mata indah suaminya itu.
__ADS_1