Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 121


__ADS_3

Persiapan resepsi pernikahan sudah 90%. Ballroom hotel A dipilih Astrid. Karena baik WO dan EO dari pihak hotel benar-benar berkualitas. Semua relasi bisnis pun diundang oleh Astrid dan Pratama.


Bagi relasi Pratama, ikut andilnya Praatama dalam pernikahan Laras dirasanya karena ingin membalas hutang budinya pada Laras yang mampu membuat perusahaannya bangkit dari keterpurukan.


Alibi itu tentu saja membuat Pratama sedih. Dia kembali ingin mengakui Laras dan Joe di khalayak. Tapi untung saja Laras bisa membuatnya mengerti.


" Pa,, Apa Papa lebih memilih perasaan Papa ketimbang reputasi perusahaan Dirgantara dan juga kehormatan Papa kedepannya nanti ?"


" Tapi,, Papa benar-benar sedih mendengar praduga mereka. "


" Apa yang Laras lakukan dulu gak ada artinya dong nanti Pa. Sudahlah Pa. Biarkan seperti ini. Aku dan Joe sudah sangat bahagia dengan situasi ini. Tidak perlu memikirkan praduga orang tentang kita. Karena kita yang menjalani bukan mereka."


Pratama menghela nafas panjang. Menunduk memikirkan apa yang terbaik.


" Pa,, Laras benar-benar bahagia dengan sikon sekarang. " tegas Laras.


" Apa boleh buat. Daripada kamu kepikiran dan sakit lagi nanti. "


" Kami menyayangi Papa tanpa harus ada pengakuan di mata masyarakat. Gak penting Pa."


Pratama memeluk Laras. Dan mengusap kepalanya. .


" Terima kasih Ras. "


" Apa kalian sudah siap ?" tanya Pratama saat melihat Azka dan Mei turun dan menyeret koper mereka. Begitupun dengan Ruly dan Prita. Ratih tengah menggendong Baby Al.


" Kita berangkat sekarang Pa ?" tanya Ruly.


" Iya. "


" Gimana dengan Papi Bram dan Papi Nico Pa ?" tanya Azka.


" Mereka sudah berada di penginapan. Begitupun dengan keluarga Rudy, Sam dan Astrid. Kita bertemu langsung di penginapan. "


" Baiklah. "


Mereka masuk ke mobil dan Ruly langsung mengemudikan mobilnya menuju penginapan di Bandung. Para tetua sudah merencanakan keberangkatan mereka tiga hari sebelum akad nikah. Sekalian datang untuk acara empat puluh hari si kembar yang pernah dijanjikan Pratama.


Laras membuka pesan chat dari Damian.


' Awas aja nanti disana pake acara sedih dan pingsan lagi. Aku benar-benar akan mengurungmu, sayang. '


Sudut bibir Laras tertarik ke atas. Kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela.


****


" Laras,, mau kemana ?" tanya Pratama sesampainya dipenginapan.


" Ke makam si kembar Pa. "


" Aku temani Mbak. " kata Joe yang sudah lebih dulu sampai.


" Ras. kita gak ikut gak apa-apa kan. " ujar Azka.


" Oke. Aku berangkat ya. Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Joe mengusap kepala Kakaknya sejenak. Membuat Laras mendongak heran.


" Kenapa ?"


" Kangen sama Mbak Laras. "


" Heemmm,, beneran cuman kangen ?"


Joe terkekeh. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah perkebunan.


" Mbak, trauma Mbak Laras,, "


Kalimat Joe menggantung, dia tidak berani melanjutkan kalimatnya.


" Entahlah. Selama ini Mas Damian kan hanya mengusap kepala dan menggenggam tanganku aja. Sebatas itu saja, dan selama ini baik-baik saja. "


" Lalu nanti ? "


" Aku pernah mendiskusikannya dengan Tante Anggi. "


" Apa kata Tante Anggi ?"


" Pelan-pelan saja. Membiarkan tubuhku beradaptasi dengan sentuhan Mas Damian. "


Joe manggut-manggut mengerti.


" Tentang infeksi rahim yang pernah dialami Mei. Aku harap kamu gak terlalu memaksanya untuk segera hamil. "


" Mbak,, kita sama-sama tahu. Kita berada ditengah-tengah wanita-wanita hebat dengan masa lalunya yang gak sempurna. Aku juga gak sesempurna itu hingga menuntut kesempurnaan istriku nanti."


" Alhamdulillah. Aku gak sadar adikku sudah sedewasa ini. Bahkan aku sekarang gak bisa mengusap kepalanya sekarang. "


Joe tertawa kemudian merangkul Laras.


" Jangan gini ah. Kita sedang berada di desa orang. Nanti dikiranya kita mau berbuat mesum."


" Kan sama kakak sendiri. "


" Kalo yang tahu. Kalo yang gak tahu ?"


" Iya,, iya,, habisnya tiap deket sama Mbak. Mata Bang Dami langsung aja melotot. "


" Bukannya terinspirasi sama kamu. "


" Kayaknya lebih akut daripada aku. "


Laras tertawa. Kemudian duduk didepan makam si kembar. Mulai membaca yasin dan tahlil sesuai dengan buku yang dibacanya. Begitupun dengan Joe.


*****


Acara empat puluh hari si kembar berjalan dengan lancar. Mereka sudah berada di penginapan. Untuk sementara. Bram memisahkan kamar pengantin wanita dengan mempelai pria. Para wanita ada dilantai atas. Dan mempelai pria berada di lantai bawah. Ditempatkam di satu kamar agar memudahkan untuk mengawasi mereka. Tetap harus dipingit.


" Kalo bukan karena Kak Laras. Kita gak mungkin berada di satu kamar ini sekarang. " gurau Mahira.


" Betul,, !!" ujar Azka.


Tentu saja Laras hanya tertawa.


" Sampai aku jadi ikut terseret. " keluh Tiwi.


" Malah kamu yang lebih dulu resepsi besok. " celetuk Mei.


" Kita jadi bridesmatenya Tiwi. "


" Jangan Kak Hira. Kita resepsi biasa-biasa aja kok. "


" Kamu pikir Papi Bram akan membiarkannya ? Tentu saja gak. " kata Laras.

__ADS_1


Pintu kamar diketuk. Ada seraut wajah Prita disana.


" Eeehh,, pengantinnya kok pada ghibah. Bukannya tidur. Besok mau akad lho ini. " omel Prita.


" Ini otewe Mbak. "


" Dasar kalian ini. Udah. Buruan isttirahat. "


Lima wanita calon pengantin itu hanya terkekeh kemudian beranjak tidur agar tidak mendapat omelan dari Prita lagi.


****


Para pengantin pria tercengang saat melihat calon istri masing-masing yang terlihat anggun, cantik dan eleegan dengan kebaya putihnya. Mereka duduk di samping mempelainya masing-masing dengan diiringi senyum dan mata penuh binar kerinduuan.


" SSSAAAAAHHHHH,,,, !!!!! "


Gemuruh semua orang yaang ada didepan Panti asuhan Ar Rahman saat semua mempelai laki-laki selesai mengucapkan ijab qabul. Tokoh keagaamaan setempat langsung memimpin doa.


Acara resepsi Tiwi langsung di gelar. Hanya mengundang warga sekitar dan juga anak buah Bram dan Nico. Tapi bagi Tiwi dan Ryan, resepsi pernikahannya terlihat sangat mewah. Laras benar, Bram dan Niico membuat resepsi itu mewah meskipun berada di pinggiran kota Bandung.


Tepat jam sebelas malam. Bram memberikan lima kunci kamar pada pengantin baru itu.


" Barang-barang kalian udah Papi letakkan di masing-masing kamar. Silahkan unboxing. " goda Bram.


" Mami,, Papi genit. " gurau Tiwi.


Bram dan Nico hanya tertawa.


Damian menarik tangan Laras sejenak.


" Sayang,, aku ke dapur dulu ya. Udah haus."


" Mau aku ambilkan minumnya ?"


" Gak usah sayang. Kamu pasti udah risih pake gaunnya."


Laaras terkekeh kemudian mengangguk.


" Pergilah ke kamar dulu. Mau aku buatkan teh hangat ?"


" Gak usah Mas. Aku minum di kamar aja. "


Damian mengangguk kemudian berjalan menuju dapur. Di kejauhan melihat Tante Anggi yang sedang berbicara dengan para tetua. Damian mendekat.


" Tante. Aku bisa bicara sebentar ?"


Anggi mengangguk paham. Pasti yang dibicarakan tidak jauh dari apa yang ditakutkan para tetua disana. Berkaitan dengan masa lalu Laras.


" Ada apa Damian ?"


" Tante,, tentang trauma Laras ,,?"


" Apa yang kamu takutkan juga tengah dikhawatirkan orang tua Laras. "


" Maksud Tante ?"


" Mereka juga menanyakan hal yang sama. "


" Seperti yang pernah Tante bilang dulu. Laras sudah hampir sembuh Damian. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalo trauma itu akan kambuh juga. "


" Lalu aku harus gimana Tante ?"


Gak lucu juga, kalo malam ini harus diakhiri Laras berada dirumah sakit karena traumanya kambuh. Pikirnya.


" Tentu Tante. Terima kasih. "


" Kembalilah ke kamarmu. "


Damian mengangguk kemudian menuju kamarnya. Dia mengetuk pintu sejenak. Saat mendengar Laras mempersilahkannya masuk. Damian segera masuk, tapi belum juga sempat menutup pintu. Satu gelas air mineral yang tadi dibawanya terjatuh begitu saja.


Laras kaget kemudian mendekat.


" Mas ,, Mas Damian kenapa ?"


Damian melangkah dengan mata tanpa berkedip. Ini pertama kalinya melihat Laras tanpa mengenakan jilbabnya. Rambut hitam dan lurus sepinggang dengan poni yang panjangnya sedagu dibiarkan terurai.


Cantik sekali. Puji Damian dalam hati.


Karena berjalan tanpa berkedip. Damian terpeleset gelas mineral yang tadi dijatuhkannya.


" Mas,,, !! " pekik Laras kaget.


" Aawwww,,, " pekiknya yang jatuh terduduk sambil memegang pantatnya.


Laras berjongkok didepannya. Kemudian membantu Damian berdiri.


" Kok bisa jatuh sih. Mas lagi ngelamunin apa ?!" omel Laras.


" Lihat istriku yang berubah jadi bidadari. " jawabnya.


" Iihh,, gombal. "


" Cantik sekali sayang. " puji Damian sambil mengusap rambut Laras.


Laras menunduk malu , senyum tak juga hilang di wajahnya. Membuat Damian tertawa gemas.


Suara ketukan dipintu yang tidak tertutup sempurna membuat Damian menoleh. Laras menunduk seolah tengah bersembunyi dibalik tubuh Damian.


" Laras,, Damian,, kalian kenapa ? Apa yang terjadi kenapa teeriak ?" tanyaa Astrid sambil masuk diikuti Mahira yang juga sudah melepaskan jilbabnya. Niatnya untuk mencari Mamanya karena tasnya tertukar dengan milik Laras.


" Kak Laras ???" pekik Mahira kaget sembari mendekat ke arah Laras dengan membawa koper Laras.


Damian tersenyum melihat Mmahira juga sekaget dirinya tadi.


" Laras tidak apa-apa Ma. Tadi Mas Damian jatuh. Laras jadi kaget. "


Astrid terkekeh lucu. Damian pasti kaget melihat Laras yang tidak memakai jilbab.


" Ada apa Hira ?" tanya Laras saat melihat Mahira menatapnya intens.


" Kak Laras cantik sekali. " pujinya.


" Yang ini juga cantik. " balas Laras sambil merapikan rambut ikal sebahu Mahira.


" Kalian sama-sama cantik. Karena kecantikan kalian terjaga hanya untuk suami kalian. " puji Astrid.


Damian mengangguk setuju.


" Kak. Koper kita ketuker kayaknya. "


" Ahh iya. Aku udah terlanjur meletakkan jilbabku di pakaian kotor. Jadi gak bisa mengembalikannya padamu. "


" Gak apa-apa Kak. Kalo gak gini aku gak bisa lihat Kak Laras cantik gini."


" Apaan sih. Bentar aku ambilkan. "

__ADS_1


" Ini sayang. " jawab Damian yang sudah meletakkan koper Mahira disampingnya dan mengambil koper Laras lalu diletakkan dilemari.


" Kaalian istirahatlah. Besok kita kembali ke Jakarta dan langsung menuju hotel A. Damian jaangan membuat Laras kecapean." goda Astrid.


" Apaan sih Ma. "


Astrid tertawa begitupun dengan Mahira.


" Kamu juga kembali ke kamarmu. Si Reymot pasti sudah menunggumu. Kamu juga jangan terlalu capek. " goda Astrid sambil mencubit pipi Mahira.


" Iihh Tante ah. "


Keduanya keluar dari kamar Daamian dan menutupnyaa. Damian segera menguncinya.


" Mas gak apa-apa ? Apa ada yang sakit ?"


Damian menggeleng dan masih menatap Laras takjub.


" Mas ihh,, lihatnya biasa aja dong."


" Habisnya kamu cantik sayang. "


" Udah ah gombalnya. Mas mandi dulu. Udah aku siapin air hangat tadi. " kata Laras sambil beranjak inngin mengambil handuk.


Tapi Damian menarik tanganya hingga Laras terjerembab jatuh ke pelukannya.


" Mau kemana hemmm,, " kata Damian sambil menyingkirkan rambut yang menutupi hidung dan mulut Laras.


" Mau ,, ambil handuk buat Mas, " jawab Laras gugup.


Jantungnya berdetak lebih cepat. Dan Laras tahu itu bukan karena traumanya dulu.


" Aku masih kangen. "


" Udah ah. Mas Damian bau. " gurau Laras sambil pura-pura menutup hidungnya.


" Nakal ya. Masa suaminya dikatain bau." gurau Damian sambil menoel hidung Laras.


Laras hanya terkekeh. Dan melepaskan tangannya dari hidung.


" Aku mencintaimu Laras. Aku bahagia akhirnya kita menikah. " ujarnya sambil menempelkan keningnya dengan kening Laras.


" Terima kasih Mas. Udah mau menerimaku dan masa laluku. "


" Terima kasih sudah menerimaku sayang. " kata Damian sembari mencium kening Laras.


Membuat Laras tersenyum.


" Udah peluknya. Mandi dulu. Keburu airnya dingin."


" Cium dulu sayang. "


" Mas,, malu ah. "


" Kan udah halal sayang. "


" Mandi dulu. "


"Iya,, iya ,,"


Laras tersenyum simpul saat Damian melepaskan pelukannya. Kemudian dia mengambil handuk di lemari dan memberikannya pada Damian.


Damian mencium bibir Laras sekilas kemudian sambil tertawa masuk ke kamar mandi. Menertawakan Laras yang kaget hibgga hanya mematung.


****


"Hiragana sayang,, kamu kenapa ? Sejak dari kamar Damian. Kamu jadi pendiam. Apa Damian menjahili ku lagi ??"


Mahira menggeleng.


" Tadi aku lihat Kak Laras tanpa hijab Kak. Dan wuuaaahhh,, cantik sekali."


Rey tertawa melihat respon Mahira.


" Kak Rey tertawa , jangan-jangan sudah pernah melihat Kak Laras tanpa jilbab ?"


" Aku bertemu Laras sebelum dia berjilbab Hiragana sayang."


" Pamtesan saja butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan Kak Laras. Huuhh,, "


Rey mengernyitkan alisnya.


" Sayang,, berkali-kali sudah aku katakan. Laras sudah aku anggap saudaraku gak lebih. ini malam oertama kita lho. Massa iya kamu cemburu gitu. "


" Siapa yang cem,, hhhmmmmppp " kalimat Mahira mengantung karena Rey telah membungkam bibir Mahira dengan bibirnya.


" Aku mencintaimu Hiraganasm sayang." bisik Rey ditelinga Mahira.


****


Laras duduk bersandar di ranjangnya. Melihat Damian yang tengah memakai celana boxer dan kaos oblong warna hitam. Lalu naik ke ranjang. Laras semaakin berdebar karenanya.


Damian tersenyum melihat kegugupan Laras. Dia menggenggam tangan itu. Terasa dingin.


" Ayo kita tidur. Besok hari yang melelahkan sayang. "


" Mas,, gak meminta,, eehhmm,, hak Mas ?"


" Ini hubungan seumur hidup sayang. Kita masih punya banyak waktu. Aku tahu kamu masih belum siap. Aku akan menunggu sampai kamu siap. "


" Mas ,, gak marah ?"


" Tentu saja gak. Tapi, aku gak bisa menahan diriku untuk tidak memelukmu sayang. Jadi, biarkan aku memelukmu. "


" Terima kasih pengertiannya Mas. " jawab Laras senang.


" Ayo kita tidur. "


Damian membetulkan posisi bantal dan selimut Laras. Kemudian meminta Laras untuk tidur dilengannya agar bisa memeluknya.


Laras memegang dada Damian yang terdengar berdebar. Damian mencium aroma mint dari rambut Laras membuatnya candu untuk berkali-kali menciumnya. Laras mendongak.


" Aku mencintaimu Mas Damian. Zaujieku. " bisik Laras lirih. Dan memberanikan diri mencium Damian.


Damian menahan kepala Laras dan kembali mencium Laras. Damian menghela nafas panjang. Menempelkan keningnya dikening Laras.


" Maafkan aku,, aku sudah kelewatan. " bisiknya.


Karena tanpa sadar terbawa nafsu hingga dengan berani menyentuh gunung kembar Laras.


" Untuk saat ini,, biarkan seperti ini ya Mas. Nanti saja setelah resepsi. Aku akan mempersiapkan diriiku."


" Aku akan selalu menunggunya sayang. Kita tidur ya."


Laras mengangguk kemudian memeluk tubuh Damian. Mencari kenyamanan disana.

__ADS_1


__ADS_2