
Sesuai prediksi Laras. Saat Nenek pulang kerumah ditemani Mami Cia untuk memberikan sedikit penjelasan pada tiga pembantu disana. Untuk membantu di perkebunan.
Tidak berapa lama, David dan istrinya datang dengan sok elegannya.
" Lama tidak jumpa Mamaku. " sapa David.
" Aku bukan Mamamu. Cia, apa semuanya sudah siap ?"
" Mama,, Aku ini anak kandungmu. Bukan wanita itu."
" Tapi,, aku merasa dia yang anak kandungku. "
" Mas,, sudahlah. Kita kesini bukan untuk itu. "
" Ahh iya kamu benar. "
" Kenapa kalian datang kesini ? Belum cukup kalian buat kericuhan disini ?"
" Hemmm,, sepertinya,, Mama sudah mengerti maksud kedatangan kami kemari. Perusahaan itu sudah menjadi milikku Ma. "
" Terserah kamulah. Aku muak melihatmu. "
" Valencia,, kamu boleh tetap bekerja disana kalo kamu mau. "
" Tentu saja tidak Mas. Aku sudah bahagia kamu memberiku seorang Mama. Aku bisa mencari pekerjaan yang lain. Surat pengunduran diriku akan segera aku kirim kekantormu. "
" Itu lebih baik. Aku gak mau kamu jadi pelakor dirumah tanggaku. "
" Apa gak kebalik ?! Atau kamu sedang takut karma ?"
Nico tersenyum melihat ketenangan istrinya. Tapi ada kata pedas dibaliknya.
" Sayang,, apa sudah selesai semua ?" tanya Nico yang tiba-tiba masuk.
" Sayang ?" gumam David pelan.
" Sudah sayang. Apa mobilnya sudah siap ? "
" Iya. Bik tolong bawa semua kopernya keluar. " tegas Nico tanpa memperhatikan dua orang yang tengah kebingungan itu.
" Ayo Cia. Mama udah gerah berada di rumah ini. " ajak Nenek sambil menggandeng lengan Valencia.
" Iya, Ma. Ayo sayang. "
Tapi baru beberapa langkah melewati David. Laki-laki itu mencengkram lengannya dengan kuat.
" Kamu menikah lagi ?!!!" bentaknya.
" Lepaskan tanganmu David. Kamu gak berhak ikut campur urusan Valencia !!" hardik Nenek.
" Itu bukan urusanmu. " tegas Valencia.
Tapi lengannya makin dicengkram David yang seolah sedang cemburu.
" Awww,, sakit. " pekik Valencia sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan David.
Nico yang baru masuk setelah membantu membawakan koper-kopernya langsung marah melihatnya.
Buggghhhh,,,Buugghhhh,,,!!!
" Jangan pernah kamu menyentuh istriku lagi !! Ini pertama dan terakhir kalinya aku memperingatkan kamu !!" bentak Nico.
" Sayang sudah. Aku gak apa-apa. Ayo kita pergi. " kata Valencia sembari menepuk dada Nico agar lebih sabar.
Nico memeluk pinggang Valencia dengan erat dan menggandeng tangan Bu Ayu untuk segera keluar dari rumah itu.
Sesampainya di mobil, Nico memukul setir mobil dengan keras hingga Valencia kaget.
" Maafkan aku sayang. Aku lalai menjagamu. "
" Aku yang salah karena gak waspada. Maafkan aku. "
" Tenangkan dirimu Nico. Syukurlah ini berlalu lebih cepat. Prediksi Laras memang benar. Mereka bergerak setelah kepulanganku. Cia, jangan datang kekantor itu lagi. Kirimkan saja surat pengunduran dirimu lewat email atau pos. "
" Kamu membawa surat itu kan sayang ?"
" Iya. "
" Berikan padaku. Aku akan memberikannya sekarnag."
" Sayang, kamu gak berfikir untuk macam-macam kan." kata Valencia sembari mengeluarkan surat itu dari tasnya.
Nico hanya tersenyum keki untuk menutupi rasa marahnya.
" Aku gak akan maacam-macam. Tunggu dimobil. Jangan ada yang keluar. Maafkan aku Mama Ayu. "
Nenek hanya mengangguk lemah karena tahu apa yang akan dilakukan Nico pada anaknya yang telah keterlaluan. Apalagi setelah melihat lengan Cia yang nampak membekas tangan David.
Nico kembali masuk ke mobil setelah merapikan bajunya. Dia sudah puas bisa membuat laki-laki itu babak belur dengan tangannya sendiri.
" Kita ke perkebunan kan Ma ? Barang-barang anak-anak mau dikirim ke apartemen apa langsung ke rumah Pratama ? "
__ADS_1
" Barang-barang itu kirim ke apartemen aja. Takutnya mereka membutuhkannya untuk sidang. Kita langsung ke perkebunan. "
" Baiklah. Aku suruh anak buahku untuk mengirim ke apartemen dulu. "
" Biar aku chat Mei agar membantu anak buahmu memasukkan koper-kopernya. "
" Gak usah sayang. Di apartemen juga banyak anak buahku dan Bram yang berjaga. "
" Baiklah. "
" Istirahatlah. kamu dan Mama pasti masih capek. "
****
Astrid dan Laras bekerja keras untuk memulai marketing mereka. Untung aja, satu minggu ini ternyata Pratama, Bram dan Nico bergerak cepat dengan mengatur tata letak dan semua yang di perlukan untuk kantor. Jadi kedua wanita itu bisa segera bertindak ceoat melakukan pemasaran.
Tidak susah untuk Astrid melakukan promosi pemasaran karena namanya masih diperhituungkan oleh relasi bisnisnya. Apalagi ada nama Dirgantara di belakang perusahan Florist saat ini.
Dalam waktu dua minggu, penjualan parfum sudah diluar hasil produksi. Mau tak mau mereka harus bekerja sama dengan pemilik perkebunan bunga lainnya. Bahkan Nenek sudah membeli beberapa hektar tanah disekitar perkebunan milik Sekar. Dan segera ditanami beraneka macam bunga.
Manajemen perusahaan pun sudah lebih baik. Karena ada beberapa karyawan dari perusahaan Pratama dan Astrid diminta untuk membantu disana.
" Sidangnya hari apa Joe ?" tanya Laras to the point saat telponnya diangkat Joe.
" Sidangku sudah selesai kemarin Mbak. "
" Iya aku tahu. Yang terakhir sidang Mei kan ?"
" Iya. Hari ini dia sidang. Dia cuma ditemani Tiwi. "
" Kamu gak nemeni ?"
" Bentrok sama jadwalku harus kasi tugas akhir Mbak."
" Azka ?"
" Mbak Azka di apartemen sama Ibu. Tunggu Mbak Mei. Kayaknya ada si Kahfi disana. "
" Kamu belum pulang ?"
" Ini aku lagi dimobilnya Ryan Mbak. "
" Ya udah. Hati-hati. "
" Iya. "
" Aku tutup. Assalamualaikum."
" Pi,, kita bisa mampir ke kampus Mei sebentar ?"
" Baiklah. " jawab Bram.
Laras tersenyum melihat Bram juga tersenyum. Mengerti maksud Laras yang ingin memberi kejutan pada saudaranya.
Gerimis diluar sana makin membuat Bandung semakin dingin. Laras lupa tidak memakai jaketnya. Dia terburu-buru pergi dari perkebunan meninggalkan Mami Cia dan Nenek yang sedang meeting dengan Astrid dan relasi bisnisnya. Tak sempat ganti baju lagi. Hanya menggunakan gamis berwana tosca yang untung aja bahannya lebih tebal.
" Ras. Kamu tunggu dimobil aja. Diluar hujan. "
" Iya, Pi. Tiwi gak tahu kan kalo kita disini ?"
" Iya. Aku tahu kalo kamu ingin memberi kejutan. Aku tahu gimana Tiwi. Pasti dia sudah heboh kalo tahu kita disini. "
" Betul. " jawab Laras geli.
Laras tersenyum simpul saat melihat dikejauhan Mei tengah menggandeng Tiwi seolah telah bersahabat bertahun-tahun.
" Kamu benar Ras. Merasa nyaman itu memang sangat diperlukan. "
" Iya Pi. "
Laras membuka pintu mobilnya dan menunggu Mei menoleh kearahnya. Yang dia tahu mobil Tiwi tengah berada didepan mobil Bram sekarang.
Senyum Mei semakin mengembang saat matanya menangkap sosok Laras tengah tersenyum sambil melambaikan tangannya.
" Laraaaassss,,, !!!! " seru Mei senang sambil berlari menuju Laras.
" Kak Mei,, hati-hati. "
" Mei,, jangan lari..!" pekik Laras.
Mei tidak memperdulikan hal itu. Dia tetap berlari hingga memeluk Laras dengan senang.
" Aku lulus Ras,,aku lulus. "
" Alhamdulillahhh,,, "
" Udah siap kerja apa siap nikah nih. "
" Iihh,, apaan sih Ras. Kamu itu. "
Laras menggandeng Mei dan menyalami Tiwi sebelum masuk ke mobil.
__ADS_1
" Kita pulang ke apartemen ?" tanya Bram senang.
" Iya Pi. Tiwi ikut kita aja. "
" Iya Kak Laras. Aku kangen sama Kak Laras. "
" Iya. Aku juga. "
" Gak kangen Papi wi ?" gurau Bram.
Semenjak anak-anak Pratama memanggilnya dan Nico Papi. Keduanya meminta Tiwi untuk memanggil dengan sebutan yang sama.
" Kangen dong Pi. Udah lama gak ketemu sejak jadi pengantin baru. " goda Tiwi yang membuat Bram tertawa.
" Kamu dan Papi Bram sendirian ?
" Kalo kesininya berdua aja. Mereka sedang di perkebunan. Kita jemput Ibu dan yang lainnya baru nyusul ke perkebunan. Biar kalian bisa refreshing sejenak. "
" Laras emang peka dari dulu. "
" Wisudanya,, jangan barengan lagi ya jadwalnya. " sindir Laras.
" Kan kampus yang tentuin Ras. Mana aku tahu. "
" Kalo gitu, nanti kalo aku gak bisa datang, gak boleh ngambek lho ya. Kan hanya kamu yang aku datengin selesai sidang. "
" Gak adil. Kalo kamu gak bisa datang ke wisudaku. Gak juga di wisuda Azka dan Joe. "
" Kan aku bilang nanti,, dan Kalo. Belum tentu aku gak bisa datang juga kan. Gitu aja udah ngambek. Mau gak aku restuin jadi adik ipar. "
" Laras,,, ihhh resek. "
" Waahhh,,, jadi Kak Mei mau nikah sama Kak Joe. " goda Tiwi.
" Udah, Wi. Kamu jangan ikutan Laras ngeledekin aku."
" Kalo Papi Bram yang ngeledekin boleh dong berarti."
" Mau aku aduin ke Papi Nico. "
" Tentu saja Papi gak takut. Kan sebelas duabelas sama Papi Nico."
Mereka semua jadi tertawa. Mei mendekap Laras dan merasakan kehangatan seorang kakak. Hingga tak butuh waktu lama dia tertidur.
" Tadi dikampus gak ketemu sama yang ada difoto yang aku kirim kemarin kan Wi ?"
" Tadi sempet berpapasan sih Kak. Tapi, Kak Mei kayaknya gak anggap dia ada. Jadi langsung lewat gitu aja. "
" Syukurlah kalo gitu. "
Ada satu pesan masuk di ponsel Laras. Ada nama Damian disana. Dia membuka pesannya. Laras hanya melongo, ada gambar dia tengah berdiri di pinggir mobil saat sedang menunggu Mei tadi.
Jadi, Mas Damian beneran suruh orang untuk ngawasi aku ? Batinnya.
* Ini apa sayang ? Kamu niat banget sih hancurin konsentrasiku ?! Bisa-bisanya berdiri ditengah hujan seperti itu ? Kalau aku denger kamu sakit karena hari ini, aku pastikan akan memaksa Mama dan Papa Pratama menikahkan kita minggu depan. *
Laras terkekeh pelan saat mendengarkan pesan suara dari Damian. Dia hanya geleng-geleng merasakan posesifnya. Laras hanya membalas pesan suara itu dnegan pesan singkat karena mobil sudah masuk ke parkiran apartemen Joe.
' Aku akan memastikan kalo aku sehat. Agar calon Zaujie ku disana gak khawatir lagi. '
Satu pesan masuk lagi.
' Zaujie ,, apa itu ??'
' Browsing dong. Masa CEO dua perusahan tidak tahu artinya. '
Laras membangunkan Mei dengan menepuk pipi Mei dengan pelan. Mei terbangun, menggeliat sejenak.
" Udah sampai Ras ? Maaf aku ketiduran. "
" Sebenernya tadi udah mau telpon Joe biar gendong kamu. Tapi lupa kalo belum muhrim. Masih haram. "
" Larasss ihhh,, !!" gerutu Mei sambil keluar mobil.
Bram dan Tiwi juga keluar diikuti Laras.
" Ras. Aku ke apartemen anak buahku saja. Sekalian menyuruh mereka untuk bersiap pergi ke perkebunan."
" Iya Pi. Tiwi sama kita aja ya. "
" Gak ganggu Kak ?"
" Gaklah. Di dalam juga ada Ryan kok. "
Tiwi tampak kaget kemudian biasa lagi.
" Ada apa Wi ?"
" Gak ada apa-apa Pi. "
" Ya udah. Kalian masuklah dulu. Baru Papi masuk ke apartemen anak buah Papi. "
__ADS_1
Ketiga wanita itu hanya mengangguk setelah pintu dibuka oleh Ibu baru ketiganya masuk. Dan Bram langsung masuk ke apartemen didepan apartemen Joe. Sengaja menyewanya untuk menjaga keluarga itu. Tentu saja tanpa sepengetahuan Joe. Hanya Tiwi yang tahu.