Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 118


__ADS_3

Damian, Rey, Ruly dan Joe membantu memasukkan koper wanita-wanita itu kedalam mobil masing-masing. Mereka menunggu Ryan yang tengah memanggil Bu Sasi untuk berpamitan.


Para lelaki menyeruput kopi hitam yang di sediakan oleh penginapan. Tentu saja atas permintaan Bram. Dan wanita-wanita itu sedang berada di loby untuk menikmati teh hangat mereka.


" Astrid. Kenapa dengan matamu ? Kok bengkak." tanya Ratih heran.


"Ini gara-gara Laras , Tih."


" Aku ?? Apa aku punya salah Ma ?" tanya Laras heran.


Mahira dan Tiwi nampak terkekeh di ujung sana.


"Karena novelmu sayang. "


"Aahh,,Mama. Kirain Laras punya salah. "


" Tak seindah mawar Mama Astrid ?" tanya Azka memastikan.


" Iya Azka. "


Azka dan Mei ikut terkekeh seperti Mahira dan Tiwi. Prita hanya tersenyum. Yah,,dia pun juga mengalami reaksi yang sama sewaktu membantu Laras mengeditnya dulu.


"Kalian sudah membacanya ?"


" Bahkan kami pembaca pertama sebelum novel Laras diterbitkan Mama Astrid. " jawab Mei.


"Benarkah ?" tanya Astrid seraya menatap Laras.


" Iya, Ma. Laras gak pede setiap kali novel mau aku serahkan. Jadi, meminta mereka berdua dan Mbak Prita untuk membacanya terlebih dulu. Kalo oke, baru aku kirimkan ke penerbitnnya. "


" Cuma satu novel itu aja Tante. Yang lainnya udah langsung diserahkan ke penerbit. Karena kami memang sedang sibuk waktu itu. " jelas Prita.


Ketiganya mengangguk mengiyakan.


" Laras,, ada yang ingin bertemu kamu. " kata Nico sembari tersenyum.


" Siapa Pi ?" tanya Laras heran.


" Keluarlah. Mereka pasti senang bertemu denganmu"


" Mereka ??"


" Jangan-jangan si kembar adik Ryan Kak Laras. " tebak Mahira.


" Aahh iya. Ayo temui mereka. " seru Laras senang.


Laras menatap satu per satu keluarganya yang tengah terisak sembari menatapnya sendu.


Ada apa ini ?? Pikirnya.


Laras menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat melihat dua anak kembar berusia tujuh tahun tengah duduk dikursi roda. Wajah keduanya pucat, kepala mereka botak. Entah mereka sedang sakit apa tapi tatapan penuh binar dan senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka. Laras menatap Bi Sasi dan Ryan bergantian seolah tengah menunggu penjelasaan.


" Keduanya mengidap leukimia Laras. Stadium empat." jawab Bu Sasi.


Mata Laras nampak sudah berkaca-kaca tapi sebisa mungkin untuk ditahnnya.


Laras mendekat setelah bisa mengatasi rasa kagetnya. Saat ini, hatinya diseerbu keharuan liar biasa. Dia duduk mensejajarkan tubuhnya dengan kursi roda kedua gadis kecil itu.


" Apa kalian si kembar yang dimaksud Kak Ryan ?" tanya Laras dengan suara parau.


" Iya Kak Laras. Kami senang sekali bisa bertemu Kak Laras. Iya kan Syakila. "


" Iya bener. "


" Namanya siapa ? " taanya Laras sembari membetulkan posisi syal masing-masing dari mereka.


" Aku Syakira Kak. "


" Aku Syakilla Kak. "


" Nama yang cantik. Secantik senyum kalian , apalagi lesung pipit ini. Heeemm,, Kakak jadi sayang. "


" Kak Laras,, apa kami bisa mendapatkan tanda tangan Kak Laras di novel kami ? "


" Tentu saja. Mana novelnya. "


Syakila menyerahkan novelnya, Laras langsung membubuhkan tanda tangannya. Matanya semakin mengabur karena terhalang air mata.


" Kak Laras,, " panggil Syakira pelan.


Laras mendongak dan ,,


Tesss,, tess,,,


Air matanya luruh begitu saja. Pertahanannya jebol saat melihat hidung Syakira berdarah.


" Ya Allah Syakira. " serunya panik.


" Kak Laras,, " panggil Syakira lagi sembari menarik tangannya hingga Laras terduduk lemas dengan air mata yang semakin deras.


" Apa sayang,, apa masih sakit ? Kita kembali kekamar kalian aja ya. " pinta Laras sedih.

__ADS_1


" Gak mau Kak. Ini pertama kalinya Kak Ryan memperbolehkan kami keluar rumah. " jelas Syakila sedih.


" Karena kalian harus istirahat. "


" Kami sudah terlalu banyak melewatkan pemandangan indah Kak. " jawab Syakira yang sudah menghapus darah dihidungnya dengan syal agar Laras tidak khawatir.


" Apa kami akan menemukan keajaiban seperti novel Kak Laras ' Seperti Bintang ' ??" tanya Syakira.


" Syakira,, jangan begitu. Kan kita udah punya Ibu dan Kak Ryan. " hibur Syakila.


Laras menatap langit yang tampak cerah malam itu. Saat melihat keduanya tengah menatap langit.


" Karena hanya Langit yang mengertimu saat dunia melihatmu berbeda. " kata keduanya berbarengan.


Laras kembali menatap sikembar dengan takjub. Ryan benar. Bahkan mereka menghafalnya. Si kembar saling melemparkan senyum.


" Apa kalian sudah menemukan bintang itu ?" tanya Laras dengan suara tercekat.


" Sudah Kak. "


" Benarkah ? Yang sebelah mana ?" tanya Laras sambil mendongak agar air matanya tidak kembali jatuh.


" Bintang yang paling terang Kak. "


" Kak Laras. Apa Syakira boleh memeluk Kak Laras ? "


" Syakila jangan.. " hardik Syakila.


Laras tersenyum kemudian mengangguk.


" Syakira,, " gumam Laras pelan saat melihat Syakira berdiri dari kursi rodanya. Dan berjalan mendekat kearah Laras yang masih terduduk lalu berlutut agar tingginya sama dengan Syakira.


" Kak Laras cantik. Boleh aku menyentuh wajah Kak Laras ?"


Laaras mengangguk , lidahnya kelu. Hanya air matanya yang berjatuhan.


Syakira menyentuh wajah Laras dan merabanya pelan.


" Hidung Kak Laras mancung,, bibirnya tipis,, pipinya tirus,, alisnya tebal dan hampir tersambung. Kak Laras juga pake jilbab. Tapi,, "


" Tapi kenapa Syakira ??"


" Kita membuat Kak Laras sedih, Syakila. Kak Laras menangis. " jawab Syakira sambil menghapus air matanya.


Spontan Laras menatap Bu Sasi lagi.


" Sel kankeernya sudah merenggut penglihatan mereka, Kak Laras. " jawab Ryan.


" Kak Laras orang baik. Karena itu, keajaiban itu mendekat kepada Kak Laras. Mungkin itu sebabnya, Allah membuat langit semakin bertaburan bintang agar Kak Laras gak sendirian lagi. "


Laras semakin menangis.


Yaah,, di novel itu. Dia menceritakan seorang gadis piatu yang ditinggalkan Ayahnya. Dia mengumpamakan dirinya bintang ditengah mendung dan hujan. Seperti saat ini, dia sendirian ditengah rasa duka mendalam karena Ibunya telah meninggal. Bagaimana bintang bisa terlihat kalo sedang mendung dan hujan ? Bagaimana Ayahnya bisa menemukannya kalo dia semakin larut dalam kkesedihan dan tak berusaha mencarinya ? Dia percaya, selepas hujan selalu ada pelangi. Tapi karena langit telah gelap. Akan ada banyak bintang yang menemaninya. Seperti dirinya, saat memutuskan untuk keluar dari duka. Banyak orang yang menawarkan kasih sayang tulus padanya. Hingga meskipun mendung kembali datang, kerlip bintang masih akan terpancar. Sampai dia menemukan Ayahnya lagi.


" Terima kasih Kak Laras. "


Syakira kembali meraba wajah Laras dan mendaratkan ciuman dipipi kanan Laras.


" Jangan menangis lagi Kak. " Syakira meraba-raba sekitarnya. Ryan dengan sigap mendorong kursi rodanya agar maju kearahnya.


" Pasti Kak Ryan. Makasih Kak. " ucapnya.


" Syakira,, apa kalo aku memeluk Kak Laras juga. Kak Laras akan menangis lagi ?"


Laras melangkah maju dengan lututnya. Kemudian membelai Syakila.


" Kak Laras,, ? Apa aku boleh,, ??"


" Tentu saja Syakila. " jawab Laras


Kemudian menghambur memeluk Syakila.


" Karena novel Kak Laras. Kami punya semangat untuk hidup. Darii novel Kak Laras kami juuga ingin menjadi salah satu bintang yang menemani Kak Laras. Bolehkah ?"


" Sangat,, sangat boleh. Asal kalian berjanji untuk semangat sembuh. Semangat untuk hidup. "


" Hidup, mati, dan rejeki hak Allah Kak. Kita bukam siapa-siapa untuk bisa mengaturnya. "


Laras tertunduk menyesal. Kalimat Syakila seolah menamparnya.


" Astaghfirullahaladzim. " gumamnya.b


" Maafkan kami karena gak bisa menjanjikan apapun Kak Laras. " jawab Syakila.


" Asal Kak Laras tahu. Kami menyayangi Kak Laras, jauh sebelum kita bertemu hari ini. " Syakira kembali bercerita.


Syakila meraba wajah Laras sama seperti Syakira tadi. Dada Laras semakin sesak menahan tangis.


" Kalo Kak Laras menangis terus. Kapan pelanginya bisa keluar ? " gurau Syakila sambil menarik hidung Laras.


Keduanya kembali menbacakan dialog di novel itu yaang akhirnya mempertemukannya dengan Ayahnya. Setelah melewati perperangan batin.

__ADS_1


" Kak Laras,, akhirnya kami juga dipertemukan dengan Kak Laras. Kami sangat bahagia Kak. Setidaknya Allah mengabulkan doa kami. "


" Doa apa Syakira ?"


" Setidaknya satuuu kali aja, bisa bertemu dnegan Kak Laras. " jawab Syakira.


" Sekarang sudah bertemu harus semangat sehat ya. Satu bulan lagi Kak Laraa akan menikah disini. Kak Laras ingin kalian yang menjadi pengantin kecilnya. "


" Kami ikut bahagia Kak. Tapi,, jujur,, kami lelah Kak." jawab Syakira.


" Syakira kok ngomongnya gitu ?"


" Lebih cepat lebih baik Kak. "


" Syakila,, "


" Itu tandanya Allah sayang sama kami. "


" Dan tidak ingin membiarkan Ibu, Kak Ryan dan juga saudara yang lain sedih lebih lama. "


" Ayo, kakak temani istirahat. "


" Boleh kami tidur dipenginapan ?? Di teras aja Kak. Karena Kak Ryan suka cerita kalo Kak Laras dan keluarga Kak Laras suka diteras. " tanay Syakira.


" Tentu saja. "


Laras hendak berdiri, Damian langsung membantunya berdiri Laras tersnyum penuh terima kasih. Kemudian Laras duduk di lantai teraa depan penginapan yang bersih. Masih dilihatnya keluarganya saling bertangisan di pelukan pasangan masing-masing.


Laras duduk bersandar didinding. Ryan menggendong Syakira dan meletakkannya disamping kiri Laras. Damian membantu Ryan dengan menggendong Syakila dan meletakkannya di sebelah kanan Laras. Syakila menahan lengan Damian.


" Ini,, bukan Kak Ryan. Bukan juga tangan Kak Joe. "


" Itu, Kak Damian. Calon suami Kak Laras, Syakila. " jawab Ryan.


Syakila meraba wajah Damian. Dan tersenyum.


" Syakira. Calon suami Kak Laras tampan sekali. Lebih tampan dari Kak Ryan dan Kak Joe, Syakira. "


" Tentu saja. Kan Kak Laras cantik. "


" Kak Damian,, aku yakin Kak Damian akan selalu menjaga Kak Laras. Terima kasih Kak. "


" Sama-sama Syakila. " jawab Damian.


Laras menghapus darah yang kembali jatuh dari hidung Syakira.


" Syakira,, kita kerumah sakit saja ya. Kaka khawatir."


" Aku maunya tidur memeluk Kak Laras. " jawab Syakira sambil menggeser duduknya hingga Laras merengkuhnya dalam pelukannya.


" Aku juga mau Kak. " seru Syakila sambil menggeser tubuhnya juga. Laras merengkuh Syakila dalam pelukannya juga.


" Tangan Kak Laras mana ?"


Laras melepaskan dekapannya dan menggenggam keduaa tangan yang berada di pahanya. Si kkembar terrsenyum senang.


" Aku suka wangi Kak Laras. "


" Iya. Taadi sempet coba parfum baru. Wangi melati. "


Laras menoleh ke Syakila saat dua tetes darah jatuh di tangannya.


" Kaka mohon,, kita ,, kerumah sakit ya. " pinta Laraa khawatir.


" Kak Laraa jangan nagis mulu. Berisik ah. Aku kan mau tidue disamping Kak Laras. " seru Syakila sambil mengusap aair mata di pipi kanan Laras.


" Syakila ayo kita baca doa dulu. "


Keduanya melafalkan 3 ayat Qul, ayat kursi dna terakhir syahadat.


setelah membaca syahadat. Tangan Syakila dengan lemah jatuh terkulai di paha Laraa. Bersamaan dengan beberapa tetes darah dari hidungnya. Laras semakin panik. Dia semakin menangis saat Syakira pun terlihat sama.


" Aku mohon bawa mereka ke rumah sakit. " isaknya khawatir.


Mei melepaskan dekapan Joe. Kemudian menghapus air matanya sembari mendekat ke arah Syakila dan Syakira. Memeriksa denyut nadi dan nafaas keduanya. Lalu menggelngkan kepala sambil melihat Bu Sasi dan Ryan.


" Mereka ,, sudah meninggal Ras. " ujar Mei parau.


" Kita,, bawa ke rumah sakit. Aku mohon. bangun Syakira,,, bangun Syakila. " kata Laras sambil mengusap pipi mereka bergantian. Tangisnya sudah pecah sedari tadi. Tak berapa lama dia ikut terkulai lemas.


" Laras,, "


" Sayang,, " seru Damian sambil mengusap pipi Laras.


Ryann dan Joe menggendong jenazah Syakira dan Syakila dan membawanya ke panti asuhan. Bram memanggil ketua RT setempat. Nico segera menyuruh anak buahnya untuk membeli perlengkapan jenazah.


Damian menggendong Laras dan merebahkan tubuhnya diatas sofa. Seperti biasa para Ibu menjadi cemas karenanya.


Pratama tetap menelpon dokter klinik yang tak jauh dari penginpaan itu agar memeriksa Syakira dan Syakila. Juga untuk memeriksa Laras.


Seperti yang Mei bilang, Si kembar sudah meninggal. Dna Laras pingsan karena shock. Pikirannya terlalu terbebani.

__ADS_1


__ADS_2