
Jam 14:00 Mawar keluar dari tokonya untuk pulang ke rumah, rencananya ia tak ingin langsung pulang ke rumah ia ingin menghabiskan waktunya sendirian. Berusaha healing ditengah kisruhnya rumah tangganya.
Mawar mendatangi sebuah resto kesukaannya namun ia tak sengaja melihat Arka bersama perempuan lain dan sepertinya mereka terlihat sangat akrab.
Hatinya sudah tidak karuan melihat suaminya dengan wanita lain, Mawar duduk membelakangi mereka. Ia tak ingin Arka melihatnya berada di sana.
Karena posisi duduk Mawar tidak begitu jauh dan bisa di bilang dekat dengan Arka ia pun bisa jelas mendengar percakapan mereka.
"Makasih ya Pak, udah ajak saya makan makan siang di sini," ucap wanita itu.
Bak disambar petir ucapan perempuan itu begitu menusuk di telinga dan hati Mawar.
Mawar berusaha menenangkan dirinya ia tak ingin cepat-cepat bertindak karena jika ia marah ia tak akan tahu apa yang sedang mereka bicarakan selanjutnya.
"Sama-sama Jenni, saya juga senang makan siang kali ini ada yang nemenin. Belakangan ini saya merasa kesepian," jawab Arka.
Jawaban Arka itu semakin membuat hati Mawar sesak, kenapa ia bisa mengucapkan hal serendah itu padahal ia memiliki istri.
"Masa sih kesepian Pak? Kan ada istri," goda Jenni.
"Udah lah kamu gak usah bahas istri saya dulu, sama malah gak mood kalo denger nama dia." Jawab Arka.
Semakin mendidih perasaan Mawar mendengar ucapan Arka, ketika ia sedang susah dan hampir mati hanya nama Mawar yang dia sebut namun ketika sudah berjaya lagi ia bisa seenaknya kembali padanya.
__ADS_1
Keringat dingin membasahi kening dan telapak tangan Mawar karena menahan amarah pada suaminya itu.
"Kenapa Pak kok gitu?" tanya Jenni mengkorek kehidupan Arka.
"Biasa lah, dia sering jalan sama cowo lain bikin saya cemburu," ucap Arka tak berdosa.
"Waw, istri Bapak jalan sama laki-laki lain? Kok bisa ya, CEO sekelas Bapak masih dimainin perasaannya sama perempuan padahal kalo saya jadi istri Bapak pasti saya akan setia dan sangat bersyukur," jawab Jenni.
"Bisa aja kamu," tutur Arka tertawa.
Mawar beranjak dari duduknya dengan penuh amarah ia mendatangi meja makan Arka dan Jenni.
Brak!! Mawar memukul meja dengan begitu keras sehingga kulit tangannya memerah dan para pengunjung fokus padanya.
"Kenapa Mas? Kaget aku ada di sini?" tanya Mawar melotot.
"Kamu apa-apaan sih jangan ribut di sini malu dilihatin orang," ucap Arka.
"Malu? Masih punya rasa malu kamu Mas. Lihat perut aku di dalam sini ada anak kamu, anak kita. Bisa-bisanya kamu jalan sama perempuan lain lagi, kedua kalinya kamu nyakitin aku!" bentak Mawar berderai air mata.
"Jenni ini sekertaris baru aku, jangan salah paham gini dong!" balas Arka.
"Sekertaris baru? Sejak kapan kamu punya sekertaris baru Mas? Kamu gak tanya aku dulu boleh apa enggak kamu punya sekertaris perempuan dengan latar belakang kamu pernah nyakitin aku?" tanya Mawar.
__ADS_1
"Heh Bu! Apa harus Pak Arka ini apa-apa izin dulu sama Ibu? Itu kan perusahaan dia bebas dong dia mau nerima siapa aja jadi pegawainya!" bentak Jenni dengan berani pada Mawar.
Mata Mawar membulat mendengar ucapan Jenni itu dengan penuh emosi Mawar menyiram wajah Jenni dengan sup ada ada di meja.
"Mawar! Kamu apa-apaan sih keterlaluan banget kaya gitu!" bentak Arka.
"Berani kamu Mas bentak aku demi perempuan lain? Buat apa kamu dulu ngemis-ngemis minta balikan sama aku kalo kalo akhirnya sikap kamu masih bejat kaya gini!" teriak Mawar.
"Istri pejabat kok gak punya etika sih berani siram orang kaya gini!" bentak Jenni.
"Aku bakalan aduin ini semua sama mamah kamu Mas biar semua aset kamu ditarik dan kamu jadi gelandangan di jalan. Aku udah muak sama semua tingkah laku kamu! Jangan pulang ke rumah aku lagi, mulai detik ini aku gak mau jadi istri kamu lagi. Silakan nikahi perempuan rendahan ini! Bye!"
Ucap Mawar sambil berderai air mata lalu meninggalkan restoran itu.
"Mawar!" teriak Arka memanggil Mawar.
Arka melihat Jenni yang matanya kepedihan lalu mengantarnya ke toilet tanpa mengejar Mawar.
"Maafin istri saya ya kamu gapapa kan?" tanya Arka mencemaskan Jenni tanpa mencemaskan Mawar.
Setelah mencuci wajahnya Jenni berpura-pura matanya masih terasa perih. "Aduh mata saya perih banget Pak," rintih Jenni.
Arka meniup mata Jenni dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
'Astaga, ganteng banget jadi pengen cium," batin Jenni.