
Sudah seminggu Mawar menyembunyikan kehamilannya dari Arka, kebetulan Rita sudah pulang dari kemarin. Hari ini Mawar akan membuat kejutan untuk kedua orang itu.
"Mah, maafin Mawar ya gak bisa jengukin nenek." Ucap Mawar di sela-sela sarapan pagi itu.
"Iya gapapa, mamah ngerti kok." Balas Rita.
"Emang dasarnya tukang ngerepotin orang." Gerutu Arka.
"Arka, kamu gak boleh ngomong kaya gitu samai istri kamu sendiri." Tegas Rita.
"Oh iya Mas, Mah, aku punya balon nanti kalian pecahin ya." Ucap Mawar dengan antusiasnya.
"Balon? buat apa Mawar?" tanya Rita.
"Udah deh, jangan kaya bocah." Ucap Arka.
**
Selesai sarapann Mawar membawa balon itu kepada Arka dan Rita yang berada di ruang keluarga.
"Mah, Mas, sekarang kalian pecahin ya balonnya." Ujar Mawar.
Tanpa pikir panjang Arka dan Rita memecahkan balon itu. Tampak terjatuh sebuah benda berukuran kecil.
Rita langsung mengambil benda itu.
"Test pack?" tanya Rita. Lalu ia melihat bahwa test pack itu bergaris 2.
"Ya ampun kamu hamil Mawar? lihat deh Arka kamu bakalan jadi papah." Rita sangat senang dengan kehamilan menantu nya itu.
'Apa? jadi Mawar udah tahu kalau dia hamil? bagus lah aku gak perlu repot-repot menyembunyikan kehamilannya lagi.' Batin Arka.
"Arka lihat dong ini garis 2 loh, ini yang mamah tunggu-tunggu." Tutur Rita membuyarkan lamunan Arka.
"O, iya iya Mah, Arka berangkat kerja dulu ya. Permisi." Arka meninggalkan Mawar dan Rita begitu saja.
__ADS_1
"Mawar kamu harus jaga baik-baik kesehatan kamu ya. Mamah gak mau cucu Mamah ini kenapa-napa."
"Iya, pasti Mawar jaga kok Mah. Kalo gitu Mawar permisi ke kamar dulu ya Mah." Balas Mawar dengan rasa kecewanya karena Arka sama sekali tidak merespon kehamilannya.
"Yaudah kamu istirahat ya. Mamah mau ke butik dulu."
***
Di kamar Mawar menangis tersedu-sedu karena kecewa dengan sikap Arka yang begitu tidak peduli dengan kehamilannya.
"Aku gak boleh nangis, mungkin Mas Arka buru-buru ke kantor jadi gak sempet bilang apa-apa. Aku yakin Mas Arka seneng kok dengan kehamilan aku ini, makannya hari itu dia ngajakin aku bulan madu." Mawar menghapus air matanya.
Mawar hendak menyimpan test pack itu di laci, namun ia menemukan sebuah kertas di laci itu.
Karena penasaran Mawar pun membuka nya. Tertera jelas di kertas itu tentang kehamilannya.
"Ini kan nama klinik yang saat itu aku di rawat? kenapa di sini tertera jelas kalo aku hamil? dan kenapa aku gak tahu sama sekali tentang kertas ini? aku bahkan baru tahu aku hamil saat di test pack. Aku sama sekali gak baca kertas ini." Gerutu Mawar.
"Apa jangan-jangan ini ulah Mas Arka? Mas Arka sengaja gak mau aku tahu kalau aku hamil?" Mawar terus bertanya-tanya hingga akhirnya ia menelepon Arka.
Namun sayang Arka menolak teleponnya berkali-kali. Seolah Arka menjauh dari Mawar karena kehamilannya ini.
***
Jam 17:00 Arka pulang ke rumah. Ia langsung naik ke kamar dan rupanya Mawar sudah menunggu sejak pagi di sana.
"Mas tolong kamu jelasin kenapa ada kertas ini di laci?" tanya Mawar.
"Kamu apaan sih aku baru pulang loh kamu udah nanya-nanya hal gak penting." Balas Arka cuek.
"Gak penting apanya Mas? aku harus tahu lah kenapa ada kertas ini di laci, kamu yang bawa? hah?" tanya Mawar.
"Iya, aku yang bawa. Lagian kenapa sih pake di bahas segala. Udah tahu orang baru balik cape tahu gak!"
"Kenapa kamu bilang hah? kalo gini sama aja kamu nutupin kehamilan ini dari aku!"
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi perempuan gak tahu dan gak sadar sama diri kamu sendiri kalo kamu itu hamil!!" bentak Arka.
"Kamu gak merasa bersalah sama sekali ya Mas, kamu yang ngajakin kita bulan madu, kamu mau aku hamil, tapi sekarang apa Mas kamu malah kaya gini, dokter udah bilang aku hamil tapi kamu gak ngasih tahu aku apa pun. Kenapa Mas? apa yang salah? ini aku hamil anak kamu, anak dari pernikahan kita dan ini bukan anak di luar nikah kenapa kamu seperti ini Mas?"
"Cukup Mawar Cukup!! aku tuh pusing! kamu hamil Sherly hamil! kenapa sih kalian bisa hamil di waktu bersamaan, masalah sama Sherly aja belum selesai dan sekarang kamu lagi hamil." Bentak Arka.
"Terus? apa masalahnya Mas? kenapa kamu sangkungpautkan aku sama Sherly jelas kita beda, aku istri kamu, istri sah kamu, sedangkan Sherly dia cuma pacar kamu."
"Oh ya? gampang ya kamu ngomong? yang jelas aku belum bisa nerima anak itu."
"Lalu kamu menerima anak Shely? hah?" teriak Mawar.
"Kenapa sih anak itu hadir di saat aku lagi banyak masalah, pasti nanti kamu minta aku manjain lah, ngidam ini lah itu lah, belum lagi Sherly dia minta ketemu terus minta di perhatiin. Bisa meledak tahu gak kepala aku kalo kaya gini."
"Aku heran sama kamu Mas, kenapa sekarang kamu ngebelain Sherly terus? padahal kemarin-kemarin kamu bilang kamu gak yakin itu anak kamu, kenapa Mas?"
"Terus gimana kalo anak itu beneran anak aku? hah? gimana? anak berdarah Dewantara!" teriak Arka.
"Dan aku sadar selama ini aku banyak berbuat itu sama Sherly, bisa jadi salah satu atau beberapa pengaman kita tidak berfungsi dengan baik." Sela Arka lagi.
"Terus aja kamu belain pacar kamu itu Mas terus!!" teriak Mawar.
"Sebelum anak itu lahir, aku bakalan terus jagain Sherly, aku takut kalo itu beneran anak aku." Jawab Arka.
Begitu terpukul hati Mawar mendengar Arka mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sama sekali tidak ingin Mawar dengar.
Mawar hendak pergi tapi tangannya di cekal oleh Arka.
"Mau kemana kamu hah? jangan kemana-mana, inget sekarang ada mamah! diem di kamar!!" tegas Arka.
"Aku mau pergi Mas, aku cape! cape sama semua ini! tolong jangan hentikan aku!!" teriak Mawar.
Untung saja kamar mereka di lantai atas dan kedap suara. Jadi kehebohan sebesar apa pun tidak akan terdengar ke bawah.
Arka mendorong Mawar ke ranjang hingga terlentang. "Diam di kamar atau aku siksa kamu dengan tidak berhenti memperkosa kamu secara brutal!" ancam Arka.
__ADS_1
"Gila kamu Mas! kamu udah gila! kamu lupa kalo aku juga lagi mengandung anak kamu, anak berdarah Dewantara!!"
"Terserah. Toh kalo anak kamu keguguran masih ada Sherly." Ucap Arka tanpa rasa bersalah.