
Arka menuruti keinginan Mawar untuk tidak membawa anak mereka pergi dari rumahnya, terpaksa Arka yang akan menjaga Matteo di rumah Mawar setiap hari.
Pagi ini Mawar buru-buru sekali karena ada rapat penting, Arka sudah ada sejak subuh di kamar Matteo. Itu membuat hati Mawar sedikit tenang.
*
Setelah rapat selesai Mawar kembali ke ruangannya. Setiap kali duduk sendiri pasti banyak beban pikiran yang menyerangnya.
Mawar membayangkan sedikit demi sedikit pengorbanan Arka untuknya dan juga Matteo, Arka bahkan terpaksa cuti dan membatalkan beberapa rapat penting di perusahaan demi menjaga Matteo.
"Apa semua ini tulus dari hatinya?" ucap Mawar.
"Atau semuanya akan berakhir sama seperti dulu?" sambungnya lagi.
Di sisi lain Arka sedang mengamati Matteo yang sedang asik bermain sendirian. Lama menatap anaknya itu ia menjadi berpikir bahwa betapa bodohnya ia sudah menyia-nyiakan anak dan istrinya dahulu.
Arka melihat lengan kemejanya lalu duduk bersama Matteo. "Papapapa," ujar Matteo.
"Apa sayang, iya ini papa," tutur Arka terharu.
Matteo sudah tumbuh menjadi anak yang lucu, tapi ia tidak berada di tengah-tengah ayah dan ibunya. Bagaimana jika ia sudah mulai mengerti kenapa orang tuanya tidak tinggal serumah. Apa yang akan ia jelaskan nanti.
"Papa janji bakalan jagain Matteo sama bunda Matteo ya," tutur Arka.
__ADS_1
..
Arka melihat satu per satu foto yang ada di meja, foto Matteo bersama dengan Mawar hanya mereka berdua tanpa ada dirinya.
"Apa suatu saat kamu bakalan bisa memaafkan aku Mawar?" lirih Arka sambil menatap fotonya.
Sekilas terbayang lagi perlakuannya pada Mawar di masa lalu, Arka semakin hari semakin menyalahkan dirinya atas semuanya yang terjadi.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi membuyarkan pikirannya yang kalut. Ia merogoh ponselnya di saku, rupanya Mawar yang menelponnya. Wanita yang begitu ia cintai saat ini.
"Mas, Matteo mana?" ucap Mawar ketika video callnya diangkat.
Arka mengalihkan kamera depannya ke kamera belakang. "Ada lagi asik main," ujar Arka lalu ia segera membalikkan kameranya lagi ke arah wajahnya.
"Enggak dia aman kok," tutur Arka.
"Kalo ada apa-apa bilangnya, aku takut Matteo ngerepotin kamu. Kamu kan gak biasa jagain anak," ujar Mawar.
"Iya maaf, aku gagal," lirih Arka lesu.
Mawar terdiam sejenak melihat respon Arka seperti itu. "Maaf Mas bukan maksud aku begitu," ujar Mawar.
"Ya udah aku tutup teleponnya dulu, kamu kapan pulang?" tanya Arka.
__ADS_1
"Sebentar lagi, rapatnya udah selesai kok,"
"Perlu aku jemput?"
"Gak perlu, kamu tunggu aja di rumah," tutur Mawar.
**
Satu jam kemudian Arka mendengar suara mobil lalu ia melihatnya dari jendela, terlihat Mawar yang turun dari mobil bersama seorang pria.
"Makasih ya Mil, udah anterin aku pulang. Maaf ngerepotin," ujar Mawar.
"Sama-sama Bu Mawar, kalau begitu saya permisi," tutur Emil melenggang.
Mawar masuk ke dalam rumah ia menatap Matteo yang sudah terlelap di sofa.
"Kamu pulang di anterin siapa?" tutur Arka penasaran.
"Itu Emil, manager di toko kue aku, selama aku gak ada dia yang handle semuanya," jelas Mawar.
"Kan tadi aku bilang aku yang jemput kenapa kamu lebih memilih dianterin orang lain?" ujar Arka. Ia tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya itu.
"Udah lah Mas, gak baik berdebat di depan anak," ujar Mawar berusaha menghindar namun tangannya di cekal lalu Arka menariknya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Mata Mawar membulat mendapati perlakuan itu. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.