Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Lupakan


__ADS_3

Tidak ada angin atau hujan Langit tiba-tiba datang menemui Mawar ke toko, ia datang tanpa istrinya, Bella.


Mawar sedikit tercengang melihat Langit tiba-tiba berada di hadapannya masuk ruangannya tanpa izin.


"Langit?" ujar Mawar bengong.


"Aku butuh bicara sama kamu berdua," tutur Langit.


"Kamu udah punya istri ngapain ke sini?" tutur Mawar tak percaya.


"Kamu ngerti gak sih aku nikah itu gak ada rasa cinta sama sekali sama Bella, aku cuma mau lihat respon kamu gimana aku pikir kamu bakal ngelakuin hal yang di luar dugaan aku ternyata enggak!" bentak Langit keras.


Mawar membulat. "Maksud kamu nikahin anak orang cuma buat manas-manasin aku? Gila kamu hah!" balas Mawar.


"Aku gila? Kamu yang gila! Aku berjuang buat kamu buat Matteo tapi apa hasilnya gak ada!" Sergah Langit penuh emosi.


"Tapi cinta itu gak bisa dipaksa Langit! Sekarang kamu pulang jalanin rumah tangga kamu sebaik mungkin jangan sia-siakan Bella, jangan biarin dia ngerasain apa yang dulu aku rasain," pekik Mawar berkaca-kaca.


"Gak semudah itu, aku udah suruh Bella pulang ke rumah orang tuanya. Kita sepakat bercerai," tekad Langit.


Mata Mawar membulat lalu beranjak dari duduknya. "Apa? Kamu kenapa sih Langit aku sama sekali gak habis pikir!" bentak Mawar.


Mawar beranjak dari duduknya mendengar ucapan kotor itu. "Gila ya, kamu bener-bener gak punya hati Langit!" bentak Mawar.


"Bukan salah mas Langit mba tapi salah saya!" tiba-tiba saja Bella datang masuk ke ruangan tanpa permisi.


"Bella," tutur Mawar dan Langit bersamaan.


"Maafin kebohongan aku Mas, sebenarnya aku setuju sama perjodohan ini karena aku udah hamil 2 bulan sama pacar aku," tutur Bella ragu.


"Apa!" Langit tercengang begitu juga dengan Mawar.


"Maafin aku Mas, aku terpaksa lakuin ini semua dan sekarang pacar aku udah mau tanggung jawab jadi terserah Mas mau gimana sekarang," ujar Bella.

__ADS_1


"Kamu pikir pernikahan itu mainan? Kamu bisa seenaknya menyetujui menikah sama Langit dan sekarang setelah pacar kamu kembali kamu mau selesaikan semuanya?" ujar Mawar tegas.


"Jadi papa kamu juga udah tahu soal ini?" tanya Langit.


"Udah Mas, makannya papa cari cara biar aku gak ketahuan hamil duluan dengan menikahkan aku sama Mas," Bella tertunduk.


Langit terkulai lemas duduk di sofa ruangan itu. "Aku gak habis pikir sama kamu Bella," lirih Langit.


Mawar mematung dengan keadaan itu.


Bella bersimpuh di hadapan Langit. "Mas tolong ceraikan aku, aku mau nikah sama pacar aku Mas! Aku udah minta papa jelasin semuanya ke keluarga Mas Langit, aku sama pacar aku saling cinta," Bella menangis di hadapan Langit.


"Oke kalo itu mau kamu, aku juga gak pernah cinta sama kamu! Ayo kita berdua ke pengadilan!" tegas Langit beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Bella dengan kasar.


"Langit hei kamu gak boleh kasar kaya gitu!" teriak Mawar.


Namun Langit sama sekali tidak menggubris ucapan Mawar dan terus menyeret istrinya itu masuk ke dalam mobil.


***


Bella tentunya merasa lega dengan ucapan hakim tersebut, begitu juga dengan Langit namun di sisi lain ia merasa sesak karena telah dibohongi Bella dan keluarganya.


Selain itu ia merasa telah mempermainkan sebuah pernikahan yang sakral.


"Apa keputusan ini sudah tepat?" ucap Langit tiba-tiba.


Bella meliriknya dengan tatapan aneh. "Tepat Mas, biar kita bahagia dengan pilihan masing-masing bukan kaya gini,"


Mereka berdua keluar sambil berjalan beriringan dari gedung itu.


"Jadi selama ini aku cuma selir buat kamu?" tanya Langit.


"Kamu gak sadar dengan apa yang kamu bilang? Bukannya di sini aku juga sama, cuma selir buat kamu. Kamu cinta sama mba Mawar kan? Tadi aku denger semuanya," tutur Bella.

__ADS_1


***


Tak mau memikirkan masalah Langit, Mawar segera pulang untuk menemui buah hatinya Matteo. Mawar kini memiliki baby sister untuk menjaga Matteo dan tak perlu membawanya kerja lagi.


"Hai anak Bunda," sapa Mawar pada Matteo yang sedang asyik bermain.


Seketika Matteo berjalan dengan langkahnya yang belum sempurna lalu memeluk Mawar dengan erat.


"Sudah pulang Bu?" tanya suster Inem.


"Udah Sus, gimana tadi Matteo rewel gak?" tanya Mawar.


"Enggak Non, kebetulan tadi ada papanya dateng ke sini," tutur Inem.


"Ngapain?" tanya Mawar terkejut.


"Cuma ngajak main Matteo sebentar sama nitipin sesuatu ke saya Bu, sebentar saya ambil dulu," tutur Inem masuk ke kamarnya lalu kembali dengan sebuah kotak kado.


"Ini Bu," ujarnya menyodorkan sebuah kotak kado yang entah isinya apa.


"Buat saya? Buat Matteo kali," ujar Mawar.


"Enggak Bu, tadi bilangnya buat Ibu, kalo buat den Matteo tadi beli mainan banyak banget,"


"Gitu ya? Yaudah saya bersih-bersih dulu ya,"


****


Setelah membersihkan diri Mawar kembali mengambil kotak kado itu.


"Ini apa ya isinya?" tuturnya.


Mawar membuka perlahan kotak kado itu dan rupanya isinya sebuah kalung berlian.

__ADS_1


__ADS_2