Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Nilai harga diri


__ADS_3

Mawar melanjutkan hidupnya sebagai single mom, kehidupannya jauh lebih baik dari sebelumnya yang penuh penderitaan.


Matteo kini sudah berusia 1 tahun, ia mulai bisa mengatakan 'bunda' dan itu sesuatu yang membuat Mawar terharu.


Perjuangannya untuk bisa sampai di titik ini bukanlah hal yang mudah.


Mawar kini menjadi wanita karir dan fokus di toko kuenya yang semakin berkembang. Sementara hubungannya dengan Arka tetap baik-baik saja dengan batasan hanya sebagai ibu dan ayah dari Matteo.


Hati Mawar kini sudah membeku untuk Arka. Rupanya di dunia ini banyak hal yang tidak bisa diperbaiki termasuk hati yang hancur lebur.


Namun Mawar tidak pernah menyesal telah menikah dengan Arka, banyak pelajaran yang bisa ia petik dari kehidupannya yang lalu.


***


"Kamu wanita yang berkelas," ujar Langit menatap foto-fotonya bersama Mawar.


Laki-laki itu tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Mawar.


Setelah pulang kerja Langit berniat untuk mendatangi toko kue milik Mawar.


Pernah melewati hari-hari yang berat, Mawar kini menjadi lebih tangguh menghadapi sesuatu. Ia mampu berdiri dengan kakinya sendiri tanpa takut tidak ditemani.


Tantangan yang sulit bagi Langit untuk menaklukan hati wanita seperti Mawar, apalagi kini ia lebih fokus pada anak dan karirnya.


Entah ada atau tidak celah untuknya masuk ke dalam hati wanita kuat itu, yang jelas ia masih berusaha keras mendapatkan hatinya.

__ADS_1


**


"Selamat petang," ujar Langit pada Mawar yang sedang menyuapi Matteo di taman toko.


Mawar mendongakkan kepalanya, ia tahu betul suara siapa itu.


"Hai," ujar Mawar tanpa rasa kaku karena sudah terbiasa dengan kehadiran Langit.


"Papapapa," oceh Matteo.


Mawar sedikit tertegun dengan ucapan anaknya itu.


"Sayang kamu udah bisa bilang papa ya?" ujar Mawar kikuk.


"Gapapa kok Matteo bisa panggil Om papa," tutur Langit.


"Setelah ini aku bisa ngomong sesuatu gak?" tanya Langit serius.


"Boleh, tapi nanti dulu ya biar aku titip Matteo ke suster," jawab Mawar.


Langit mengangguk seraya mengerti.


....


Mawar dan Langit duduk di bangku taman layaknya anak muda yang sedang pacaran.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Mawar memecahkan suasana.


"Aku boleh tanya sesuatu gak?" ucap Langit serius.


"Soal apa?"


"Soal hubungan kita," ucap Langit.


Mawar terdiam sejenak, entah apa yang harus ia ucapkan untuk menenangkan hati Langit.


"Mawar, mau sampe kapan kamu gantung aku kaya gini udah hampir setahun sejak kamu bercerai. Aku tahu mungkin dulu kamu masih trauma tapi sekarang? Apa gak ada sedikit aja perasaan kamu buat aku?" ucap Langit serius.


"Langit?" ujar Mawar.


"Aku selalu berdoa biar Tuhan membuka hati kamu buat aku, tapi apa sesusah itu meyakinkan hati yang pernah hancur?" potong Langit lagi.


Mawar terdiam.


"Kamu mungkin seneng hubungan kita kaya gini, gak ada kejelasan sedikit pun tapi aku sebagai orang yang sayang banget sama kamu takut kamu dimiliki orang lain," ujar Langit lagi.


"Langit aku-" belum selesai bicara Langit susah memotong pembicaraannya lagi.


"Kamu belum siap? Kamu masih trauma? Sampai kapan Mawar?" potong Langit.


"Langit kamu kenapa sih kok tiba-tiba ngomong kaya gini? Bukannya selama ini kita fine-fine aja ya?" ujar Mawar.

__ADS_1


"Kamu gak ngerti perasaan aku Mawar, selama ini aku udah berusaha buat kamu jatuh cinta tapi hasilnya apa? Gak ada," ucap Langit.


"Tapi cinta itu gak bisa tumbuh dengan sengaja, sekeras apa pun kamu buat aku jatuh cinta!" tegas Mawar.


__ADS_2