Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 106


__ADS_3

Pukul tujuh malam, mobil yang dikendarai Bram dan juga Ryan dan anak buahnya sampai di perkebunan. Nenek langsung menyambut mereka dengan hangat. Dan menyuruh mereka untuk istirahat.


" Mami,, dulu waktu Joe kesini. Belum ada penginapan itu kan Mi. "


" Iya Joe. Baru dua bulan yang lalu dibuka. "


" Dan kamu pasti akan lebih terkejut lagi kalo tahu siapa pemiliknya Joe. "


" Emangnya siapa Mami Cia ?"


" Papi Bram. "


" Beneran Pi ??" tanya Joe tak percaya.


" Iya. Sebenarnya dulu, aku berniat untuk menjadikannya asrama anak buahku. Tapi, setelah melihat suasana yang begittu asri. Jadi kepikikiran kenapa gak buat penginapan saja. Pasti bisa dijadikan destinasi wisata kedepannya. "


" Memang kalo udah jodoh. Mau seberapa jauhpun akhirnya ya ketemu juga. " ujar Ibu.


" Iya, Bu Suci. " jawab Ratih.


" Benar itu Bram. Kita bisa buat sebagian lahan ini agro wisata. Gak hanya bunga tapi juga buah-buahan." kata Pratama.


" Asyik kayaknya bisa tinggal disini ya Bu. "


" Iya Nak. "


" Kamu mau Ras ? Papa bisa membangunkan rumah disini. "


" Memangnya yakin Papa mau aku tinggal di Bandung aja ? Aku pegang omongan Papa lho ya. "


" Gak jadi,, gak jadi,, yahhh,, kamu tinggal di Jakarta aja. Lagipula , perusahaan Damian juga di Jakarta."


Semuanya tertawa melihat Pratama yang tengah panik.


" Kan kedepannya kita bisa nginep di penginapan Papi Bram aja Pa. Kenapa sih tiap Laras ngomong selalu aja pengen di beli. "


" Karena kamu gak pernah mau menerima apa yang sudah Papa berikan. " jawab Pratama sambil mencubit pipiinya.


" Betull,,, betull,,, betuulll,, " seru Joe setuju.


" Kalo Mama yang belikan mau terima ini berarti. "


" Gak mau. "


" Kenapa ?"


" Karena aku gak membutuhkannya. "

__ADS_1


" Lahan Nenek masih luas lho Ras. " goda Nenek.


" Bisa buat agrobisnis seperti yang dibilang Papa Nek."


" Bukan buat rumah ?"


" Kok semua jadi serius nanggepin omongan Laras ya Bu. Padahal tadi kita cuma ngobrol aja. "


Ibu tertawa dan menarik hidung Laras.


" Papamu benar. Karena kamu selama ini, selalu menolak apa yang Papamu berikan. Mereka jadi bingung mau memberikan hadiah apa untuk prestasimu. "


" Betul sekali Bu Suci. Aku sampai ikut pusing kalo Papanya ini tanya mau belikan Laras hadiah apa. " sahut Ratih.


Semuanya jadi tertawa.


" Ya udah sekarang gini aja. Siapa aja nih yang mau kasih Laras hadiah ?"


Azka, Mei dan juga Joe ikut tertawa saat semua tetuanya tengah mengangkat tangan. Bahkan Ruly dan Prita ikut mengangkat tangannya. Hingga ketiga saudaranya pun ikut mengangkat tangannya. Membuat Laraa terharu. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang. Tak berapa lama air mata itu jatuh dengan sendirinya.


" Terima kasih. " ucapnya tulus.


" Lalu sekarang Mbak Laras minta hadiah apa ? "


" Aku ingin,, kalian semua panjang umur,, tetap rukun seperti ini,, tetap saling menyayangi. Saling mendoakan. Aku ingin kalian selalu sehat dan berbahagia seperti ini. Jangan ada yang menangis lagi. "


Semuanya menjadi menangis terharu. Joe memeluk Laras erat.


Laras menjadi terisak dipelukan Joe. Azka dan Mei mendekat untuk melakukan hal yang sama.


" Laras,, kami serius ingin memberikan hadiah untuk kamu. Bahkan sedari dulu. Kalo Mas ingin memberimu hadiah seperti yang Mas berikan pada Azka dan Joe. Pasti kamu selalu lebih dulu membelinya. "


" Benarkah Ruly ?" tanya Ratih tak percaya.


" Iya Ma. "


Laras melepaskan pelukan Joe dan hanya mendekap Joe dan juga Azka dan Mei.


" Eehhmm,, kalo gitu. Semuanya patungan aja."


" Patungan ?"


" Iya. Karena aku ingin di bangunkan panti asuhan dan masjid didekat sini. "


" Masyalllahu,, benar-benar anak hebat. " puji Ibu.


" Deal,,, ??!! " seru Bram pada yang lainnya.

__ADS_1


" Deal,,, !!!! "


" Kita akan segera merealisasikannya Ras. " kata Astrid.


" Bahkan aku yakin Damian akan sangat menyetujuinya." lanjut Astrid sambil menghapus air matanya.


" Terima kasih Ma. Pa. Pi. Mas Ruly. Mbak Prita."


" Ya sudah, kalian istirahat. Besok pagi-pagi sekali kita jalan-jalan dan menentukan lokasi pembangunan masjid dan panti asuhannya. " kata Nenek.


" Sudah bawa kunci masing-masing kamar kan. "


" Udah Pi. Tapi aku mau tidur sama Laras aja. Aku masih kangen. " kata Azka sambil memeluk Laras.


" Aku juga. "


" Susaaahh deh. Mulai ciwi-ciwi bawelnya. " sindir Joe.


" Kita tidur sendiri-sendiri. Biar adil. " tegas Nenek.


" Syukurin. "


" Joe,, resek ah. "


" Azka,, Joe,,, "


" Maaf. "


" Ya sudah istirahat sana. "


" Kami permisi. Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Setelah kepergian anak-anaknya. Tinggal para tetuanya. Mereka mulai membicarakan dimana lokasinya akan dibangun.


Bram mengusulkan masjidnya dibangun di seberang jalan. didepan perkebunan Sekar. Sedangkan panti asuhannya bisa di samping masjidnya. Kalo tanah untuk masjid itu masih tanah Bram. Sedanhkan tanah untuk panti asuhan itu, sudah menjadi tanah Nenek. Setelah disepakati. Giliran Nico yang mencari desain untuk Masjid dan panti asuhan itu.


Damian menghapus air matanya. Entah seberapa besar rasa cintanya kini untuk Laras. Ada bangga dan kagum bercampur jadi satu saat Astrid mengirimkan video cctv diruangan itu atas seijin Bram.


Begitu besar rasa sayang keluarganya pada Laras oun sebaliknya. Ahh,, Mama benar. Luka itu mendewasakanmu aayang. Aku semakin merindukan kamu Zaujatie. Batin Damian.


Yah,, sejak Laras chat dan memanggilnya Zaujie. Damian segera browsing kata itu. Dia jadi tertawa sendiri dikantornya saat tahu artinya.


****


Sudah hampir satu bulan terlewati. Kini, perusahaan Florist sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Bahkan sudah menambahkan produk kecantikan seperti lulur.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Pratama. Sebagian lahan digunakan menjadi agrobisnis dengan mengajak kerja sama warga sekitar. Penginapan Bram menjadi rame karena adanya destinasi wisata itu. Bahkan banyak warga yang dnegan sukarela membantu saat tahu kalo akan dibangun masjid dan panti asuhan.


Untung saja hari wisuda Azka, Mei dan Joe tidak bersamaan lagi. Hingga semua keluarga jadi bisa datang ke masing-masing wisuda. Hanya diwisuda Rey yang tidak bisa dihadiri karena jadwalnya bentrok. Mahira sudah diijinkan Astrid dan Anggi untuk ikut ke London bersama orang tua Rey. Sedangkan pekeerjaan Damain sementara dihandle Astrid. Tentu saja Damian menjadi senang. Karena tidak perlu kerja dua kali untuk mengecek pekerjaan Mahira.


__ADS_2