Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 103


__ADS_3

Setelah ijab qobul. Pengantin dna mobil pengiringnya langsung pulang ke rumah Pratama. Disana semua undnagn yang hanya terdiri dari rekan kerja dan juga anak buah Bram dan Nico sudah menunggu.


Kedua pasang pengantin baru itu bergandengan menuju taman belakang yang sudah dihias daribkemarin. Garden Party konsepnya.


Saat tamu sudah hampir sepi, Laras mendekat ke arah Bram yang sedang sendiri. Karena Mami Sekar dan Mami Cia tengah berganti kostum lebih santai.


" Papi Bram. "


Bram menoleh. Dia terenyum pada Laras.


" Papi,, boleh aku tanya sesuatu ?"


" Apa itu ?"


" Bagaimana Papi tahu tentang masa lalu Laras ?".


Bram menunduk. Dia tahu yang dia dan Nico lakukan itu salah.


" Apa Papa yang menceritakannya ?"


Bram menggeleng. Dia hendak menceritakannya saat Tyo, Rudy, Pratama dan Nico mendekat.


" Ada apa Raas ?" tanya Pratama.


" Gak ada apa-apa, Pa. " jawab Laras bohong.


" Laras. Bukan Papamu yang menceritakannya. "


Pratama melihat keduanya bingung.


" Menceritakan apa ?"


" Rekaman cctv itu Nico. " jawab Bram saat Nico memberi kode bertanya apa yang sedang terjadi.


" Tentang masa lalu Laras ?" tanya Nico.


Tentu saja membuat Laras dan Pratama tersentak kaget. Hal ini menjadi sangat ssensitif untuk keduanya.


" Papi Nico ,,, juga tahu,, ? Om Tyo,, jangan-jangan,, "


" Iya. Aku sudah tahu Laras. "


" Kalian ,, tahu darimana ?!" seru Pratama tercekat.


" Maaf. Aku keceplosan ngomong Kak. " pinta Rudy menyesal.


" Dasar kamu Rud !" geram Pratama.


Rudy hanya menunduk merasa bersalah.


" Aku dan Nico mendengar dari cctv di ruang meeting."


Laras menunduk, ada rasa nyeri setiap kali ada orang ynag baru dikenalnya mengetahui tentnag masa lalunya.


" Maafkan kami Ras. " pinta Nico.


" Aku janji tidak akan menyebarkannya. " tegas Tyo merasa bersalah.


" Aaarghh,, !! " geram Pratama marah.


Dia melirik Laras yang masih menunduk. Baru saja aku menikmati keakraban dengan anakku Laras. Aku yakin setelah ini dia akan berubah padaku. Batin Pratama.


" Aku bukannya marah Om,, Papa,, Papi. "


Laras menggenggam tangan Pratama yang terlihat masih emosi.


" Aku hanya menyayangkan orang-orang yang kembali mengungkitnya setelah aku sudah berdamai dengan masa laluku. Gak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya mau tidak mau sudah terjadi. Dan harus dihadapi. Aku harap tidak ada lagi yang akan menyinggungnya. Aku harap kita tutup rapat-rapat aib ini. Demi kebaikan kita semua. Bukan,, untuk kebaikanku lebih tepatnya."


" Kami tahu Ras. Kami akan selalu jaga rahasia ini. "


" Terima kasih. Udah. Papa gak perlu emosi lagi. Ini hari bahagia Papi Bram dan Papi Nico lho. Jangan rusak kebahagiaam mereka dengan emosi Papa. "


" Terima kasih Nak. " jawab Pratamaa sambil mengusap kepala Laras.


" Aku ke Ibu dulu ya. "


" Jangan menyakitinya lagi Pratama. Kamu tahu ada kami yang gak akan tinggal diam. " hardik Bram.


" Meski harus berurusan denganmu sekalipun. " seru Nico menambahkan.


" Aku yakin Laras akan bahagia mendengar kalian begitu menyayanginya. " ucap Tyo tulus.


** *


Laras menggantikan menggendong Al Hadad agar Ibu dan Prita bisa bergantian untuk makan. Damian mendekat kearah Laras. Dan berdiri dibelkangnya melihat Laras yang menciumi pipi gembul Al hadad.


Damian mencubit pipi gembul Al Hadad dengan tanagn kanannya sedangkan tangan kirinya mencubit pipi Laras.


" Iihh,, apaan siih.. Ngagetin aja. "


" Aku iiri sama Al Hadad. "


" Kenapa ?"


" Dia bisa dicium sama aunty cantik ini. Aku yang calon suaminya belum pernah merasakannya. "


Laras tertawa.


" Kan ini muhrimku. Kalo yang ini masih haram."


" Aku halalkan sekarang aja. Aku udah hafal niatnya."


" Eenakk ajaa. "


" Raas,, dipercepat dong. "


" Ogahh. "


" Ayoolah,, tiga bulan lagi aja ya. "


" Gak mau. Agustus. "


" Kelamaan. "


" Gak. Malah terlalu cepat. Apa mau di undur Oktober aja. Kan ultah kamu Mas. "


" Ogahhhh !!!" jawab Damian ketus.


" Apaan sih kok ketus gitu. "


" Apa kamu baik-baik saja sayang ?"


" Tentang ?"


" Aku mendengarnya tadi. Papi-Papimu,, "


" Oohh,, tentang masalah itu. Aku baik-baik saja kok."


" Kamu harua baik-baik aja. Dua bulan lagi aku harus ada di kota Xx. Untuk pembukaan mall baru. Aku harap kamu jaga diri baik-baik. Biar aku gak khawatir disana. "

__ADS_1


" Mas lupa ? Aku dikawal lho sekarang. "


" Bukan hanya keselamatan fisikmu sayang. Tapi,, juga kesehatan psikismu yang aku khawatirkan. "


" Mas,, aku baik. Tenang aja. Ada Mahira yang selalu melaporkan keadaanku pada Tante Anggi. Aku tahu ini karena permintaan Mas Damian juga kan. "


" Huhhhh,, rasanya ingin sekali aku culik kamu sayang. Dan aku kurung dirumahku. " kata Damian sambil menangkup kedua pipi Laras dan menggoyangkannya ke kanan dan kekiri. Dia hanya tertawa senang.


" Maass,, lepasin. nanti baby Al bangun. "


" Gak mau. Panggil sayang dulu. "


" Gak mau. "


" Ya udah. "


" Maaasss,, "


Astrid mendekat dan menjewer telinga Damian. Hingga sontak melepaskan tangnnya dari pipi Laras.


" Kamu,, bisa-bisanya curi-curi kesempatan. "


" Aaahh,, Ma. Damian kan cuman mau pamit Ma. "


" Pamit kemana ?" tanya Astrid sambil melepaskan tangannya dari telinga Damian.


" Tiga bulan kedepan, aku akan berada di kota X Ma. Untuk persiapan pembukaan mallnya Papa. "


" Lalu siapa yang akan menghandlenya nanti ?"


" Karena itu aku disana untuk tiga bulan Ma. Dua bulan untuk recruitmen tenaga kerja. "


" Baiklah. Kamu jangan macem-macem disana. "


" Macam-macam gimana ? Disini satu macam aja udah Mama resek in. "


" Apa ?! Kamu bilang Mama resek ?"


Damian langsung bersembuyi dibelakang Laras yang tertawa mendengar Damian.


" Ssssttt,,, Ma. Jangan teriak-teriak. Nanti baby Al bangun. " gurau Damian.


Tangan kirinya sudah berada di pundak Laras dan satu lagi menoel-noel pipi Laras.


" Mass,,,!! "


" Eeehh,, keliru ya. " godanya sambil menoel-noel pipi baby Al.


" Laras,, Damian,, " keduanya mendongak.


KLIKKKKK....


Astrid memotret mereka. Dan tersenyum puas. Kini giliran Laras dan Damian yang saling berpandnagaan tak mengerti.


" Sudah. Biar Mama yang gendong baby Al. Kamu ajak Laras makan Damain. Seharian dia belum makan sama sekali. Itu dimeja udah Mama ambilkan. " kata Astrid sambil menggendong baby Al dan membawanya pergi.


Damian menatap Laras dengan tajam. Tidak suka dengan kebiasaan Laras yang lupa makan.


" Iya,, iya,, aku makan. "


Laras duduk dikursi. Minum air mineral yang tadi dibawanya sebelum menggendong baby Al. Damian melipat tangannya didada. Memastikan Laras makan.


" Duduklah Mas. Kita makan bersama. "


" Gak. Kamu makan dulu. "


" Udah aku makan kan. Biasa aja dong lihatnya. "


Damian mengusap kepaal Laras dengan lembut.


" Kalo gak gini. Kamu gak akan makan. Padahal tadi aku sudah memintamu untuk jaga diri. Tapi, belum berangkat aja aku udah lihat kamu sampai lupa makan. Apalagi kalo aku sudah tidak ada disini. Apa kamu akan benar-benar membuatku jantungan. "


" Sayang,, udah dong ngomelnya. "


" Gini aja kamu panggil sayang. Ini cuma aalsan kamu aja kan biar gak menghabiskan makan kamu. "


" Iya. Aku habiskan. "


Tapi hanya beberapa sendok. Laras sudah merasa kenyang. Dia mencuri pandang ke arah Damian. Berharap Damian sudab tidak melihatny lagi. Tapi dia salah. Damian masih menatapnya tajam.


" Ke,,,nyang . " sahut Laras ragu.


" Kamu hanya makan lima sendok Ras. "


" Bantuin habiskan. Aku beneran sudah kenyang. Daripada nanti muntah. "


Damian menghela nafas.


" Suapin. "


Laras tersenyum senaang kemudian mulai menyendokkan makannannya ke arah Damian.


" Begini saja kamu langsung tersenyum demikian manisnya. "


" Udah,, kalo makan gak boleh ngomong. "


" Sayangnya mana ?"


" Udah buruan dihabisin. " omel Laras sambil kembali menyendokkan kearah Damian.


" Nakal ya. " seru Damian seraya menoel hidung Laras.


" Inget kata Mama. Gak boleh pegang-pegang. "


" Aku mohon sayang. Jaga diri dan kesehatanmu selama aku gak ada disini. Aku gak mau denger kamu sakit. Jangan terlalu diforsir kerjanya. Jangan sampai lupa makan lagi."


" Iya,, iya,, kok bawel sih. "


" Aku mencemaskanmu. "


" Aku tahu Masku sayang. "


Damian tersenyum sumringah saat Laras benar-benar mau memanggilnya sayang.


" Sam,, mau makan sekarang ?" tanya Azka yang hendak menuju meja prasmanan.


" Udah gak ada tamu lagi ?"


" Ehmm,, sepertinya udah gak ada. Hanya tinggal beberapa pengawal pribadi saja. "


" Baiklah. Ayo kita makan. Aku tahu kamu juga belum makan. "


" Aku ambilkan dulu. Kamu tunggu di taman aja gimana ?"


" Oke sayang,, "


" Apaan sih sayang,, sayang,, genit ahhh. "


" Kan Damian panggil gitu juga ke Laras. "

__ADS_1


" Kan kita bukan mereka. "


" Kan meniru panggilannya saja. Apa kita cari panggilan kayak Rey aja. "


" Udah gak usah aneh-aneh. Sana cari tempat dulu."


" Iya sayang,, "


" Saaamm,, !"


Sam terkekeh sambil beranjak pergi menuju taman. Azka tertawa lucu. Kemudian mengambil satu piring berisi dua porsi makan. Dan juga satu air mineral di botol tanggung. Selama ini, mereka terbiasa berbagi tempat makan seperti ini. Lebih romantis dan sederhana.


" Busyeeettt,, sejak kapan porsi Mbak Azka jadi kayak pak tukang gitu. " celetuk Joe yang ingin mengambil satu botol air mineral dingin.


" Enak aja. Ini bukan untukku aja. Sekalian sama Mas Kahfi. "


" Ceritanya sepiring berdua gitu. "


" Seperti ittulah.. Hahaha.. Aku tinggal dulu. Jangan lupa Mei juga belum makan. "


" Udah barusan sama aku. Ini ambil minum buat dia juga. "


" Syukurlah. Aku duluan Joe. "


" Iya Nyonya Kahfi. "


" Isshh,,, apaan sih. "


Sam membantu membawakan piring itu dan meletakkannya dimeja makaan.


" Kok lama sih Yang. "


" Biasa,, tadi ada Joe didapur. "


" Tom and Jerry mulai tayang lagi dong. "


" Apaan sih. "


" Yang,, suapin ya. Aku mau sekalian ngecek email dari Pak Radit."


Azka hanya mengangguk.


" Dosen pembimbing kamu ?"


" Iya. Alhamdulillah,, dua minggu lagi aku sidang Yang."


" Alhamdulillah. Aku juga. Dua Minggu lagi kita akan sidang."


" Iya Yang. Kamu tetap berangkat dari sini ? Gak pulang ke Bandung ?"


" Rumah yang di Bandung di jual sama Nenek. Masih khawatir kalo Om David sama istrinya dan juga Yudha buat ulah lagi. Yaahh,,,meskipun ada anak buah Papi Bram dan Papi Nico yang siaga jagain sih. "


" Mungkin Nenek juga gak mau ambil resiko. Keselamatan keluarganya lebih penting. "


" Iya. "


" Oh iya,, kenapa Joe selalu memanggilku Kahfi ?"


Azka terkekeh kemudian meminum air mineralnya.


" Karena aku selalu manggil kamu Mas Kahfi didepan Joe. "


" Ohh,, pantesan waktu rapat dulu. Dia bertanya pada Laras. Kok bisa kenal sama Kaahfi. "


Azka jadi tertawa mendengar cerita Sam.


" Aku mau kamu panggil aku gitu juga Yang. Jadi ada istimewanya. Karena hanya kamu yang panggil aku gitu. "


" Iya, Mas Kahfi. "


" Sepertinya, lidahmu memang lebih terbiasa panggil Mas pada Kahfi. Bukan pada Sam. "


" Kan beda rasa juga Mas. "


" Maksudnya ?"


" Kalo Sam kan, kesannya masih panggil sahabat. Kalo Mas Kahfi kan emang jadi lebih istimewa sih."


" Terserah kamu aja Yang. " jawab Sam sambil menarik hidung Azka yang masih tertawa.


***


" Hiragana,, kakimu sudah sembuh ?" tanya Rey yang mendekat kearah Mahira yang tengah senyum-senyum melihat Laras yang menyuapi Damian.


" Alhamdulillah udah Kak Rey. "


" Alhamdulillah. Udah makan ?"


" Udah. Tadi sama Tante Astrid dan Mama. "


" Mama,, ? Tante Anggi ada disini ?"


" Mama,, Lyra. " jawab Mahira sambil menunduk malu.


Rey tertawa melihat semu merah diwajah Mahira.


" Kamu udah panggil Mamaku Mama ?"


" Kak Laras dan Tante Astrid tuuhh,, yang buat Papa jadi nyuruh aku panggil gitu. " omel Mahira.


" Ingatkan aku untuk berterima kasih pada mereka nanti. "


Mahira memukul lengan Rey kesal.


" Gimana dengan skripsinya. Kapan sidang ?"


" Satu minggu lagi. "


" Wisudanya ?"


" Sepertinya akan bulan depan. Apa kamu akan datang ?"


Mahira tampak berfikir sejenak.


" Aku belum tahu. Karena Kak Damian akan berada di kota X untuk tiga bulan. Semua pekerjaannya yang disini diserahkan padaku. "


" Pasti akan melelahkan. Untuk apa dia berada disana ? "


" Recruitmen tenaga kerja juga persiapan pembukaan mall milik Om Marco. "


" Ahh iya. Cepat sekali perkembangannya. "


" Iya. "


" Aku harap Damian bisa segera menyelesaikan pekerjaannya. Jadi kamu punya waktu untuk datang ke wisudai."


" Semoga saja. Karena Kak Rey tahu sendiri sebucin apa Kak Damian pada Kak Laras. "


Rey tertawa mendengarnya. Apalagi juga melihat ke arah Damian yang tengah menggoda Laras di kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2