Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Luka hati


__ADS_3

Mawar berjalan lunglai sambil membawa kopernya keluar dari rumah Dewantara itu.


'Aku pikir semuanya akan terus membaik, di saat kita berbulan madu, di saat kamu mengusap air mataku, di saat kamu memelukku, ternyata tidak. Memang benar, kamu seperti cuaca yang sulit ditebak Mas Arka. Hari ini aku memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupan kamu, hatiku terlalu lelah menahan luka-luka yang tidak hentinya kamu tancapkan. Awalnya aku pikir semuanya bisa aku lewati dengan penuh kesabaran tapi nyatanya hati ini tak sekuat yang aku bayangkan. Aku dicela, disakiti, aku bisa bertahan namun kali ini kamu sudah di luar batas. Kamu dengan teganya membela perempuan lain dihadapan aku, kamu menghamili perempuan lain di saat istri kamu sedang hamil. Di mana letak hati nurani kamu Mas Arka. Jatuh bangun aku berusaha mencintai kamu di saat aku berusaha melupakan Mas Dika, dan ini balasan kamu? ini Mas Arka. Aku terlalu bodoh hingga mengira kamu mulai mencintai aku ternyata tidak.' Ucap Mawar dalam batinnya.


Mawar tak langsung pulang, ia menemui Dika di makamnya. Ingin sekali ia memeluk Dika erat-erat hingga tak lepas lagi. Namun yang bisa ia peluk saat ini hanya batu nisannya.


"Mas Dika, aku minta maaf aku gak bisa menjalankan amanah kamu dengan baik Mas. Aku capek aku lelah dengan semua ini Mas, rasanya aku pengen ikut kamu aja. Mas Arka gak pernah menghargai aku sebagai istrinya Mas. Dia jauh berbeda dengan kamu, andai aja waktu itu kamu gak pergi mungkin saat ini aku gak akan pernah kehilangan kamu." Tangis Mawar sampai tersedu-sedu hingga akhirnya ia kelelahan dan tertidur di makan Dika.


Di sisi lain Langit baru saja selesai berziarah ke makam ibunya, namun ia melihat seseorang yang tertidur di makan. Langit pun segera menghampiri Mawar.


"Mba, permisi mba, mba gapapa?" ucap Langit. Tak ada jawaban dari Mawar.


Langit pun membalikan tubuh Mawar. "Astaga Mawar? kamu ngapain tidur di sini?" ucap Langit panik. Langit menepuk-nepuk pipi Mawar tapi Mawar tak juga sadarkan diri.


Ia pun segera membawanya ke dalam mobil tak lupa juga dengan kopernya. Langit memberikan aroma kayu putih pada Mawar hingga akhirnya Mawar sadar.


Penglihatan Mawar masih samar, namun ia yakin dihadapannya itu ada seseorang.


"Kamu gapapa kan?" tanya Langit.


"Langit?" ujar Mawar membuka kedua matanya.


"Kamu kenapa sih bisa ada di kuburan kaya gitu?"


"Gapapa kok, makasih udah tolongin aku."


"Sama-sama, yaudah aku anterin kamu pulang."


"Eu, gak usah tolong cariin aku taksi aja."


"Udahlah sama aku aja."


"Langit, tolong." Tegas Mawar dengan tatapan mautnya."

__ADS_1


Langit pun segera mencarikan Mawar taksi. Hingga akhirnya ia menemukannya.


Dengan penuh perhatian Langit membantu Mawar yang masih lemas untuk naik taksi.


"Makasih." Ucap singkat Mawar, taksi itu pun segera pergi dan meninggalkan Langit.


***


Sesampainya di rumah miliknya bersama Dika, Mawar merebahkan dirinya di kamar.


"Rasanya aku ingin pergi sejauh mungkin dari kota ini, dan hidup lebih tenang." Ucap Mawar.


Di sisi lain Langit baru sadar tadi ia tak mengembalikan buku Mawar yang tertinggal di mobilnya. Langit pun berniat untuk mengembalikannya ke rumah Dewantara.


Sesampainya di rumah Dewantara, semuanya tampak sepi dan hening. Hingga akhirnya Inah melihat Langit dan menghampirinya.


"Maaf, cari siapa ya Den?" sapa Inah.


"Eu ini saya lagi cari Mawar, Mawarnya ada Bi?"


"Eu gini Den, non Mawarnya udah gak tinggal di sini lagi." Jawab Inah.


"Gak tinggal di sini? terus?"


Inah pun melihat situasi untuk memberitahu Langit kalau Mawar pergi dari rumah Dewantara.


"Non Mawar pulang ke rumahnya, Den. Udah ya jangan cari Non Mawar ke sini lagi. Permisi." Inah pun segera masuk ke rumah dan menutup rapat-rapat pintunya.


"Ta-tapi ... " lirih Langit.


Dengan perasaan penuh tanya Langit meninggalkan rumah itu.


"Jangan-jangan Mawar ada masalah keluarga terus dia pergi dari rumah, tapi masa sih Mawar secepat itu mengambil keputusan?" gerutu Langit.

__ADS_1


Di sela-sela menyetirnya Langit terus memikirkan keberadaan Mawar, ia menyesal karena telah membiarkan Mawar pergi begitu saja saat di TPU tadi.


***


Hari sudah larut Mawar tak henti-hentinya menangis ia bahkan lupa tidak makan dan minum.


Hingga akhirnya perutnya terasa sakit. "Ya ampun perut aku sakit banget ... " lirih Mawar.


Ia pun segera menghapus air matanya. "Sayang, maafin Bunda ya. Bunda belum makan dan minum kamu pasti laper ya?" ucap Mawar sambil menghapus air matanya.


Mawar segera membersihkan dirinya lalu memesan makanan lewat go food.


Tiba-tiba saja teleponnya berdering. "Hallo? maaf ini siapa ya?" tanya Mawar.


"Hallo Mawar ini aku Langit? kamu di mana kamu baik-baik aja kan?" ucap Langit.


"Langit? kamu punya kontak aku dari mana?"


"Itu semua gak penting, sekarang kasih tahu aku kamu di mana?"


"Maaf, kalo gak ada kepentingan gak usah telepon ya."


"Mawar tunggu, jangan ditutup dulu teleponnya. Tadi aku ke rumah kamu tapi katanya kamu udah gak tinggal di rumah Dewantara, terus tadi aku lihat kamu bawa koper. Kamu di mana heuh? apa kamu ada masalah keluarga?"


"Semua itu bukan urusan kamu Langit. Itu urusan keluarga aku, tolong ya jangan pernah ikut campur soal apapun yang terjadi di hidup aku." Tutur Mawar.


"Aku cuma khawatir sama kamu Mawar, apa itu salah? aku juga mau balikin buku kamu yang ketinggalan." Tutur Langit.


"Kamu ambil aja buku itu aku udah gak butuh lagi." Mawar pun langsung menutup teleponnya.


"Hallo, Mawar? hallo?" ucap Langit.


Mawar sedang tak ingin berbicara dengan siapa pun termasuk dengan kakaknya, ia takut Mirna naik pitam pada Arka. Apa lagi Mirna itu berbeda dengan dia, Mirna itu tegas dan pemberani.

__ADS_1


"Apa aku harus jual rumah ini dan pergi sejauh mungkin, tapi apa kah aku berhak dengan semua ini? meskipun rumah ini atas nama aku rasanya lancang sekali jika aku menjualnya." Ucap Mawar.


Tak lama go food pun datang, Mawar memaksakan untuk makan agar kandungannya tetap baik-baik saja.


__ADS_2