Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Hampir


__ADS_3

Orang suruhan Rita membagi-bagikan foto Mawar di pinggir jalan dan mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka akan mendapat imbalan sebesar 500 juta jika berhasil menemukan Mawar. Tentu saja mereka sangat antusias dengan sayembara itu, mereka berlomba-lomba untuk mencari Mawar.


Fras yang hendak pulang pun berhenti sejenak karena jalan di penuhi orang-orang yang sedang mengantri. "Ada apa sih ini kok bikin macet aja." Gerutu Fras.


Akhirnya Fras meminggirkan mobilnya ke tepi lalu menghampiri kerumunan itu.


"Pak ini ada apa ya?" tanya Fras pada salah satu orang di sana."


"Ini Pak ada yang mengadakan sayembara, siapa yang menemukan perempuan ini akan mendapat imbalan sebesar 500 juta." Jawab orang itu sambil melihatkan foto Mawar pada Fras.


'Mawar? ini kan Mawar, siapa yang sudah mengadakan sayembara ini, apa kah pak Arka atau bu Rita?' batin Fras.


"Oh gitu, yaudah Pak makasih atas informasinya."


"Sama-sama Pak."


Fras pun kembali ke mobilnya lalu menghubungi Arka.


"Hallo Fras ada apa?" ujar Arka di sebrang sana.


"Pak saya sekarang ada di pinggir jalan dan melihat orang-orang memegang foto Bu Mawar, katanya ada sayembara untuk menemukan Bu Mawar dan imbalannya 500 juta." Ucap Fras.


"Apa? 500 juta?"


"Iya Pak, apa Bapak yang mengadakan sayembara itu?"


"Saya gak pernah membuat sayembara konyol itu Fras, mungkin itu mamah saya." Tegas Arka.


"Tapi 500 juta tidak seberapa Pak dengan kehadiran bu Mawar kembali." Jawab Fras.


Arka pun langsung mematikan teleponnya lalu pulang ke rumah untuk bicara dengan Rita.


Sesampainya di rumah Arka berteriak memanggil Rita.


"Ada apa sih Arka kamu teriak-teriak, Mamah tuh gak tuli." Protes Rita.


"Mah, apa Mamah yang udah mengadakan sayembara dehgan imbalan 500 juta?" tanya Arka.


"Iya, emangnya kenapa?"


"Astaga Mah, kenapa harus mengadakan sayembara konyol itu sih gimana kalo media tahu soal ini kantor kita bisa diliput." Ucap Arka.


"Terus kenapa kalo kantor kita diliput? ada masalah? justru bagus semakin banyak orang yang tahu sayembara itu semakin banyak yang membantu mencari Mawar."


"Membantu dengan harapan diberi uang 500 juta? itu bukan uang yang kecil loh Mah kita bisa pakai cara lain untuk mencari Mawar kenapa harus mengorbankan uang 500 juta." Tegas Arka.


"Uang itu tidak seberapa dengan kembalinya Mawar ke rumah ini! kamu itu bener-bener gak punya hati nurani ya Arka, istri kamu hilang tapi kamu masih memikirkan nominalnya."


"Ini bukan masalah nominal Mah, tapi kenapa harus mencari Mawar dengan uang, itu sama aja Mamah menukar Mawar dengan uang itu."

__ADS_1


"Halah kamu terlalu banyak bicara! uang itu gak seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan sama dia Arka. Kalau saja kamu tidak menyakitinya terus menerus dia gak akan pergi lagi pula itu uang Mamah hasil kerja Mamah di butik. Mamah gak pakai uang dari perusahaan." Tegas Rita.


"Aku yakin kok tanpa sayembara konyol itu Mawar pasti ketemu, dia gak mungkin pergi jauh dari kota ini Mah." Jawab Arka.


"Keyakinan kamu itu tanpa dasar apa-apa, kamu terlalu santai dengan keadaan ini." Ucap Rita.


Rita dan Arka menjadi sering bertengkar karena Arka yang selalu membuat Rita kesal dan muak.


"Ya terus aku harus apa Mah? Mamah selalu menekan aku untuk segera menemukan Mawar, menemukan orang yang pergi entah ke mana itu sulit Mah. Mamah egosi tahu gak?"


"Egois kamu bilang? egois Arka, lalu kamu apa? rasanya Mamah menyesal menikahkan kamu dengan Mawar. Kamu itu pengecut, tidak bisa bertanggung jawab!" bentak Rita.


"Sejak awal aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan itu Mah, tapi apa? Mamah memaksa aku untuk menikahi dia."


"Tapi bagaimanapun dia itu sudah sah menjadi istri kamu, tidak ada alasan untuk kamu mengabaikan dia Arka. Kenapa sih kamu selalu ingin menang sendiri, gak pernah dengerin omongan Mamah."


Arka berdecak kesal. "Terserah!" ucap Arka lalu meninggalkan Arka keluar rumah.


Rita melemas dan terduduk di sofa ruang tamu itu. "Aku merasa gagal menjadi seorang ibu." Gerutu Rita.


***


Fras melanjutkan perjalannya untuk pulang tapi ia tak sengaja bertemu dengan Nia, OB baru di kantor. Nia terlihat berjalan kaki sendirian. Fras pun menghentikan mobilnya dan menawari Nia tumpangan.


"Nia? kamu Nia 'kan?" tanya Fras membuka kaca mobil.


"Ayo masuk saya anterin pulang."


"Enggak usah Pak, saya udah biasa jalan kaki." Jawab Nia.


"Udah ayo masuk gak baik loh menolak bantuan." Ujar Fras.


"Emang gapapa saya masuk Pak?"


"Gapapa masuk aja."


Dengan malu-malu Nia pun masuk ke dalam mobil Fras.


"Makasih ya Pak." Ujar Nia.


"Sama-sama, kamu gak cape jalan jauh?" tanya Fras.


"Saya udah biasa kok Pak, waktu saya masih kerja di MD cake and cofee aja saya sering jalan kaki malah lebih jauh dari kantor."


"MD cake and cofee apa itu?" tanya Fras.


"Oh maaf maksud saya itu nama tempat saya kerja dulu Pak, itu semacam toko kue sama cafe gitu."


"Kamu pernah kerja di sana?"

__ADS_1


"Iya, saya pernah kerja di sana."


"Terus kenapa kamu berhenti?"


"Semenjak ada beberapa karyawan baru saya jadi kurang nyaman Pak dan akhirnya memilih berhenti."


"Oh gitu, tapi kebetulan saya lagi nyari toko kue terenak dan desainnya bagus apa di sana kuenya enak?"


"Enak banget Pak, saya bisa jamin itu. Resep di sana awalnya dari Bu Mawar."


"Bu Mawar?" Fras tampak bingung.


"Iya Bu Mawar istrinya Pak Arka."


"Loh kenapa saya baru tahu ya? kalo Bu Mawar punya toko kue."


"Toko kue itu milik Bu Mawar sama almarhum pak Dika." Ucap Nia.


"Oh ya? mungkin MD itu singkatan Mawar dan Dika ya?"


"Bisa jadi Pak, karena saya kerja di sana saat pak Dika masih ada."


"Gimana kalau kamu anterin saya ke sana, gimana?"


"Boleh Pak, tapi mungkin hanya sampai depan gak ikut masuk."


"Yaudah gapapa, ayo."


Fras melajukan mobilnya dan Nia mengarahkan jalannya.


"Itu Pak tokonya." Ucap Nia menunjuk.


"Kalau gitu saya parkir dulu kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Nanti saya anterin kamu pulang."


"Iya Pak."


Setelah parkir Fras berjalan menuju toko itu, Fras melangkahkan kakinya dan masuk.


Ia melihat di sekeliling toko itu. Ruangannya tidak begitu besar tapi sangat membuat nyaman para pelanggan.


Fras segera menghampiri kasir dan meminta kue best sellernya. Sementara itu Mawar baru saja keluar dari ruangannya ia berjalan menuju kasir juga tapi ia tak sengaja bertabrakan dengan pelayan kopi hingga bajunya kotor.


"Aduh maafkan saya Bu, saya kurang hati-hati."


"Gapapa, lain kali hati-hati ya."


Mawar akhirnya masuk kembali ke ruangannya untuk membersihkan bajunya yang kotor.


Fras yang sudah mendapatkan kue itu langsung membayarkannya dan kembali ke mobil untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2