Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Perasaan aneh


__ADS_3

Mawar melangkah kan kakinya mendekati makam almarhum suaminya itu.


Bulir-bulir air mata mulai bercucuran membasahi kedua pipi manisnya. Perlahan tangannya mengulur mengusap nisan milik Dika.


"Aku kangen kamu, Mas." Ucap Mawar getir.


Mawar membacakan surat yasin untuk mendiang Dika. Setelah itu ia menaburi bunga.


Tubuhnya bergetar ketika membayangkan kebersamaannya bersama Dika dahulu dan kini semua itu hanya tinggal kenangan. Dika yang dulu orang pertama yang akan memeluknya ketika ia bersedih namun kini Mawar hanya bisa memeluk makamnya.


Tiba-tiba ia merasakan pundaknya disentuh seseorang dari belakang.


Mawar menoleh kebelakang dan ternyata yang datang itu Arka, suaminya sekaligus adik Dika.


"Mas Arka?" ucap Mawar.


Arka berjongkok disamping Mawar lalu menghapus air matanya.


"Jadi kamu kesini?" ujar Arka.


Mawar gelagapan. "I-iya Mas."


"Kenapa gak bilang sama aku?" imbuh Arka.


"Gapapa, Mas. Mendingan sekarang kita pulang soalnya mau ujan." Balas Mawar.


"Jawab aku, Mawar. Kenapa kamu gak jujur sama aku kalo kamu mau ke makam Mas Dika?"


"Buat apa Mas aku jujur? apa kamu peduli?" tanya Mawar.


Arka terdiam dan menarik paksa Mawar untuk pulang.


"Lepasin aku Mas! bisa gak sih gak usah kasar!" teriak Mawar.


"aku sebagai seorang suami merasa tidak dihargai sama kamu Mawar!" bentak Arka.


"Cuma masalah kaya gini kamu bilang merasa tidak di hargai heuh? lalu kamu sendiri? apa yang selama ini kamu lakukan sama pacar kamu itu?" ucap Mawar.


"Udahlah Mas! aku gak mau ribut di depan makam Mas Dika, aku gak mau dia tahu istri yang paling ia cintai sekarang hidupnya tidak bahagia bersama adiknya!" ujar Mawar lagi lalu meninggalkan Arka.


Hati Arka seperti teriris pisau tajam mendengar ucapan Mawar itu, entah kenapa ia merasakan sakit yang teramat dalam. Mata Arka memerah menahan pilunya.


Arka melirik makam Dika sekilas lalu pergi mengejar istrinya.


Ternyata Mawar sudah menghilang, Arka berniat untuk berbicara pada Mawar di rumah saja.


***


"Mawar! Mawar!" teriak Arka sambil membuka pintu kamarnya, rupanya Mawar tidak ada di kamarnya.


Arka pun menanyakan keberadaan Mawar pada bi Inah dan ternyata Mawar belum pulang.


"Kemana sih dia!" gerutu Arka.


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, Arka merogoh kantung celananya.


"Mama?" ucap Arka lalu menjawab teleponnya.


"Hallo Arka?"


"Iya Ma? ada apa?"


"Arka? kayanya Mama gak bilang pulang cepet deh, apalagi sebentar lagi bulan puasa kasihan nenek lagi sakit gak ada yang nemenin dia. Hmm, Mama juga kayanya lebaran di sini."


"Loh, puasa kan masih semingguan lagi? kenapa Mama gak pulang dulu sih?" protes Arka.


"Arka .., kamu kan tahu sendiri nenek kamu lagi sakit masa Mama tinggal."


"Hm, ya udah lah terserah Mama." Arka pasrah.

__ADS_1


"Oh iya, Mawar mana Sayang?"


"Eu, Mawar ada Ma."


"Ya udah Mama tutup teleponnya kamu sama Mawar baik-baik di rumah, awas kamu jangan macem-macem apalagi nyakitin istri kamu Arka." Pinta Rita.


"Iya Ma."


Rita pun mematikan sambungan teleponnya. Sementara itu Arka keluar rumah dan mencari keberadaan Mawar. Bahkan demi mengikuti kemana Mawar pergi Arka sampai membatalkan rapatnya.


***


Sementara itu Mawar pulang ke rumah Dika, karena rumah itu memang atas namanya.


Mawar merebahkan dirinya di ranjang, kepalanya sangat pusing karena terlalu lama menangis.


Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka.


"Ohh jadi kamu di sini?" tanya Arka. Arka sengaja mencari Mawar ke rumah Dika.


"Mas Arka?" ucap Mawar.


Arka menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


"Berani ya kamu pergi dari aku? kamu pergi tanpa seizin aku buat ke makam Mas Dika? kamu masih cinta sama dia? kenapa kamu gak ikut mati aja?" ujar Arka.


Mawar beranjak dan mendekati Arka. "Apa maksud kamu Mas? kamu cemburu karena aku pergi ke makam almarhum suami aku heuh?" tanya Mawar, kini wajah mereka hanya berjarak 5 cm.


'Cemburu? apa iya aku cemburu?' batin Arka.


Arka mendorong tubuh Mawar hingga berbaring di atas ranjang. Ia pun dengan kasar membuka satu persatu pakaiannya.


"Ma-mau apa kamu Mas?" ucap Mawar terbata.


Arka mulai merangkak ke atas tubuh indah Mawar.


"Kamu tahu, apa hukuman yang pantas buat istri yang tidak menghargai suaminya?"


"Mas Arka!" teriak Mawar ketakutan.


"Sttt, jangan berisik." Arka menepelkan jari telunjuknya di bibir Mawar.


Lalu Arka menarik bra Mawar hingga melayang entah kemana. Kini yang tersisa hanya dress nya yang melorot sampai di pinggang.


"Mas Arka!" teriak Mawar lagi, Mawar berusaha berontak tapi tenaga Arka jauh lebih kuat.


Tanpa basa-basi Arka melahap kedua gundukan itu dengan kasar, hingga menggigitnya dengan keras. Ia ingin meluapkan kekesalannya dengan menggagahi Mawar secara kasar.


Mawar meringis kesakitan. "Euh, sakit Mas ...," lirih Mawar.


Arka mendongakkan kepalanya. "Sakit ya? makannya kamu jangan berani macem-macem sama aku!"


Lagi-lagi Arka menggigit ****** Mawar dengan keras.


Mawar tak kuasa menahan tangisnya. "Euh, Mas tolong jangan begini." Pinta Mawar.


Arka tak mendengarkan Mawar sama sekali, ia terus menggigit ****** Mawar.


Hingga akhirnya, ****** Mawar berdarah akibat gigitan keras dari Arka.


Arka mengusap sudut bibirnya. "Darah?" ucapnya, lalu ia melihat ****** Mawar berdarah.


Arka pun segera menjauhkan dirinya dari Mawar. Rupanya Mawar sudah tak sadarkan diri karena menahan sakitnya.


Ia pun mengusap darah itu dengan tissu yang berada di kamar itu.


Darahnya terus mengalir membuat Arka merasa bersalah dan menyesal.


Arka pun segera memanggil dokter khusus keluarga Dewantara.

__ADS_1


Tak lama dokter itu pun tiba di rumah Dika.


"Ayo dok, masuk." Ucap Arka, sebenarnya ia malu karena dokter pasti tahu kenapa kondisi ****** Mawar seperti itu.


Dokter Cindy pun segara memeriksa keadaan Mawar.


"Hmm, kondisinya tidak cukup parah. Cukup saya kasih obat sama salepnya. Saya harap Pak Arka jangan terlalu kasar." Ucap dokter.


Wajah Arka memerah menahan malu. "Iya, Dok."


"Kalo begitu ini resepnya silakan Bapak beli di apotek, mengoles salepnya harus dengan tangan bersih ya Pak. Bila Bapak mau melakukan itu lakukan dengan lembut dan setelah itu baru beri salep di area lukanya."


"Iya Dok, terimakasih."


Dokter itu pun segera meninggalkan rumah Dika.


***


Mawar terbangun ia merasakan perih di area dadanya, ia melihat ke dalam selimut dan ternyata pakaiannya sudah ganti. Mawar hanya menggunakan celana tidur namun tidak memakai baju.


Mawar meringis kesakitan. "Ah, perih." Ujarnya.


Pintu kamarnya terbuka, ia melihat Arka membawakan bubur dan obat untuknya.


"Kamu Makan dulu." Ucap Arka dingin.


"Gak mau." Tolak Mawar.


"Jangan sampai aku berperilaku seperti tadi Mawar. Ayo makan!" ancam Arka.


Mawar pun berusaha bangun tapi ia tak cukup tenaga, Arka dengan sigap membantu Mawar bersandar.


"Mana baju aku Mas? aku malu." Ucap Mawar.


"Gak usah malu, aku ini suami kamu." Timpal Arka.


Mawar hanya terdiam.


Arka menyuapi Mawar dengan lemah lembut. "Tadi dokter udah pakein salep kamu tenang aja."


Lagi-lagi Mawar tak menjawab.


"Udah Mas, aku gak mood makan." Ujar Mawar.


"Dikit lagi ya dikit lagi." Rayu Arka.


'Mas Arka, kalo kamu kaya gini tiap hari aku pasti merasa nyaman dan tenang didekat kamu. Tapi kenapa kamu sejahat itu tadi? dan sekarang tiba-tiba kamu baik seperti seorang malaikat.' Batin Mawar.


Mawar pun menuruti permintaan Arka.


"Ya udah sekarang kamu minum obat pereda sakitnya, nanti aku olesin salepnya." Ucap Arka.


Arka pun membawa mangkuk itu ke dapur dan tak lama kembali.


"Udah diminum?" tanya Arka. Mawar hanya mengangguk seraya menjawan pertanyaan dari suaminya itu.


Arka pun membuka tutup salepnya dan mengambilnya sedikit demi sedikit.


Ia pun dengan hati-hati mengoleskan salep itu pada luka di ****** Mawar.


"Ah Mas perih." Ujar Mawar dengan replek memeluknya dengan erat.


"Kamu tahan dulu ya biar lukanya cepet kering." Ucap Arka.


Mawar pun melepaskan pelukannya, lalu Arka melanjutkan kegiatannya itu.


Mawar sampai menutup matanya menahan perihnya dan memeluk lengan kekar Arka.


'Tahan Arka tahan, jangan sampai diri kamu lepas di saat yang tidak tepat.' Batin Arka, sebagai lelaki normal siapa yang tidak akan tergoda ketika melihat sesuatu yang sangat indah itu.

__ADS_1


"Udah selesai kok." Ucap Arka.


****


__ADS_2