Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 110


__ADS_3

Astrid tersenyum bahagia saat Laras menggandeng lengannya dengan manja. Begitupun dengan Damian. Dia bersyukur bisa dipertemukan Laras yang bisa mengembalikan semangat Mamanya untuk sembuh.


Mereka memutari mall hingga sampai lantai dasar yang juga sudah selesai dihias. Tentu saja Damian kaget lantai dasar sudah dihias sesuai dengan permintaannya. Dan saat mendengar dari Raka kalo Laras yang telah membantunya mencari backdrop, sekali lagi rasanya Damian ingin memeluk calon istrinya itu karena bahagia. Tentu saja Astrid kembali menghalanginya.


" Kak Laras awas,, !!" pekik Tiwi kemudian mendorong seseorang dibelakang Laras yang hendak mengarahkan pisau entah kearah Damian dan Laras yang sedang melihat panggung.


Pekikan Laras tentu membuat semua orang kaget melihatnya. Apalagi melihat Tiwi yang sedang mengamankan laki-laki yang memakai masker itu. Ryan yang berada disana. Langsung membantu Tiwi meringkus laki-laki itu. Tiwi melihat satu orang mendekat kearah Laras dari arah belakangnya. Dia segera menarik Laras dan Damian untuk maju. Dan menendang laki-laki yang sudah siap dengan pisaunya itu. Tapi pisau itu sudah mengenai lengan Tiwi hingga terluka.


" Tiwi,, ! " Pekik Laras kaget yang masih berada dilantai dengan bertumpu pada tubuh Damian.


Joe, Sam dan Rey langsung mengamankan dua orang laki-laki itu. Beberapa pengawal Bram juga langsung ikut membantu mengamankan laki-laki itu.


" Kak Laras gak apa-apa kan ? Maaf Kak. Aku spontan menarik Kak Laras tadi. " kata Tiwi sembari mendekat kearah Laras yang dibantu Damian berdiri.


Laras langsung menutup lengan Tiwi yang terluka dengan merobek ikat pinggang hiasan di gamisnya. Dan melilitkannya di lengan Tiwi yang terluka. Air mata Laras sudah deras mengalir diwajahnya.


" Maafkan aku. Kamu terluka Wi. "


" Kak,, aku gak apa-apa. Aku malah gak sadar udah terluka. " jawab Tiwi sambil melirik Ryan yang nampak menatapnya khawatir.


" Kak Laras gak apa-apa kan." seru Joe cemas.


" Joe. Tiwi terluka. Kita bawa ke rumah sakit. "


" Bo,,, booss. "


" Raka,, gimana kamu mengatur keamanan haahh !!!" bentak Damian marah.


Laras sampai berjingkat karena kaget.


" Mas,, sabar. " tegur Laras mengingatkan sambil memegang tangan Damain.


Damian menoleh dan menggenggam tangan Laras yang terasa dingin.


" Buka maskernya !" seru Joe marah sambil mendekap Laras.


Raka menarik masker kedua laki-laki itu.


" Akbar ?!!! " seru Damian dan Laras bersamaan.


Joe langsung memukul Akbar dengan keras. Hingga dia jatuh tersungkur.


" Bawa mereka ke kantor polisi. Raka urus masalah ini."


" Baik Boss. "


" Kita pulang saja. " kata Astrid takut.


" Kita bawa kerumah sakit dulu. "


" Kak Laras. Aku baik-baik saja. Aku akan mengobati lukaku dirumah nanti. "


" Kamu yakin ?"


" Iya Kak. Yang penting kita semua selamat. "


" Kita pulang Ryan. " ajak Joe.


Ryan mengangguk lemah. Kemudian pergi mengambil mobil Joe.


" Kalian pulanglah. Aku akan membantu mengawasinya. " Kata Rey.


" Terima kasih Rey. Aku serahkan padamu. "


" Tenang aja. Ayo Sam. "


Sam mengangguk kemudian mengikuti Rey untuk memberikan perintah pada sekuriti mall agar hal itu tidak terulang lagi.

__ADS_1


Laras mendekap Tiwi khawatir.


" Kak Laras. Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini Kak. "


Sudah berapa kali Tiwi menjelaskan pada Laras tentnag luka seperti ini memang sudah biasa bagi Tiwi yang levelnya setara dengan pasukan bayangan diasrama Bram dan Nico. Tapi Laras masih mencemaskannya.


Joe menyuruh Ryan untuk ngebut agar bisa lebih dulu sampai daripada Damian. Dia tidak mau keuarganya panik berlebihan. Joe disambut oleh Bram dan Nico diluar penginapan. Mereka sudah mendapat laporan dari anak buahnya yang ada dikantor polisi.


" Kalian tidak apa-apa ?" tanya Bram dan Nico hampir bersamaan.


" Tiwi terluka dilengannya Pi. Aku akan meminta Om Rudy untuk memanggil dokter. "


" Kamu tahu luka seperti ini biasa bagi Tiwi Joe. "


" Papi Nico. Kalian memang sudah terbiasa terluka. Tapi, tidak untuk kami apalagi Mbak Laras. Papi tanya saja Ryan, sepanik apa Mbak Laras sekarang. Dia gak akan tenang sampai Tiwi mendapatkan pengobatan. Aku harap Papi mengerti. "


" Baiklah. Aku akan ke kantor polisi. " seru Bram geram.


" Jangan Bram. Ingat, Sekar sedang hamil sekarang. Jaga emosimu. Kali ini, kita serahkan pada polisi. Besok saja kita urua masalah ini. Joe benar, kalo Laras sepanik ini. Aku yakin keluarga kita pasti akan sepanik Laras nantinya. "


Bram menghela nafas panjang. Kemudian membuangnya perlahan.


" Baiklah. "


" Sebaiknya kita menunggu mereka diatas. Bantu Joe menenangkan keluarganya. " kata Nico.


Bram dan Nico berjalan lebih dulu. Joe menarik tangan Ryan


" Maafkan kami, sudha melukai Tiwi. "


" Bos,, anda tahu profesi apa yang sedang kami jalani. Terluka seperti ini sudah biasa. Aku hanya menyesalkan itu terjadi didepanku dan aku gak bisa melakukan lebih banyak untuknya. "


" Kamu sudah melakukan yang terbaik. Ryan."


" Terima kasih Bos. "


Seperti yang diduga Nico sebelumnya. Keluarganya lebih panik dari yang dibayangkan Joe. Lyra bahkan sudah telpon dokter terdekat untuk standby. Ratih sudah mengabarkan perihal ini pada Pratama.


Joe hanya terpaku melihat semua keluarganya tengah bertangisan hanya karena panik. Padahal Joe sudah menjelaskan kalo Laras baik-baik saja. Hanya saja Tiwi yang terluka. Tapi, masih belum bisa menenangkan keluarganya. Apalagi Ibu, Azka dan Mei.


Laras masuk naik ke lantai atas dan langsung dipeluk paksa keluarganya.


" Stop,, hentikan,, !!" hardik Laras panik.


" Aku tahu kalian mengkhawatirkan aku. Tapi aku baik-baik saja. Tiwi yang terluka, tolong biarkan Tiwi mendapatkan pengobatan terlebih dulu. " jelasnya saat melihat ada seorang dokter yang tengah menunggu siapa yang akan jadi pasiennya.


Laras langsung mendekap Tiwi dan mendudukkannya disofa yang ada di ruang tamu lantai atas.


" Dokter. Tolong. Lengannya terluka."


" Baiklah."


" Tapi, Kak. Aku baik-baik saja. " elak Tiwi kesal sambil menatap Bram dan Nico seolah menegaskan keadaannya.


Bram dan Nico meletakkan jari telunjuk mereka dimulut mereka. Mengisyaratkan agar diam. Begitupun dengan Ryan yang hanya menganggukkan kepalanya saat Tiwi menatapnya.


Akhirnya Tiwi hanya terdiam. Menuruti apapun yang dikatakan Laras yang masih menangis. Tiwi menyandarkan tubuhnya di sofa saat dokter itu selesai membersihkan lukanya dan membalutnya dengan perban.


Semua keluarganya ikut duduk disofa. Seolah menunggu apa yang akan dikatakan Laras.


" Tiwi,, kamu minum obat dulu. Ini untuk penghilang nyerinya. " kata Laras sambil menyerahkan sebuah kapsul dan air mineral ke arah Tiwi.


Tiwi hanya menatap Laras sendu. Hatinya sedari tadi trenyuh melihat Laras begitu sangat cemas dengan keadaannya. Baru pertama kalinya dia begitu merasa diperhatikan. Seolah benar-benar mendapatkan perhatian dari seorang kakak. Tak terasa Tiwi jadi menangis. Laras menjadi panik.


" Kenapa Wi ? Apa ada yang sakit lagi ?"


Tiwi hanya menggeleng, lidahnya seperti mati rasa.

__ADS_1


" Lalu kenapa menangis ? Apa sudah mulai nyeri. Minumlah obatnya. "


Damian mendekat dan mengusap kepala Laras, membuatnya mendongak.


" Sayang, biarkan Tiwi istirahat dulu. "


" Tapi,, "


" Aku akan minum obatnya dikamarku Kak. " jawab Tiwi sembari mengambil obat dari tangan Laras dan berdiri.


" Maaf sudah merepotkan semuanya. Saya ke kamar dulu. " pamit Tiwi.


Laras ikut berdiri.


" Tapi Tiwi gak akan minum obatnya Mas. "


" Biar nanti aku yang memastikannya. Kamu istirahatlah. Mungkin kamu masih shock dengan kejadian tadi. " kata Bram.


" Sayang,, istirahatlah. "


" Gak. Aku gak apa-apa Mas. Aku akan tetap disini. Aku tahu semuanya masih mengkhawatirkanku. "


" Baiklah. Duduklah disini. "


Laras duduk disebelah Damian yang menggenggam tangannya erat.


" Laras,, kamu gak apa-apa ?!!" seru Pratama saat masuk ke ruang tamu lantai atas.


" Laras gak apa-apa, Pa. Tiwi menyelamatkan Laras. "


" Alhamdulillah. Damian, gimana dengan pelakunya ? Apa sudah di amankan ?! "


" Sudah, Pa. Anak buah Om Bram sudah membawa Akbar ke,,, "


" Akbar ,, ?!!!" seru keluarganya tak percaya.


" Iya, Pa. "


" Kurang ajar,, !! "


" Mereka sudah membawanya ke kantor polisi. "


" Aku akan pastikan kali ini dia membusuk di penjara !!" bentaknya marah sambil beranjak pergi diikuti Ruly, Joe, Bram dan Nico.


" Pa,, Mas,, Papi,, Joe,, !! " panggil Laras tapi tak ada satupun yang mau mendengarkan Laras. Mereka langsung pergi menuju kantor polisi.


Laras menghela nafas panjang. Melihat Damian yang tampak sangat khawatir padanya. Mahira mendekat ke arah Laras. Lalu mendekapnya.


" Aku tadi sangat takut Kak. Aku takut Kak Laras terluka. " ucapnya.


Laras hanya tersenyum getir. Karena dia juga ketakutan tadi.


" Mas,, kembalilah ke mall. Kamu harus menyelesaikan pekerjaanmu. Kasihan Rey dan Sam yang berada disana."


" Aku mencemaskanmu sayang. "


" Aku gak apa-apa. Mas udah lihat sendiri kan kalo Tiwi menyelamatkanku. "


" Beneran kamu baik-baik saja sayang ?"


Laras mengangguk pasti untuk menenangkan Damian.


" Baiklah aku akan kembali ke kantor. Aku harap kamu benar-benar baik-baik saja sayang. Kamu tahu betapa aku snagat ingin memelukmu sekarang." bisik Damian pelan.


" Nanti. Kalo sudah halal. " gurau Laras.


" Kalo itu sudah pasti. Aku pergi ya. Assalamualaikum sayang. " ucap Damian sembari mengusap kepala Laras.

__ADS_1


" Waalaikumsalam, sayang. " jawab Laras pelan hingga hanya terdengar oleh Damian.


Damian tersenyum kemudian menarik hidung Laras gemas. Lalu berdiri dan berpamitan pada tetua-tetua Laras.


__ADS_2