
Mawar membaringkan dirinya di ranjang.
"Sayang, kamu harus kuat ya, kita lewatin semuanya sama-sama. Walau pun bunda belum tahu jenis kelamin kamu tapi kamu pasti anak yang hebat dan kuat, karena kamu tumbuh di saat bunda tidak dicintai." Ujar Mawar sambil mengusap-usap perutnya.
"Bunda janji, kamu bakalan jadi anak yang paling bunda sayang. Kamu penyemangat bunda saat ini. Kata dokter kamu sehat dan usia kamu 4 minggu lebih 3 hari. Bunda seneng banget kamu sehat nak." Ucap Mawar lagi.
Ketika mengucapkan kata dokter, Mawar kembali mengingat saat ia bertemu dengan Langit.
"Aku gak nyangka sih kalo dokter yang janjian sama aku itu Langit." Ujar Mawar lagi.
"Seseorang yang pernah meninggalkan aku demi masa depannya." Pungkasnya lagi.
***
Esok harinya Rita kembali beraktifitas seperti biasanya. Ia sarapan sendirian tanpa Arka dan Mawar.
"Bu Nyonya udah sehat?" tanya Inah.
"Udah, Bi. Oh iya Mawar belum turun?"
"Mah? kok Mamah udah rapi mau kemana?" ucap Mawar tiba-tiba, sambil menuruni tangga.
"Hm, udah. Mamah suntuk di kamar terus sekarang Mamah mau ke butik aja."
"Mawar anter ya Mah."
"Enggak usah, kamu kan lagi hamil muda. Mamah takut kamu kenapa-kenapa."
"Yaudah kalo gitu Mamah hati-hati."
"Iya, oh iya si Arka kemana kok belum sarapan? apa dia masih marah sama Mamah."
"Eu, Mas Arka udah gak ada di tempat tidur Mah. Mungkin udah berangkat kerja."
"Bagus lah, lagian Mamah juga muak sama kelakuan dia yang seenaknya gitu. Inget ya Mawar kamu itu harus kuat dan jangan kalah sama perempuan gatel itu." Tegas Rita.
Mawar duduk di depan Rita sambil mengambil satu buah roti di tangannya. "Mawar cuma mengikuti alur nya aja Mah, kalo misalnya Sherly bohong soal kehamilannya itu nanti juga terbukti tersendiri."
"Lihat aja, Mamah bakalan cari bukti apakah itu anak Arka atau bukan."
"Udah ya Mah, jangan bahas itu terus Mamah kan baru aja sembuh Mawar gak mau Mamah sakit lagi."
"Emang ya Arka itu bener-bener bodoh tahu gak? dia udah menyia-nyiakan perempuan yang sayang sama mamah sayang sama dia. Heran deh."
**
Setelah selesai sarapan Rita pergi ke butik sedangkan Mawar juga bersiap-siap untuk pergi ke toko buku.
"Bi, aku ke toko buku dulu ya."
"Oh iya, Non. Hati-hati ya Non."
"Iya Bi."
Sesampainya di toko buku Mawar berjalan menyusuri buku yang ia cari. Mawar memang memiliki hobi membaca sejak dulu.
__ADS_1
"Nah ini dia." Ucapnya, rupanya tangan Mawar tak sengaja di genggam oleh orang yang juga mencari buku itu.
Mereka berdua saling bertatapan cukup lama.
"Mawar?"
"Langit?" balas Mawar.
Dengan sigap Mawar melepaskan genggaman itu.
"Eu, kamu juga lagi nyari buku ini?" tanya Mawar.
"Iya nih, tapi yaudah gapapa buat kamu aja."
"Eh gapapa kok, buat kamu aja nanti aku nyari lagi."
"Udah gak usah. Oh iya kamu sendirian di sini?" tanya Langit.
"Iya, iya, aku sendiri." Jawab Mawar gugup.
"Suami kamu gak ikut?"
"Enggak, dia kerja."
"Dia kerja mulu ya, perasaan."
Mawar terdiam dengan ucapan Langit itu. Entah kenapa hatinya terasa sakit dengan ucapan itu.
"Eu sorry, maksud aku bukan gitu." Langit merasa bersalah dengan ucapannya karena melihag Mawar murung.
"Enggak kok, gapapa. Yaudah kalo gitu aku permisi."
"Mawar?"
"Iya, kenapa?" Mawar membalikan badannya.
"Boleh ngobrol sebentar?"
Mawar berpikir sejenak, lalu mengiyakan ajakan Langit itu.
**
Mereka sudah sampai di cafe dekat toko buku itu. Langit memesankan makanan dan minuman untuk Mawar namun Mawar begitu kikuk dengan pertemuan mereka ini.
"Maaf sebelumnya mau ngobrol apa ya? aku gak bisa lama-lama soalnya harus pulang." Ucap Mawar.
"Eu, aku cuma mau minta maaf sama kamu."
"Soal apa?"
"Dulu aku ninggalin kamu gitu aja."
"Hmm, udah lah gak usah dibahas lagian itu kan masalalu. Sekarang aku udah punya kehidupan baru dan kamu juga."
"Saat itu aku juga ngerasa berat banget buat ninggalin kamu pergi ke Amrik, tapi aku juga punya mimpi buat jadi dokter."
__ADS_1
"Sekarang semuanya udah kamu capai kan? aku ikut seneng." Jawab Mawar.
'Jujur, aku masih sayang banget sama kamu Mawar. Cuma kamu satu-satunya perempuan yang ada di hati aku. Coba aja saat lulus SMA itu aku gak pergi ke luar negeri mungkin sekarang kamu masih menjadi milik aku.' Batin Langit.
"By the way, hebat ya kamu bisa menikah sama orang hebat kaya Pak Arka." Ujar Langit.
"Kamu kenal?"
"Siapa sih yang gak kenal sama pengusaha muda paling kaya di kota ini?" canda Langit.
Mawar hanya tersenyum tipis pada Langit.
"Kamu belum nikah?" tanya Mawar.
Langit yang sedang mengunyah makanan mendadak tersedak.
Uhukk..uhukk.. Ia pun segera menyegarkan tenggorokannya dengan jus jeruk yang ada dihadapannya itu.
"Sorry, sorry, kamu gapapa?" ujar Mawar.
"Gapapa, gapapa kok. Eu tadi kamu nanya apa aku udah nikah belum?"
Mawar mengangguk.
"Belum, aku masih seneng sendiri."
"Yakin?"
"Iya, aku lagi menikmati profesi aku sebagai dokter."
"Hebat ya kamu, bisa mencapai cita-cita kamu."
'Dan harus mengorbankan perasaan aku.' Batin Langit.
"Udah ya aku mau pulang, takutnya suami aku pulang duluan nanti aku gak ada di rumah kasihan dia." Ucap Mawar.
"Eu kalo gitu aku anterin ya."
"Gak usah, gak enak lagian. Berdua-duaan sama yang bukan muhrim."
"Oh oke kalo gitu aku cariin taksi."
Setelah membayar makanan Langit menemani Mawar mencari taksi ke pinggir jalan.
'Ya ampun Langit ini perhatian banget. Mas Arka aja gak pernah kaya gini sama aku.' Ucap Mawar membatin.
"Nah itu taksi-taksi." Ujar Langit. Taksi itu pun berhenti di depan mereka.
"Yaudah kalo gitu aku pulang dulu ya. Makasih buat makanannya." Pungkas Mawar. Ia pun segera masuk ke mobil.
Taksi itu semakin menjauh namun Mawar melupakan buku nya yang ia simpan di mobil Langit.
Langit masuk ke dalam mobilnya lalu melihat buku Mawar tertinggal.
"Ya ampun buku nya?" ucap Langit. "Tapi yaudah lah mudah-mudahan nanti Mawar nyariin." Ujarnya lagi.
__ADS_1
"Dia gak pernah berubah sejak dulu, hobi membaca. Wajahnya juga gak begitu berubah masih tetap imut dan cantik." Tandas Langit.
Langit kembali mengingat masa-masa bersama Mawar dulu, masa di mana mereka saling mencintai, sebelum akhirnya Langit yang pergi jauh meninggalkan Mawar. Ia di terbangkan oleh orang tuanya ke Amerika untuk kuliah. Hingga akhirnya Mawar melupakan Langit dan bertemu dengan Dika. Laki-laki idamannya saat itu.