Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Down


__ADS_3

Arka berusaha fokus pada pekerjaannya yang terbengkalai, banyak dokumen yang belum ia kerjakan karena terus memikirkan keberadaan Mawar.


Hingga membuat Fras kewalahan menanganinya sendirian. Akhirnya Fras memberanikan diri untuk bicara pada Arka.


Fras mengetuk pintu dari luar. "Masuk." Ucap Arka dari dalam ruangan.


Betapa terkejutnya Fras melihat kertas-kertas berserakan di meja dan di lantai. Dengan inisiatifnya Fras memunguti kertas-kertas itu dan menyimpannya kembali ke meja.


"Maaf, ini kenapa ya jadi berantakan begini Pak?" tanya Fras sopan.


"Gapapa, mungkin tadi jatoh aja saya gak sadar." Jawab Arka.


Fras duduk di hadapan ceo muda itu dan menatap wajahnya, jelas terlihat Arka kurang tidur dan seperti banyak beban yang ia pikul.


"Maaf sebelumnya, Pak. Apa Bapak baik-baik aja?"


"Say baik-baik aja, emang kenapa ada yang salah?" tanya Arka balik.


Fras menarik nafasnya dalam-dalam. "Jadi gini Pak, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak sebagai pemimpin di perusahaan ini. Saya cuma mau bilang sepertinya saya kewalahan menangani pekerjaan yang kian hari kian menumpuk. Saya juga perlu istirahat dan pastinya ada kegiatan lain, tapi karena Bapak sering tidak masuk jadi saya yang mengerjakan semuanya sendirian." Ujar Fras.


"Jadi secara tidak langsung kamu bilang saya malas masuk kerja gitu?"


"Enggak, maksud saya bukan seperti itu Pak."


"Halah udah lah, kamu itu gak bakalan ngerti posisi saya. Saya itu lagi banyak masalah."


"Tapi sebagai pekerja keras yang profesional kita harus mengenyampingkan masalah pribadi ketika sudah sampai ke tempat pekerjaan Pak."


"Kamu nyeramahin saya! masalah saya ini lebih besar dari yang kamu pikirkan! istri saya menghilang sejak 3 bulan yang lalu!" bentak Arka. Penuh emosi sampai tak sadar apa yang ia ucapkan tadi.


Fras terbelalak dengan ucapan Arka itu. "Hilang? sejak 3 bulan yang lalu, kenapa kok bisa hilang?" tanya Fras bingung.


"Kamu lupa waktu itu saya minta bantuan kamu, kamu ini pikun apa gimana sih!"


Fras tersenyum kecut. 'Nih orang sempet-sempetnya ngerendahin lagi.' Gugamnya.


"Saya lupa karena terlalu banyak pekerjaan Pak. Otak saya cuma cuan. Memangnya awalnya gimana Pak kalo boleh tahu?"


Arka menarik nafas mencoba menenangkan dirinya. "Ini semua murni kesalahan saya, saya yang bodoh membiarkan dia pergi begitu aja."


"Jadi istri Bapak itu sengaja pergi bukan hilang?"


"Ya pergi, bukan diusir atau apa." Jawab Arka.


"Kalo boleh tahu alasannya kenapa ya Pak?"


"Sherly hamil dan dia mengaku itu anak saya bahkan dia sampai membawa hasil tes, saya percaya bahwa itu anak saya lalu .. "

__ADS_1


"Lalu apa Pak?" Fras semakin penasaran.


"Lalu saya sering menyakiti perasaan Mawar, saya tidak pernah menghargainya, saya sering membela Sherly di depannya mungkin dia terlalu lelah menghadapi saya." Ujar Arka.


Fras begitu yakin bahwa anak yang dikandungan Sherly itu anaknya, bukan anak Arka akan tetapi ia belum punya keberanian untuk mengutarakan isi hatinya pada Arka karena tak memiliki bukti apa-apa.


"Apa Bapak yakin itu anak Bapak?" tanya Fras.


"Yakin gak yakin sih." Jawab asal Arka.


"Loh kok gitu? kalo Bapak emang kurang yakin itu anak Bapak terus kenapa membiarkan istri Bapak pergi yang sudah jelas mengandung anak Bapak tanpa perlu diragukan lagi."


"Karena saya bodoh Fras. Saya sangat bodoh."


"Jadi waktu Bapak minta tolong kepada saya mencari Bu Mawar itu ternyata sudah sejak 3 bulan yang lalu hilang, saya pikir istri Bapak cuma pergi sebentar nyasar atau gimana gitu."


"Saya baru sadar sekarang kalo ternyata kehadiran Mawar itu sangat berarti bagi saya, semenjak dia pergi rumah jadi sepi. Gak ada yang bikin saya marah, gak ada yang bikin saya kesel dan kebiasaan lainnya."


"Saya minta maaf ya Pak karena waktu itu saya tidak mendapatkan informasi apa-apa." Ujar Fras.


"Kamu gak perlu minta maaf, saya yang harusnya minta maaf karena banyak merepotkan kamu. Kamu pasti gak punya waktu buat keluarga kamu, karena tuntutan pekerjaan."


"Saya gak punya keluarga, Pak. Jadi santai aja." Ujar Fras.


"Oh ya? kenapa kamu gak menikah biar kamu punya keluarga kecil."


'Fras benar, apa selama ini mental aku yang belum siap makannya hubungan aku sama Mawar gak pernah membaik." Gumam Arka.


'Apa sebaiknya aku jujur aja soal hubungan aku sama Sherly biar ada titik terang di masalahnya Pak Arka, tapi aku takut Pak Arka marah dan pecat aku gitu aja. Sebaiknya aku ngomong aja sebelum semuanya terlambat."


"Eu, Pak ada yang mau saya bicarakan sama Bapak."


"Apa?" tanya Arka.


"Sebenarnya ... "


Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan pada Arka memberitahu jika meetingnya agar segera di mulai, akhirnya pembicaraan Arka dan Fras hanya sampai di situ.


****


Setelah selesai meeting Arka kembali bertanya apa yang sebenarnya ingin Fras bicarakan tadi.


"Oh iya Fras, tadi kamu mau bicara apa sama saya?" tanya Arka.


"Hm, gak jadi Pak, tadi saya cuma mau bilang kalo Bapak harus tetap semangat mencari Bu Mawar."


"Pasti." Jawab Arka.

__ADS_1


Arka pun pulang ke rumahnya, namun ia mendapat pemandangan yang tidak mengenakan hatinya.


"Sherly? ngapain kamu bawa koper segala?"


"Mas, aku di usir sama orang tua aku karena aku ketahuan hamil jadi aku gak tahu lagi harus ke mana selain ke sini."


"Astaga, kamu kan bisa cari hotel kenapa harus ke sini sih?"


"Kan di sini ada kamu, ayah dari anak aku. Ini bayi kita loh yang minta biar deket sama ayahnya."


"Ya ampun kamu itu kenapa sih selalu bikin masalah?"


"Ini ada apa sih ribut-ribut?" Rita menghampiri kedua orang itu.


"Ini Mah, Sherly katanya diusir dari rumah dan mau tinggal di sini." Ujar Arka.


"Apa! tinggal di sini? di rumah saya? udah gila kamu hah?" ujar Rita.


"Please Bu boleh ya, saya kan lagi hamil saya gak tahu harus pergi ke mana selain ke sini."


"Saya gak sudi rumah ini ditinggali perempuan kotor seperti kamu!" tegas Rita.


"Mah, jangan keterlaluan juga ngomongnya Sherly kan lagi hamil." Bela Arka.


"Yaudah kalo gitu suruh dia pergi jangan pernah berharap bisa tinggal di sini."


"Ini udah sore Bu, saya harus ke mana." Drama Sherly dimulai dengan menangis berharap diberi iba oleh anak dan ibu itu.


"Saya gak peduli, menantu saya aja sekarang gak tahu di mana, sedang apa, udah makan belum. Lah ini kamu siapa seenaknya mau tinggal di sini."


"Udah deh kamu cari hotel aja." Tegas Arka.


"Yaudah deh aku pergi tapi aku sebar ya foto-foto kita pas di ranjang biar semua orang tahu siapa kamu sebenarnya."


Arka dan Rita terbelalak dengan ucapan Sherly.


"Oke, oke, kamu boleh tinggal di sini." Ucap Arka terpaksa.


"Arka kamu apa-apaan sih!" tutur Rita.


"Mah, Arka gak mau nama baik Arka hancur gara-gara foto itu."


"Foto apa sih Arka! foto apalagi astaga ... " lirih Rita.


"Bu Rita mau lihat?" tanya Sherly.


"Udah cukup! cukup!" ujar Arka.

__ADS_1


..


__ADS_2