Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Menjadi kuat


__ADS_3

Selama 3 bulan Mawar menghilang, mencoba menyembuhkan diri sendirian. Bahkan ia sampai datang ke psikiater dan psikolog.


Dia takut penderitaannya bisa berdampak pada kehamilannya, Mawar ingin anaknya bisa tumbuh dan lahir dengan normal.


Setelah menjual rumah mendiang Dika, Mawar membeli rumah yang berdekatan dengan rumah Mirna, kakaknya. Agar ia bisa dekatnya, karena cuma Mirna satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.


"Sayang, kamu tenang aja ya Bunda pastikan kamu bakalan tumbuh sehat." Mawar mengelus perutnya.


"Hai, tante. Main sama Ellen yu." Ucap Ellena anak Mirna.


"Ayo, mau main apa Sayang?" tanya Mawar.


"Main lari-larian aja, tante kejar aku."


"Hmm, Ellena tante kamu gak boleh lari-lari kan lagi hamil." Mirna berusaha memberitahu anaknya itu.


"Oh iya ya, nanti dede bayinya kecapean kalo diajak lari ya Mah?" tanya Ellen.


Mawar tertawa mendengar ucapan polos bocah itu.


"Ellena jagain ade yah di dalem, Mamah mau ngobrol dulu sama tante Mawar."


"Oke Mah." Anak 5 tahun itu masuk ke rumah untuk menemui adiknya uang baru berusia 2 tahun.


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, kakak khawatir sama kondisi kehamilan kamu." Ujar Mirna.


"Enggak kok, Mawar kuat." Balas Mawar.


"Kamu yakin bakalan main petak umpet kaya gini terus? gak mau menyelesaikan masalah kamu sama Arka. Solusi dari setiap masalah itu bicara, mau apa pun keputusan kalian nantinya yang penting ngobrol dulu."


"Kak, Mawar cuma belum siap aja berhadapan sama Mas Arka. Mental Mawar baru aja membaik, rasanya gak kebayang aja gitu Mawar berhadapan sama laki-laki itu." Jawab Mawar.


"Mungkin kalo bukan karena amanah dari mendiang suami kamu, gak bakalan kaya gini yah."


"Enggak kok kak, semua ini sudah jadi takdir aku."


"Kakak tuh gak kebayang jadi kamu deh, lihat suami sendiri belain perempuan lain astaga kalo suami kakak kaya gitu udah kakak hajar sampe bonyok."


Mawar tertawa dengan ucapan kakaknya itu. "Haduh kak, masih aja ya kelakuannya bar-bar."


"Jangan pernah mau diinjak sama laki-laki, kita itu harus kuat jangan lemah. Sekarang mending kamu temuin Arka siapa tahu dia nyariin kamu."

__ADS_1


"Gak mungkin lah kak, dia kan udah ada Sherly. Dari awal juga aku itu cuma benalu dalam hidup dia. Kalo dia ada inisiatif nyariin aku pasti udah ketemu secara dia kan kaya raya banyak anak buahnya masa gak bisa menemukan aku."


"Kamu kan jarang keluar rumah, cuma ke rumah kakak sama ke psikiater terus ke psikologi selebihnya kamu online." Ucap Mirna.


"Hm, iya sih, Mamah Rita gimana ya kabarnya? apa dia sanggup tinggal di rumah yang banyak masalah itu."


"Yaudah kamu aktifin sim card kamu yang itu dong, kasihan tahu mertua kamu pasti khawatir banget apa lagi kamu lagi hamil."


"Enggak ah, nanti aja kalo aku udah benar-benar siap kak."


Ketika sedang asik berbincang tiba-tiba saja ada tamu yang tak diundang.


"Permisi, apa benar ini rumah Bu Mirna dan pak Alex?" tanya seorang laki-laki berparas tampan itu.


"Iya betul ada apa ya?"


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Emil."


"Emil? tapi maaf kamu siapa ya?"


"Anda bu Mawar kan?" tanya Emil.


"Iya betul."


Mawar tersenyum kaku. "Emangnya ada perlu apa ya sama saya?"


"Ngomongnya didalem aja Mas, gak enak kalo di luar."


Mereka bertiga pun masuk dan duduk di ruang tamu.


"Jadi gimana Mas, ada perlu apa sama saya?"


"Sebelumnya apa Ibu ingat pernah membuat usaha bersama almarhum Pak Dika?"


Mawar mengerutkan dahinya mencoba mengingat-ngingat masalalunya.


"Seingat saya, saya pernah membuka usaha toko kue."


"Nah betul sekali Ibu."


"Ada apa ya sama toko kue itu?"

__ADS_1


"Saya mendapat amanah dari almarhum untuk menyerahkan berkas kepemilikan kepada Ibu." Ujar Emil.


Mawar terperanjat dengan ucapan Emil itu. "Apa? berkas kepemilikan?"


"Jadi sebelum beliau meninggal, ia mengurus semuanya sendirian dan toko kue itu atas nama Ibu Mawar."


"Astaga Mas Dika kenapa dia lakuin itu." Ujar Mawar ragu.


"Saya hanya menjalankan amanah Bu, selama ini saya udah cape nyariin Ibu ada rumor katanya Ibu udah gak tinggal di rumah Dewantara. Akhirnya saya menemukan Ibu di sini."


"Saya minta maaf, tapi kenapa ya Mas Dika harus menyerahkan toko kue itu kepada saya? ada dia ada cerita?"


"Dia cuma bilang kalo toko itu menjadi ramai pembeli karena resep dari Ibu awalnya."


Mawar sangat terharu dengan apa yang Dika berikan untuknya. Raganya mungkin sudah tidak ada dihadapannya namun jasanya begitu banyak untuknya.


"Saya pikir toko kue itu sudah tutup, karena saya gak pernah ke sana lagi semenjak Mas Dika meninggal."


"Toko kue itu semakin ramai Bu, saya yang mengelolanya selama ini, saya yang mengurus keuangan di sana. Hari ini saya berharap Ibu bisa membantu saya untuk mengelola toko itu, karena Ibu lebih berhak."


"Mawar, kamu bener-bener beruntung pernah menikah dengan Dika. Dia sangat baik sama kamu." Ucap Mirna ikut terharu.


'Mas Dika seolah tahu dirinya akan pergi dan tak kembali lagi, dia memberikan semua yang aku butuhkan. Mas aku rindu sama kamu. Rasanya aku ingin berteriak sekerasnya dan memeluk kamu erat-erat.' Batin Mawar. Tak terasa air matanya bercucuran.


"Loh, Ibu kenapa nangis?" tanya Emil.


"Enggak, saya cuma terharu aja sama almarhum suami saya."


Emil tersenyum tipis. "Pak Dika itu emang orang yang sangat baik, semasa hidupnya ia selalu membantu orang lain."


"Oh iya Bu ada beberapa dokumen yang harus Ibu tandatangani." Ujar Emil menunjukannya pada Mawar.


Awalnya Mawar ragu untuk menandatangani semua itu tapi karena bujukan dari Mirna akhirnya ia setuju, karena bukan ia yang meminta semua itu tapi itu adalah sebuah amanah yang harus ia jaga dengan baik.


***


Selesai urusan dengan Emil Mawar pulang ke rumahnya. Mawar merebahkan dirinya di kursi santai.


"Apa ini awal aku harus bangkit? apa ini awal aku harus hidup kembali. Rasanya selama ini aku cuma bisa bernafas tanpa memiliki semangat hidup seperti dulu, saat Mas Dika masih hidup." Ujar Mawar.


"Mas Dika? kamu selalu mendukung apa pun yang ingin aku lakukan, sampai kita membangun toko kue bersama, kamu dukung hobi aku bikin kue. Beruntung banget rasanya dicintai laki-laki baik hati seperti kamu Mas, aku masih selalu berandai-andai kamu itu masih ada dan kejadian itu cuma mimpi buruk aku aja."

__ADS_1


Mawar kembali meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan Dika.


__ADS_2