
Arka terus berusaha menghubungi Mawar tapi tak ada jawaban apa pun, ia meminta bantuan dari Fras karena dahulu Fras mengenalnya namun Fras juga tidak begitu tahu tentang Mawar.
"Hallo, Fras? apa kamu udah dapet kabar tentang istri saya?" ucap Arka ditelepon.
"Iya hallo, maaf Pak saya belum mendapatkan kabar apa-apa soal Mawar. Saya akan berusaha, kalo begitu saya tutup dulu teleponnya karena saya harus mencarinya kembali." Fras menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Arka.
"Ah sial! kenapa sih dia langsung matiin teleponnya gitu aja!" teriak Arka sambil meremas ponselnya.
***
Di sisi lain Rita melihat Sherly yang sudah datang lagi ke rumahnya, sebenarnya ia sangat muak dengan kehadiran perempuan itu tapi ia harus menahannya karena Arka.
"Kamu kan tadi udah pulang? ngapain sih ke sini lagi?" tanya Rita.
"Bu Rita, hak saya dong mau bolak-balik ke sini juga, kan anak dalam kandungan saya ada hubungan darah dengan keluarga Dewantara." Balas Sherly.
"Kamu bisa gak sih ke sini kali ada Arka aja? kamu tahu kan dia pergi, jadi ngapain kamu ke sini lagi."
"Oh, justru itu. Saya ingin bertanya pada ayah dari anak saya itu kenapa dia pergi diam-diam tanpa memberitahu saya terlebih dahulu."
"Kamu itu bukan siapa-siapa Arka! buat apa dia ngabarin kamu dia mau kemana. Harusnya kamu itu tahu diri, jangan seenaknya keluar masuk rumah orang." Tegas Rita.
"Tapi kan sebentar lagi rumah ini jadi rumah saya juga."
Rita tersenyum sinis dengan ucapan Sherly itu. "Sebegitu berharapnya kamu sama anak saya? heuh, kasihan. Kamu harus merendahkan diri serendah-rendahnya untuk mendapatkan apa yang kamu mau."
"Bu Rita! cukup ya, jangan menghina saya terus. Selama ini saya menghargai anda karena anda itu Ibu dari Mas Arka!" bentak Sherly.
Rita mendekati Sherly, lalu menatapnya dari ujung rambut sampai kakinya.
"Oh ya? jadi kamu mau apa terhadap saya? kamu mau dinikahi Arka karena dia kaya kan? karena dia punya segalanya, tapi kamu harus ingat semua harta itu masih atas nama saya bukan Arka!" Tegas Rita.
"Harusnya Ibu itu sadar, udah tua. Jangan serakah, sudah sepantasnya semua harta itu beralih atas nama Mas Arka." Jawab Sherly.
"Siapa kamu berani-beraninya mengatur hidup saya? kamu itu cuma orang asing yang sedang berusaha mengelabui anak semata wayang saya." Tegas Rita.
"Orang asing kata Ibu? orang asing yang sedang mengandung cucu Ibu sendiri?" tanya Sherly.
"Sebelum ada bukti yang kuat saya gak yakin kalo itu adalah cucu saya. Sekarang kamu keluar dari rumah ini atau saya panggilkan security."
__ADS_1
"Saya tidak akan pergi sebelum Mas Arka kembali!" tanpa rasa malu Sherly duduk di sofa ruang tamu itu.
"Security! security!!" teriak Rita. Tak lama Security pun datang.
"Iya Bu, ada apa?" tanyanya.
"Sekarang kamu bawa perempuan gak tahu malu ini keluar jauhkan dia dari rumah Dewantara!" tegas Rita.
"Baik Bu."
"Ini apa-apaan sih kenapa Ibu usir saya, saya kan cuma lagi nunggu calon suami saya."
Rita tak menggubris ucapan Sherly itu dan tetap meminta security membawanya keluar.
"Cepetan! bawa dia keluar!" tegas Rita pada security.
Sherly pun dipaksa keluar.
"Gak usah pegang-pegang saya, saya bisa keluar!" tegas Sherly lalu keluar dari rumah itu.
***
"Permisi Bu, ini jus buat Ibu. Biar Ibu rileks." Ujar Inah.
"Makasih, Bi."
Inah pun kembali ke pekerjaannya.
Rita baru sadar kandungan Shely seharusnya sudah 5 bulan dan pastinya sudah terlihat tapi kenapa masih kecil seperti baru 3 bulan, sebagai seorang ibu Rita tentu tahu perbedaan usia kehamilan.
"Oh iya, usia kehamilan Sherly kan seharusnya udah 5 bulan lebih tapi kenapa perutnya masih rata? apa jangan-jangan kecurigaan aku itu bener kalo Sherly itu berbohong?" ujar Rita.
"Kalo sampai Sherly itu menipu aku dan Arka, aku gak bakalan maafin perempuan itu. Aku bakalan ngasih dia pelajaran yang gak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya." Tegas Rita.
Sebenarnya Rita selalu berusaha menghubungi Mawar tapi tak ada jawaban apa pun dari menantunya itu. Rita juga begitu paham bagaimana posisi Mawar dan sesakit apa menjadi Mawar.
Selama 3 bulan Rita tak pernah saling komunikasi lagi dengannya, tapi Rita selalu berdoa agar Mawar dan anaknya selalu dilindungi Tuhan.
..
__ADS_1
Tiba-tiba saja Arka membuka pintu dengan kasar, hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Sehingga membangunkan Rita yang terlelap di sofa.
"Ah sial! sial!" Arka hilang kendali ia memukul tembok berkali-kali.
"Arka! kamu ini kenapa sih pusing kepala Mamah denger suara kamu!" ucap Rita.
Arka terus memukul tembok dengan tangan kanannya hingga tangan itu memar.
"Cukup Arka cukup!!" teriak Rita. Arka pun menghentikan pukulannya.
Rita mendekati anaknya itu. "Kamu kenapa sih? dateng-dateng mukul tembok udah gak waras kamu hah?"
"Aku emang gak waras Mah, Arka bodoh seperti yang Mamah bilang ... " lirih Arka. Dengan lemas dia duduk di lantai.
"Cerita sama Mamah, ada apa? kenapa kamu jadi gini?" tutur Rita khawatir dengan kondisi anaknya.
"Kenapa sih Arka selalu berbuat apa pun yang Arka mau tanpa memikirkan perasaan orang lain? kenapa Mah?" tanya Arka lesu.
"Karena kamu arogan, egois, keras kepala, tidak pernah mendengarkan apa yang orang lain bilang. Kamu cuma ingin dimengerti tanpa mengerti orang lain." Jawab Rita.
Arka terdiam dengan tatapan kosong.
"Mamah tahu, sekarang kamu mulai mencari Mawar kan? gimana keadaan dia sekarang? apa kamu menemuinya?"
Arka menggelengkan kepalanya. "Enggak, dia pergi entah kemana Mah. Rumah mendiang Mas Dika sudah ditempati orang lain. Mawar gak ada di sana."
"Mawar pergi? pergi ke mana dia? astaga Arka gimana kalo Mawar kenapa-kenapa?" ujar Rita panik.
"Arka gak tahu Mah, yang jelas Mawar menjual rumah itu ke orang lain."
"Apa? Mawar menjual rumah itu? terus sekarang dia pergi ke mana Arka. Dia lagi hamil lho, dia gak boleh sendirian." Tutur Rita.
"Arka udah berusaha cari dia Mah, tapi gak ada satu pun informasi yang Arka dapatkan. Arka udah minta bantuan Fras tapi dia juga gak tahu banyak tentang Mawar."
"Sekarang kamu puas Arka? semua ini gara-gara kamu! menantu yang begitu sayang sama Mamah udah pergi entah kemana."
"Mah bisa gak sih gak nyalahin Arka terus! Arka capek Mah!"
"Cape kamu bilang? cape apa kamu hah? kamu selalu memikirkan diri kamu sendiri! coba sekarang kamu pikir apa Mawar baik-baik saja? apa anak yang dalam kandungannya sehat! darah daging kamu sendiri!!" tegas Rita.
__ADS_1
Arka kembali terdiam dengan ucapan tajam Rita.