
Hari ini hari kedua Jenni bekerja di perusahaan milik Arka. "Pokoknya aku harus bisa diandalkan," ucap Jenni menatap dirinya di cermin.
*
Sementara itu Arka baru saja sampai di kantor, seperti biasa semua mata karyawan akan tertuju padanya karena ketampan yang dimiliki Arka.
"Beruntung banget istrinya Pak Arka," ucap mereka.
Tak sengaja Jenni mendengar pembicaraan itu lalu menanyakan siapa nama istri Arka.
"Hai, aku sekertaris barunya Pak Arka. Kalo boleh tahu siapa nama istrinya Pak Arka?" tanya Jenni pada mereka yang sedang berkumpul.
"Mawar namanya, wajar sih Pak Arka kepincut orang istrinya cantik banget lah pokoknya cantiknya gak manusiawi deh," ucap mereka.
'Jadi penasaran secantik apa sih istrinya Pak Arka?' batin Jenni. Setelah mengetahui nama istri dari bosnya itu Jenni pun segera masuk ke kantor.
Jenni memasuki ruangannya tak lama jam kerja pun sudah dimulai, ia segera membuka laptopnya. Waktu terus berjalan tak sedikit pun terlewatkan Arka dalam pikirannya.
"Ini otak kenapa sih mikirin Pak Arka terus? Sadar Jenni dia itu suami orang," ucap Jenni pada dirinya sendiri.
Kebetulan ada beberapa dokumen yang harus Arka tandatangani Jenni pun segera beranjak dari duduknya untuk menghampiri Arka.
Jenni mengetuk pintu otomatis itu, meskipun disebut otomatis tapi Arka tidak ingin Jenni mudah masuk ke ruangannya jadi Arka tidak meminta sensor wajah milik sekertarisnya itu.
"Masuk," ucap Arka di dalam sana.
Jenni masuk ke ruangan Arka. "Ini ada berkas yang harus ditandatangani Pak," ujar Jenni.
Arka mengambil berkas itu lalu membacanya sebentar tak lama setelah itu ia mencoretkan tandatangannya.
Mata Jenni mencari setiap sudut foto Arka bersama istrinya hingga ia menemukan sebuah foto di dinding. Sebuah foto pernikahan namun ia tak melihat kebahagiaan di mata kedua mempelai itu. 'Aneh.' Batin Jenni.
"Maaf kalo lancang Pak, itu foto istri Bapak ya?" ucap Jenni ragu-ragu, entah mendapat keberanian dari mana ia menanyakan hal itu.
"Oh itu, iya dia istri saya. Kenapa ya kok kamu nanya soal itu?" jawab Arka tetap fokus pada berkas tanpa menatap perempuan seksi itu.
"Gapapa Pak, cantik." Ujar Jenni.
Arka tersenyum mendengar ucapan itu. "Semua perempuan juga cantik di mata laki-laki yang tepat," ucap Arka singkat.
'Astaga ya ampun ucapannya bikin hati meleleh aja, andai aja dia suami aku pasti aku bahagia dunia akhirat.' Batin Jenni.
"Selesai," ucap Arka.
"Oh iya Pak, kalau begitu saya permisi." Tutur Jenni hengkang dari ruangan Arka.
__ADS_1
Sementara itu Mawar sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara kesukaannya. Hari ini ia berniat pergi ke Mall untuk membeli baju-bajunya yang sudah mulai tidak muat karena kehamilannya yang sudah membesar.
"Aku sendiri aja deh, percuma ngajakin Mas Arka dia sibuk sama dunianya sendiri kalo denger penolakan cuma bikin nyesek aja," ucap ibu hamil itu.
Tak lama Arka pun video call.
"Hallo Mas ada apa?" jawab Mawar.
"Sayang kamu lagi ngapain?" tanya Arka.
"Lagi nonton Tv, bentar lagi mau keluar." Ucap Mawar.
"Loh keluar ke mana sayang? Kok kamu gak bilang dari pagi?"
"Kamu juga sibuk sendiri Mas buat apa aku bilang, aku masih bisa kok pergi-pergi sendiri," ketos Mawar.
"Iya maaf, emangnya kamu mau ke mana?"
"Ke Mall, baju-baju aku udah gak muat." Jawab Mawar.
"Online aja deh ya jangan pergi sendirian sayang, aku khawatir loh kalo kamu nekat pergi," ucap Arka.
"Gak mau, lagian aku suntuk di rumah terus,"
Arka menghela nafasnya. "Gimana kalo sore aja kan kita mau makan di restoran nah abis itu kita belanja sepuas kamu sayang, gimana?" tutur Arka membujuk istrinya.
*
Arka melirik jam berkali-kali, ia ingin segera pulang ke rumah untuk bertemu dengan Mawar. Mawar sengaja mematikan ponselnya agar Arka tidak bisa menghubunginya. Arka tidak bisa meninggalkan pekerjaannya yang sangat menumpuk itu hingga ia membiarkan Mawar pergi sendirian ke Mall.
"Astaga otak aku gak bisa konsentrasi kalo mikirin Mawar terus, lagian Mawar kenapa sih keras kepala banget susah dibilangin," gerutu Arka.
Di sisi lain Mawar baru saja sampai ke Mall, ia pun segera mencari store baju terbaik di sana. Mawar memilih pakaian ibu hamil edisi terbaru ber merk gucci maklum saja istri Ceo.
"Duh kasihan banget sih lagi hamil jalan sendiri jangan-jangan suaminya sibuk sama perempuan lain," ucap Sherly yang tiba-tiba saja datang entah dari arah mana.
"Sherly kamu apaan sih gak punya etika banget ngomong gitu!" tegas Fras yang sedang menemani Sherly berbelanja.
Dengan sigap Fras segera menarik Sherly menjauh dari Mawar. "Maafin Sherly Bu," ucap singkat Fras sebelum pergi.
Mendengar itu Mawar hanya tersenyum tipis, sebenarnya yang dikatakan Sherly itu sedikit membuat hati Mawar teriris.
'Bagaimana jika Mas Arka memang sedang bersama perempuan lain?' batin Mawar.
*
__ADS_1
Jam 15:00 Mawar selesai berbelanja, ia kerepotan membawa begitu banyak belanjaannya. Tiba-tiba saja ia menabrak seseorang hingga belanjaannya jatuh berserakan.
"Ya ampun sorry-sorry," ucap seseorang itu lalu membereskan semua belanjaan Mawar dan memberikannya.
"Mawar?" ucap Langit.
"Langit?" tutur Mawar tak percaya kenapa ia terus-terusan dipertemukan dengan Langit secara tidak sengaja.
"Ya ampun kamu sendirian, aku bantuin masukin ke mobil ya?" tutur Langit.
Mawar tak bisa menolak karena ia memang butuh bantuan seseorang.
"Ya udah aku tadi naik taksi ke sini, jadi sekarang mau nyari taksi lagi." Tutur Mawar.
"Aku anterin aja ya? Kasihan loh kamu lagi hamil gini jalan sendiri, suami kamu ke mana sih?" tanya Langit.
"Suami aku kerja,"
"Ya udah aku anterin gapapa kan?"
Mawar menganggukan kepalanya.
***
Sesampainya di rumah Langit membantu Mawar membawa belanjaannya namun tak lama Arka pun pulang dan melihat Langit keluar dari rumah dan di belakangnya ada Mawar.
Arka segera turun dan menghampiri mereka. "Jadi kamu gak aktifin handphone buat jalan sama dia?" tutur Arka.
"Enggak gitu Mas, tadi aku cuma kerepotan bawa belanjaan aku dan gak sengaja ketemu Langit," jawab Mawar.
"Gak sengaja? Gak sengaja kamu bilang setiap pertemuan sama dia kamu selalu bilang gak sengaja!" bentak Arka.
"Kita emang gak sengaja ketemu, saya cuma kasihan aja lihat Mawar jalan sendiri," ucap Langit.
"Udah lah mendingan sekarang kamu pergi sebelum habis saya pukuli!" teriak Arka.
"Baik, saya permisi." Langit pun meninggalkan Mawar dengan perasaan khawatir karena melihat Arka yang sudah tersulut emosi.
Arka menarik tangan Mawar masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu dengan kasar.
"Kamu kenapa sih harus jalan sama laki-laki lain? Hargain aku sebagai suami kamu Mawar," tutur Arka.
"Terus aku harus jalan sama siapa Mas? Sama kamu? Bukannya kamu sibuk sama kerjaan kamu sendiri," jawan Mawar.
"Aku pulang cepet karena aku mau ketemu sama kamu aku kangen, tapi apa yang aku lihat sekarang? Kamu malah bawa laki-laki lain ke rumah ini," ucap Arka.
__ADS_1
"Kamu mulai berani lagi Mas marahin aku? Kamu lupa perjanjian kita, kayanya pernikahan kita emang gak bisa diperbaiki," ucap Mawar melenggang masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.
Lagi-lagi Arka lepas kendali dengan emosinya sendiri. Rencana makan malam pun batal mendadak karena pertengkaran ini.