Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 112


__ADS_3

Damian dan Astrid saling berpandangan saat mereka sampai di pemakaman Ibu Laras. Karena Marco pun juga dimakamkam disini. Karena kondisi tubuhnya yang mengenaskan karena kecelakaaan itu.


" Tante Astrid,, bukannya Om Marco juga dimakamkan disini ?" kata Mahira membuat semua ornag menoleh.


" Benarkaah ?" tanya Laras tidak menyangka.


" Iiya sayang." jawab Damian.


" Ayo masuk. "


Semuanya mengikuti kemana arah langkah kaki Pratama. Laras melepaskan tangan Ibunya, hanya menjawabnya dengan senyum saat Ibu menatapnya seolah bertanya. Kemudian dia menjajari langkah Ratih. Ibu tersenyum mengerti. Ganti Joe dan Azka yang menjadi bingung.


Ratih menoleh, kemudian mengusap lengan Laras seolah ingin mengaatakan dia baik-baik saja. Ratih mengalihkan pandangannya pada sebuah makam yang nampak sudah direnovasi. berbentuk sebuah rumah disana. Laras mengikuti arah pandangan Ratih.


" Kak Randy ??" bisiknya.


Ratih menoleh dan hanya mengangguk sedih.


Siapa yang sudah merenovasi makam Randy ? Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak kesini. Maafkan Mama Randy. Batin Ratih sedih.


Mahira hanya menutup mulut dengan kedua tangannya saat Pratama berhenti disebuah makam yang juga ada atap seperti rumah. Begitupun dengan makam laki-laki disampingnya.


" Kenapa Hiragana ?" tanya Rey heran.


" Bahkan makam Ibu Kak Laras dan Papa Kak Damian berdampingan. "


Semuanya tampak takjub dengan takdir Allah untuk urusan jodoh.


" Kalo jodoh memang tidak kemana. " gumam Ibu yang terdengar Laras.


" Marco sudah bertemu dengan Ibu Laras. " gumam Astrid. Damian mendekap Astrid erat dan memikirkan hal yang sama.


Mata Larass berkaca-kaca, kebetulan yang indah. Terima kasih atas nikmat kasih sayangMu Ya Allah. Batin Laras.


" Ayo kita berdoa. " seru Pratama.


Semuanya duduk berjongkok. Kemudian membaca surat Yasin dan Tahlil yang dipimpin Ruly. Semuanya membaaca dengan khidmat. Satu per satu rangkaian Surat Yasin dannTahlil. Kemudian Joe menaburkan bunga di atas pusara Ibunya dengan perasaan rindu yang sangat. Laras mendekap Joe saat berdiri disampingnya. Joe berbalik dan memeluk Laras. Sejenak terisak disana. Laras mengusap punggung Joe agar lebih tenang.


" Maafkan aku baru bisa menemanimu kesini." bisik Laras. Joe mengangguk.


" Terima kasih sudah mendampingiku selama ini Mbak. Ibu pasti bahagia disana. "


Joe melepaskan pelukannya. Laras menatap Damian yang juga tengah menenangkan Astrid yang sedang sedih teringat suaminya. Mata Damian dan Laras bertemu. Keduanya saling melempar senyuman untuk sekedar menghibur.


" Kita mampir ke makam Ayah ya Bu. " kata Azka.


" Tentu saja Azka. " jawab Ruly sambil mengusap kepala Azka dengan sayang.


Laras teringat sesuatu. Ahh,, bukankah makam Ayah Azka berada di makam Kak Randy tadi ??


Ratih terduduk dan tergugu didepan makam Randy.


" Kenapa ?" tanya Ruly pada Prita. Dan Prita yang selama ini memang tidak pernah diberi tahu dimana makam Randy oleh Ratih hanya menggeleng.


" Ma,, " panggil Laras dan memeluk Ratih untuk menenangkannya.


" Mama tidak apa-apaa sayang. Maama hanya merindukannya. "


" Ini makam Kak Randy Mbak. " jawab Laras saat Prita menatapnya minta penjelasan.

__ADS_1


Baik Prita dan Pratama hanya terduduk sedih. Bahkan makam istri dan anaknya berdekatan selama ini.


Kenapa aku seegois itu. Maafkan Papa Randy. Batin Pratama.


" Siapa yang merenovasi makam Randy kalo bukan kamu Pa ?" tanya Ratih yang sudah lebih tenang.


" Apa kamu Rud ?" tanay Ratih lagi.


" Bukan Kak. "


" Eehmm,, itu Ma. Disamping makam Kak Randy. Ittu makam Ayah Ruly. Dulu waktu Ruly merenovasi makam Ayah. Ibu meminta Ruly untuk sekalian merenovasi makam ini. Karena sedikit tidak terawat. " jelas Ruly takut orang tuanya tersinggung.


Ratih berdiri, dan memeluk Ibu Suci. Menangis dipelukan Bu Suci.


" Terima kasih Bu Suci. Terima kasih sudah merawat makam anak saya. Semoga Allah mebalas semua kebaikan Bu Suci. "


" Aamiinn. Alhamdulillah. Takdir Allah selalu lebih indah dari apa yang kita bayangkan. " jawab Ibu sambil mengusap punggung Ratih.


" Terima kasih, Mas Ruly. " bisik Prita.


" Sudah menjadi kewajibanku sekarang sayang. "


" Ayo Rul. Kita baca surat Yasin dan tahlil lagi." kata Ibu sambil melepaskan pelukan Ratih.


Mereka kembali dengan khidmat membaca surat Yassin dan Tahlil itu. Sam mengusap kepala Azka yang terdengar menangis didepannya. Joe yang berada disamping Azka mendekapnya. Spontan membuat Azka menangis tertahan didekapan Joe.


Setelah menaburkan bunga, Laras menjajari langkah Azka. Menggantikan posisi Joe yang sedari tadi memdekapnya.


" Aku merindukan Ayah Ras. " bisiknya pelan.


" Ada Papa yang menggantikannya Azka. Papaku,, Papamu juga. Seperti aku dan Joe yang telah kamu dan Ibu berikan kesempatan untuk merasakan kasih sayang Ibu. "


" Apa aku bisa meminta sesuatu padamu Cia ?" tanya Nenek tiba-tiba. Membuat semua mata menoleh kepadanya.


" Ada apa Ma ?" tanya Vaencia dengan suara parau. Karena terharu dengan keluarga ini. Bagaimana bisa semuanya saling terkait.


" Kalo aku meninggal nanti, tolong makamkan aku disini juga. Aku ingin kehangatan ini, aku ingin kebersamaan ini. "


" Mama ngomong apa sih. Mama akan panjang umur. " jawab Valencia sambil memeluk Nenek.


" Nenek gak lucu ah becandanya. " omel Mei yang juga ikut mendekap Nenek.


Laras menatap Nenek yang juga tengah menatapnya sendu. Dan Nenek hanya tersenyum senang melihat Laras yang menggeleng pelan.


" Nenek udah tua Mei. "


" Tapi orang tua hebat seperti Nenek, pasti akan selalu panjang umur. " hibur Joe sambil memeluk Nenek dari belakang. Sembari mengusap kepala Mei yang menangis didekapan Nenek.


Sekar memandang Bram yang matanya tampak berair.


" Sudah,, kamu jangan ikut-ikut meminta seperti Nenek sayang. Aku gak akan snaggup jauh darimu. " bisiknya mengerti tatapan Sekar.


Sekar mendekap Bram yang seolah peka dengan perasaannya.


" Sudah,, sudah,, kok malah pada bertangisan disini. Ayo kita pulang. Jadi mampir kerumah kan Pa ?" tanya Ruly.


" Iya Rul. "


Semuanya beranjak keluar dari pemakaman. Pratama menarik Ratih dan menggenggam tangannya agar berjalan bersamanya.

__ADS_1


" Maafkan aku Ma. Maafkan keegoisanku. " pinta Pratama.


" Laras sudah mewakilinya Pa. Aku sudah memaafkan Papa. Kamu gak egois Pa. Itu sudah berlalu. "


" Terima kasih,, terima kasih,, Ma. " ucap Pratama sambil mencium punggung tangan Ratih.


" Berterima kasihlah pada Laras yang selalu peka pada orang-orang disekitarnya. Aku ikut bahagia karena Rahayu telah melahirkan anak hebat sepertinya. "


" Pasti,, pasti Ma. Aku mencintaimu Ma. Sangat. "


Ratih tersenyum senang mendnegarnya. Prita yang berada didepan mereka tersenyum bahagia mendnegar pembicaraan kedua orang tuanya. Ruly mengusap kepala Prita dan menghapus air matanya.


" Sini,, biar aku yang gendong Al. "


Prita mengangguk. Kemudian mendekap lengan Ruly saat baby Al sudah berpindah tangan.


" Semoga kebahagiaan selalu terlimpah dikeluarga kita sayang. "


" Aaamiin Mas. Laras membawa warna dikeluargaku Mas. Aku menyayanginya Mas. "


" Mas tahu. Dan sangat tahu. "


Prita tersenyum.


" Mbak. Kok tahu makam Kak Randy ?" tanya Joe sembari menjajari langkah Laras yang sedang berjalan dengan Azka.


" Joe,, setiap wanita gak akan pernah ada yang mau dimadu. Meskipun sekarang Mama telah menerima kita. Bukan berarti sakit karena diduakan itu bisa dilupakan gitu aja. Meskipun Ibu memang posisinya tidak tahu menahu tentnag itu. "


" Mama Ratih belum memaafkan Ibu ?"


" Sudah. Sejak Mama tahu, kalo Ibu memang tidak tahu kondisi Papa yang sudah menikah waktu ituu. "


" Lalu,, kenapa masih skait hatii ?"


" Azka,, apa kamu akan bisa dnegan mudahnya melupakan orang yang kamu cintai telah selingkuh ? Meskipun mereka telah berpisah ?"


Azka menggeleng pasti. Laras tersenyum kemudian menatap Joe.


" Tentu saja tidak. "


" Kalian sudah tahu jawabannya kan ? Mama Ratih wanita yang baik. Mau melupakan kesalahan Papa. Hanya saja Papa lupa, ada Kak Randy yang juga meninggal karena kesalahan Papa menikahi Ibu. Bahkan, ini pertama kalinya Papa datang ke makam anaknya sendiri. Kalo kalian diposisi Mama Ratih, apa kalian sanggup menerima kenyataan bahwa suaminya sendiri lupa pada makam anaknya ? "


Keduanya kembali menggeleng cepat.


" Karena itu, tadi Mbak Laras selalu disamping Mama saat kita baru datang tadi ?"


" Aku yakin luka itu kembali terbuka Joe. Dengan datang kesini lagi. Pasti akan semakin membuat luka itu terasa perih. "


" Karena harus teringat anaknya yang meninggal juga yang menyebabkan anaknya meninggal. " jawab Azka.


Laras mengangguk.


" Orang yang mempunyai luka dihatinya, dan gak bisa menceritakannya pada orang lain. Pasti akan semakin terasa menyiksa. Selama ini Mama berushaa untuk mengubur masa lalunya. Dan menekankan pada dirinya kalo Mama telah baik-baik saja. Bahkan Mbak Prita sendiri tidak tahu perasaan Mama saat ini. Karena mereka seolah sama-smaa menutup diri.


Dan aku mengungkitnya saat aku ingin menjenguk makam Ibu. Mama sedih karena belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Hatinya masih sakit bukan karena Papa menduakannya, meskipun aku tahu itu salah satu alasannya. Tapi, hati Mama lebih terluka karena Papa telah melupaka Kak Randy. "


Joe mendekap Laras. Seperti biasa, kakaknya selalu peka dengan perasaan orang-orang disekitarnya.


Rudy dan Lyra yang sedari tadi mendengar percakapan ketiganya saling memandang dan melempar senyum. Rudy menghapus air mata Lyra yang mengacungkan jempolnya sambil menunjuk ke arah Laras. Rudy hanay terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2