Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Bulir-bulir air mata


__ADS_3

Arka menunduk sambil mengusap air mata di sudut matanya.


"Kamu ngomong gitu biar aku berhenti deketin kamu kan? kamu gak mungkin ambil keputusan yang bikin anak kita sedih nantinya." Ucap Arka.


"Kenapa anak aku harus sedih? dia masih punya aku yang bisa membahagiakan dia. Tanpa sosok kamu pun aku mampu kan sampai sekarang, aku masih inget Mas kamu pernah bilang aku gak akan mampu bertahan tanpa kamu tapi buktinya apa? aku masih hidup dalam keadaan sehat dan cukup." Ujar Mawar.


"Satu hal lagi, jangan pernah kamu ngomong 'kita' lagi karena selama ini gak pernah ada kata itu. Aku selalu berjuang sendirian, dan saat aku ngasih tahu aku hamil kamu gak suka kan? kamu gak seneng jadi buat apa kamu ngomong ini anak kamu." Ucap Mawar lagi.


"Aku sadar kalian itu penting buat aku, aku mohon cabut gugatan itu."


"Buat apa Mas aku cabut gugatan itu, bukannya ini kemauan kamu. Kamu gak mau kalau anak ini lahir karena kamu juga memiliki anak dari perempuan lain."


"Tapi sekarang terbukti 'kan anak yang dikandung Sherly itu anak Fras bukan anak aku."


"Aku gak peduli!" tegas Mawar.


"Kamu pulang ya, mamah nyariin kamu terus dia kangen sama kamu."


"Kalau pun mamah mau ketemu sama aku, dia bisa dateng ke sini. Sampai kapan pun aku gak akan pernah mau balik lagi ke rumah itu, aku trauma dengan apa yang pernah terjadi di sana." Tutur Mawar.


"Kenapa sih kamu jadi keras kepala gini, setidaknya kamu pikirin anak kita nanti dia bakalan butuh sosok ayah dalam hidupnya aku mohon kita perbaiki dan mulai semuanya dari awal lagi."


"Semuanya udah berakhir Mas, aku gak mau mengulang rasa sakit yang sama dengan orang yang sama pula." Tegas Mawar.


Arka bersimpuh dihadapan Mawar. "Aku gak tahu lagi harus gimana, aku gak mau kehilangan kamu Mawar gak mau."


Tak kuasa menahan air mata akhirnya Mawar menangis. "Cukup Mas cukup! aku udah cape nangis gara-gara kamu. Aku cape, mendingan sekarang kamu pulang."


"Aku gak akan pulang sebelum kamu maafin aku." Ucap Arka keras.


Arka berdiri kembali lalu mendekati Mawar, namun Mawar terus menghindar.


"Aku bilang jangan deketin aku!" bentak Mawar.


Mawar pun menarik tangan Arka keluar dari rumahnya dengan sigap Mawar menutup pintunya rapat-rapat.


"Mawar buka pintunya Mawar!" teriak Arka dari luar.


Mawar pun menangis di balik pintu segitu juga dengan Arka.

__ADS_1


"Aku gak akan pulang sebelum kamu maafin!!" teriak Arka lagi.


'Kenapa seseorang harus mencari ketika dia sudah merasa kehilangan, kenapa kamu baru sadar kalau kamu cinta sama aku setelah aku berusaha mati-matian mengikhlaskan pernikahan kita mas.' Batin Mawar.


**


Hari pun sudah mulai sore, Mawar baru saja bangun tidur di kamarnya melihat jendela ia melihat langit yang sangat mendung menandakan akan terjadi hujan.


Mawar pun pergi ke pintu depan dan melihat Arka dari balik jendela ternyata Arka masih ada di sana.


"Mas Arka kenapa kamu gak pulang sih, malah ngotot mau di sini." Gerutu Mawar.


Mawar berusaha tak mempedulikannya, ia pun berusaha menyibukan dirinya dengan masak dan sebagainya.


Sudah jam 18:00 Mawar sudah selesai dengan pekerjaannya termasuk sudah mandi. Ia pun berniat untuk makan malam tiba-tiba saja hujan turun dengan deras.


Mawar berlari ke arah jendela depan lalu melihat Arka yang masih duduk di depan, Arka melipat tangan di perutnya, Mawar tahu Arka kedinginan.


Sementara itu Arka di luar mulai terkena percikan hujan.


"Sial, hujan lagi." Gerutu Arka.


Tiba-tiba saja halilintar terdengar dengan keras membuat Mawar sangat terkejut.


'Apa aku tega membiarkan mas Arka duduk sendirian di saat hujan seperti ini?" batin Mawar.


Namun Mawar mengingat kembali apa yang pernah Arka lakukan kepadanya.


"Gak, aku gak mau maafin mas Arka aku harus tetap pada prinsipku." Ucap Mawar lagi.


Mawar pun masuk ke kamarnya lagi dan menunggu hujan reda. Pikiran Mawar tak bisa berhenti pada Arka yang masih duduk di luar.


'Mas Arka sepertinya sengaja lakuin ini, biar aku kasihan terus maafin dia.' Batin Mawar.


Hujan semakin deras disertai dengan angin dan halilintar. "Kok ujannya gak berhenti ya." Gerutu Mawar.


**


Suara hujan yang bergemuruh itu membuat Mawar ketiduran hingga akhirnya ia terbangun jam 23:00.

__ADS_1


"Ya ampun aku ketiduran, jam berapa sekarang?" ucapnya sambil melihat jam di ponselnya.


"Ya ampun Mas arka!" ucap Mawar.


Mawar berjalan menuju jendela dan melihat Arka apakah ia masih ada atau tidak.


Arka ternyata tertidur di lantai. Bajunya sudah basah kuyup terkena percikan air hujan yang deras.


Mawar melihat tubuh Arka seperti menggigil, ego Mawar akhirnya runtuh juga ia membukakan pintu untuk Arka.


"Mas Arka? kamu gapapa?" ucap Mawar bersimpuh mendekati Arka.


"Mawar maafin aku ..," lirih Arka.


"Ya ampun badan kamu panas banget, ayo masuk." Ujar Mawar.


Mawar tahu ini salah, bertentangan dengan apa yang telah ia rencanakan namun ia juga tak tega melihat keadaan Arka.


Mawar memapah Arka ke kamarnya.


"Baju kamu basah Mas, kamu buka ya takutnya tambah masuk angin." Ujar Mawar.


Arka tertidur di ranjang milik Mawar, bajunya masih basah.


"Astaga, mas Arka kenapa malah ketiduran masa dia tidur pakai baju basah? aku juga gak ada baju dia di sini." Gerutu Mawar.


Karena terpaksa akhirnya Mawar pun melepaskan pakaian Arka sehelai demi sehelai sampai Arka polos tak berpakaian.


Mawar ingin menutup kedua matanya namun semuanya sudah terlanjut terlihat. Mawar langsung menutupi tubuh Arka dengan selimut.


Ia menatap wajah Arka seolah tak ingin berpaling ke arah lain. 'Kamu begitu tampan dan mirip sekali dengan mas Dika. Sayangnya sikap kalian jauh berbeda. Mas Dika yang bisa membahagiakan aku dengan caranya dan kamu yang selalu menyakiti aku dengan cara kamu juga.' Batin Mawar, tak terasa bulir-bulir air mata itu jatuh lagi.


Mawar menghapus air matanya lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil hangat.


Rasa sesak di dadanya begitu jelas ketika berhadapan dengan Arka, hatinya tak bisa pergi tapi logikanya berkata cukup dan berhenti.


Mawar kembali ke kamarnya untuk mengompres Arka, dengan penuh kelembutan Mawar mengompres dahi Arka.


'Enggak, aku gak boleh luluh lagi. Aku gak boleh baper dan kembali ke jalan yang salah.' Batin Mawar.

__ADS_1


Setelah itu Mawar tertidur di samping Arka sambil duduk di kursi.


__ADS_2