
Malam ini Mawar sedang sendirian di ruang rawatnya itu. Pikirannya melayang entah kemana, rumah tangganya dengan Arka sepertinya tidak bisa lagi diselamatkan.
'Di dunia ini tidak ada yang bisa aku percaya selain Tuhan dan diri aku sendiri, bahkan terkadang aku pun masih sering membohongi diri ini.' Batin Mawar.
"Jangan ngelamun mulu, kesehatan kamu jauh lebih penting," tutur Langit tiba-tiba saja masuk ruangan.
"Enggak kok, lagian masa mau ngobrol sendiri," jawab Mawar.
Langit melihat tempat makan yang belum tersentuh sedikit pun di meja. "Loh kok ini masih utuh kamu belum makan ya?" tanya Langit serius.
"Belum," jawab Mawar singkat.
Langit mengambil tempat makan itu lalu membuka safety nya. "Kenapa sih kamu gak makan gak kasihan sama anak-anak kamu, nanti kalo drop lagi bukan kamu doang loh," omel Langit.
"Iya, tadi kan gak ada yang bantuin makannya," ujar Mawar.
"Banyak alesan kamu, cepetan makan," titah Langit.
Langit pun menyuapi Mawar dengan penuh perhatian. Keduanya merasa canggung setelah lama tidak bertemu karena terhalang pendidikan sekarang harus terhalang karena Mawar sudah menjadi milik orang lain.
Tidak ada obrolan disela-sela makan Mawar, pikiran mereka dipenuhi teka-teki yang tidak mudah diselesaikan sendirian.
"Kamu gak mau hubungin suami kamu atau mertua kamu gitu?" tanya Langit.
"Aku mohon ya gak usah bahas itu dulu, perasaan aku masih gak karuan. Lagian itu hal yang terlalu privasi buat dibahas sama orang lain seperti kamu," tutur Mawar lemah.
"Euu, maaf maksud aku bukan kaya gitu ..,"
"Iya gapapa, tapi tolong ya itu masalah aku kamu gak perlu tanya-tanya soal itu," potong Mawar.
"Iya maafin aku ya, yaudah kamu makan lagi," ucap Langit.
"Udah ya aku gak mood lagi,"
Langit menghela nafasnya sebentar, ada penyesalan dihatinya karena sudah lancang membahas hal seperti itu di depan Mawar.
"Ya udah gapapa kalo gak mau dilanjut makannya, nanti gampang makan lagi ya, kamu harus banyak makan jangan keras kepala oke?" ucap Langit.
"Bisa gak tinggalin aku sendirian? Aku gak mau denger orang ngomong apa pun, rasanya gak enak ditelinga aku!" bentak Mawar.
__ADS_1
"Ya udah aku di luar kalo butuh apa-apa telepon aku aja, permisi." Ucap Langit lalu keluar dari ruangan Mawar dengan sedikit rasa sesak di hatinya.
Setelah Langit keluar Mawar menarik nafasnya lalu membuangnya pelan-pelan.
'Kenapa harus orang lain yang ada untuk aku Mas, kenapa bukan kamu suami aku yang ada sekarang disamping aku?' batin Mawar sesak.
*
Langit duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba saja dokter Sindy duduk disebelahnya.
"Gak pulang, Dok?" tanyanya.
Langit sedikit terkejut dengan kehadirannya. "Enggak, lagi nungguin temen sakit," jawab Langit.
"Saya perhatiin kayanya dokter suka ya sama pasien itu? Padahal dia kan lagi hamil anak orang?" tanya dokter Sindy lancang.
"Maksud anda apa ya? Saya di sini cuma nungguin dia gak lebih kok, anda gak usah ngomong yang macem-macem soal saya dan dia." Tegas Langit.
"Saya cuma heran aja Dok, orang seganteng dan semapan anda masih mau nungguin istri orang yang jelas-jelas udah hamil buat saya itu gak habis pikir sih," ucap dokter Sindy.
Langit tak ingin memperpanjang obrolannya dengan dokter Sindy yang tidak bermutu itu. "Saya permisi," tuturnya lalu melenggang dari hadapan dokter itu.
*
"Aku sewa hotel aja buat tidur beberapa hari lagian uang di ATM aku masih ada 500 juta lagi," gerutu Arka.
Namun pikiran nakalnya terbesit untuk menemui sekertarisnya malam ini.
Dengan sigap Arka menghubungi Jenni sekertarisnya dan menanyakan dimana rumahnya.
"Hallo Jen? Kamu ada dimana?" tanya Arka basa-basi.
"Hmm hallo Pak, saya dirumah ada apa ya?"
"Oh kamu di rumah, ngomong-ngomong di rumah kamu ada siapa ya? Eu soalnya saya ada perlu sama kamu Jen," ucap laki-laki hidung belang itu.
"Kebetulan saya tinggal sendiri Pak? Kalo ada perlu dateng aja ke rumah nanti saya sharelok dichat ya," jawab Jenni.
"Iya makasih kalo gitu saya tutup dulu teleponnya."
__ADS_1
Arka mematikan sambungan teleponnya lalu membuka chat sharelok dari Jenni dan segera menghampirinya.
*
Sekitar 30 menit akhirnya Arka sampai ke kediaman Jenni. Jenni sudah menunggu bosnya itu di depan pintu dan segera membukakannya pintu gerbang lalu menguncinya rapat-rapat.
Setelah memarkirkan mobilnya Arka turun dan betapa terkejutnya melihat penampilan Jenni yang sangat seksi.
Arka menatap Jenni dari atas sampai bawah lalu mengulanginya. "Kenapa, Pak?" tanya Jenni.
"Gapapa, kamu cantik." Balas Arka. Arka yang dulu mengemis memohon maaf kepada istrinya itu kini kembali berulah, sepertinya penyakit selingkuh itu tidak ada obatnya didunia ini.
"Hmm, ya udah Pak ayo masuk ke rumah takutnya ada tetangga yang lihat," ucap Jenni.
Arka pun segera dibawa masuk oleh Jenni. Arka duduk diruang tamu yang tidak begitu mewah tapi terlihat begitu nyaman.
"Mau minum apa Pak?" tanya Jenni.
"Oh gak usah, saya ke sini cuma mau curhat aja sama kamu lagi suram pikiran saya soalnya," ujar Arka.
Jenni sengaja duduk disamping Arka, dengan penampilannya yang seksi itu laki-laki normal mana yang tidak akan tergoda. Jenni memakai baju kimono berwarna merah berani.
Arka menelan ludahnya, sudah lama ia tak bermain dengan wanita mana pun sejak berniat untuk berubah, ternyata berubah tidak semudah itu.
"Bapak mau curhat apa emangnya? Pasti soal istri Bapak itu ya?" tanya Jenni.
"Ya begitu lah, rasanya saya udah muak sama pernikahan ini lagian saya udah hilang rasa," ucap Arka dengan begitu mudahnya.
Jenni mengelus dada Arka. "Sabar ya Pak, semua pasti ada jalan keluarnya," ucap Jenni.
Nafas Arka naik turun tak karuan mendapati sentuhan dari Jenni.
**
Hampir satu jam mereka bercerita dan bercanda berdua di rumah, tiba-tiba saja kedua mata mereka bertemu cukup lama. Arka semakin mendekatkan wajahnya pada Jenni.
"Apa saya boleh menyentuh kamu malam ini saja? Saya sedang kalut," ucap bibir manis Arka.
Jenni tersipu malu, ia tahu ini salah tapi ia tak mungkin bisa menolak permintaan dari orang yang ia sukai.
__ADS_1