
Sekar sekarang pindah tinggal di apartemen Bram. Begitupun dengan Valencia. Nenek ingin memberikan waktu pada mereka untuk bulan madu selama satu minggu.
Tapi baru tiga hari mereka semua sudah datang menemui anak-anaknya di rumah Pratama.
" Ciyeeee,, pengantin baru,, " goda Joe.
" Nakal ya. Godain Mami. Apa kamu mau gak Mami restuin nanti sama Mei. " bisik Valencia pelan hingga hanya terdengar oleh Joe.
Joe terpaku sejenak. Kemudian memjajari langkah Valencia sambil terkekeh.
" Kok Mami tahu sih. "
" Apa yang gak Mami tahu hah. Kamu aja yang belum berani mengumumkannya. Atau mau Mami aja yang mengatakannya. "
" Jangan dong Mi. Tunggu aku lulus dulu dong. "
Valencia tertawa membuat Nico heran.
" Kenapa kamu bisik-bisik seperti itu, Sayang ?" tanya Nico penasaran.
" Iihh,, Papi kepo deh. Belum cukup umur Pi. "
Nico mengejar Joe yang berlari sembunyi dibelakang Pratama yang baru saja turun dari tangga. Diikuti tawa dari Valencia, Astrid, Sekar dan Bram yang baru datang.
" Kenapa dengan Joe ? Tumben gak kumat jahilnya. " tanya Sekar.
" Joe,, ternyata menyukai Mei sejak dulu, bahkan berniat ingin menikahinya. Tapi belum berani mempublikasikannya. Karena itu aku menggodanya biar aku yang katakan. Tapi Kak Nico keburu di ledek Joe kepo katanya. "
Bram semakin keras tertawanya.
" Hentikan Joe. Kamu buat Papi kecapekan. " kata Pratama sambil menarik Joe untuk berdiri disampingnya.
" Papi stop,, stop,,!!!" pekik Joe.
" Kamu masih muda sudah ngos-ngosan gitu. "
" Iihh,, enak aja. Ini karena Papi yang tiba-tiba mengejarku. "
" Ayo kita keruang keluarga. " ajak Pratama.
" Mami Cia,, aawas itu Papi Niconya. Dijagain. "
" Joooee !!" seru Nico kesal.
***
" Gimana langkah selanjuttnya ?" tanya Nenek saat semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga.
" Untuk sementara ini, aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku Ma. "
" Aku akan menyiapkan rumah di perkebunan untuk proses produksi untuk sementara waktu Ma. "
" Bram juga kesana kan ?"
" Tentu saja Ma. " jawab Bram.
" Tenang aja. Anak buahku akan tetap ada yang berjaga disini. " lanjut Bram.
" Cia,, gimana dengan Bik Rani dan dua pembantu yang laiinya ?"
" Mereka masih ada dirumah itu Ma. " jawab Nico.
" Aku yakin mereka ketakutan waktu itu. "
" Kalau rumah itu laku. Gimana dengan mereka ?" tanya Nenek.
" Apa kita meminta mereka untuk membantu di perkebunan saja Ma ?"
" Benarkah ? Apa kamu gak keberatan Sekar ?"
" Untuk sementara produksi kita akan memakan banyak waktu dan tenaga. Kita pasti membutuhkannya. "
" Kapan kalian akan ke Bandung ?" tanya Pratama.
" Lusa Pratama. "
" Pa,, dua minggu lagi aku akan sidang. " kata Joe.
" Azka dan Sam juga Pa. "
" Aku juga Pa. "
" Waduuuhh,, kok barengan gitu. Pasti nanti kalian kecapekan kalo berangkat dari sini. " keluh Ratih.
" Kami bisa tinggal di apartemen Ma. " usul Joe.
" Aaah iya. Betul. "
" Apartemen ?" tanya Azka dan Mei.
" Kita bagi tugas lagi kayaknya Pa. " sahut Laras.
" Asyikk !!" seru Joe senang.
" Apaan sih. "
" Kan udah kangen urusan bagi-bagi tugas kayak gini."
" Iya, Joe. Aku juga kangen. " kata Bram sambil mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.
" Bagi-bagi tugas ?" tanya Astrid heran.
" Dulu waktu rapat. Laras yang mimpin rapat dan dia bagi-bagi tugas untuk kami. " jelas Nico.
" Benarkah ? Waahh,, ayo Ras. Papa ingin lihat kamu pimpiin lagi. "
__ADS_1
" Gak mau. Nanti Papa malah keenakan gak mau kerja lagi. Laras nanti yang pusing. Sekarang, giliran Laras yang harus santai dirumah. "
" Enak aja. Kebalik. Kamu yang harus kerja. Papa yang harus pensiun. " seru Ratih tak terima.
" Ckckkk,, Mama gak adil. Belain Papa terus. "
" Mau Mama telpon Damian biar kamu ada yang belain Ras ?" goda Astrid sembari mengeluarkan ponselnya.
" Gak,, gak,, gak usah Ma. "
" Haha,, baru kali ini aku lihat Mbak Laras gak berkutik."
" Udah ah. Becanda mulu. Serius nih. " elak Laras.
" Baiklah. Apa maksudnya kita bagi tugas lagi ?" tanya Nico.
" Papa dong. "
" Lhoo,, kan kamu yang punya ide. "
" Laras,, gak baik ah. Godain orang tua mulu. " tegur Nenek.
" Iya Nek. Maaf. "
Laraa memukul Joe yang berada disampingnya karena terus menertawakannya.
" Gini, untuk yang mau sidang. Bisa tinggal di apartemen Joe. Dengan ditemani Ibu pastinya. Disana ada dua kamar kan Pa ?"
" Iya Ras. "
" Kenapa gak dari perkebuanan saja Joe ?"
" Masih terlalu jauh dari kampus Mami Sekar. "
" Gak apa-apa Mi. Biarkan mereka disana sama Ibu. Bisa sekalian belajar bareng disana. " jawab Laras.
" Lalu apa yang kami lakukan ?" tanya Valencia.
" Untuk sementara kayaknya Nenek yang harus gerak dulu deh. "
" Nenek ? Kenapa ?"
" Setidaknya untuk memancing pergerakan mereka. "
" Lalu apa yang harus Nenek lakukan ?"
" Seperti biasa. Pulang kerumah itu, setidaknya bisa membicarakan pada Bik Rani dan dua orang lainnya untuk mmebantu di perkebuanan nantinya. "
" Tapi Nenek pulang kesini laagi ?"
" Kalo memang Nenek capek. Nanti bisa tinggal sementara di apartemen Joe atau di perkebunan dulu. Setidaknya, akan ada teman Nenek peramu parffum disana nantinya. Bisa diajak kerja sama juga Nek. "
" Ide bagus. "
" Lalu Mami ??"
" Lalu gimana dengan gedungnya Ras ?" tanya Nico.
" Urusan interior gedung. Papa, Mama Astrid. Dan aku yang mengurusnya. Termasuk juga untuk promosi sementara. Marketingnya akan menjadi urusan Mama Astrid dan Papa yang akan mengatasinya. "
" Baiklah. Gitu juga oke. Laksanaakan Nona. " gurau Bram.
" Papi,, !!"
" Hahahah,, kau benar Nico. Laras memang cocok menggantikan posisiku sekarang. "
" Gak mau. Tunggu si Joe aja tuh. "
" Berdua dong Mbak. "
" Ogah. "
" Tidak bisa. Sebentar lagi dia milik Bramantyo. " celetuk Astrid.
" Wahh ternyata itu niat kamu Astrid. "
" Ma,, kita kesepian lagi dong Ma. " keluh Priita disela adu mulut para orang tua.
" Mbak Prita kan bisa ke Bandung. Lihat proses produksinya. Bisa bantuin promosi lewat esaay Mbak. Kalo nanti urusan disini udah bisa ditinggal, aku juga akan melihat kesana. "
" Ahh iya. Kenapa gak terfikirkan. "
" Kita semua bisa ikut andil untuk kemajuan perusahaan. " tegas Laras.
" Kalian juga bisa memasarkannya dikalangan mahasiswa sebelum lulus kan. "
Azka dan Mei langsung mengacungkan jempolnya dengan senang. Akhirnya bisa ikut andil membantu perusahaan Nenek.
" Ada yang kelupaan kayaknya. "
" Apa yang terlupakan Ras ?" tanya Ibu.
" Eeehhmm,,, nama. Iya.. Nama perusahaannya gimana ?"
" Ah iya bener. Kita juga harus mendaftarkannya. "
" Kalo florist gimana ? Kan awalnya kita pake bunga kan. " usul Mei.
" Itu juga bagus. Gimana menurut kalian ?" tanya Nico.
" Setuju !!"
Mei tersenyum senang saat usulnya diterima baik oleh semuanya.
" Kita berangkat besok. Kalian siapkan keperluan kalian. " kata Nenek.
__ADS_1
Azka, Mei dan Joe mengangguk sambil beranjak pergi. Begitupun dengan Nenek dan Ibu.
" Papi Bram dan Papi Nico. Tetap usahakan ada kawalan buat mereka. Terutama Mei. " pinta Laras.
" Kenapa dengan Mei Ras ?"
" Karena Mei beda kampus Mami Cia. Azka dikampus bisa sedikit lebih aman karena ada Sam disana. Joe juga ada Ryan yang menemaninya. Takutnya dikampus Mei bertemu dengan Yudha dan menjatuhkan mentalnya dengan mengungkit soal infeksi rahim Mei."
" Aahh,, kamu benar Ras. Lalu gimana ini ?"
" Tenanglah Valencia. Aku akan meminta pengawal wanita yang tempo hari mengawal kamu dan Sekar untuk menjaga Mei."
" Jangan Pi. "
" Kenapa ?"
" Karena mereka pasti sudah mengenalinya. Biarkan Tiwi yang menemani Mei. Lagipula mereka sudah saling mengenal. Akan terasa nyaman untuk Mei. "
" Lalu kamu ?"
" Ada Papa dan Mama Astrid yang ada disampingku. Kalo memang Papi merasa tidak percaya pada Papa."
" Jaga dia. Kalo kamu lengah,, aku pasti akan menghukummu. " ancam Bram.
" Ingat Pratama. Kami gak main-main soal keselamatan Laras. " tambah Nico.
Laras hanya melongo kemudian terkekeh.
" Kalian ini,, aku sudah pasti menjaga anakku. Apa-apaan kalian ini. " gerutu Pratama.
" Papi-Papi ini ketularan Joe posesifnnya. Tentu saja Papa akan menjagaku. Kalopun Papi masih khawatir, bisa menempatkan satu pengawal yang mengawal Mami Sekar untuk mengawalku. Karena Mami Sekar udah ada Papi Bram yang jaga. Tapi untuk pengawal Mami Cia. Biarkan dia tetap melakukan tugasnya. Karena Mami Cia masih tidak aman selama masih berada di perusahaan itu. "
" Dan aku yakin diamnya Mama Astrid, udah menyuruh Mas Damian mengirim orang untuk mengawasiku. " sindir Laras.
" Kamu tahu sayang ?"
" Tentu saja. Aku tahu Mas Damian juga seposesif apa sekarang, apalagi dia tidak ada disini."
Astrid tertawa. Sangat kagum dengan semua alibi Laras yang memang sangat benar menurutnya. Kecepatan dan kesigapan mengambil keputusan sangat mirip dengan Pratama.
" Aku tinggal ke kamar Ibu ya Pa. Ma. Mi. Pi. "
" Kenapa ?"
" Meskipun gak ngomong apa-apa. Tapi aku yakin Ibu mengkhawatirkan Laras. "
Semuanya tersenyum sambil mengangguk. Tiba-tiba Astrid memukul lengan Pratama dengan keras.
" Heeeyy,, lenganku ini bukan samsak !!"
" Setiap kali melihat baktinya padamu dan orang tua lainnya. Aku ingin sekali menghajarmu. Itu tidak sepadan dengan luka yang kamu sebabkan dihatinya."
" Aku yakin Laras tidak ingin kita mengingatnya. " kata Valencia sedih.
" Iya kamu benar."
" Aku tahu aku salah. Dan ribuan kali aku minta maaf padanya pun tidak akan bisa menghapusnya. Aku juga merasa tidak pantas mendapatkan baktinya. "
" Itu sudah berlalu. Pa. " kata Prita menennagkan.
" Maafkan aku sudah mengingatkan semuanya. "
****
" Assalamualaikum. Bu, boleh Laras masuk ?"
" Masuklah, Ras."
Laras masuk kekamar Ibunya dan duduk di samping Ibunya yang terlihat malas untuk berkemas. Dia hanya tersenyum.
" Ada apa ? Apa kamu membutuhkan sesuatu ?"
" Iya. Laras butuh senyum Ibu. "
Ibu tersenyum meskipun dengan berat hati. Kemudian mengusap pipi kanan Laras.
" Ibu membawamu pindah ke Bandung bukan untuk membawamu ke masalah yang bertubi-tubi seperti ini. Apalagi membahayakan kamu. Kalau seperti ini, Ibu jadi selalu jantungan karena mencemaskan kamu. "
" Ibu,, Laras baik-baik saja. Buat apa Ibu dan Mas Ruly memaksa Laras kuliah kalo nantinya gak bisa diamaalkan ilmunya. Laras senang bisa membantu semuanya Bu. Laras senang akhirnya bisa berbakti pada orang tua."
" Kamu memang anak hebat Ras. Apalah artinya kecemasan Ibu ini. "
" Sangat berarti Bu. Karena itu tandanya Ibu masih menyayangi Laras meskipun Laras udah bertemu dan berbaikan dengan ornag tua Laras. "
" Kamu ngomong apa. Tentu saja Ibu menyayangi kamu dan Joe sama seperti Ruly dan Azka. Kalian anak-anak Ibu. Sampai seterusnya kalian tetap anak-anak Ibu. "
Ibu menarik Laras dalam pelukannnya. Kemudian mulai terisak.
" Laras juga menyayangi Ibu seperti Ibu kandung Laras sendiri. Ibu sehat terus, biar bisa mendampingi Laras terus. Bisa doain keselamatan Laras terus. "
" Aamiinn,, Aaammiinn ya robbal alamiin. "
" Aku bantuin Ibu berkemas. Dan Ibu gak boleh khawatie lagi. Kalo nanti disini udah aman. Aku akan menyempatkan main ke apartemen. Aku juga belum pernah ke apartemen Joe. "
" Sejak kapan apartemen itu diberikan pada Joe. "
" Sebenernya sejak Joe pindah ke Bandung Bu. Hanya saja gak pernah di tempati. Karena Joe tinggal dengan Nenek kan. "
" Kenapa gak pernah cerita ?"
" Takutnya Ibu dan Azka berfikir kalo kami aji mumpung Bu. Mumpung punya Papa yang kaya, biaa seenaknya minta apapun. "
" Gak pernah sekalipun Ibu berfikir seperti itu. Papamu orang yang bijaksana. Dia bisa adil memberikan sayang dan hak materi yang sama pada anak-anaknya. Bahkan pada Azka dan Mei yang bukan anaknya. "
" Karena Ibu sudah memberikan yang terbaik untuk kami. Tentu saja Papa juga harus memberikan yang terbaik juga untuk mereka. Kebaikan akan kembali kepada dirinya sendiri Bu. Itu kan yang selalu Ibu tekankan pada kami. "
__ADS_1
Ibu mengangguk haru. Karena apa yang dikatakannya selalu diingat dengan baik oleh anak-anaknya.