
"Aku harus melakukan sesuatu biar Arka mau sentuh Mawar karena aku tahu Arka gak mungkin mau gitu aja sentuh Mawar." Tutur Rita.
***
Arka duduk di meja makan entah pagi ini ia sangat terlihat tampan.
"Pagi Mah." Sapa Arka pada Rita.
"Pagi sayang, Mawar mana?" tanya Rita.
"Mawar masih tidur Mah."
"Ohh gitu, gimana kamu udah itu sama Mawar."
"Itu? itu apaan maksud Mamah?"
"Ah kamu pura-pura gak ngerti, itu loh yang biasanya dilakukan pengantin baru." Goda Rita.
"Mamah apaan sih, Arka juga butuh waktu kali lagian Arka sama Mawar kan menikah tiba-tiba mana bisa langsung gitu."
"Loh emangnya kenapa? gapapa kali kan udah halal."
Arka berdecak kesal. "Udah ah jangan bahas itu, lagian privasi anak kok dikorek-korek."
Rita tersenyum mendengar ucapan anaknya itu.
****
Setelah Arka pulang bekerja Rita meluncurkan aksinya.
"Bi masukin obat ini ke dalam teh Arka, nanti teh nya biar saya yang antar." Tutur Rita.
Tanpa bertanya obat apa, Inah langsung memasukannya kedalam minuman Arka.
Rita mengantarkan teh itu pada Arka yang berada di lantai atas tepatnya di ruang kerja.
"Arka, ini Mamah bikinin teh buat kamu pasti cape kan pulang kerja."
"Oh iya Mah makasih, kok belum tidur?"
"Ah iya Mamah belum ngantuk sayang, yaudah kamu minum dulu teh nya."
Arka langsung menyeruput habis teh itu tanpa menyisakannya setetes pun.
"Ahh, kebetulan aku haus banget Mah."
"Yaudah mending sekarang kamu istirahat."
Arka pun menuruti ucapan Rita dan masuk kedalam kamarnya.
"Bagus," ucap Rita ia mengunci pintu kamar Mawar dan Arka dari luar kemudian pergi dari kamarnya.
Arka tampak gelisah, entah kenapa tubuhnya panas dingin, ada perasaan ingin dipuaskan malam ini. Mawar yang sedang membawa buku beralih menatap suaminya itu.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Mawar cemas.
"Gapapa." Jawab Arka menyembunyikan perasaannya.
'Ah sial! ini pasti obat perangsang! Mamah? Mamah pasti sengaja ngelakuin ini biar aku bisa nyentuh Mawar, ah sial! aku udah gak kuat lagi!' Batin Arka.
__ADS_1
"Mas kamu beneran gapapa?" Mawar memastikan suaminya itu baik-baik saja.
Arka beranjak mendekati Mawar yang sedang duduk di sofa.
'Enggak! aku gak mau kaya gini! aku cuma mau lakuin itu sama Serly!' batinnya.
Arka berlari membuka pintu tetapi pintu itu sudah terkunci rapat.
"Ah sial!" decak Arka.
Ia sudah mengerang kesakitan. Mawar cemas dengan keadaan Arka saat ini.
"Mas kamu kenapa sih?"
Arka hanya menggelengkan kepalanya menahan hasratnya yang semakin memuncak.
Tidak tahan lagi Arka mendorong tubuh Mawar hingga terbaring di ranjang.
"M-mas kamu mau apa?" tutur Mawar gugup.
Tak menjawab apa-apa, Arka langsung menindih tubuh istrinya itu dan mulai menciumi lehernya.
Tubuh Mawar seperti tersetrum listrik, ia benar-benar kaget dengan perlakuan Arka kali ini.
Wajah Mawar memerah menahan malu juga kesal karena tiba-tiba Arka melakukannya padahal sebelumnya Arka selalu menolaknya dengan menyebut ia hanya bekas.
Arka dengan ganas merobek baju tidur kimono Mawar.
"Mas Arka, baju aku!" ringis Mawar.
"Aku bisa menggantinya 10x lebih bagus dan mahal! udah diem aja! emang udah tugas kamu sebagai istri kan." Ucap Arka terus menjelajahi leher Mawar.
Mawar berusaha menjauhkan dirinya dari Arka tetapi tubuh Arka terlalu kuat menindihnya.
Tak terasa tubuh Mawar sudah tak berpakaian sehelai pun. Ia tak tahu harus senang atau takut kali ini.
"A--" Mawar hendak berteriak ketika sesuatu yang cukup besar memasuki tubuhnya tetapi bibirnya sudah di sambar oleh Arka agar tidak mengeluarkan suara.
Arka melakukannya dengan kasar, ia pikir ini bukan pertama kali untuk Mawar karena Mawar sudah pernah menikah dengan kakaknya.
Mawar menitikkan air mata, ia merasakan kesakitan yang luar biasa karena Arka begitu kasar padanya.
'Kenapa rasanya sempit sekali? apa ini yang pertama untuk Mawar? tapi bukannya Mawar sudah melakukannya bersama Mas Dika?' batin Arka yang masih terus melakukan aksinya.
..
Sudah pukul 03.00 Arka masih terus menggagahi tubuh Mawar yang sudah kelelahan meladeninya.
Akhirnya tubuh Arka ambruk diatas tubuh Mawar, mereka tertidur dengan posisi masih menyatu.
Tubuh Mawar seperti habis di keroyok massa, sakit disekujur badannya. Lehernya penuh dengan tanda merah bekas kecupan Arka.
Sepanjang Arka melakukannya Mawar terus menangis menahan kesakitannya.
***
Pukul 07:00 Arka terbangun, ia merasakan sesuatu yang sesak di bawahnya. Ia melihat wajah Mawar berada di bawahnya.
"Sial! aku terpaksa melakukan ini sama Mawar gara-gara obat sialan itu." Gugamnya.
__ADS_1
Arka ingin beranjak dari tubuh Mawar tetapi kenapa rasanya begitu nikmat.
'Enggak! aku gak boleh lakuin ini lagi aku harus kerja! Batin Arka lalu beranjak menuju kamar mandi.' Batin Arka.
Langkahnya terhenti ketika melihat bercak darah di sprei.
"Darah? jadi, jadi Mawar masih perawan? mana mungkin bisa? dia kan pernah menikah dengan mas Dika, apa mas Dika belum--"
"Mas Arka?" lirih Mawar.
Arka terkejut mendengar suara Mawar yang terbangun.
"Apa?" jawab Arka dingin.
"Tolong ambilin baju aku mas." Tutur Mawar lemas.
"Ambil aja sendiri."
Mawar berusaha berdiri tetapi badannya sakit semua ia hampir terjatuh dengan sigap Arka menangkapnya.
Wajah mereka sangat dekat, hanya beberapa senti meter. Arka tersadar ia membantu Mawar duduk.
"Mau ngapain sih ngerepotin orang aja?" ucap Arka.
"Ngerepotin? aku kaya gini juga gara-gara Mas Arka!" rintih Mawar dengan nada yang sedikit ditekan.
"Yaudah maaf, semua ini gara-gara mamah masukin obat perangsang ke dalam minuman aku."
"Obat perangsang?"
"Iya! dan mamah sengaja ngunciin pintu dari luar, aku gak bisa berkutik lagi selain ngelakuin itu sama kamu." Arka menunduk. Rupanya laki-laki angkuh ini masih punya malu.
Mawar tak menjawab apa-apa.
"I-itu darah kamu?" tanya Arka menunjuk sprei.
"Iya." Jawab Mawar datar.
"Hah jadi beneran kamu masih perawan?"
"Iya."
"Loh bukannya kamu--"
"Hari itu Mas Dika keluar buat meeting dan terjadilah kecelakaan itu, jadi kita belum ngelakuin apa-apa." Potong Mawar.
Arka mengelus tengkuknya. "O-oh gitu."
Mawar tak menjawab ia berusaha bangun kembali, tubuhnya hanya di tutupi selimut berbeda dengan Arka yang sudah memakai boxer.
"Udah diem! kenapa sih! kamu tuh kesakitan!" protes Arka.
"Bisa gak sih ngomong sama aku tuh biasa aja? jangan ngegas terus. Aku juga butuh kelembutan Mas Arka. Kamu anggap aku apa sih setelah apa yang kamu lakukan semalam terus sekarang kamu marah-marah sama aku." Ujar Mawar.
"Terus kenapa? bukannya hal itu halal dilakukan antara suami dan istri."
"Emang selama ini kamu menganggap aku istri kamu?"
"Aku bakalan terus merasa aku itu bujangan sebelum aku mencintai kamu." Jawab Arka.
__ADS_1
"Gimana kalo suatu hari Mas Arka jatuh cinta sama aku?" tanya Mawar.
"Kayanya gak mungkin, karena seorang Arka Dewantara tidak pernah mengingkari ucapannya." Tegas Arka dengan angkuh.