
" Sayang,, bangun. Jangan membuatku khawatir." bisik Damian lirih dengan masih terus menggenggam tangan Laras yang masih pingsan.
" Tenanglah Damian. " hibur Astrid.
Laras menggeliat lalu mengerjapkan matanya sebelum akhirnya terbuka. Ibu membantunya untuk bangun. Matanya sudah bengkak karena terlalu banyak menangis.
Nenek mengusap kepala Laras. Hingga dia kembali merasa terharu dengan perhatian keluarganya.
" Maafkan aku sudah merepotkan semuanya. "
" Ikhlaskan mereka Ras. " bisik Ibu.
Laras memeluk Ibu dan menangis dipelukan Ibuny
" Kenapa sesingkat ini Bu ?"
Joe mendekat dan meminta ijin Damian untuk duduk di depan kakaknya. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan lutut Laras.
" Maafkan aku Mbak. Harusnya aku pertemukan Mbak Laras dengan mereka lebih cepat. Aku tahu mereka membaca novel Mbak Laras. Tapi aku gak tahu kalo mereka sangat menyayangi penulis novel itu. "
Laras menghela nafas panjang kemudian melepaskan pelukan Ibunya. Mengusap pipi Joe.
" Ini sudah takdir Joe. " ujarnya sambil tersenyum.
" Ikhlaskan mereka Nak. " kata Nenek mengulang yang Ibu katakan.
" Apa mereka sudah dimakamkan Bu ? "
" Warga masih memandikan mereka. "
" Aku ingin kesana Bu. "
" Sayang,, kamu yakin ? " sahut Damian cemas.
" Dokter bilang kamu shock, Ras. Kamu terlalu terbebani. Lebih baik kamu istirahat. " kata Astrid.
" Aku baik-baik saja Ma. "
" Kamu tahu matamu mengatakan lain sayang. " keluh Damian dan beranjak keluar karena kesal.
Laras menatap punggung Damian yang menjauh dan bergabung dengan Rey dan Sam untuk membantu warga lainnya.
" Damian hanya sedang mengkhawatirkan kamu Ras. " kata Astrid.
" Laras tahu Ma. Ibu, Nenek,, aku mau kesana. "
" Baiklah kita ke panti. " jawab Nenek.
Tatapan Damian dan Laras bertemu saat Laras hendak masuk ke panti. Tapi Damian segera mengalihkan pandangannya. Laras menunduk merasa bersalah.
Semuanya tengah melihat modin itu mengkafani si kembar. Tampak anak-anak panti tengah bertangisan di ruang tengah.
" Apa ada yang mau menciumnya untuk yang terakhiir kalinya sebelum saya menutup kain kafannya ?" tanya modin yang dijawab anggukan oleh Bu Sasi.
Laras mengantri di belakang Bu Sasi. Ryan yang tampak tegar dan sudah mengikhlaskan kepergian si kembar sudah mencium kedua adiknya itu. Bu Sasi mendekat.
" Tolong jangan sampai air matanya mengenai jenazahnya." tegur Modin itu.
Akhirnya Bu Saasi mengurungkan niatnya untuk mencium si kembar karena air matanya tak kunjung berhenti. Laras mendekat kke arah jenazah si kembar.
* Allaah lebih sayang kalian. Sekarang udah gak sakit lagi sayang. * batin Laras.
Para warga sudah membawa jenazahnya untuk dimakamkan. Laras mengiringinya dengan tangisan.
" Jangan sampai tangisanmu menghambat jalan anak-anak Ras. Mereka sudah tenang disisi Allah. " hibur Ibu. Dia mengangguk sambil menghapus air matanya.
Bu Sasi mendekat dan menyerahkan sebuah notebook kecil pada Laras.
" Ini buku harian mereka. Memang Syakilla yang lebih sering menulisnya, kaarena sel kanker membuat tangan Syakira menjadi lemah untuk dibuat menulis."
Laras menerima buku itu. Kemudian membuka beberapa lembar terakhirnya.
__ADS_1
* Aku dan Syakira memang aneh,, kami bahkan tidak kenal dengan penulis novel Seperti Bintang. Tapi kami dengan seenaknya menyayanginya. *
* Aku dan Syakira sudah membaca Seperti Bintang untuk yang ke tujuh kalinya. Dan lucunya, kami bahkan sampaai hafal dialog tiap bab. *
* Kesehatan kami semakin menurun. Melihat Ibu, Kak Ryan dan juga saudara dipanti yang lain selalu menangis setiaap kali pulang mengantar kami kemoterrapi. Membuat kami semakin takut dengan kematian. Kami ingin hidup.*
* Ibu bilang, aku dan Syakira terpilih menjadi orang-orang pilihan Allah. Doa kami akan selalu terijabah. Beenarkah ?? Kalo begitu, bolehkah kami berharap bisa dipertemukan dengan penulis Seperti Bintang sebelum kami pergi ??*
* Aku dan Syakira,, malam ini kami tertawa lucu. Bagaimana tidak ?? Setiap hari kami semakin merindukan penulis Seperti Bintang, bahkan mengalahkan kerinduan kami pada orang yang telah membuang kami. *
* Aku dan Syakira,, kami bahagia saat Kak Ryan memeluk kami dan Kak Ryan mengatakan, penulis Seperti Bintang ingin bertemu dengan kami. Kalo tidak ingat kaki kami sudah melemah. Rasanya kami ingin berlarian karena bahagia. *
* Aku dan Syakira,, rasanya kami sudah tidak sabar menunggu waktu malam. Ahh kami bahkan melupakan untuk mengucapkan terima kasih pada Allah yang sudah mengabulkan harapan kami. *
* Aku dan Syakira,, karena saking bahagianya. Kami sampai lupa tidak minum obat seharian ini. Kami hanya melihat jendela dan melihat ke penginapan dimana penulisnya yang kata Kak Ryan bernama Kak Laras. Kami antusias mendengarkan cerita Kak Ryan tentang kebaikan Kak Laras dan keluargaanya hingga memperbolehkan kami pindah ke rumah panti yang lebih bagus ini. Ahh,, rasa-rasanya,, kami semakin lancang membayaangkan Kak Laras mau menganggap kami bagian dari kehidupannya. *
* Aku dan Syakira,, akhirnya malam datang juga. Tapi keadaan kami makin melemah. Ibu yang khawatir tidak mengijinkan kami untuk keluar. Tentu saaja kami menangis, apalagi mendengar Kak Laras akan pulang ke Jakarta. Kami semakin bertangisan hingga akhirnya Ibu dan Kak Ryan mengijinkan kami untuk menemui Kak Laras. Aahh senangnya. *
* Aku dan Syakira,, Ya Allah. Engkau selalu mengabulkaan doa dan harapan kami. Untuk terakhir kalinya. Kalo boleh,, biarkan kami pergi setelah memeluk Kak Laras. Kami ikhlas,, karena semua keinginanku dan Syakira terkabulkan. Malam ini kami akan bertemu dengan Kak Laras. *
Laras memeluk buku harian itu dan menangis sesenggukan. Hingga kembali pingsan. Ibu dan Nenek kembali hanya menghela nafas. Damian mengusap kepala Laras yang tengah terbaring di ruang tamu panti.
' Kamu berhasil membuatku sport jantung sayang. ' batinnya.
" Bu Sasi. Maafkan kami. Tapi, kami harus pulang. Kami mengkhawatirkan keadaan Laras. " kata Pratama.
" Iya Pak. Terima kasih. biarkan buku itu dibawa Laras." kata Bu Sasi saat Ibu ingin mengembalikan buku itu pada Bu Sasi.
" Ryan, Tiwi, kalian disini saja dulu, temani Bu Sasi sampai tujuh harinya. " kata Pratama.
" Tapi,, bagaimana dengan tugas kami Pa ?" tanay Ryan.
" Tidak usah khawatir. Sementara aku akan menyuruh tim lain untuk mengawal Laras dan Joe. " jawab Nico.
" Aku dan Sekar akan tetao disini untuk menemani mereka. Aku akan menyuruuh beberapa anak buahku untuk mengawal mobil kalian. Jangan ada yang nyetir. Biar anak buahku saja. Kalian istirahatlah. " kata Bram dan Sekar hanya mengangguk.
" Begitu lebih baik Bram " jawab Pratama.
" Damian. Bawa Laras ke mobil. Mei cobalah menyadarkan Laras. Kalo tidak sadar juga. Kita berhenti dirumah sakit nanti. " perintah Pratama.
" Iya Pa. "
Damian menggendong Laras menuju mobil.
" Aku gak akan memaafkan kamu kalo kamu sampai harus dirawat di rumah sakit sayang. " bisik Damian lirih.
Tepat jam sebelas malam. Mobil mereka langsung berangkat menuju Jakarta. Astrid, Mahira dan Damian bernafas lega saat Azka mengabarkan kalo Laras sudah siuman.
Damian melihat Laras yang masih lemah hingga harus di gendong Ruly dan dibantu Joe untuk membawanya masuk.
" Kamu mau masuk Damian ?" tanya Astrid.
" Udah malam Ma. Kita pulang aja ya. "
" Iya. Kamu harus istirahat. "
Mobil Damian melaju menuju rumah mereka. Meskipun diakui Damian hatinya masih mengkhawatirkan Laras.
*****
" Kak Laras masih belum menghubungi Kak Damian ? " tanyanMahira sambil meletakkan beberapa berkas di meja Damian. Saat melihat Damian memegang ponselnya sesekali memainkannya.
Damian menoleh, kemudian meletakkan ponselnya diatas meja.
" Kenapa gak ketuk pintu dulu ?"
" Udah lima kali Booossss. " protes Mahira.
Damian mendengus kesal.
" Berkas apa itu ?"
__ADS_1
" Semua berkas yang harus Bos tanda tangani. " jawabnya ketus.
" Yang bos disini siapa sih. Kenapa kamu jadi ikut-ikutan sewot. "
" Karena bosnya kalo malarindu suka resek." balasnya sambil menyerahkan berkas itu ke depan Damian.
" Mau aku potong gaji kamu ?"
" Haahh ?? Atas dasar apa potong gajiku ?"
" Kamu telat pagi ini. "
" Telat lima menit doang Kak Damian !!" protes Mahira.
" Tetap aja telat kan. "
Damian melirik jam tangannya. Sudah masuk waktu makan siang.
" Temani aku makan siang. "
" Gak mau. "
" Kenapa ? Takut dipootong gajinya ?"
" Aku udah punya janji. "
" Batalkan. Aku akan menelpon Rey. "
" Bukan dengan Kak Rey kok. "
" Lalu dengan siapa ?"
" Iihh Kak Damian kepo deh. Udah sana pergi makan siang dulu. "
" Udah gak mood. "
" Makan itu kalo udah lapar. Bukannya kalo udah gak mood. "
" Aku masih kenyang. "
" Kenyang darimana ? Kak Damian gak sarapan pagi tadi. Dan udah satu minggu ini Kak Damian melewatkan makan siang."
" Udah sana pergi. "
" Iya,, iya,, " seru Mahira kesal.
Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap foto Laras yang menjadi wallpapernya. Kalo Damian boleh jujur, sebenernya ada rindu yang menyesakkan dadanya. Tapi setiap kali melihat Laras yaang tengah menangis. Dia seolah ingin memeluk Laraas. Karena itu, dia menunggu Laras yang menghubunginya agar dia bisa memastikan Laras sudah membaik. Daripada nanti gak bisa menahan dirinya.
Damian beranjak menuju sofa diruangannya. Badannya teraasa remuk, diraba keningnya. Agak hangat, mungkin karenaa sedari kemarin dia belum makan. Hanya minum vitaamin saja. Lelah menunggu kabar dari Laras yang tak kunjung menghubunginya. Hingga akhirnya dia tertidur.
Mahira membuka pintu ruangan Damian sedikit dan mengintip kedalam ruangan. Hingga akhirnya memutuskan untuk masuk. Dan terkekeh melihat Damian tertidur di sofa.
" Kak Damian udah kangen akut nih. " gurau Mahira kemudian beranjak keluar ruangan.
Sesampainya di ruangannya, dia menelpon Laras yang tadi chat menanyakan keberadaan Damiaan.
" Assalamualaikum Kak Laras. "
" Waalaikumsalam Hira. Kak Damian ada di kaantor gak ?"
" Ada kok Kak. Kenapa Kak Laras baru menghubungi sekarang ? Aku dan Tante Astrid khawatir. Apalagi Kak Damian,, setiap hari udah uring-uringan tunggu kabar dari Kak Laras. "
" Maafkan aku Hira. Aku masih sedih kemarin-kemarin. Nanti aku jelasin kalo udah sampai sana."
" Kak Laras mau kkesini ? Sama siapa ?"
" Sama Tiwi. "
" Oke. Aku tunggu Kak. "
" Assalamualaikum. "
__ADS_1
" Waalaikumsalam. "