Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
bab 115


__ADS_3

Laras, Azka dan Joe duduk disamping Ratih saat sarapan. Ibu berada di dekat Ruly dan Prita. Sedang menyuapi baby Al yang berada dipangkuannya. Nenek dan Mei sedang berada di apartemen Nico. Yang semakin hari lemas karena muntah-muntah.


" Ras, masjid dan rumah panti asuhan yang di depan perkebunan sudah hampir jadi. Apa kamu ingin melihatnya kesana ?" tanya Pratama.


" Benarkah ? Cepat sekali prosesnya Pa. "


" Iya. Banyak warga sekitar yang ikut membantu."


" Sukarelawan Pa ?"


" Iya. Antusias warga sangat baik saat mendengar kita mau bangun masjid disana. "


" Alhamdulillah. "


" Apa panti asuhannya bisa segera ditempati Pa ?"


" Ya. Rencananya akan diaadakan syukuran untuk peresmian panti asuhan itu. "


" Kapan Pa ?"


" Eehmm,, hari Sabtu pagi kita berangkat, Minggu malam kita pulang. Biar gak ganggu kerjaan kita nanti. Gimana ? "


" Azka ikut Pa. "


" Ajak si Kahfi juga Mbak. Kan dulu gak sempat ikut."


" Iya. "


" Aku ikut juga. "


" Apa Damian juga ikut ?"


" Belum tahu Pa. Nanti Laras tanyakan padanya. "


" Ehhmm,, Pa. Bolehkah aku mengajak beberapa anak yatim piatu untuk tinggal disana ?"


" Maksud kamu apa Joe. Anak-anak siapa ?"


" Sekitar tiga puluh menit dari tempat itu. Ada panti asuhan yang bangunannya sudah hampir ambruk. Mereka gak mendapat bantuan dari poemerintah karena awalnya rumah itu hanya sebuah bangunan rumah. Di rumah itu ada sekitar lima belas anak seusia SD. Biaya hidup mereka dari donatur yang kebetulan pernah hidup disana sebelum akhirnya di adopsi. "


" Kenapa kamu bisa tahu Joe ?"


" Beberapa kali aku pernah kesana Mbak Laras. "


" Sama siapa ?"


" Ryan Mbak. "


" Alhamdulillah. Kamu gak lupa untuk menyisihkan penghasilanmu untuk mereka, Nak. " puji Ibu.


" Tentu saja Bu. Aku juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan. "


Laras menyenggol lengan Joe agar tidak keceplosan ngomong. Joe melihat Laras menggeleng menjadi heran. Kemudian akhirnya memahami maksud kode dari Laras.


" Maafkan aku Pa. Bukan bermaksud,,, "


" Tidak apa-apa Joe. " sahut Pratama cepat.


" Baiklah. Aku akan menyuruh anak buah Papa untuk segera melengkapi fasilitas tiap kamar disana. Agar bisa segera ditempati. "


" Makasi Pa. "


***


Seperti rencana, kesemua keluarga ingin ikut acara syukuran di panti asuhan. Pratama meminta Bram untuk memastikan tidak ada yang menginap di penginapannya. Agar lebih private. Begitupun dengan agrowisata milik Pratama.


Laras melihat pemandangan perkebunan dan agrowistaa Pratama yang semakin asri dan bagus. Tak lagi hanya berupa tanah lapang kosong.


" Sedang apa Ras ?" tanya satu suara dibelakangnya.

__ADS_1


Laras menoleh dan tersenyum saat melihat Nico dan Bram disana.


" Lagi lihat pemandangan Pi. Makin asri disini. "


" Kamu gak istirahat ? " tanya Bram.


" Pemandangan disini terlalu indah untuk dilewatkan Pi. Belum tentu kita bisa menikmati udara perkebunan yang cerah di musim hujan seperti ini. "


" Iya . Kamu benar. "


" Papi masih morning sickness ?"


" Masih. Tapi syukurlah ada vitamin dari dokter yang mengurangi mualku. "


" Biar bisa ngerasain susahnya orang hamil Pi. "


" Iya Ras. Alhamdulillah. "


" Mami Sekar gak pernah ngidam aneh-aneh Pi ?"


" Sangat aneh Ras. "


" Contohnya ?"


Bram duduk di teras balkon lantai tiga disamping Nico. Sedang Laras masih bersandar didinding pagar pembatas.


" Pernah memintaku untuk memetik satu buah kelapa dari pohonnya sewaktu di pantai. "


Nico dan Laras sampai tertawa terbahak-bahak mendenagr Bram bercerita. Di lantai bawah Laras melihat Ryan dan Joe tengah berbicara. Membuatnya teringat Tiwi.


" Pi,, "


" Ya ?"


Laras terkekeh sejenak mendengar keduanya menjawab dan menatapnya bersamaan.


" Sudah ketularan Joe kamu Ras. "


" Kalian aja udah terinfeksi virus posesifnya. "


Ketiganya menjadi tertawa.


" Pi,, sepertinya Ryan dan Tiwi saling menyayangi. Kenapa gak menikahkan mereka bersamaan dengan kami aja nanti ?"


Nico tersenyum. Begitupun dengan Bram.


" Kami juga melihatnya Ras. Sudah berkali-kali mendeengar mereka diledekin satu asrama waktu mereka menyempatkan diri kesana." jawab Bram.


" Lalu ?"


" Kami takut salah tangkap. Kami sedang menunggu keduanya mau mengungkapkan perasaan mereka. "


" Melihat keduanya yang terlihat sangat menghormati Papi. Kayaknya Ryan gak seberani itu untuk mengungkapkan peraasaannya. Dulu, Joe pernah bercerita kalo Ryan ingin melamar Tiwi. Tapi, waktu itu keburu Tiwi mengatakan kebahagiaannya yang telah dianggap anak sendiri oleh Papi. Ryan kayaknya jadi insecure sejak saat itu. "


" Mungkin Ryan merasa rendah diri Ras. "


" Kenapa Pi ?"


" Ryan itu anak yatim piatu. Dia besar di panti asuhan. Selama ini dia selaalu menyisihkan gajinya untuk biaya hidup adik-adiknya dipanti asuhan. Dulu, aku menemukannya sedang menjadi kuli panggul dipasar didekat sini. Lalu aku menawarkannya untuk ikut pelatihan di asrama." jekas Nico.


Panti asuhan ? Mungkinkah yang dimaksud Joe, panti asuhan yang sama ?


" Panti asuhannya di sekitar sini Pi ? Tiga puluh menit dari sini ?"


" Iya. Kamu pernah kesana ?"


" Bukan aku Pi. Tapi Joe yang sering kesana. Dan tempo haari yang lalu, sempet minta pada Papa untuk menempatkan anak-anak yang ada disana agar bisa menempati panti asuhan kita. "


" Aku juga kepikiran hal yang sama. " kata Bram.

__ADS_1


" Iya. Aku juga punya pikiran itu. Tapi belum sempat mengatakannya pada Pratama."


" Alhamdulillah. "


" Mungkin mereka sedang menjemput mereka sekarang."


" Iya. Karena acaranya kan nanti sore. Pembukaan panti asuhan dan masjidnya. " jawab Bram.


" Kalian sedang apa. Ayo semuanya menunggu kita makan siang. " kata Valencia sembari mendekat ke arah Nico.


Nico pun langsung menarik Valencia untuk duduk dipangkuaannya.


" Iihh,, Papi sama Mami ini mengumbar kemesraaan didepan anak kecil. " gurau Laras seraya menutup matanya dengan telapak tangannya.


Valencia tertawa sambil berdiri kemudian menyentil hidung Laras.


" Dimana anak kecil itu sayang ? Apakah wanita ini yang bilang masih kecil tadi ? Heeem,, ??"


" Iya, sayang. Dia makin nakal sekarang. Berani ngerjain kedua Papinya. "


Laras terkekeh sambil membuka matanya dan mendekap Valencia.


" Aku seneng lihat Mami sama Papi romantis terus."


" Aku mau ke Sekar aja. Biar romantis juga."


" Iishh,, Papi Bram. "


" Makanya buruan nikah biar bisa romantis pada Damian. "


" Aku malah berfikir untuk menunda pernikahan ini akhir tahun aja Pi. "


" Enak aja. Aku akan menyeretmu dengan paksa ke penghulu kalo kamu berani membatalkan pernikahan kita. " omel Damian yang sedang mendekat ke arahnya.


Tentu saja perkataan Damian membuat Laras ditertawakan oleh kedua Papinya. Nico mengkode Valencia agar membiarkan mereka bicara berdua.


" Apaan sih. " ujar Laras sambil mengalihkan tatapannya kembali ke arah perkebunan.


" Jangan pernah berani-berani menunda pernikahan kita sayang. Awas aja nanti. " gerutunya.


Laras tersenyum.


" Mas,, apa Mas keberatan kalo kita menikah di masjid itu ? Aku gak suka keramaian. "


" Boleh saja. Tapi kita adain resepsinya di Jakarta. Karena setahuku, Papamu dan Mamaku sudah menyewa sebuah hotel untuk resepsi pernikahan kita semua. "


" Hotel ? Lagi ? Kenapa suka sekali mengadakan acara di hotel. "


" Karena dua ,, eehh,, bahkan tiga perusahaan akan bersatu sayang. Tentu saja mereka ingin mempublikasinyannya. "


" Tiga ?"


" Perusahaan milik Nenek. "


" Ah iya lupa. "


" Asal kamu gak lupa kalo bulan depan kita menikah." jawab Damian sambil mencubit pipi Laras.


" Amnesia sedikit gak apa-apa. Biar bisa di tunda. " gurau Laras sambil hendak beranjak pergi tapi Damian lebih dulu menarik tanganya.


" Kamu sangat tahu gimana aku sayang. Aku serius akan menyeretmu ke penghulu kalo kamu benar-benar memunda pernikahan kita. "


" Aku bisa dapat ceramah dari para tetua tujuh hari tujuh malam Mas. " celetuknya.


" Apa mau ke penghulu nanti malam aja biar gak dapat ceramah ?"


" Enak aja. " elak Laras sambil menepis tangan Damian.


Laras beranjak pergi diikuti Damian yang masih terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2