Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Bertindak


__ADS_3

Rita mondar-mandir di kamarnya merasa gelisah dengan prilaku Sherly yang kian hari kian menjadi.


"Ini gak bisa dibiarkan, aku harus cepat bertindak kalo enggak Sherly bakalan terus memojokan Arka dan aku." Ucap Rita.


Apa lagi sekarang Sherly tinggal di rumah Dewantara, Rita terpaksa harus bertemu dengannya setiap hari. Kali ini ia kalah dengan ancaman Sherly.


"Kenapa sih aku jadi lemah di rumah sendiri? gak! ini gak boleh kaya gini terus, aku harus menyusun rencana untuk membuat Sherly berhenti mengganggu Arka."


Rita keluar dari kamarnya untuk makan malam. Lagi-lagi dia melihat pemandangan yang memuakkan. Sherly menyiapkan makanan untuk Arka dan Arka hanya diam menunggu makanan dari Sherly.


"Ini apa-apaan sih?" tegur Rita.


"Eu Bu Rita baru keluar kamar ya? betah banget di kamar padahal rumah ini luas loh, ada kolam renang, tempat olahraga, taman, lapang golf dan masih banyak lagi tapi kok cuma memilih di kamar ya? eu jangan-jangan stres mikirin menantunya yang hilang entah kemana." Sindir Sherly.


"Ini rumah saya, mau saya di kamar kek, di Wc kek, kayanya siapa pun gak berhak komen. Apa lagi cuma orang numpang rasanya gak tau terima kasih banget ya." Balas Rita.


"Mah udah Mah, ayo makan nanti ke buru dingin makanannya." Ujar Arka melerai.


"Oke, selesai makan kamu ke kamar Mamah Arka, ada hal penting yang harus kita bicarakan." Tutur Rita.


Arka pun menganggukan kepalanya.


***


Selesai makan malam Rita kembali ke kamarnya tak lama Arka pun datang.


"Mah? ada apa sih? kok tumben ngomongnya harus di sini?" tanya Arka sambil menutup pintu.


"Haduh, Mamah tuh ya udah gak tahan sama perempuan ular itu. Padahal ini rumah Mamah kok bisa Mamah kalah sama dia yang maksa tinggal di sini."


"Ya mau gimana lagi Mah, selama dia punya kartu aib Arka kayanya kita gak bisa berkutik."


"Udah ya cukup Arka, kebodohan kamu itu harus dihentikan." Tegas Rita.


"Terus kita harus ngapain Mah? Arka bingung."


"Udah lah sekarang kasih dia obat tidur terus bawa dia ke rumah sakit kita test DNA dia sekarang." Tegas Rita.


"Apa? Mamah udah gila ya? sama aja kita melakukan tindakan kriminal dong kalo gitu."


"Gak ada yang bertindak kriminal, cuma itu satu-satunya cara agar kita tahu anak siapa sebenarnya yang dikandungan Sherly itu. Kalo misalnya itu anak orang lain gimana? siapa yang rugi kita juga kan." Tutur Rita.


"Haduh, masa sih cuma itu solusinya? Arka gak tega."


"Gak tega? terus kenapa kamu tega sama istri kamu sendiri sedangkan sama perempuan itu enggak? apa untungnya?"


"Oke oke, Arka bakalan lakuin apa yang Mamah minta. Sekarang mana obat tidurnya biar Arka yang kasih."


"Nih." Rita memberikan satu bungkus kecil obat itu. "Kamu campurin aja sama minuman."

__ADS_1


"Iya Arka ngerti."


"Bagus kalo gitu, cepetan." Ucap Rita, lalu Arka pun keluar untuk melakukan rencananya.


**


Sherly sedang duduk manis taman, ia sedang menikmati udara segar di malam hari.


Arka datang dengan membawakannya secangkir teh manis. "Ehem." Arka berdehem untuk menyadarkan Sherly bahwa dia datang.


"Mas Arka?" ucap Sherly.


"Eu kamu ngapain malem-malem di sini?" Arka basa-basi.


"Enggak Mas, aku cuma suka aja di sini enak, sejuk." Jawab Sherly.


"Jangan lama-lama ya, udara malem gak baik buat kamu." Ucap Arka.


Sherly tersenyum gembira dengan ucapan Arka yang seolah memperhatikannya.


"Oh iya ini aku bawain teh manis buat kamu." Arka pun memberikannya pada Sherly.


"Ya ampun makasih loh Mas, udah repot-repot."


"Gapapa kok, ayo diminum nanti dingin loh."


Sherly menyeruput teh itu sampai habis tak tersisa setetes pun.


Rita memperhatikan mereka dari jarak jauh. "Bagus deh kalo Sherly udah minum." Gerutu Rita.


"Kok kepala aku mendadak pusing ya." Tutur Sherly memegangi kepalanya.


"Sherly kamu gapapa?"


"Gapapa Mas, tolong anterin aku ke kamarnya."


"Yaudah ayo."


Arka memapah Sherly menuju kamarnya tapi ia sudah tak sadarkan diri. Dengan sigap Rita meminta Arka membawanya ke mobil.


"Ayo cepetan bawa ke mobil." Ujar Rita. Arka pun membawanya ke mobil.


Rita dan Arka melajukan mobil dengan terburu-buru takut obatnya berhenti berfungsi.


Setelah hampir setengah jam akhirnya mereka sampai ke rumah sakit terbesar di kota, mereka tak ingin tanggung-tanggung dengan rencananya.


"Ayo Arka cepetan!" ucap Rita terburu-buru. Arka membawa Sherly ke ruangan dokter yang sudah Rita pesan dari rumah. Di dalam sana Rita menjelaskan secara rinci kepada dokter tersebut karena awalnya dokter menolak dengan alasan tidak mendapat persetujuan dari pasien karena tidak sadarkan diri namun akhirnya ia setuju karena penjelasan dari Rita.


Dokter memeriksa kandungan Sherly dengan teliti. "Usia kehamilannya 3 bulan ya Pak, Bu. Alhamdulilah sudah bisa di test DNA." Ucapnya.

__ADS_1


"Apa! 3 bulan?" tutur Arka bingung.


"3 bulan Dok? 3 bulan yang lalu dia bilang usia kehamilannya 2 bulan seharus sekarang udah 5 bulan dong?" ujar Rita.


"Pak, Bu, saya gak mungkin salah memang usia kehamilannya baru 3 bulan. Jadi gimana apa test nya akan terus dilakukan?"


"Jadi, Dok." Tegas Rita.


"Baik, Bapak dan Ibu sebaiknya tunggu di luar."


Arka dan Rita pun keluar dari ruangan itu.


"Kalo gini Arka yakin Mah itu bukan anak Arka." Ucap Arka.


Rita berusaha menenangkan Arka. "Kita tunggu hasil dari dokter aja ya, Mamah jadi panas dingin gini." Ucap Rita.


"Udah lah Mah, itu jelas bukan anak Arka. Ngapain sih pake di test segala."


"Arka, kalo kita punya bukti test DNA itu kita bisa dengan mudah menyingkirkan dia dari rumah." Tegas Rita.


Setelah beberapa saat dokter pun keluar. "Hasilnya bisa diambil satu minggu lagi ya Pak, Bu." Ucap Dokter.


"Satu minggu? apa gak kelamaan Dok?" ucap Rita.


"Maaf Bu, test DNA tidak bisa dilakukan secara mendadak butuh waktu yang cukup lama untuk pengujiannya."


"Yaudah Arka ayo kita pulang nanti kita ke sini lagi." Ucap Rita.


"Terus Sherly?"


"Kamu bawa dia pulang sebelum dia bangun."


Arka pun membawa Sherly ke mobil. "Mamah naik taksi aja." Ujar Rita.


"Loh kenapa Mah?"


"Kamu itu oon apa gimana sih kalo sampe Sherly bangun dia bakalan curiga, tapi kalo cuma berdua sama kamu bilang aja kamu abis bawa dia ke dokter karena tiba-tiba pingsan." Tegas Rita.


"Yaudah iya Mah, Mamah hati-hati."


Arka pun membawa Sherly ke mobil.


Di perjalanan benar saja Sherly terbangun dari tidurnya.


"Ah, kepala aku pusing banget." Gerutunya.


"Kamu gapapa? tadi aku panik banget kamu tiba-tiba pingsan." Ucap Arka.


"Gapapa kok Mas. Terus kamu mau bawa aku ke mana?"

__ADS_1


"Tadi aku abis bawa kamu ke rumah sakit tadi kata dokter kamu gapapa cuma butuh istirahat aja jadi gak dirawat." Ujar kebohongan Arka.


"Makasih ya Mas, aku seneng kamu peduli lagi sama aku."


__ADS_2