
Mawar melangkahkan kakinya ke dalam toko kue itu, tidak ada yang berubah di sana. Hanya saja ada beberapa karyawan baru, karena yang ia tahu hanya ada 2 karyawan di sana.
Ia mengingat kenangan bersama Dika di toko itu, ketika ia bercanda bersama Dika, membuat kue bersama dan lainnya.
Air matanya hampir saja terjatuh tapi Mawar mencoba menahannya.
"Pagi semua." Sala Emil pada karyawan di sana.
"Pagi, Pak." Balas mereka.
Mawar memang sengaja berangkat bersama Emil karena Emil akan mengenalkannya pada karyawan yang belum tahu siapa pemilik toko itu.
"Perkenalkan ini Bu Mawar, pemilik toko kue ini." Ujar Emil.
Mawar tersenyum pada para karyawan itu.
"Bu Mawar? akhirnya Ibu kembali, gimana kabar Ibu?" tanya Rio karyawan yang sudah ada sejak dulu.
"Kabar saya baik, oh iya Rio temen kamu itu siapa namanya, eu Nia ke mana dia?" tanya Mawar.
"Nia keluar Bu." Jawab Rio.
"Kenapa?" tanya Mawar.
"Saya kurang tahu, tapi yang jelas dia keluar tiba-tiba."
Mawar sangat menyayangkan keluarnya Nia padahal dulu dia sudah mulai akrab dengannya.
**
Setelah berbincang dengan karyawan Emil dan Mawar berdua di ruangannya.
"Makasih ya Emil, selama ini kamu udah menjaga toko ini dengan baik." Ujar Mawar.
"Sama-sama Bu, saya harap Ibu dengan hadirnya Ibu kembali bisa membuat toko kita ini semakin berkembang." Balas Emil.
"Semoga saja." Ucap Mawar.
"Oh iya Bu, ruangan Ibu sudah saya bersihkan. Kalau mau masuk silakan." Ujar Emil.
"Makasih, kalau begitu saya permisi masuk dulu."
Mawar pun masuk ke ruangannya dulu, semuanya sama masih tertata dengan rapi. Tanpa sengaja ia melihat foto di meja lalu mengambilnya.
Foto itu adalah fotonya bersama Dika dulu. Tak terasa air mata Mawar jatuh bercucuran."
__ADS_1
"Makasih Mas, buat semuanya. Makasih karena kamu selalu membantu aku di saat raga kamu tak lagi bisa dipeluk." Ujar Mawar dengan deraian air matanya.
Ada beberapa foto yang dipajang di sana, Mawar melihatnya satu per satu. Tubuhnya tiba-tiba saja melemas menahan sesak hingga terduduk di lantai.
'Mas Dika, aku kangen banget sama kamu mas, ayo peluk aku mas.' Batin Mawar.
Tiba-tiba saja terlindas dipikirannya tentang perlakuan Arka padanya lalu dengan jari lembutnya ia menghapus air matanya.
"Gak, aku gak boleh lemah lagi. Sudah terlalu banyak luka yang aku dapat ketika aku menjadi lemah. Pokoknya aku harus bangkit dan kuat, aku gak mau harga diri aku diinjak-injak lagi seperti dulu." Ujar Mawar.
Mawar pun keluar dari kamarnya lalu masuk ke ruangan dapur dan melihat proses pembuatan kue-kue itu.
'Kangen banget rasanya bikin kue.' Batinnya.
"Bu ngapain ke dapur nanti keringatan loh." Sapa salah satu pegawainya.
"Enggak, saya cuma lagi lihat-lihat aja. Jadi kangen rasanya bikin kue." Balas Mawar.
"Ngomong-ngomong hari ini ada pesanan gak?" tanya Mawar.
"Eu, ada sih Bu tapi cuma satu." Jawab Inez pegawai itu."
"Setiap hari cuma satu?"
"Kalo yang beli itu selalu ada setiap harinya, tapi kalo yang pesen buat kue ulang tahun atau apa itu jarang banget."
"Iya Bu, yaudah kalo gitu saya lanjut kerja Bu."
"Oh iya boleh saya lihat gak desain kue yang dipesan itu?" tanya Mawar.
"Enggak di kasih Bu, cuma costumer itu minta kuenya harus ala barbie gitu soalnya buat ulang tahun anaknya." Jawab Inez.
"Oke kalau begitu saya bantuin ya." Ujar Mawar.
"Ibu yakin?"
"Yakin, ayo kita mulai atau udah setengah jadi?"
"Belum dibuat Bu, baru aja saya mau mulai." Jawab Inez.
"Yaudah ayo." Ajak Mawar.
Mawar dan Inez membuat kue itu berdua, Mawar sangat senang dengan kegiatan barunya itu dan setidaknya dapat melupakan penderitaannya sementara.
Di sisi lain ada yang memandangi mereka berdua dengan perasaan iri dan dengki.
__ADS_1
'Ngapain sih Inez pake bikin kue sama Mawar? gak banget deh! dan kenapa malah Mawar pemilik toko ini kan gue tengsin.' Ujar Vina. Perempuan yang sering membully Mawar ketika SMA. Vina selalu menghina Mawar karena merasa paling kaya di sekolah itu namun karena orang tuanya bangkrut ia harus kerja banting tulang untuk menghidupi dirinya.
'Enak banget sih Mawar udah nikah sama ceo terus punya toko kue segala, sementara gue? papa gue bangkrut terus gue harus kerja banting tulang sendirian demi hidup gue sendiri belum lagi ade gue yang masih umur 1 tahun lagi, siapa yang biayain kalo bukan gue.' Curhat Vina dalam batinnya.
Melihat Vina yang malah melamun Inez pun menganggunya.
"Vin bantuin dong malah bengong malu tuh ada ownernya." Teriak Inez.
Vina pun tersadar dan menghampiri mereka.
"Apa kamu Vin?" sapa Mawar.
Tentu saja Vina sangat kikuk dengan sapaan Mawar itu, roda kehidupan memang selalu berputar Vina merasa gengsi dan malu ketika bertemu dengan Mawar pemilik toko itu.
"Eu aku baik kok Bu." Jawab Vina berusaha sopan.
'Vina kok kerja? padahal orang tuanya kaya raya bahkan dia sering hina aku karena orang tua aku gak sekaya orangnya terus kenapa sekarang dia malah kerja di toko kue aku ya? kadang hidup selucu itu.' Batin Mawar.
'Mawar pasti seneng lihat gue kerja di sini sebagai bawahannya, ah kesel banget sih kenapa coba harus dia yang jadi pemiliknya padahal pasti uangnya banyak dari suaminya ngapain pake buka usaha kue segala sih!' Batin Vina.
"Nez kamu lanjutin ya, saya mau keluar bentar." Ujar Mawar.
"Oh oke baik Bu." Jawab Inez.
Mawar pun meninggalkan Inez dan Vina di dapur.
"Lo kenapa sih manyun gitu kaya gak suka banget lihat Bu Mawar?" tanya Inez.
"Hah enggak kok biasa aja, lo aneh deh bilang gue kaya gitu." Jawab Vina.
"Lo yang aneh, terus tadi kenapa lo bengong terus sambil lihatin gue sama Bu Mawar? jangan-jangan lo sirik sama kesukseskan Bu Mawar ya?"
"Ngapain sih gue harus sirik? dia kaya juga karena uang suaminya kali!" tegas Vina.
"Emangnya lo kenal Bu Mawar sebelumnya?" tanya Inez.
"Ah udah lah ngapain sih bahas Bu Mawar gak jelas banget." Protes Vina.
"Gak jelas banget gimana, gue kan nanya aja kenapa lo nyolot sih."
"Ya lagian ngapain lo korek-korek gue kaya gitu kaya gue maling aja." Jawab Vina tak mau kalah.
"Ini ada apa ya ribut-ribut?" tiba-tiba saja Emil datang.
"Enggak kok Pak, gak ada apa-apa." Jawab Inez.
__ADS_1
"Lanjut kerja jangan ribut." Titah Emil.
**