
Satu per satu orang-orang mulai pergi meninggalkan makam yang masih basah itu, hanya tinggal Arka dan Mawar juga anaknya di sana.
Arka bersimpuh di makam Rita dengan suara tangisan yang belum juga reda, setelah kehilangan kembarannya kini ia juga harus kehilangan mama tercintanya. Kadang hidup sebecanda itu.
Tiba-tiba saja rintik hujan mulai turun, Mawar yang sedang menggendong Matteo tidak mungkin membiarkan anaknya terkena air hujan.
"Mau ujan Mas, sebaiknya kamu pulang aku juga mau pulang," tutur lembut Mawar. Ya, meskipun hatinya pernah hancur lebur Mawar tidak mau menunjukannya saat ini karena bukan waktu yang tepat.
Arka berdiri lalu memeluk Mawar dengan erat, tangisnya pecah dipelukan mantan istrinya itu. Seharusnya sejak awal Arka berusaha menerima permintaan terakhir Dika karena sekarang ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Matteo anaknya.
Lagi-lagi Mawar tidak membalas pelukan Arka, ia hanya membiarkan Arka menenangkan diri dibahunya.
Sementara itu di sudut lain terlihat Langit yang sedang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan, ada sesak di dadanya. Tidak ada keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya pada Mawar sehingga ia harus menanggung rasa cemburu itu sendirian.
..
Mawar melepaskan pelukan Arka. "Tolong Mas jaga sikap kamu kita udah bukan siapa-siapa lagi," ujar Mawar.
Tiba-tiba saja suara petir menggelegar membuat Matteo menangis ketakutan. "Sayang, kamu takut ya? Kita pulang ya," ucap Mawar pada anaknya itu.
__ADS_1
Tanpa permisi Mawar meninggalkan Arka yang masih berdiri mematung di depan makam Rita.
Arka berusaha mengejar Mawar dan menghentikan langkahnya. "Aku anterin pulang ya, kayanya bakal ujan besar aku khawatir sama Matteo .., sama kamu juga," ujar Arka.
"Gak usah Mas, aku mau nyari taksi aja," tolak Mawar.
"Mawar pulang sama aku aja ya?" ucap Langit tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Ya, aku pulang sama Langit aja Mas. Tenang aja Matteo aman kok sama aku lagian selama ini aku ngurusin dia sendirian," sindir Mawar.
"Ah tapi .., "
***
Di perjalanan mata Mawar hanya mengarah pada jalan, terlihat ia sedang berusaha menutupi kesedihannya.
"Kamu udah makan?" tanya Langit.
Namun Mawar tidak menyadari bahwa Langit melontarkan pertanyaan itu padanya, dipikirannya saat ini hanya ucapan terakhir Rita padanya.
__ADS_1
"Mawar?" tanya Langit menepuk pundaknya. "Ah iya kenapa?" Mawar tersadar dari lamunannya.
"Kamu pasti masih syok dan sedih ya?" tanya Langit mencairkan suasana.
"Mau gimana pun juga mama Rita selama ini baik banget sama aku," jawab Mawar.
"Maaf tadi aku gak sengaja lihat kamu pelukan sama Arka, apa kamu akan memberikan kesempatan sama Arka buat balik lagi?" ucapan Langit itu justru membuat nyaman sedikit tidak nyaman.
"Kamu ngomong apa si Langit? Lagian aku sama Mas Arka udah pisah gak ada kata balikan lagi sekarang aku cuma mau fokus sama anak aku," jawab Mawar.
Padahal sebenarnya Mawar masih kepikiran dengan amanah yang Rita berikan padanya, semenjak resmi bercerai Mawar sudah menutup rapat-rapat hatinya untuk Arka.
Tidak ada ruang untuk laki-laki yang sudah menyakitinya berkali-kali.
"Aku lancang ya? Maaf," tutur Langit.
"Gapapa kok,"
*
__ADS_1
Suasana menjadi hening setelah Langit melontarkan pertanyaan itu, Langit sebenarnya takut kehilangan Mawar apalagi sampai Mawar rujuk dengan Arka.