
Ratusan mobil mewah bergantian datang ke hoyel A untuk menghadiri resepsi prrnikahan keluarga besar dari perusahaaan Dirgantara, Bramantyo, dan Florist beauty.
Raut wajah bahagia terpancar jelas di keempat pasangan itu.
" Terima kasih Laras. Kalo bukan karena Papamu. Aku tidak pernah membayangkan pernikahanku akan semewah ini. " bisik Azka sembari mendekap pinggang Laras.
" Papa kita. Ingat, kita adik dari menantu kesayangan Pratama Dirgantara. " balas Laras.
Azka mengangguk sambil tersenyum.
" Ada apa yang. Kalian sedang bisik-bisik apa ?" tanya Sam penasaran.
" Aku hanya berterima kasih pada Laras. Karena Papanya, resepsi pernikahan kita bisa semewah ini. Jauh dari yang pernah aku bayangkan. "
" Iya, kamu benar yang. Industri rumah tangga Mama dan Papa jadi ikut terkena rejeki. Karena kerja sama dengan Florist beauty, orderan kita semakin banyak."
" Alhamdulillah. Sedari dulu Laras memang selalu membawa hoki untuk orang-orang disekitarnya. "
Sam mengangguk setuju. Teringat dengan tugas yang dibantu Laras dulu. Baru kali ini dia mendapat nilai A saat kerja kelompok. Apalagi saat melihat Laras yang tengah memimpin rapat direksi tahun lalu.
****
" Kenapa menatapku seperti itu Joe ?"
" Kok masih panggil Joe sih. Kalo Mbak Laras denger pasti di tegur deh. "
" Aku harus panggil apa dong. Canggung nantinya. "
" Hubby gimana ?"
" Iiihh,, malu ah. "
" Kok malu sih. Aku aja gak malu panggil kamu My Sunshine. "
" Kalo didepan keluarga kita, masa iya panggil Hubby juga. "
" Eehhhmm,,, enaknya apa ya ?"
" Mas aja ya. Mas Jo. "
" Iya deh. Aku juga belum tentu gak malu memanggilmu my sunshine nantinya. "
Mei memukul lengan Joe yang tiba-tiba tertawa membuat pasangan lainnya menoleh sekilas.
" Ini kapan berakhirnya sih. Capek berdiri mulu. Papa undang berapa orang memangnya. " keluh Mei.
" Kamu capek My Sun. Aku pijet mau ? Tapi nanti dikamar sekalian pijat plus-plus. "
" Masss,,, gak usah bahas disini ah. " bisik Mei malu. hingga pipinya merona.
" Kamu kalo lagi merona gitu, makin buat aku ingin mencium kamu My Sun. "
" Hubby,, ihhh,, mesum aja. "
Joe tertawa tertahan saat melihat ada tamu yang ingin bersalaman dengan para pengantin.
*****
" Hiraganaa sayang,, cium lagi dong. "
" Kak Reymoot ini ya. Semalam udah bikin bibirku kebas. Sampai aku malu sama MUA nya Kak. "
" Habisnya,, bibir kamu manis Hiragana. Ada rasa cherrynya. "
" Pokoknya nanti gak pake cium-cium segala. Masih bengkak nih bibirku. "
" Tapi seksi Hiragana. " bisik Rey ditelinga Mahira yanh diketahuinya semalam adalah titik sensitif istrinya.
" Kak,, Reyymoott. Hentikan. " keluhnya.
" Apa ? Lanjutkan ?? Nanti dikamar aja Hiragana. "
Sontak Mahira langsung mendaratkan cubitannya di punggung Rey.
" Aaawwww,, sakit Hiragana. "
" Kak Reymoot malesin ah. Mesum mulu tatapannya. "
Rey terkekeh kemudian tatapannya bertemu dengan Laras yang melemparkan senyum padanya. Tentu saja dia membalasnya dengan senyum juga.
" Iiihh kok genit sih. Senyum-senyum gak jelas lihat forbidden lovenya." gerutu Mahira kesal.
" Tuuhh kan. Tadi lihat kamu dibilang mesum. Pas lihat ke arah lain dikiranya lihat Laras. Kan aku jadi bingung Hiragana. "
" Ke arah lain gimana ? Orang jelas-jelas lagi lihat Kak Laras gitu. "
" Lihat sekeliling kita Hiragana. Aku gak nyangka resepsi pernikahan kita jadi semewah ini. "
" Iya. Dua perusahaan besar bersatu tentu saja nilai investasi juga membesar. "
" Tapi orang-orang melihat Laras masih sebagai adik Mas Ruly dan juga mahasiswa yang telah dianggap anak angakt oleh Om Pratama. "
" Kenapa begitu ?! Gak adil dong buat Kak Laras. "
" Justru karena ini permintaan Laras Hiragana."
" Maksudnya ?"
" Laras gak mau memberi peluang relasi- relasi yang culas untuk mengorek informasi tentangnya atau Om Pratama."
" Tentang masa lalu Kak Laras ya Kak Reymot ?"
" Iya. Ujung-ujungnya akan kesana. "
" Aku bersyukur Kak Laras udah sembuh dari traumanya. "
" Benarkah ? Aku snenag mendengarnya. "
__ADS_1
" Huuuhhffftt,, " keluh Mahira.
Entahlah ,, membicarakan tentnang Laras pasti berakhir dengan merasa kesal sendiri.
" Jangan berfikir yang aneh-aneh Hiragana sayang. Aku senang karena setidaknya malam pertama Damian tidak harus berakhir di rumah sakit karena Laras truamanya kambuh. "
Mahira kembali memcubit lengan Rey.
" Iihhh kok jahaat sih. Menertawakan Kak Damian. "
" Bercanda sayang. "
*****
Jam sudah menunjuk angka dua belas malam. Hanya tinggal beberapa keluargaa Ratih yang masih terlihat ngobrol. Pratama menyuruh empat pasang pengantin itu untuk kembali ke kamarnya.
Kamar presiden suit yaang sudah dihias untuk pengantin baru. Bahkan ada satu baju dinas pengaantin yang disiapkan pihak hotel.
" Minum dulu sayang. " kata Damian sembari menyerahkan satu gelas air mineral ke arah Laaraas yang tengah berdiri di balkon kamarnya melihat pemandangan malam kota Jakarta.
" Kok jadi Mas yang ambilin. Harusnya aku tadi. " ujarnya gak enaak sambil duduk.
" Aku taahu kamu caapek sayang. "
Laras tersenyum penuh terima kasih. Dan meletakkan geelas yang isinya sudah tinggal setengah. Damian duduk mensejajarkan dengan lutut Laras. Kemudian menghabiskan aair minum yang masih tersisa.
" Lhoo Mas,, tahu gitu taadi aku ambilkan lagi. Aku kan jadi gak enak. "
Damian memegang pipi Laraas yang terassa dingin.
" Itu sudah cukup. Kita masuk ya sayang. Udaranyaa makin dingin. "
Laras mengangguk hendak berdiri. Tapi Daamiaan dengan sigap menggendongnya.
" Astaghfirullah. Mas,, aku berat lho. Turunin ah. "
" Ini udah kelima kalinya aku gendong kamu saayang. Berat badanmu masih sama kayak dulu. "
Laras menunduk malu. Diaa hanya melingkarkan tangannya ke leher Damiaan.
" Mas,, ehmm,, tolong bantu aku membuka resleting gaunnya. " pinta Laras malu.
Damian tertaawa daan menarik hidung Laaras gemas.
" Kamu kalo malu-malu gitu makin caantik sayang. "
" Udah ah gombalnya. Tolongin. "
Laras berdiri membelakangi Damian yang segera membantu Laras melepaskan aksesoris di gaunnya.
" Aku mandi dulu Mas. "
" Aku udah siaapin air hangatnya. " kata Damian sambil mengecup kening Laaras sesaat ssebelum Laaraas masuk ke kamar mandi.
Damian duduk di aatass ranjangnya. Mengambil ponselnya untuk mengecek email perusahaan yang sementaara di handle Raaka.
Damian mendekat ke arah istrinya yang hendak menyisir rambutnya. Dia langsung mengambil aalih sisir itu.
" Biaar aku yang sisir rambutnya. "
Laras tersenyum sambil menatap Damian dari panntulan cermin hiasnya.
" Mas,, besok aku potong ya rambutnya. Kayaknya udah kepanjangan. "
" Jangan sayang. Rambut kamu kan bagus. Nanti saja kalo rambutmu udah sepanjang ini. " kata Damian sembari memeluk perut Laras hingga harus sedikit menunduk.
Damian menghirup aroma mint dari rambut Laras benar-benar menenangkan.
" Heemm,, sepertinya modus ini. " guraunya.
Damian tertawa kemudian mengusap rambut Laraas yang sudah rapi.
" Sebenernya tadi gak usah disisir sayang. "
" Kenapa ?" tanya Laras heran sambil berdiri didepan Damian.
Damian mencondongkan mulutnya ke telinga Laras.
" Karena nanti juga akan beraantakan lagi. " bisiknya lalu meniup telinga Laras sekilas.
" Iihh Mas ah.. Usil aja. " gerutu Laras.
" Udah ayo tidur. Kamu pasti lelah. " seru Damian seraya mendorong tubuh Laras dan membantuny berbaring.
Damian mematikan lampu dan mengaktifkan lampu hias kamar hotelnya. Kemudiaan tidur disamping Laras. Dia hanya tersenyum saat Laras mendekat dan memeluknya.
Laras mengukir dada Damian dengan jari telunjuknya hingga membuat kata ' I Love You '. Kemudian tersenyum.
" I love you too sayang."
" Eehh,, kok Mas tahu ?" sahut Laras sambil mendongak.
" Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu sayang." ucapnya seraya mencium kening Laras.
Laras menyentuh pipi Damian. Sebenarnya dia tengah sangat berdebar saat ini. Tapi dia ingin menyempurnakan dirinya dengan menjadi istri yang menyenangkaan suami seutuhnya.
Tangan Laras menyusuri alis mata Damian, lalu matanya yaang terpejam, menyentuh hidung Damian yang lebih mancung darinya, dan berakhir di bibir Damian. Merabanya,,
" Sayang,, kamu jangan memncingku terus. " keluh Damian yang merasa hasratnya selalu naik setiap kali Laras menyentuh wajahnya.
Laras tersenyum. Kemudian mencium bibir Damian. Hingga Damian membuka matanya kaget.
" Inshallah aku udah siap kalo Mas mau memintaa hak Maas malam ini. "
Damian menelan salivanya. Ada rasa dingin merasuki hatinya melihat senyum Laras yang terlihat menggoda.
" Kamu yakin sayang. Aku masih bisa bersabar sayang."
__ADS_1
" Beneran masih bisa sabar. Kalo malam ini gak mau berarti harus bisa tunggu sampai bulan depan. "
Damian kaget hingga terbangun dan menopang kepaalanya agar bisa menghadaap kearah Laras.
" Kenapa begitu ?! "
" Karena awaal bulan biaasanya jadwal bulanaanku datang Mas. Dan asal Mas tahu ya, bulananku biasanya lama lho. Hampir lima belas hari. " guraau Laras.
" Apa ??!! Kenapa lama sekali saayang ?"
" Jadi, kalo malam ini gak mau ya berarti harus sbar menunggu sam,,, hhmmmpppphh,,, "
Damian segera membungkam mulut Laras dengan bibirnya. Berawal dengaan ciuman lembut hingga penuh nafsu. Sentuhaan yang semula hanya meraaba kini disertai remasan di bukit kembarnya. Tapi, Damian benaar-benar melakukaannya dengan lembut agar Laras tidak kembali trauma.
*****
" Siapa yang datang Mas ?" tanya Laras saat baru bangun dari tidurnya.
Tadi pagi mereka memang sudah bangun untuk sholat shubuh. Tapi Damian kembali ingin melakukan olah raga yang nikmat itu. Hingga mereka kembalu tertidur. Dan baru bangun saat room service menekann bel kamar mereka untuk mengirim sarapan yang dipesan Pratama.
" Room service sayang. Papa kirim sarapan. "
Laras tersenyum kemudian hendak bangun tapi diurungkan karena kemaaluannya terasa nyeri. Pagi ini Damian memang meminta jatah dua kali.
Damian tersenyum lalu membawa makanannya diatas ranjang.
" Masih sakit ya sayang. Maaf ya. "
" Mas sih,, gak ada capek-capeknya. "
" Hukuman karena kamu selalu mengabaikan kesehatan kamu kemarin-kemarin. "
" Inget,, mas juga mengabaikan kesehatan Mas lho. "
" Jadi anggap aja kita impas sekarang sayang. "
Keduanya terkekeh. Laras celingukan mencari ponselnya.
" Cari apa sayang ?"
" Ponselku Mas."
" Oh tadi pagi aku charge. Sebentar aku ambilkan. "
" Maaf ya Mas merepotkan. Terim kasih. " ucapnya.
" Tidak merepotkan sayang. " kata Damian seraya mencium bibir Laras sekilas.
" Heeeemmm,, bisa aja curi kesempatan. "
Damian tertawa.
" Udah addicted sayang. "
Laras mencibir kemudian tertawa saat melihat chat di grup keluarganya.
" Ada apa sayang ?" tanya Damian sambil mendekat ke arah Laras sambil membawa satu piring.
" Ini di grup keluarga. Joe bilang mau nambah satu malam lagi di hotel katanya. Dan Azka lagi kesal karena dia gak membawa pembalut. "
" Waahh kasihan sekali Sam. Harus puasa dulu. "
" Mas ah.. " tegurnya.
" Maaaf sayang. Sekarang buka mulutnya, makan dulu. Biar nanti kuat lagi. "
" Kuat lagi ??"
" Iya. Biar Damian junior segera hadir. "
Laras menepuk lengan Damian kesal.
" Di hotel boleh nambah. Tapi kalo dirumah harus puasa dulu yam "
" Kenapa ??" protes Damian.
" Yah masa aku dikurung dikamar terus. Aku kan juga harus masak dan cuci baju. Mas juga harus kerja. "
" Gak boleh masak dan cuci baju. Mama udah nambah pembantu untuk membantu kamu. Tugas kamu cuma melayani aku. "
" Ihh,, tapi Mas kan harus kerja. Cutinya berapa hari ?"
" Kan aku ownernya. Aku bebas kerja apa gak. "
" Enaak aja. Gak boleh gituu. Harus tanggung jawab dong. "
Damian mengambil satu bulir nasi yang ada di bawah bibir Laras dengan mulutnya. Hingga membuat Laras mematung sejenak.
" Iihh,, Mas Damian. "
" Kenapa kamu jadi kaget sih sayang. "
" Mas tiba-tiba cium gitu. "
" Seoertinya kita harus sering-sering melakukannya agar kamu terbiasa dan gak kaget lagi. "
" Teori dari mana itu. Pasti cuma maunya Mas Damian aja itu. "
Damian tertawa dan meletaakkan piring itu ke meja. Kemudian mendorong meja itu didepan pintu.
" Mau ngapain sayang ?"
" Mandi Mas. Udah gak nyaman. " pamitnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
" Aku ikut sayang. " serunya dengan senyuman smirk.
*****
__ADS_1