Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Menggugat


__ADS_3

Hari ini Mawar melangkahkan kakinya menuju pengadilan agama, meskipun berat sekali baginya akan tetapi Mawar harus tetap melakukannya demi kebaikannya sendiri.


Berbulan-bulan ia mempertimbangkan semuanya matang-matang akhirnya Mawar mengambil keputusan terbaik menurutnya.


Tangisan demi tangisan telah ia lewati kini saatnya Mawar bangkit dan meninggalkan hal yang menurutnya tidak baik untuk dia dan anaknya.


Mawar telah menyiapkan berbagai dokumen untuk menceraikan Arka, semuanya telah ia siapkan dengan matang.


Jarak pengadilan agama dengan rumahnya tak begitu jauh hingga memudahkan Mawar untuk pergi ke sana.


**


Sesampainya di sana Mawar langsung masuk dan mengambil nomor antrean. Mawar mendapat nomor antrean 3.


Perasaannya sudah tak karuan melihat beberapa orang di sana yang berwajah pucat masam dan mungkin saja mereka bernasib sama dengannya yaitu memilih berpisah dengan pasangannya.


Air matanya sudah tak lagi bertahan namun berkali-kali Mawar menghapus air mata itu.


'Mungkin ini akhir dari semua kesabaran aku selama ini, maafkan aku mas Dika aku terlalu lelah menghadapi ego mas Arka. Aku selesai dengan semua ini.' Batin Mawar.


"Antrean 3." Ujar Pak Yusuf pegawai di pengadilan agama itu.


Mawar menarik nafasnya dengan berat hati ia berjalan menuju meja I.


"Dengan ibu siapa?"


"Mawar, Mawar Melati." Jawab Mawar.


"Saya di sini ingin menggugat cerai suami saya yang bernama Arka Dewantara." Ucap Mawar lagi.


"Boleh saya minta berkasnya Bu?"


Mawar pun menyerahkan berkas itu dengan tangan yang bergemetar menahan sesaknya.


Kedua petugas itu pun memeriksa berkas yang dibawa Mawar.


***


Selesai mengajukan perceraiannya dengan Arka, Mawar pulang ke rumahnya dengan tangissn sejadi-jadinya.


"Aku sayang kamu mas Arka, aku sangat mencintai kamu tapi kenapa perasaan kamu malah sebaliknya." Ujar Mawar sambil menangis.


Mawar terus menangis namun tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintunya. Mawar menghapus air matanya dan membuka pintu.

__ADS_1


Ternyata lagi dan lagi Langit yang datang untuknya.


"Langit?" ujar Mawar.


"Kamu kenapa kok sembab gitu? kamu nangis lagi?" ucap Langit panik.


"Masuk aja dulu." Langit akhirnya masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu kenapa lagi Mawar?" tanya Langit.


"Aku, aku menggugat cerai mas Arka." Jawab Mawar.


Langit syok dengan ucapan Mawar, ia tak menyangka Mawar akan mengambil keputusan seperti itu.


"Apa? kamu serius?" tanya Langit.


"Serius." Jawab Mawar.


"Apa kamu udah memikirkan semuanya matang-matang? kamu gak akan nyesel dengan keputusan kamu ini?"


"Gak, aku gak akan pernah menyesal dengan keputusan aku ini."


"Apa kamu gak kasihan sama anak yang ada dalam kandungan kamu, dia akan membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya." Ucap Langit.


"Ya aku tahu, aku emang gak tahu apa-apa soal itu tapi kamu pikirin mental anak kamu nantinya ia akan hidup tanpa sosok ayah. Aku ngomong gini karena aku tahu rasanya hidup tanpa orang tua lengkap." Ujar Langit.


"Terus kamu pikir aku apa? selama ini aku hidup hanya berdua dengan kakak aku, lebih baik anak aku hidup tanpa ayahnya daripada harus hidup dengan ayah yang tidak pernah mengharapkannya." Jawab Mawar.


Langit pun terdiam.


"Kamu tahu? aku kehilangan suami aku, kembaran mas Arka yang bernama Dika lalu mas Dika menjodohkan aku dengan mas Arka. Seseorang yang sangat kejam dan tidak memiliki perasaan. Bahkan dia pernah berniat menyuruh orang untuk menghamili aku karena ia gak sudi deket atau pun menyentuh aku, yang dia tahu aku ini hanya bekasan kakaknya." Ujar Mawar penuh emosi.


Langit memang tak mengetahui alasan Mawar pergi dari rumah karena ia merasa tidak berhak bertanya kecuali Mawar yang lebih dahulu bercerita.


"Mawar, aku minta maaf aku gak tahu kalau hidup kamu semenderita itu." Ujar Langit.


"Mas Arka menghamili perempuan lain di saat aku juga hamil setelah bulan madu dengan dia. Perempuan itu sering datang ke rumah dan meminta perhatian dari mas Arka. Aku selama ini mencoba bertahan dan mencoba sabar tapi sepertinya semua itu gak cukup buat mas Arka. Sampai akhirnya aku pergi dari rumah tapi mas Arka sama sekali gak peduli dengan kepergian aku, dia membiarkan aku pergi tanpa menahan atau mencari aku." Ujar Mawar lagi.


"Tapi sekarang dia mencari kamu kan? apa kamu tidak ingin memperbaiki semuanya."


"Setelah 3 bulan lebih baru dia mencari aku kan? selama ini dia ke mana aja. Di saat aku mati-matian menahan mual muntah aku sendirian. Aku tidak seperti ibu hamil pada umumnya yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari suaminya aku melewatkan itu sendiri." Jawab Mawar.


'Mawar, aku emang sayang sama kamu tapi aku juga gak mau kamu sedih kaya gini. Aku lebih baik menahan sakit dan melihat kamu bahagia dengan suami kamu.' Batin Langit.

__ADS_1


Mawar kembali menangis di hadapan Langit, Langit langsung menenangkan dengan memeluknya. Perlakuan Langit dan Mawar juga sebenarnya tidak bisa dibenarkan namun Mawar sangat membutuhkan seseorang saat ini dan yang ada hanya lah Langit.


"Makasih selalu ada buat aku." Ucap Mawar.


Langit melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Mawar. "Aku gak tahu kalau selama ini kamu semenderita itu, tapi aku percaya kamu wanita yang hebat dan kuat. Kamu harus bisa melewati ini semua." Tutur Langit.


Mawar menganggukan kepalanya lalu sedikit menjauh dari Langit.


"Iya, tapi sebaiknya kamu pulang. Kamu gak boleh sering ke sini karena kita bukan siapa-siapa takut terjadi fitnah apa lagi aku belum resmi bercerai dengan mas Arka." Ucap Mawar.


"Ya udah kalau gitu aku pulang, aku ke sini cuma mau memastikan kamu baik-baik aja."


"Makasih." Ujar Mawar.


Langit pun akhirnya pergi. Setelah beberapa menit Langit pergi Arka datang ke rumah Mawar.


Arka mengetuk pintunya, Mawar yang hendak masuk ke kamar pun akhirnya tak jadi dan membuka pintu.


"Mas Arka?" ujar Mawar.


Arka pun langsung memeluk Mawar dengan erat. "Akhirnya aku tahu rumah kamu Mawar." Ucapnya.


Mawar melepaskan pelukan Mawar dengan kasar dan sedikit mundur menjauh dari Arka.


"Kamu ngapain ke sini Mas? dari mana kamu tahu rumah baru aku?" tanya Mawar.


"Semua itu gak penting, aku ke sini cuma mau bawain kamu makanan dan juga susu ibu hamil." Ucap Arka.


Arka memberikannya pada Mawar namun Mawar melemparkannya ke sembarang arah hingga semuanya berserakan.


"Aku gak butuh apa pun pemberian dari kamu lagi Mas!" tegas Mawar.


Melihat semuanya berserakan Arka membereskannya lagi dan memasukannya ke dalam plastik.


"Untung masih utuh." Gerutu Arka lalu menyimpannya ke meja yang ada di dekatnya.


"Mendingan sekarang kamu pulang dan jangan pernah kembali lagi ke sini." Ucap Mawar.


Arka menghela nafasnya. "Kita masih sah suami istri apa aku salah kalau ingin melihat istri aku apa kah dia baik-baik aja atau tidak." Ujar Arka.


"Gak lagi, aku udah menggugat kamu ke pengadilan agama Mas." Tegas Mawar.


Arka membeku, hatinya terluka mendengar ucapan Mawar itu. Ia sadar karena sikapnya sendiri Mawar melayangkan gugatan cerai.

__ADS_1


Mata Arka memerah hingga keluar sedikit air di sudut matanya.


__ADS_2