Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar
Perasaan yang sama


__ADS_3

Sudah jam 19:00 Mawar masih bersama dengan Arka, sebenarnya ia ingin pulang namun Rita tak juga kembali Mawar berpikir mungkin Rita sengaja melakukan itu agar dia dan Arka menghabiskan waktu bersama lebih lama.


Mawar memegangi perutnya yang kram karena terlalu lama duduk.


"Kamu kenapa Mawar, perut kamu sakit lagi ya?" tanya Arka melihat Mawar yang meringis.


"Enggak kok Mas, cuma kram aja mungkin karena aku lagi hamil gak bisa duduk lama-lama atau gimana aku gak tahu." Ujar Mawar.


"Ya udah kamu pulang aja dulu, aku gapapa kok sendirian di sini." Ucap Arka.


"Tapi mamah gak bakalan ke sini malem ini Mas, dia nyuruh aku jagain kamu semaleman."


"Loh kok mamah gitu sih dia gak mikirin kondisi kamu yang lagi hamil." Ujar Arka kesal.


"Kamu gapapa ditinggal sendiri di sini?" tanya Mawar ragu.


"Gapapa, tapi aku mau kamu balik lagi jengukin aku tiap hari karena cuma kamu penyemangat aku satu-satunya." Ucap Arka.


"Hmm, kayanya kau gak bisa jengukin tiap hari Mas. Soalnya di toko banyak orderan aku harus bantuin karyawan biar mereka gak keteteran." Tutur Mawar.


"Kamu gak boleh cape-cape, kamu kan pemiliknya kamu harusnya duduk manis aja di ruangan kamu." Ucap Arka.


"Aku gak gitu Mas, lagian aku emang seneng bikin kue."


"Kamu sibuk atau emang mau menghindar dari aku?" tanya Arka.


Mendengar ucapan itu Mawar pun terdiam sejenak, mungkin itu salah satu alasannya.


"Terserah kamu mau bilang apa Mas, aku males ngomong panjang lebar." Ucap Mawar kesal.


"Ya udah gapapa kamu pulang aja, aku gapapa sendirian di sini nanti aku telepon mamah."


Arka pun mencari ponselnya namun ponselnya terjatuh di jurang itu dan tentunya rusak.


"Oh iya aku lupa, Hp aku kan ilang mungkin juga rusak. Gapapa aku nunggu mamah sampai besok." Ujar Arka.


Mawar menjadi bingung ia tak tega meninggalkan Arka sendirian, namun ia juga merasa kelelahan karena harus menjaga Arka.


"Ya udah aku pulang dulu ya Mas, biar aku telepon mamah buat gantian jagain kamu." Ucap Mawar.

__ADS_1


Arka sebenarnya tak ingin ditinggal Mawar sendiri tapi ia juga tak mau egois lagi, Mawar sedang hamil anaknya ia juga harus memikirkan kesehatannya.


Mawar berpamitan tanpa bersalaman dengan Arka seperti biasanya, setelah Mawar keluar dari ruangan itu.


Setetes air mata keluar dari kedua sudut mata Arka, ia sangat merasa kesepian saat ini. Arka juga sedih melihat Mawar banyak berubah, Mawar tak lagi manis seperti dulu sekarang Mawar lebih cuek dan dingin padanya.


'Aku gak yakin kamu bakalan dateng lagi ke sini Mawar.' Batin Arka.


Di sisi lain Mawar baru saja sampai ke parkiran, ia melihat kedua ban motornya kempes.


"Aduh kok bisa bocor dua-duanya gini sih, pasti ada yang jailin aku tapi siapa ya." Gerutu Mawar.


Mawar pun berpikir sejenak, ia tak mungkin mendorong motornya sampai menemukan bengkel karena dia sedang hamil.


"Gimana ya, aku kan mau pulang. Masa aku harus balik lagi ke ruangan mas Arka kan tengsin banget jadinya. Mana udah malem lagi. " Ujar Mawar.


Sementara itu Sherly tertawa puas karena melihat Mawar yang kesusahan karena ulahnya, lalu tiba-tiba saja datang laki-laki suruhan Sherly untuk mendekati Mawar.


"Hai motornya mogok ya?" tanya laki-laki suruhan Sherly itu.


"Eh iya nih, bannya bocor. Kamu siapa ya?" tanya Mawar.


"Masa sih kamu lupa?" ucap laki-laki itu lalu tiba-tiba saja memeluk Mawar dengan erat.


Mawar melepaskan pelukannya sekuat tenaga dan menjauh dari pria itu.


"Kamu apa-apaan sih! gila ya, gak kenal main peluk-peluk aja!" tegas Mawar.


Laki-laki itu hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Mawar yang ketakutan.


"Heh jangan pergi kamu siapa?" teriak Mawar.


Namun laki-laki ogah membalikkan badannya. Mawar memeluk tubuhnya sendiri ia sangat syok dengan apa yang terjadi tadi.


Dengan tangan yang bergetar Mawar menghubungi Langit.


"Ha-hallo Langit?" ucap Mawar.


"Hallo Mawar? ada apa nelepon aku malem-malem tumben?" tanya Langit di sana.

__ADS_1


"Aku ganggu gak?" tanya Mawar dengan suara yang bergetar.


"Enggak kok, tapi kamu kenapa kok kaya ketakutan gitu? kamu gapapa kan?" tanya Langit.


"Langit aku takut, tadi tiba-tiba aja ada orang yang meluk aku terus pergi gitu aja." Ucap Mawar.


"Ya ampun sekarang kamu di mana? biar aku kesana." Langit panik.


Mawar pun memberi alamat lengkap rumah sakit itu pada Langit.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Langit pun datang, Langit berlari menghampiri Mawar.


"Kamu gapapa?" tanya Langit khawatir.


"Aku gapapa kok, aku cuma syok aja." Jawab Mawar.


"Kamu beneran gapapa? perut kamu gimana aman kan?" tanya Lagit lagi.


"Gapapa kok, perut aku aman. Aku cuma ketakutan aja."


"Ya udah ayo pulang, gak usah bawa motor biarin aja motor kamu di sini." Ujar Langit.


"Makasih ya selalu ada buat aku, tapi emang motor aku bannya bocor semua."


Langit pun melihat kedua ban itu. "Kok bisa sih kaya gini? ada orang yang iseng kali." Ujar Langit.


"Aku gak tahu, terus tiba-tiba ada orang asing yang meluk aku kenceng banget aku sampai syok banget."


"Ya ampun tapi kamu gapapa kan?" Langit memegang kedua tangan Mawar dan menatap penuh kekhawatiran.


Mereka berdua saling bertatapan cukup lama, lagi-lagi Sherly menemukan hal yang di luar rencananya. Sherly memotret kebersamaan Mawar dan Langit itu.


"Bagus sih ini, di luar rencana aku. Aku bisa memberikan foto Mawar dengan 2 laki-laki yang berbeda." Gerutu Sherly, akhirnya dia pun pergi karena merasa puas dengan hasil jepretannya.


Mawar melepaskan genggaman tangan Langit itu.


"Aku gapapa kok." Ujar Mawar.


Langit tersadar karena sudah lancang menyentuh Mawar lalu ia segera meminta maaf.

__ADS_1


"Maaf, aku repleks tadi soalnya panik banget sama keadaan kamu." Ucap Langit.


Mawar hanya mengangguk saja tanpa menjawabnya. Akhirnya mereka pun pulang dengan mengendarai mobil milik Langit.


__ADS_2