
Mawar menangis di kamar sejadi-jadinya, ia pikir Arka sudah mulai mencintainya ternyata sama sekali tidak. Sikapnya masih tetap tidak berubah, ia terus saja menyakiti hati Mawar.
Bahkan Arka dengan sengaja menyembunyikan kehamilan Mawar di saat Mawar belum sadar.
"Apa sih maunya Mas Arka? kadang dia baik, perhatian, bahkan kadang dia jahat seperti iblis." Gerutu Mawar.
"Aku pikir semuanya akan terus semakin membaik, di saat kamu mengusap air mataku, di saat kita berbulan madu, membuat cinta di sana. Aku seperti diajak terbang ke langit ke tujuh lalu di jatuhkan pada dasar bumi begitu saja." Mawar semakin menangis. "Dan bahkan kamu sudah mulai acuh pada Sherly namun hari ini kamu membela dia mati-matian di depan aku, istri sah kamu, istri yang sedang mengandung anak kamu. Keturunan Dewantara. Aku gak ngerti sama kamu Mas Arka, sikap kamu sulit ditebak, berubah-ubah seperti siang dan malam."
***
Keesokan harinya Mawar tertidur di lantai, ia kedinginan dan hendak pindah ke ranjang namun ia tidak melihat Arka di sana.
"Mas Arka kemana? dia gak tidur di kamar?" gerutu Mawar.
Mawar keluar dari kamarnya dan mencari Arka ke ruang kerjanya, benar saja laki-laki angkuh itu tertidur di sana, atau mungkin saja sengaja tidur di sana.
Arka tertidur di kursi kerjanya. Mawar melihat kerjaan Arka banyak sekali yang terbengkalai, mungkin karena dia banyak masalah di rumah hingga tidak bisa fokus pada kerjaannya.
"Astaga, Mas Arka kenapa berantakan banget si. Kalo kaya gini aku jadi kasihan sama kamu Mas." Gerutu Mawar.
Pelan-pelan Mawar mengamati pekerjaan suaminya itu, sebenarnya Mawar pernah bekerja di kantor tapi ia tak pernah menceritakannya pada Arka.
Dengan telaten Mawar mengerjakannya sebisa mungkin. Setelah hampir satu jam ia bergelut dengan pekerjaan Arka akhirnya selesai juga. Mawar yakin bahwa yang ia kerjakan itu semuanya benar, karena ia juga cukup berpengalaman.
Mawar membangunkan Arka yang sedang terlelap. "Mas, bangun udah pagi. Hari ini kamu ada meeting kan? nanti kesiangan lho." Ucap Mawar dengan penuh kelembutan.
"Hmm." Arka membuka pelan matanya. "Kamu ngapain sih masuk-masuk ruang kerja aku? gak sopan banget." Protes Arka.
__ADS_1
"Aku kan cuma bangunin kamu Mas. Yaudah kalo gitu aku keluar ya."
Mawar pun keluar dengan perasaan yang penuh luka-luka. Sikap Arka yang sulit ditebak membuatnya semakin menderita menahan semuanya sendirian.
Arka sadar pekerjaannya belum selesai hingga membuatnya sangat panik. "Ya ampun kerjaan aku?" ucapnya. Lalu ia mencari berkas-berkas itu namun semuanya sudah selesai, rapi, bagus, sesuai dengan apa yang ia rencanakan.
"Loh kok semuanya udah selesai? siapa yang ngerjain? apa jangan-jangan Mawar? ah gak mungkin. Emang dia bisa apa? dia kan cuma cewe kampungan, lemah, gak mungkin bisa menyelesaikan ini semua sendirian, tapi siapa yang beresin ini semua? apa mungkin Mama?" Arka penasaran sekali dengan pekerjaannya yang tiba-tiba saja selesai sendiri.
**
Arka, Mawar dan Rita sarapan pagi bersama, namun tidak ada yang memulai percakapan di sana. Semuanya tampak diam dan membisu.
"Kalian tuh kenapa sih kok kelihatannya gak akur kaya gitu?" tanya Rita memecahkan keheningan.
Mawar dan Arka saling melirik. "E-enggak kok Mah, kita baik-baik aja." Ujar Mawar.
"Mata kamu tuh Mawar sembab, kamu abis nangis? jujur sama Mamah. Apa jangan-jangan Arka yang udah bikin kamu sembab kaya gitu?" ucap Rita.
"Arka? apa yang udah kamu lakukan sama Mawar?"
"Apa sih Mah? orang aku gak ngapa-ngapain." Jawab Arka sewot.
"Inget ya, kamu itu harus menjaga Mawar dengan baik, dia itu lagi ngandung anak kamu loh. Keturanan Dewantara, jangan sampai Mawar kenapa-kenapa apalagi sampai stres karena ulah kamu." Ancam Rita.
"Mah, Mawar tuh gapapa tadi kan dia udah bilang sendiri, dia gapapa. Kenapa sih Mamah selalu aja nyalahin aku." Balas Arka.
"Ya karena kamu yang sering bikin ulah Arka."
__ADS_1
Anak dan ibu itu terus berdebat hingga akhirnya Mawar melerai keduanya.
"Mah, Mas, udah. Gak usah ribut kita kan lagi sarapan." Ucap Mawar.
Di sela-sela sarapan itu tiba-tiba ....
"Pagi semuanya."
Arka, Mawar, dan Rita sontak menoleh pada sumber suara itu. Lebih tepatnya suara perempuan yang sudah tidak asing lagi di telinga Arka.
"Kamu? ngapain kamu kesini?" tanya Rita.
Sherly dengan santainya duduk di meja makan itu.
"Saya ke sini cuma mau ngasih satu hal penting untuk ibu Rita yang terhormat." Ucap Sherly.
"Apa sih yang mau kamu omongin, gak usah banyak basa-basi saya gak suka." Tegas Rita.
'Apa jangan-jangan Sherly mau ngasih tahu kalau dia hamil?' batin Arka.
"Ehem.. Sebelumnya ibu tahu kan kalau saya dan anak ibu itu pacaran sudah cukup lama?"
"Terus? apa kamu lupa sekarang Arka itu sudah punya istri? mau kamu apa sih gak punya malu sekali pagi-pagi dateng ke rumah orang sembarangan!"
Sherly memberikan test pack pada Rita, jelas saja Rita bingung dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Rita mengambil test pack itu. "Garis 2? ini apa sih maksudnya?" tanya nya.
__ADS_1
"Masa sih gitu aja gak ngerti bu?" ucap Sherly.
***