
Setelah mendapat persetujuan dari Rita dokter mengambil jadwal operasi jam 15:00 sementara itu Arka belum sadarkan diri juga.
Rita tidak tahu harus berbagi kesedihannya dengan siapa ia hanya memiliki Arka dan ibunya yang jauh.
"Andai kamu ada di sini Mawar, mamah pasti akan sedikit tenang." Ujarnya.
Rita meminta izin kepada dokter untuk menemui Arka yang belum juga sadarkan diri. Dokter pun mengizinkannya meski hanya beberapa menit.
Arka terlihat terbaring lemah dengan luka-lukanya yang cukup serius. Tubuh Rita melemas sehingga ia harus bertumpu pada tembok agar tidak terjatuh.
Langkah Rita terus mendekati Arka hingga akhirnya ia bisa menyentuh wajah Arka yang tertutup perban putih.
"Sakit hati mamah Arka melihat keadaan kamu yang seperti ini, mamah sudah cukup kehilangan papah kamu, kakak kamu, mamah gak mau kehilangan kamu juga. Cuma kamu yang mamah miliki saat ini. Kamu harus kuat ya Arka." Ujar Rita pada Arka yang terbaring lemah tak berdaya.
Namun tiba-tiba saja jari Arka bergerak dan menyebut nama Mawar.
"Mawar, maafin aku Mawar ..," lirihnya.
Rita yang panik pun berteriak memanggil dokter. Tak lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Arka.
"Keadaannya semakin melemah, kita harus mempercepat jadwal operasinya Bu." Ujar dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya Dok, tolong." Ucap Rita.
Dokter meminta pada perawat agar segera menyiapkan ruang operasinya karena jadwal operasi Arka dimajukan satu jam lebih cepat agar keadaannya tertolong.
**
Setelah semuanya siap dokter membawa Arka ke ruang operasi Rita yang sangat cemas meminta agar ia ikut masuk ke ruangan operasinya, namun dokter tidak mengizinkan karena tidak sesuai prosedur rumah sakit dan takut mengganggu konsentrasi dokter dan perawat.
"Dok saya mau ikut masuk saya mau temenin anak saya." Tutur Rita memohon.
"Maaf Bu sebaiknya Ibu tunggu di luar saja." Ucap dokter.
Mereka pun akhirnya masuk ke ruang operasi dan meninggalkan Rita di luar sendirian.
Rita tak berhenti berdoa di dalam tangisnya. Ia tak bisa berhenti berpikiran buruk tentang nasib Arka saat ini apa lagi matanya yang harus dioperasi sebelah.
Rita takut Arka akan mengalami kebutaan karena pecahan kata itu.
"Mamah cuma punya kamu Arka kamu harus kuat, bagaimanapun sikap kamu tapi mamah akan selalu sayang sama kamu." Ucap Rita.
***
Di sisi lain Mawar sedang sibuk dengan orderan yang semakin membludak, ia membantu para karyawannya yang kelelahan mengejar target.
Karena di dalam toko itu ada televisi untuk menghibur pengunjung yang datang, tiba-tiba saja ada berita kecelakaan yang menyebutkan nama Arka Dewantara.
Rio yang sedang membereskan kursi pelanggan pun berlari ke dapur untuk memberitahu Mawar.
"Bu, saya barusan lihat di televisi katanya pak Arka kecelakaan." Ujar Rio tanpa basa-basi.
__ADS_1
Mata Mawar membulat ia sangat terkejut dengan ucapan Rio itu.
"Apa? kamu yang bener Rio?" ucap Mawar panik.
"Bener Bu, saya gak mungkin salah." Jawab Rio.
Mawar pun berlari ke ruangannya dan mengambil sim card yang dulu di tasnya lalu memasukannya ke dalam ponsel.
Tanpa pikir panjang Mawar menghubungi Rita. Tak lama Rita pun menerima panggilannya.
"Hallo Mah, ini Mawar. Apa bener mas Arka kecelakaan Mah?" ucap Mawar panik.
"Mawar? ini kamu? apa kamu baik-baik aja Mawar, mamah sangat khawatir sama kamu." Balas Rita.
"Mawar baik-baik aja kok Mah, sekarang Mamah di mana Mawar mau ke sana."
Rita pun memberi alamat rumah sakitnya pada Mawar.
****
Setelah beberapa waktu akhirnya Mawar sampai di rumah sakit itu, Rita yang sudah menunggunya di depan rumah sakit pun berlari memeluk Mawar.
Mereka berpelukan cukup lama, Rita menangis sejadi-jadinya dipelukan menantunya itu.
"Mah, gimana keadaan mas Arka sekarang?" tanya Mawar.
"Arka lagi dioperasi Mawar, dia sedang berjuang antara hidup dan mati."
Sesampainya di depan ruang operasi Mawar sangat merasa bersalah karena Arka kecelakaan setelah pulang dari rumahnya.
Mawar bersimpuh di hadapan Rita.
"Mah, maafin Mawar. Ini semua salah Mawar." Ucap Mawar.
Rita pun menjadi bingung apa yang sebenarnya maksud ucapan Mawar.
Rita berusaha mengangkat Mawar agar tidak bersimpuh padanya namun Mawar tetap pada posisi itu.
"Mawar kamu kenapa ngomong gitu Sayang? apa salah kamu?" tanya Rita.
"Tadi pagi mas Arka baru aja pulang dari rumah aku, kita bertengkar hebat Mah. Ini semua salah aku." Ucap Mawar menyalahkan dirinya.
Rita menghapus air matanya lalu mengangkat bahu Mawar agar berdiri.
"Ini semua bukan salah kamu Mawar, ini sudah jadi takdir Arka seperti ini. Mamah gak mungkin menyalahkan orang lain apa lagi kamu. Ini murni kecelakaan, Arka yang gak hati-hati membawa mobilnya." Tutur Rita.
Mawar terharu dengan ucapan Rita itu lalu memeluknya dengan erat.
"Maafin Mawar, maafin Mawar udah pergi dari rumah. Maafin Mawar udah bikin Mamah cemas."
"Kamu gak salah Sayang, mamah tahu kamu terluka kamu pergi karena sikap Arka yang salah. Mungkin mamah akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi kamu." Ucap Rita.
__ADS_1
Mawar melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi tunggu begitu juga dengan Rita.
Mawar menjadi dilema ia tidak mungkin memberitahu Rita kalau dia sudah menggugat cerai Arka di saat seperti ini.
Tiba-tiba saja ponsel Mawar berbunyi. Rupanya itu panggilan dari pengadilan agama mengundang Mawar untuk mediasi bersama Arka.
Mawar memberitahu bahwa Arka sedang kecelakaan dan kritis dan ternyata pengadilan agama menunda gugatan cerai Mawar sampai Arka dinyatakan sembuh.
"Telepon dari siapa?" tanya Rita.
Setelah dimatikan Mawar pun menyimpan ponselnya kembali ke tas.
"Bukan siapa-siapa kok Mah." Jawab Mawar.
'Semuanya tidak sesuai dengan apa yang sudah aku rencanakan, mas Arka celaka karena aku, gugatan cerai aku ditunda.' Batin Mawar.
****
Setelah hampir 2 jam akhirnya dokter keluar.
"Dok gimana keadaan anak saya apa semuanya baik-baik aja?" tanya Rita.
"Semuanya berjalan lancar, keberuntungan memihak pada anak Ibu." Ucap dokter.
"Maksudnya?" tanya Rita.
"Iya tidak ada saraf mata yang rusak saya pastikan pasien akan bisa melihat dengan normal lagi setelah menjalani pengobatan."
Rita tampak lega dengan pernyataan dokter itu.
"Makasih, Dok. Makasih." Ujar Rita. Dokter pun pergi meninggalkan Rita dan Mawar.
'Kasihan kamu Mas, harus mengalami hal buruk seperti ini. Aku jadi merasa bersalah sama kamu.' Batin Mawar.
Perasaan Mawar semakin tak karuan ia pun berniat untuk pulang ke rumahnya.
"Mah, Mawar izin pulang ya." Ucap Mawar.
"Kenapa pulang Mawar, kamu gak mau nunggu Arka dulu? kayanya sebentar lagi dia dipindahin ke ruang rawat."
"Enggak Mah, Mawar kecapean deh kayanya perut Mawar kram gini." Ucap Mawar berbohong.
"Ya ampun ya udah iya kamu pulang aja ya, kasihan cucu mamah kecapean." Tutur Rita mengusap perut Mawar.
"Ya udah kalau gitu Mawar pulang Mah."
"Kamu gak mau pulang ke rumah mamah lagi Mawar?" tanya Rita menghentikan langkah Mawar yang baru saja dimulai.
Mawar menoleh ke arah mertuanya itu tersenyum lalu pergi tanpa menjawabnya.
'Sepertinya Mawar masih sangat trauma pada rumahku itu ..,' batin Rita.
__ADS_1