
Zea hanya diam membisu mengupas sisa udang di piringnya sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan nya.
" Jadi apa yang kau inginkan? Sementara kau tidak menerima pernikahan ini."
"Siapa yang memberitahumu aku tidak menerimanya? Meskipun aku terpaksa menikah denganmu karena ingin menyelamatkan sania, tapi aku tetap menghormati pernikahan ini."
Zea tampak sedikit geram dengan ungkapan denish atau lebih tepatnya semakin tersudut atas ucapan nya sendiri.
"Benarkah? Jadi kau menghormatiku sebagai suami?"
"Tentu saja."
"Jadi kau siap menjadi ibu dari anak- anakku?"
Zea menghentikan aktivitasnya ternganga menatap ke depan menyadari pertanyaan jebakan yang dilontarkan denish padanya.
Sedangkan denish tersenyum devil melirik sang istri tetapi masih fokus menatap layar laptopnya.
"Aku akan membereskan kotak makan."
Zea sedikit malu berpura- pura mengalihkan percakapan nya, turun dari pangkuan denish membereskan meja dan juga mencuci semua kotak rantang bekal makan.
Zea memasukkan kembali kotak tersebut ke dalam paper bag bersiap akan pulang.
"Aku akan pulang."
"Tidak."
"Tidak...? Lalu...? Kau menyuruhku menungguimu saat bekerja seperti ini?"
Ucap zea dengan nada sedikit meninggi seperti tengah memendam kekesalan, tetapi juga mengatur detak jantung nya yang berdebar- debar. Semakin dekat dengan denish, zea merasa nyaman.
"Tidak..., tidak..., tidak. Aku tidak mau, menunggu adalah hal yang sangat membosankan."
Zea menyilangkan kedua tangan nya.
"Benarkah? Kau tidak akan berkata seperti itu saat cinta itu mengetuk pintu hatimu. Bahkan kau tak kan sanggup jauh dariku."
Bisik denish yang tiba- tiba berada di belakang zea memeluk tubuh mungil yang sedang marah itu.
Deg...
"Cinta...? Apa benar aku mulai jatuh cinta?"
Gumam zea dalam hatinya.
"Tunggu! Tidak, zea. Tidak mungkin kau secepat itu jatuh cinta pada orang lain."
"Tapi jantung ini...? Kenapa berdegup sangat kencang saat berada didekatnya?"
Zea masih bergelayut di alam pikiran nya, sedangkan denish bergelayut manja menyandarkan bahunya di bahu zea.
"Vans akan mengantarmu ke suatu tempat. Pergilah bersenang- senang!"
"O... o, aku hampir lupa. Kau tak ingin seperti teman mu?"
Bisik denish yang masih memeluknya dari belakang.
"Vans..., kau sudah datang?"
Denish melepaskan pelukan nya ketika melihat vans muncul dari balik pintu.
"Jaga keselamatan nyonyamu!!"
Ucap denish pada vans.
"Baik, tuan."
"Sayang, aku akan menjemputmu sore nanti. Kita makan malam di luar."
"Muach.''
Denish mencium kening zea tak membiarkan gadis itu berbicara sedikit pun, bahkan mengetahui kemana arah tujuan vans mengantarnya.
Sedangkan denish kembali duduk di kursi kebesaran nya, zea yang sudah menenteng tasnya hanya melihat zea ke arah suaminya yang tersenyum dan juga melambaikan tangan padanya. Dengan gerak reflek, zea juga melambaikan tangan padanya.
Vans pria dingin kedua setelah suaminya juga diam seribu bahasa tanpa bicara sedikit pun. Zea yang memang mulai terbiasa dengan sikap mereka bersikap wajar saja. Mobil melaju dengan kencang dan entah kemana vans dan sopir akan membawa nya pergi, kawasan apartemen elite yang belum pernah dilihatnya meskipun ia besar di kota itu.
"Silahkan, nyonya!"
Rupanya mobil tersebut berhenti di lobby dan seperti biasa vans membuka pintu untuknya.
"Terima kasih."
Vans membawanya ke lantai atas dimana seseorang tinggal disana.
Tingtong...
Ting tong..
"Rumah siapa vans?"
" Nyonya muda akan mengetahuinya sebentar lagi."
"Huh..., percuma saja aku tanya."
Gerutu zea mencebirkan bibirnya terlihat sedikit kesal.
Ceklek..
"Ya, siapa?"
Suara yang sangat di kenal, tak asing ditelinganya membuat zea menarik vans untuk menepi memastikan kalau pemilik suara memang benar sania.
"Sania?"
"Zea, kemana saja kau selama ini? Kenapa baru mengunjungiku?"
Sania tak melepaskan pelukan nya hingga meneteskan air mata di sudut matanya.
"Nyonya, sesuai yang dikatakan tuan muda kami akan menjemput sore nanti."
"Baiklah, vans. Terima kasih."
__ADS_1
"Saya permisi, nyonya."
Zea mengangguk pelan setelah sania melepaskan pelukan nya, tentu nya dengan rasa heran di matanya.
"Masuklah!"
"Em."
"Zea..., zea..., mimpi apa aku semalam? Akhirnya kita bisa bertemu kembali."
Ucap sania memeluk zea kembali dengan sangat erat.
"Entahlah? Aku tidak bermimpi apapun, hihihi."
Zea terkekeh geli menjawab pernyataan sania.
"Tunggu..., tunggu..., tunggu! Seperti ada yang mengganjal."
Zea merasa ada ganjalan di perutnya, menarik tas slempang yang dibawanya. Namun masih tetap merasakan hal yang sama, hingga zea melepaskan pelukan sania.
"Wait a moment!! Apa aku tidak salah lihat?"
Zea melihat bentuk badan yang berbeda bahkan sania sedikit berisi dan juga perut yang sedikit membuncit.
"Tidak, unty. Dia..., keponakanmu ada disini. Lihatlah!"
Zea menarik daster rumahan yang dipakainya ke belakang hingga terpampang perut yang sedikit membuncit.
"Hah..., hahahaha. Aku akan segera menjadi unty?"
Sania tersenyum mengangguk pelan membenarkan pernyataan zea. Namun bukan bahagia atau pun segera memeluk sania, zea terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Jadi ini arti dari kau tak ingin seperti temanmu?"
Gumam zea dalam hati.
"Sepertinya dia memang tak bisa di anggap enteng. Kekuasaan nya memang luar biasa, bahkan sania saja dalam genggaman nya."
"Hihihi..., kau menginginkan ini? Apa kau mencintaiku?"
Zea masih bergelayut dalam pikiran nya hingga tak mendengar panggilan sania.
"Zea..., zea..., zeaa."
"Eh..., iya. Ada apa sania?"
"Justru aku yang harus bertanya padamu, ada apa? Kenapa kau tampak seperti melamun? Duduklah! Mungkin kau masih syok dengan berita kehamilan ku ini? Atau tuan muda angkasa tak memperlakukanmu dengan baik?"
Ucap sania menarik zea duduk di sofa ruang tengah rumahnya. Sementara sania mengambil minunan untuknya.
"Tuan muda angkasa? Dari mana kau tahu?"
Gumam zea sedikit terkekut tatkala sania menyebutkan nama angkasa padanya. Sania tak menjawab nya hanya tersemyum.
"Zea...., minumlah!"
Zea meneguk habis segelas air putih yang dibawakan sania dan juga beberapa minuman serta cemilan lain nya.
"Sekarang, ceritakan padaku! Bagaimana kau bisa sampai di rumahku? Dan juga darimana kau tahu alamat rumahku yang baru?"
"Kenapa kau tidak bilang kalau sudah menikah? Atau jangan- jangan...?"
Ucap zea menutup mulutnya tak ingin berburuk sangka.
"Bagaimana aku bilang? Mencari keberadaan mu saja seperti mencari harta karun. Tuan muda angkasa benar- benar menutup akses tentang mu."
Jawab sania.
"Aku menikah dengan pemilik club D' house."
"Waow..., keren. Lalu kau hamil? Dengan bos playboy yang kau ceritakan? Hahaha..., sania..., sania kena karma kau. Makanya jangan terlalu benci, jadinya kena sendiri."
Sania tampak menghela nafas panjang dan juga tampak sedikit menyimpan sesuatu.
"Bagaimana aku tidak hamil? Si playboy itu tak membiarkan aku turun dari tempat tidur."
Ucap sania.
Glek... glek...
Zea menelan ludah kasarnya mendengar cerita sania, bukan karena kisah sania melainkan membayangkan jika yang dikatakan sania terjadi padanya. Rasa ngilu, nyeri dan ketakutan pun menghampirinya.
"Aku hanya hilang beberapa saat kau sudah menikah."
Tak beda dengan sania, zea juga melayangkan beberapa pertanyaan padanya.
"Kau ini..., semua karena mu."
Jawab sania.
"Aku...?"
"Iya, karena kau. Aku menikah dengan bosku karena mendengar kau berada ditangan tuan muda angkasa. Aku berjanji melakukan apapun demi keselamatan mu, karena kau dalam incaran pemilik angkasa group."
Ucap sania mulai menjelaskan.
"Yah..., semua juga karena salahku yang menyuruhmu menggantikan bartender. Rupanya bartender sialan itu mendapat komisi tinggi untuk memberikan minuman pada pemilik angkasa group."
"Aku memohon pada carlos, bos d' house menyelamatkanmu yang akhirnya aku harus menikah dengan playboy itu."
"Carlos pergi ke kantor angkasa group menunjukan rekaman cctv yang telah di pulihkan, sebagai bukti kalau bartender itu bukan kau."
"Namun sayang nya carlos sedikit terlambat memberikan bukti itu. Ia pulang bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan berita baik kalau kau telah disunting oleh pemilik angkasa group."
"Zea..., apa kau baik- baik saja? Tuan muda memperlakukanmu dengan baik? Atau kalau kau butuh bantuan ku, aku siap membantu."
"Maafkan aku, zea. Semua karena salahku."
Sania memeluk zea menangis dibahu zea.
"Hei..., sudahlah. Jangan menangis! Ibu hamil dilarang bersedih apalagi stres."
Ucap zea menepuk punggung sania.
__ADS_1
"Lagipula kau bisa melihat sendiri aku baik- baik saja kan?"
"Meskipun begitu aku tetap merasa bersalah padamu."
Ucap sania.
"Aku baik- baik saja sania. Suamiku memperlalukan ku dengan baik."
"Syukurlah. Tapi..., apa ini sudah ada?"
Secara tiba- tiba sania nyeletuk menyentuh perut zea yang masih rata membuat zea terbengong mendengarnya.
"Apaan sih san? Boro- boro ada, dia saja tak menyentuhku sampai sekarang."
Gumam zea dalam hati.
"Tunggu...., tunggu..., jangan katakan kau berharap zea!"
"Aaa..., tidak."
Zea menghela nafasnya dalam- dalam memberi jawaban yang tepat untuk pertanyaan sania.
"Ada apa? Makanan? Sudah, aku sudah makan siang dengan denish dikantornya."
Ucap zea.
"Makanan...? Bukan itu, maksudku seperti ku."
Sania mengerutkan dahinya mendengar jawaban dari zea.
"Tunggu! Denish...? Maksudmu tuan muda angkasa?"
"Iya, suamiku namanya denish angkasa."
Ucap zea menyandarkan punggungnya.
"Untuk hamil? Aku harus memikirkan berulang kali sebelum mengambil keputusan itu."
Ucsp zea yang diselimuti sedikit kekecewaan.
"Kenapa?"
"Kenapa...? Bukankah kau tahu kalau aku bukan dari kalangan atas? Terlebih aku menikah dengan nya juga karena menyelamatkanmu dari ancaman nya."
"Apaa..., menyelamatkanku? Maksudmu dia memgancam mu karena aku?"
Ucap sania menunjuk ke arahnya sendiri.
"Iya. Jika saat itu aku tidak mengambil keputusan itu, denish akan memberi hukuman padamu.Tapi rupanya kau juga mendapat ancaman dari suamimu, begini amat nasib kita san?"
Ucap zea.
"Bedanya suamimu mencintaimu."
"Hihihi..., uh..., dengan cara apa aku harus berterima kasih padamu?"
"Dengan merawat keponakanku sudah lebih dari cukup. Berapa usianya?"
"Sebelas minggu?"
Zea mengerutkan dahinya ketika mendengar jawaban sania.
"Waow..., sekali tembak langsung tancap."
"Hihihi..., kau kapan?"
Sania terkekeh geli.
"Entahlah?"
"Jangan terlalu banyak berpikir! Sekarang mungkin dia belum mencintaimu, tapi akan tumbuh cinta itu setelah ada ini."
"Sok tahu."
Zea menimpuk sania dengan bantal sofa.
"Dimana suamimu? Kenapa tidak terlihat?"
"Biasa, ke kantornya?"
"Maksudmu ke club? Kau tidak takut dia digoda para wanita sexy disana?"
Zea mulai menggoda sania mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak, aku punya senjata handal."
"Halah..., paling perutmu."
"Tidak."
"Tidak...? Apa?"
Zea melongo pada sahabatnya itu yang ternyata mempunyai jurus ampuh menaklukkan playboy. Sania tak lantas memberitahu zea dengan lantang, tetapi berbisik pelan padanya.
"Cih..., sejak kapan kau berubah mesum?"
"Sejak menikah dengan nya."
"Rupanya dia memberimu kebahagiaan, aku tak khawatir lagi."
"Hihihi..., terima kasih zea atas kekhawatiranmu. Tapi aku lebih khawatir padamu. Cobalah membuka hati untuknya! Tak mungkin kau mengharapkan nico kembali, sementara kau sudah menikah."
"Nico...? Darimana kau tahu?"
"Beberapa kali saat aku mencarimu, aku bertemu dengan nya di rumah lama mu. Dan sempat berbagi cerita sedikit."
Ucap sania.
"Ih..., kira kau yang tergoda."
" Apaa..., suamiku carlos lebih tampan."
"Cih..., mulai bucin akut. Lagi pula aku hanya menganggapnya teman, lebih ke seorang kakak yang menjaga adiknya."
__ADS_1
Ucap zea kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Namun ditengah perbincangan mereka, sania ingin dibuatkan sesuatu oleh zea. Dengan mengatasnamakan ngidam, sania berhasil membujuk zea memasak untuknya.
Bersambung🙏😊