
Zea membonceng di belakang , membiarkan nico memegang kendali motor nya .
Meskipun agak canggung namun zea tak bisa berbuat apapun sedangkan kakinya dalam keadaan tak baik baik saja.
Tak berapa lama nico melajukan motor zea, mereka sampai di parkiran rumah sakit .
Nico melihat zea yang terlihat kesakitan ketika berjalan lalu memapah zea berjalan .
Semula zea ingin menolaknya tapi tangan kekar nico sulit untuk dilawan .
" Zea, kapan ibumu masuk rumah sakit ? "
Nico memang tak terlalu dekat dengan nya namun bukan berarti tak tahu apa yang terjadi dengan zea.
" Tadi siang ."
" Lalu ,,,kenapa kau keluyuran malam malam bukan menemaninya di rumah sakit ?"
" Aku kerja bukan keluyuran , lagi pula ibu di ruang icu jadi aku memilih melanjutkan pekerjaanku buat tambah tambah biaya."
Ucap zea menjawab dengan nada kesalnya .
Nico bahkan tidak tahu bagaimana kehidupannya namun menuduhnya bermain main .
" Hah,,,, tapi setidaknya tak semalam itu pulangnya ,zea."
Nico memegang erat tangan zea saat ada sebuah tanjakan di depan mereka.
" Jam pulang di toko memang jam segini . Kau pikir aku kerja di perusahaanmu ? Bisa seenaknya saja pulang sore."
Rasa kesal yang ditunjukkan zea sedikit menyita perhatian nico yang sama sekali tak pernah begitu dekat dengan zea.
Zea dan nico hampir mempunyai kepribadian yang sama hingga mereka tak pernah saling dekat bahkan saling sapa satu sama lain.
" Kerja di perusahaan ku ? Ide mu tak terlalu buruk ."
Mendengar jawaban nico , mata zea membelalak bahkan tak habis pikir bagaimana bisa nico berbicara seperti itu.
" Ih,,, berasa kaya saja ."
Gumam zea lirih tanpa menghiraukan pandangan nico yang tertuju padanya.
Tepat di depan pintu masuk , zea melihat ibunya yang masih terbaring lemah tak berdaya bahkan dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.
Nico memilih membiarkan zea berinteraksi dengan ibunya , hanya duduk di sebuah bangku tak jauh dari sana . Sesekali nico melihat zea yang mengusap matanya dengan sebuah tisu ditangannya.
" Bu, cepatlah bangun ! Zea ingin dimasakin makanan kesukaan zea."
" Ingin menghabiskan waktu bersama ibu. Berbelanja , piknik bersama tante ira dan juga membereskan rumah kita bu."
" Zea janji akan lebih patuh pada ibu dan juga memenuhi segala permintaan ibu."
" Zea janji tidak akan jadi pembangkang lagi ,bu."
" Zea mohon bangunlah ! "
Zea tak kuasa menahan tangisnya dan juga tanpa sadar duduk didepan pintu ryang icu .
Nico bergegas bangun menghampiri zea , lalu memapah zea ke bangku duduk yang semula ia tempati.
Tanpa sadar pula , nico meraih zea dalam dekapannya menenangkannya . Ada rasa nyaman yang zea rasakan saat berada dalam dekapan nico.
" Sudah zea, tak baik seperti itu . Kau harus pulang , ini sudah larut."
Zea menyapu kedua sudut mata nya , membersihkan sisa sisa airmata di jedua sudut mata dan pipinya.
__ADS_1
" Aku akan pulang sendiri ."
Ucap zea.
" Tidak, aku akan mengantarmu ."
" Tapi ,,,, bagaimana kau bisa pulang ?"
" Gampang."
Nico tersenyum ramah saat zea menanyakan alasan yang menurutnya tidak penting.
Dengan tertatih tatih zea berusaha berjalan untuk sampai ke parkiran .
Namun nico tak membiarkannya begitu saja , melainkan meminjam sebuah kursi roda untuknya .
" Duduklah !"
" Tidak, aku bisa jalan sendiri ."
Zea masih mengelak merasakan sakit di kaki nya .
" Jangan menolak ! Kau tidak berpikir mungkin aku menggendongmu kan ?"
Ucap nico mengedipkan salah satu mata nya dengan senyum penuh arti .
Zea sedikit tertegun dengan jawaban nico lalu dengan cepat menggeleng gelengkan kepalanya.
Nico pun tersenyum puas penuh kemenangan si keras kepala zea kalah beradu dengannya.
" Bagaimana orang ini bisa memaksakan kehendaknya ?"
" Aku tak pernah mengerti dia yang dikampus sangat cuek , kenapa jadi perhatian ?"
Nico semula ingin membawa zea memeriksakan kakinya namun malam sudah semakin larut , tak mungkin ada dokter yang praktek selarut itu kecuali klinik pribadi.
" Zea , dimana rumahmu ? Masih tetap sama ?"
Nico mengunci kursi roda membiarkan zea turun dari kursi tersebut.
" Masih tetap sama ? Kau tahu di mana rumahku ? Dimana ?"
Zea menggoyang goyangkan lengan nico seperti tak ada pembatas antara mereka .
" Hem,,, di depan pemilik mobil tua . Disampingnya ada sebuah warung ."
Zea tak mengira kalau nico ternyata mengetahui dimana letak rumahnya.
" Darimana kau tahu ? "
Tanpa rasa curiga zea tersenyum mengira kalau jawaban nico hanya sebatas kebetulan saja.
" Dari mu ."
" Dariku ? Mana mungkin dari ku ? Aku tak pernah berbicara denganmu di kampus."
Ucap zea menyangkal jika ia yang memberitahu dimana letak rumahnya.
" Kau sangat dingin bahkan sangat cuek , jangankan menyapa lewat saja seperti kutub utara."
Nico tersenyum mendengar perkataan zea yang seketika sadar atas apa yang di ucapkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Kau mengagumiku ? "
Ucap nico yang mendekatkan wajahnya pada zea .
__ADS_1
" Mengagumimu ,,,? Atas dasar apa mengagumimu ?"
Zea yang tak pernah mengenal cowok merasa aneh mendengar pernyataan nico.
" Buktinya kau mengetahui kebiasaanku . "
" Heh,,,, mengetahui karena melihat nya setiap hari bukan mengagumimu . Idih ,,amit amit ,,,,,, aaaaa,,,,,,."
Hampir saja zea terjatuh karena mengejar nico , tak sadar jika kakinya sedang sakit.
Nico dengan sigap menangkap tubuh zea yang hampir saja jatuh ke lantai parkiran sepeda .
" Hampir saja. Kau ini ceroboh sekali ."
Ucap nico menyentil hidung zea yang membuatnya sedikit tercengang.
" Ayo naik ! "
Zea tak sadar jika ia sedang melamun hingga membuat nico kembali berteriak memanggilny.
" Zeaaa,,,,."
" I,,,, i,,,,iya."
Sadar dari lamunannya zea tampak gugup bahkan sedikit malu ketahuan melamun.
Nico mengantar pulang zea meskipun zea menolaknya tapi nico bersikekeh mengantarnya . Zea merasa ada yang aneh dengan pria dingin ini namun semua hal buruk yang sempat ia pikirkan ditepisnya jauh jauh bahkan hanya berharap dia tulus membantunya tanpa pamrih di satu hari nanti .
Lima belas menit berkendara mereka sampai di depan rumah zea yang memang tepat srperti yang disebutkan nico padanya.
" Gelap sekali , kau belum bayar listrik ya ?"
" Sepertinya begitu ."
Ucap zea sengaja membuat nico illfeel .
Zea berjalan meraba raba menyalakan lampu teras , mungkin tante ira lupa menyalakannya . Ah tidak,,,, zea tak bisa terus menerus mengandalkan tante ira yang seharian menemani ibunya.
Ceklek,,,,
Lampu teras menerangi mereka , zea mengambil kunci rumahnya lalu membuka pintu rumah nya.
" Masuklah !"
" Masuk ,,,? Tidak zea, itu bukan satu ide yang baik . "
Ucapan nico membuat zea tertegun menatapnya.
" Hari sudah larut , kau harus istirahat ."
Ucap nico memberikan kunci motornya .
" Jangan lupa kompres kaki mu dengan air hangat , selamat malam pacar gelapku ."
Kalimat terakhir yang di lontarkan nico dan juga kedipan matanya membuat zea merasa illfeel mendengarnya.
Nico berlalu begitu saja , tampak ada seseorang yang menjemputnya meskipun tak menggunakan motor .
" Selamat malam pacar gelapku ,,,. Idih ,,,, sapa yang mau jadi pacar gelap . Mending pakai lampu terang,,,."
Derrrr,,,
Zea membanting pintu rumah menutup dan juga menguncinya . Tinggal sendiri sudah menjadi hal yang biasa baginya saat ibunya harus menginap dirumah sakit .
Bersambung 🙏🙏😊
__ADS_1