Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Piringan hitam


__ADS_3

Bibi ha tak langsung melihat perkerjaannya di dapur melainkan ke lantai atas dimana zea bilang padanya akan membaca buku di ruang kerja denish, wanita paruh baya itu begitu khawatir setelah tahu hal yang mengerikan terjadi pada bawahannya.


Zea yang tengah membaca buku sedikit bosan setelah beberapa buku dihabiskan dalam sekejap. Entah mengapa zea teriris melihat kepedihan yang dirasakan nenek salamah, mungkinkah ia akan mematahkan senyumnya kembali setelah sekian lama cahaya terang menyinarinya.


"Kasihan nenek, cahayanya terang setelah aku datang ke rumah ini."


"Apa aku akan bersikap kejam seperti denish?"


"Bagaimana mungkin aku mewujudkan keinginannya sedangkan denish saja menikahiku hanya karena status?"


" Keterpaksaan...? Bisakah membuat bahagia?"


" Bagaimana ada bayi mungil di dalam sini?"


Gumam zea menyentuh perutnya sendiri.


"Bagamana bentuk rupa anakku nanti? Hihihi..., zea..., zea."


"Aku lebih kasihan melihat nasib bayi itu daripada orang lain yang tak punya hubungan denganku."


" Ayolah zea, ini bukan sifatmu."


" Hah..., dilema."


Tanpa sengaja zea melihat sebuah alat musik kuno yang digunakan untuk mendengarkan musik. Merasa penasaran dengan alat yang dinamai gramafone tersebut, zea mendekati alat yang mempunyai piringan hitam tersebut. Mencari dimana keberadaan piring hitam lainnya, menemukan beberapa piringan hitam yang juga terselip judul lagi dalam piringan hitam tersebut zea mencoba memutar alat musik yang terkenal di eranya.


"Hem..., klasik. Cocok untuk balet."


Entah sejak kapan zea mempelajari seni tari yang terbilang cukup susah tesebut atau mungkin sudah menguasainya.


Mengikuti suara alunan musik tangan dan kaki zea bergerak sesuai dengan kemampuannya dan juga sesuai dengan irama musik yang terdengar dari gramafone tersebut.


Sepasang mata tajam rupanya selalu mengawasi pergerakan zea meskipun zea sendiri tak menyadarinya dan bahkan tak tahu kalau seluruh kamar zea terpasang cctv kamera. Bibir denish tersenyum mengembang melihat istrinya bergerak gemulai menari balet di ruang kerjanya.


Dari kejauhan, bibi ha menutup mulutnya melihat sang nyonya muda menari. Bibi ha hampir tak percaya zea mempunyai kemampuan lain dan bahkan mungkin yang masih tersembunyi lainnya.


Dengan kucuran air keringat di dahinya zea mampu menyelesaikan putaran terakhir bahkan dengan ending yang sempurna. Sepasang mata zea tak menyangka melihat kilasan bayangan bibi ha yang tak jauh dari sana.


"Bibi..., sejak kapan bibi mengintip zea?"


" Hihihi..., maaf nyonya muda. Bibi hanya khawatir dengan nyonya muda jadi bibi sengaja datang tak memberitahu nyonya muda."


"Nyonya sangat hebat."


Ucap bibi ha mengacungkan dua jempol pada zea lalu memberikan handuk muka padanya.


"Ah..., bibi bisa saja. Katakan padaku apa yang bibi khawatirkan?"


Bibi ha memang mengkhawatirkan zea namun tak mungkin dan tak mudah memberitahu zea tentang apa yang baru saja menimpa sita. Apalagi zea memang tergolong penghuni baru dirumah ini, tak mungkin semudah itu percaya pada orang lain.


"Tidak mungkin aku memberitahu nyonya muda."

__ADS_1


Gumam bibi ha dalam hati.


"Khawatir anda membutuhkan sesuatu, nyonya muda."


" Tidak bibi, jangan terlalu berlebihan padaku dan memanjakanku. Nanti zea bisa besar kepala dan malas mengerjakan sesuatu."


Ucap zea yang berjalan melalui pintu rahasia tembus ke kamarnya. Bibi ha sedikit mengerutkan dahinya saat melihat sang nyonya muda rupanya mengetahui jalan rahasia itu.


"Kenapa bibi memandangiku seperti itu? Ayolah bi, zea bukan satu makanan yang lezat hingga bibi diam membisu tak berkedip."


Ucapan zea membuyarkan lamunan bibi ha.


"Hihihi..., nyonya pandai membuat seseorang tertawa pantas saja nyonya besar sangat bahagia dengan kehadiran nyonya."


"Hahaha..., apa bibi juga menginginkan bayi dariku?"


"Bayi...?"


"Ah..., sudahlah. Zea akan mandi bi, lalu turun ke bawah memasak sesuatu. Apa semua orang makan siang dirumah?"


" Tidak, nyonya. Semua orang pergi makan siang di luar, hanya nyonya muda saja yang berada dirumah."


"Hah..., kenapa semua orang bisa bebas keluar? Si dingin itu mengurungku di rumah."


Ucap zea mencebirkan bibirnya terkihat sangat kesal.


"Mungkin tuan muda sangat mencintai nyonya muda."


Gumam zea dalam hati.


"Apa sebesar itu cintanya padaku?"


" Mungkin saja, nyonya. Kenapa nyonya muda tak menguji cinta tuan muda?"


Ucapan bibi ha setidaknya membuat zea tersentak sedikit heran."


"Menguji cintanya? Hah..., apa bibi sedang berhianat pada tuannya?"


"Berhianat...? Maksud nyonya muda?"


" Hahahaha..., menyuruh zea menguji cinta denish sama saja bibi berpaling darinya yang sejak kecil bersama bibi."


Bisik zea khawatir akan ada yang mendengarnya.


"Hihihi..., mungkin."


"Hahahaha..., bibi tidak takut padanya?"


"Bibi orang kepercayaan nyonya devi yang merawat dan menjaga tuan muda sejak kecil, nyonya muda. Jadi bibi tak ikut campur masalah cinta tuan pada nyonya."


"Hihihi..., benarkah? Tapi ide bibi patut dipertimbangkan."

__ADS_1


Ucap zea menghilang dibalik pintu kamar mandi, sedangkan bibi ha turun ke lantai satu.


Bibi merasa sedikit lega setelah mengetahui kalau raina tengah keluar bersama dengan sinta, setidaknya keselamatan nyonya muda terjaga.


Nenek salamah dan murni pergi ke sebuah pemakaman yang berada di pinggiran kota, pemakaman yang cukup luas dan juga menempuh jarak dari kediaman angkasa yang cukup lumayan.


Murni sedikit heran dengan perubahan ibu mertuanya yang selama ini memilih berdiam diri dirumah meskipun hari peringatan kematian putranya maupun menantunya, nenek salamah tetap tak ingin mengunjungi makam mereka.


"Nak, ibu datang mengunjungi kalian. Apa kalian baik- baik saja?"


Ucap nenek salamah menyentuh lembut batu nisan yang bertuliskan danu angkasa dan juga devi setyani menantunya.


"Maafkan ibu yang tidak pernah mengunjungi kalian."


"Ibu terlalu sibuk mengenang kalian dan tak menerima kenyataan."


"Ibu sangat terpukul dengan kepergian kalian."


"Beruntung kau menyisakan istri dan anak yang menyayangiku."


Airmata nenek salamah mulai jatuh di kedua sudut matanya tatkala menyentuh pusara putranya.


"Bu..., bukankah ibu janji tidak akan bersedih? Murni tak ingin mengganggu kesehatan ibu."


Murni selalu mengingatkan perihal kesehatan pada salamah untuk tidak memikirkan terlalu dalam. Benar saja, murni selalu berkata demikian karena kesehatan nenek salamah drastis menurun saat memikirkan kepergian putranya.


"Kau dengar itu nak! Istrimu berubah cerewet jika aku sedang memikirkanmu."


"Hanya dia yang begitu memoerhatikan kesehatan ibu setelah devi."


" Kali ini, ibu tidak datang untuk selalu meratapi kepergianmu namun untuk mengatakan kabar gembira pada kalian."


"Putramu denish angkasa telah menikah dengan seorang gadis yang sangat cantik. Dia juga seorang yang humoris, pandai memasak dan juga membuat ibu tertawa."


"Harapan ibu hanya satu, semoga secepatnya mereka meberikan keturunan untuk keluarga kita."


"Andai saja putramu raka tinggal dirumah pasti akan sangat menyenangkan."


Ucap nenek salamah dengan nada sendu penuh harap.


Nenek salamah berbicara panjang lebar dengan dua batu nisan yang berjejer disampingnya, sedangkan murni hanya mampu menyeka air natanya dengan cepat yang jatuh membasahi pipinya sebelum terlihat nenek salamah.


"Mas, mbak kalian lihat ibu! Beliau sangat bahagia sejak putra kita denenish nembawa menantu ke rumah."


Gumam murni dalam hati.


" Tidak seperti biasanya ibu berbicara panjang lebar, bahkan untuk tersenyum pun jarang."


"Bahkan beliau bisa tertawa lepas saat bersama menantu."


Keduanya bergelayut dalam pikiran masing- masing tak merasa hari sudah siang, matahati mulaii terik berada tepat di atas kepala mereka.

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2