Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Bertemu nico.


__ADS_3

Zea memang tak seceria seperti biasanya karena ibunya yang kini terbaring diruang icu.


Zea hanya bisa bertahan menunggu ibunya siuman dari ruang icu .


Zea berusaha memulihkan stamina nya yang terkuras karena kesedihan dan syok yang dialaminya mengingat selama ini tak pernah mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan ibunya.


" Mbak zea, yang semangat . Kasihan ibu kalau melihat mbak seperti ini."


" Ayo tina suapin , aak,,,,,,,,."


Ucap tina disela sela waktu istirahatnya masih memikirkannya hingga memyuapinya dengan tangannya sendiri .


Zea yang tak berselera makan , mau tidak mau harus makan karena keberadaan tina disampingnya.


" Ih ,,, kau ini . Aku sudah gede tin , ndak perlu disuapin ."


Zea masih mengelak menutupi kesedihannya meskipun terlihat jelas di wajah zea namun ia tak mau di anggap lemah oleh orang lain.


" Hihihi,,,, tina tahu , tapi dalam suasana kek gini pasti mbak zea ndak selera makan."


Tina terkekeh pelan mendengar jawaban dari zea.


" Memang sepertinya begitu tin, ndak nyangka sama sekali . Pagi masih ketemu , masih menyapa nya bahkan masih mengantar makanan untuk kita . Tapi sekarang ,,,,.''


Zea menghela nafas kasarnya tak melanjutkan kalimatnya kembali menyendok makanan yang dibuat ibunya untuk dirinya.


Zea tak membayangkan betapa sakit hatinya jika memang nasib tak berpihak padanya . Dan bahkan tak bisa dibayangkan pula jika makanan itu makanan terakhir yang dimasak ibunya padanya.


" Tina tahu mbak, bahkan tina pernah mengalaminya saat kehilangan ibu tina."


Ucapan gadis itu menyadarkan zea dari kesedihannya dan ternyata nasibnya jauh lebih baik dibandingkan tina.


Zea kemudian tersenyum memandang ke arah tina yang juga tersenyum padanya.


Zea sangat beruntung bertemu dengan tina , seorang yang ramah bahkan pribadi yang bersahabat drngannya tak membedakan martabat.


Sepulang dari toko , zea berniat mampir sejenak ke rumah sakit menjenguk ibunya meskipun hanya sebentar.


Zea memilih memotong jalan agar cepat spai ke rumah sakit . Perasaan cemas dan khawatir tengah menghantuinya bahkan pikirannya tam merasa tenang sedikit pun.


Zea hampir saja menabrak pembatas jalan jika saja orang yang tak sengaja melihat zea berteriak padanya.


" Awass,,,,!"


Teriakan seseorang membuat zea sadar dari lamunannya namun sayangnya sudah terlambat untuk menghindari pembatas jalan tersebut.


Brukkk,,,,,


" Aduh,,,,."


Teriakan kecil zea membuat orang yang semuka berteriak berlari menghampirinya ,membantunya memindahkan sepeda motor zea yang menabrak pembatas jalan .


Ada sedikit goresan ditangan zea yang menyebabkan zea sedikit merintih kesakitan.


" Tidak apa apa ,mbak."


Suara yang tak begitu asing bahkan sangat familiar seperti pernah mengenal orang pemilik suara tersebut.


" Tidak, hanya sedikit lecet ."


Ucap zea.


" Zea ,,,, ."

__ADS_1


Zea mendongakkan kepalanya setelah mendengar namanya dipanggil seseorang.


" Nico,,, . Sedang apa disini ?"


Yah, dia adalah nico teman sekampus bahkan satu jurusan dengannya .


" Hei,,,, harusnya aku yang tanya , kenapa bisa nyasar sampai disini ?"


Ucap nico yang tanpa seijin zea mendorong motornya berjalan lurus ke sebuah rumah kecil tak jauh dari sana .


" Eh,,eh,,,, mau dibawa motornya ?"


" Tenang zea, aku tidak mungkin menjual motormu . Lukamu perlu diobati jika tidak nanti bisa infeksi."


Ucap nico.


" Tapi,,,, ."


" Zea , rumah ku dekat hanya sepuluh langkah dari sini ."


Zea menghela nafas kasarnya lalu mengikuti langkah nico yang memang benar adanya , jika rumahnya tak jauh dari sana .


Nico menstandarkan motor zea dan juga menyuruh zea untuk duduk diteras . Nico memang sengaja tak menyuruhnya masuk , khawatir akan menebarkan fitnah yang akan menjadi satu masalah untuk keduanya.


" Zea , kenapa tidak duduk ? Minumlah dulu !"


Disamping membawa kotak obat , nico membawa minuman di tangannya . Dalam keadaan seperti ini seseorang pasti akan merasakan syok jika tiba tiba terjadi kecelakaan.


" Terima kasih."


Dengan sedikit ragu , zea mengambil minuman yang di bawa oleh nico .


Sementara nico meraih tangan kiri zea yang lecet akibat dari hasil melamunnya menabrak pembatas.


Rintihan zea membuat nico sendiri mendongakkan kepalanya lalu secara perlahan mengobati luka zea.


" Ada luka lain ?"


" Tidak , hanya ini ."


Jawaban zea membuat nico merasa lega.


" Kamu belum jawab pertanyaanku zea . Mau kemana sampai nyasar ke sini ?"


Ucap nico.


" Mau ke rumah sakit , ibuku sakit ."


Ucap zea yang terlihat sedikit sedih.


" Ibu mu sakit ? lalu kenapa bisa nyasar kemari ? Bukankah akan semakin jauh untuk sampai kesana ?"


Ucap nico yang menatap zea lekat lekat .


Ada rasa kagum di mata nico pada zea , gadis muda sepertinya harus banting tulang demi orang tuanya.


" Entahlah, sepertinya aku sedang melamun."


" Zea,,,, zea,,,, pantas saja , kau sampai nabrak pembatas jalan ."


Ucap nico.


Zea berdiri meskipun sebenarnya kakinya agak sakit karena tertimpa sepeda motor namun semua harus di kesampingkannya mengingat ibunya dalam kondisi tak baik di ruang icu.

__ADS_1


" Ini,,,,minumlah !"


Ucap nico meraih sebuah obat di dalam kotak obat miliknya.


" Apa ini ?"


" Antibiotik ."


Zea menatap nico sejenak meskipun ragu namun zea tak menolak meminumnya.


Teman satu jurusan dengannya itu meskipun terlihat dingin tapi juga hangat saat berada diluar kampus.


Zea hampir tak menyangka nico yang super dingin cenderung cuek tak memperdulikan apapun saat dikampus bersikap hangat ketika diluar.


" Kenapa menatapku seperti itu ? Ada yang aneh ?"


Ucapan nico membuyarkan lamunannya .


" Ti,,,,tidak. Hanya aku seperti tak mengenalmu."


Ucap zea kemudian bangun dari kursi dimana ia duduk sedangkan nico tak menjawab apapun hanya menebar sedikit senyum


" Mau kemana ?"


" Ke rumah sakit. Aku harus menengok ibuku meskipun di ruang icu tapi aku perlu mengetahui perkembangannya."


Ucap zea .


Nico mendongakkan kepalanya sejenak menatap tajam zea lalu masuk ke dalam rumah .


Zea terkejut melihat nico yang tengah memakai jaketnya dan juga helm yang di ambil dari dalam rumah.


" Kau,,, mau kemana ? Akan pergi ? Maaf jika mengganggu acaramu ."


Ucap zea kemudian memakai helmnya.


Tak menjawab pertanyaan zea , nico mengunci pintu rumahnya lalu menyalakan sepeda motor zea.


" Kenapa naik motor ku ?"


Zea heran dengan apa yang dilihatnya ketika nico menyalakan mesin motornya .


" Aku akan mengantarmu ."


" Tapi ,,,."


" Tidak ada tapi tapi an zea, aku tahu kau menahan sakit karena tertimpa motor."


Ucapan nico berhasil membuat zea tertegun mendengarnya .


" Tapi,,,,."


" Aku tidak sedang punya rencana apapun jadi jangan khawatir !"


"Tapi ,,,,,."


" Tidak ada tapi tapi an , jika kau tidak mwneremi tawaranku mengantarmu aku juga tidak akan membiarkanmu pergi ."


Zea menarik nafas dalam dalam , menolak pun percuma jika nico bersikeras seperti itu tapi jika ia menolak kakinya sepertinya sangat sakit.


" Baiklah ."


Zea akhirnya memilih mengalah karena memang membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


Bersambung 🙏😊


__ADS_2