Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Godaan denish


__ADS_3

Namun bukan denish jika tak punya seribu akal, saat zea melangkahkan kakinya meninggalkan kolam renang sebuah tangan mencekal kaki tersebut hingga membuatnya menghentikan langkahnya.


" Tuan, singkirkan tanganmu! Aku harus memasak makan siang untukmu."


" Bukankah kau ingin aku menjadi istri yang baik?"


" Ya, baiklah nyonya."


" Duduklah! aku akan membisikkanmu sebuah makanan yang ingin ku makan."


Dengan rasa percayanya, zea duduk mendenkatkan kepalanya.


Namun sebuah tangan kekar meraih tengkuk zea, mencium bibir ranum yang cerewet miliknya.


Zea membelalakkan kedua matanya tak mampu menolak, saat kedua tangannya berusaha mendorongnya justru membuatnya tersungkur duduk dilantai.


Memberi sedikit sesapan dan ******* yang memberikan pesona terbakar sendiri untuk zea.


" Terima kasih cicilannya."


Setelah beberapa saat denish melepaskan ciuman mereka, zea kembali terbelalak saat mendengar ucapan denish.


" Cicilan...? Kau kira perkreditan?"


Zea menggerutu kesal meninggalkan denish yang masih berada di dalam kolam.


" Kau ingin melunasinya? Baiklah kalau begitu."


Ucap denish mengedipkan matanya yang semula akan berenang ke tengah berhenti menepi.


Sedangkan zea hanya mencebirkan bibirnya berlalu masuk ke dalam paviliun membersihkan dirinya.


Dibawah guyuran air shower, zea sengaja belum membuka pakaiannya. Entah pikiran apa yang merasukinya saat dibawah guyuran air shower mengingat setiap detil sentuhan denish


" Hah..., tidak..., tidak..., tidak. Kenapa aku bisa seperti ini?"


" Dasar playboy.''


Zea menyudahi mandinya, semakin lama dikamar mandi pikirannya semakin melayang terbayang setiap sentuhan denish padanya.


"Sudah? Aku baru akan menyusulmu."


Perkataan denish setidaknya berhasil membuat zea mengerutkan dahinya.


Tak ingin menanggapi tingkah polah denish, zea berlalu melewatinya namun tangan kekar denish menahannya ke dinding tembok tepat disamping pintu kamar mandi.


Setidaknya membuat sedikit keterkejutan sendiri pada zea yang tanpa persiapan hampir terjatuh.


" Ah... aa."


" Kau ingin menyicilnya atau melunasinya?"


Tentu saja membuat bulu kuduk zea berdiri merinding atas apa yang diucapkan denish padanya.


Dan zea paham betul apa yang dimaksud dengan ucapan suaminya. Meskipun jantungnya berdebar debar namun zea berusaha tetap tenang.


Jari jemari denish mengusap lembut setiap lekuk wajahnya, tersenyum seakan mengerti kekhawatiran zea.


" Aku akan menunggumu."


Bisik denish pada zea yang bisa bernafas lega saat denish meninggalkannya.


"Hah, untung saja. Jika seperti ini terus pertahananku lama- lama bisa jebol."


Gumam zea saat ada diruang wardrobe.


"Aku masih belum percaya padanya, jangan- jangan setelah mendapat manisnya dia meninggalkanku."


Setelahnya zea keluar dari kamarnya berjalan menuju dapur membuat satu masakan yang entah disukai atau tidak oleh denish.


"Masak apa non? Mbok bantuin?"


" Tidak, mbok. Biar zea masak sendiri."


" Baiklah kalau begitu. Semangat menjadi istri yang baik."


" Ih..., mbok bisa saja."


Mbok ijah berlalu meninggalkan zea yang tengah bergelut dengan peralatan dapur. Zea sengaja memasak menu makanan sehat dan juga bergizi karena kesibukan denish yang membutuhkan asupan gizi.


Beberapa menu masakan tersedia di meja makan, dari kejauhan denish menyilangkan kedua tangannya di bilah dadanya memandang ke arah dapur dimana istrinya sedang menasak untuknya.

__ADS_1


Rambut panjang yang masih sedikit basah diikat ke atas memperlihatkan leher jenjangnya, juga luwesnya pergerakan tangan menggerakkan peralatan masak memberi ketertarikan sendiri pada denish.


Entah mengapa denish mendekati gadis itu, secara tiba tiba memeluknya dari belakang.


" Ah... aa."


Sedikit keterkejutan dirasakan oleh zea hingga berteriak kecil. Gadis itu tak menyangka lelaki pemaksa itu akan mengumbar kemesraan di depan orang lain meskipun tak ada orang disana. Tetap saja, zea merasa khawatir terlihat mbok ijah atau mang kasim apalagi asistennya vans.


"Lepas! Nanti ada orang yang lihat."


"Siapa? Tak ada orang disini."


" Lepaskan!"


Denish tahu kalau zea merasa malu dan juga hanya alasannya saja tak ingin bermesraan dengan nya.


" Tuan denish angkasa, tolong lepaskan! Jika kau tetap seperti ini kapan aku akan selesai masak untukmu?"


Tak menghiraukan perkataan zea, denish sengaja menyerang leher jenjang zea yang membuatnya tertarik.


"Denish... hentikan!"


Teriakan zea bahkan terdengar hingga keluar dapur tak sengaja mbok ijah dan mang kasim bahkan vans menghampiri arah sumber suara.


Mereka membelalakkan matanya ketika melihat sang tuan muda bermesraan dengan istrinya.


" Hah, apa benar dia tuan muda?"


Ucap mbok ijah.


" Kurasa bukan mbok, kenapa tuan muda seperti drakula?"


Vans terkejut melihat perubahan denish.


" Heh, kalian ini seperti tidak tahu orang yang sedang di mabuk asmara saja."


Ucap mang kasim pada keduanya.


" Ayo kita pergi! Biarkan mereka mempunyai waktu berdua."


Mang kasim menggandeng tangan keduanya.


"Tidak ada tapi- tapian."


Sementara zea tak kuasa menahan apa yang telah dilakukan denish hingga mematikan kompor.


"Aku tidak akan menghentikannya sebelum kau memanggilku dengan sesuatu yang lain."


" Hentikan! Tolong, sayang."


Satu ******* yang lolos terdengar membuat senyum diwajah denish mengembang. Tak ingin mengulang lagi suara setan itu, zea terpaksa bersikap mesra padanya.


" Bagus. Good job, my lovely wife."


" Aku lapar sayang."


" Siapa suruh menggodaku? Sekarang bilang aku lapar."


Gumam zea lirih.


" Tunggu sebentar, sayang! Sudah hampir selesai."


Ucap zea tersenyum dengan penuh keterpaksaan.


" Selesai."


Ucap zea.


Denish tak menghiraukan perkataan zea, duduk diam membisu di meja makan memandangi hidangan yang ada.


" Ini, makanlah!"


" Tidak. Begini caramu melayani suamimu?"


Zea tampak kesal meremas tangannya sendiri, jengkel dengan sikap denish yang menurutnya sangat manja dengannya.


" Baiklah. Sayang, makanan sudah siap!"


" Tidak, aku ingin disuapi."


" Hah..., yang benar saja. Sudah besar bahkan dewasa minta disuapi seperti anak kecil saja."

__ADS_1


" Kau tidak mau?"


Ucap denish menatap tajam zea yang terlihat acuh padanya.


" Baiklah..., baiklah."


" Dasar bayi gede!!"


Umpat zea disela- sela mengambil makanan untuk suaminya.


Denish memang sengaja bersikap mesra pada zea bukan hanya semata- mata tanpa tujuan melainkan membuat zea semakin dekat dengannya.


Acara makan siang yang telah usai, denish berencana mengajak zea keluar sebentar sebelum mengajaknya pulang ke kandang singa.


"Kau ingin mengunjungi temanmu, sania? Atau tante ira?"


Zea mengerutkan keningnya, tak seperti biasanya denish menawarkan sesuatu padanya. Pasti ada sesuatu yang diinginkannya.


" Tidak, kalau hanya meminta imbalan."


" Baiklah, jika kau tidak mau. Aku akan mengajakmu ke tempat lain."


Zea semakin tak mengerti apa yang tengah direncanakan denish sebenarnya.


" Aku ingin tidur sebentar, kau membuatku kelelahan."


" Baiklah, sayang. Tidurlah! Jika kau tak ingin pergi, lain kali kita akan pergi keliling dunia."


Lagi- lagi zea mengerutkan dahinya dan juga mencebirkan bibirnya tak menanggapi suaminya.


Zea memilih tidur mengistirahatkan tubuhnya yang lelah daripada pergi dengan tawatan semu denish yang pastinya akan membuatnya terjebak dalam permainan baru laki- laki pemaksa tersebut.


"Berkeliling dunia? Dalam hayalan saja, aku tahu kau akan meminta imbalan."


Gumam zea naik ke tempat tidur.


Beberapa menit zea terlelap dalam tidurnya, entah apa yang dimimpikannya hingga tersenyum simpul. Sedikitnya membuat denish merasa curiga.


" Tuan, gaun untuk nyonya sudah siap."


" Terima kasih vans."


"Segala keperluan nyonya sudah dikirim ke kediaman angkasa, tuan."


" Apa anda yakin akan tinggal di kediaman angkasa, tuan?"


" Tentu saja, dengan begitu aku akan segera menemukan dalang di balik kematian ayah yang misterius."


" Vans, tempatkan beberapa orang kita untuk melindungi nyonya dua puluh empat jam."


" Baik, tuan."


Denish kembali ke kamarnya membawa paperbag yang di berikan vans padanya.


"Sayang, bangunlah! Kau harus bersiap."


Zea yang tertidur sangat pulas tak beranjak sedikit pun.


" Sayang..., sayang."


" Hem..., ada apa?"


" Kau harus bersiap, mulai malam ini kita akan tinggal di rumah angkasa."


" Harus tinggal disana ya?"


" Kenapa?"


" Aku takut."


" Jangan takut! ada aku yang selalu disampingmu."


Ucap denish menggenggam kedua tangan zea


menenangkannya.


Zea bangun dari tidurnya mempersiapkan dirinya dengan gaun yang telah disiapkan suaminya.


Make up natural menjadi pilihan utamanya dimana berpadu dengan gaun sederhana namun elegan pilihan denish. Tak jarang denish selalu menatap kagum pada zea yang tak seperti gadis lain, manja dan suka dengan kemewahan.


Bersambung😊🙏

__ADS_1


__ADS_2