
Di kediaman keluarga angkasa.
Setelah mengantar zea sampai ke depan pintu utama bahkan hingga mobil yang ditumpangi zea hilang dari pandangan, bibi ha kembali masuk ke dalam pintu utama sedikit merasa senang.
Bibi ha kembali menyambangi dapur untuk membicarakan menu makan siang keluarga angkasa. Sebagian dari mereka memang bekerja tetapi sebagian juga berada dirumah termasuk nyonya besar angkasa.
"Berantakan sekali."
"Kenapa belum beres? Apa yang kalian kerjakan?"
"Satu jam membereskan dapur belum selesai."
"Sepertinya kalian mulai membangkang."
"Baiklah, jika itu mau kalian."
Rasa geram terhadap karyawan dapur melihat dapur yang sedikit berantakan membuat amarahnya tak lagi terkontrol. Bibi ha adalah ketua pelayan keluarga angkasa yang dipercaya mengurus segala keperluan kediaman angkasa. Bibi ha memang menyukai kebersihan, kerapian tak menyukai hal- hal yang berbau kotor atau pun berantakan.
"Bukan, ketua. Kami sudah membereskan nya, tapi... ."
" Tapi apa? Apa kalian mau bilang pekerjaan kalian masih banyak? Atau karena masih digunakan untuk masak makan siang?"
''Bukan ketua, tapi nyonya muda memasak sedikit makanan untuk bekal tuan muda."
Ucap salah seorang yang kebetulan mengetahui atau berada ditempat saat zea tengah memasak.
"Bukankah aku sudah menyuruh chef memasaknya? Apa kalian tak memberitahu nyonya muda kalau bekal sudah siap?"
" Saya hendak memberitahu nyonya muda, tetapi beliau sudah terlebih dahulu meninggalkan dapur."
"Dan persiapan bekal tuan muda yang dimasak oleh chef sudah tak ada di meja minibar."
Bibi ha merasa ada yang aneh mendengar pernyataan salah satu dari mereka.
"Apa ada yang masuk ke dapur setelah kalian pergi?"
"Kami kurang yakin ketua, tapi sepertinya ada. Nyonya muda bahkan memakai kotak bekal makan tuan yang dibawanya dari lantai atas."
Ucapnya.
Bibi ha semakin merasa ada kejanggalan bahkan rasa gelisah, khawatir terjadi sesuatu dengan makanan tersebut muncul menghantuinya.
"Baiklah, kalian boleh istirahat sebentar sebelum menyiapkan makan siang."
" Baik, ketua."
Bibi ha menuju satu tempat yang tak lain adalah ruang rahasia yang sengaja dibuat denish dimana ia menyematkan ruang cctv disana. Bibi ha menyuruh security memutar balik kejadian satu jam yang lalu dimana seluruh karyawan dapur sibuk di dapur.
Bibi ha terkejut melihat seseorang mengambil kotak makan yang tak lain adalah raina, keponakan sinta.
"Dasar wanita licik!! Sampai kapan pun aku akan menghalangi niatmu."
Gumam bibi ha yang kemudian meminta potongan video tersebut. Namun saat bibi ha membalikkan badan nya terlihat samar- samar seseorang mengambil kotak makan tersebut yang tak lain adalah sinta istri dari putra kedua angkasa.
"Bagus. Setidaknya kau sendiri yang terjebak dalam permainanmu."
Setelahnya, bibi ha pergi kembali ke dapur memeriksa segala sesuatu yang kurang. Bahan makanan maupun desert serta buah untuk makan siang nanti. Chef dapur memberitahu buah yang digunakan tidak cukup untuk menyajikan desert sebagai makanan penutup, bibi ha menyuruh beberapa pelayan membeli semua keperluan dapur.
Kantor denish.
"Stop!!"
Zea mendorong dada kekar milik denish yang saat ini tengah mengekangnya, merasa sudah tak tahan menahan diri ingin ke toilet.
"Kenapa?"
"Aku sudah tidak tahan."
Zea berlari menuju kamar mandi yang berada di ujung kamar.
Ceklek...
__ADS_1
Derrr...
"Hah..., gagal lagi."
Gumam denish.
"Tapi aku menyukai cemburu yang kau tunjukkan."
"Aku mencintaimu, sayang."
"Zeavelia denish angkasa..., hahahaha. Aku tidak menyangka tatapan manik mata yang membuat jantungku berdebar, ku miliki seutuhnya."
"Aku pastikan akan membuatmu jatuh cinta."
"Tak kan ku biarkan kau lepas dari genggamanku."
Denish kembali ke ruang kerjanya mencicipi makanan yang dibuat istrinya.
"Hem..., lumayan enak. Aku tak menyangka kau pandai memasak."
Gumam denish.
Ceklek...
"Kak..., waow...,banyak makanan."
Vania yang semula ingin menawarkan makan siang terkejut melihat meja yang penuh makanan. Denish hanya diam mengerutkan dahinya melihat vania berhambur masuk ke dalam ruangan nya. Kalau tidak sedang jam istirahat, gadis itu pasti sudah kena hukumannya memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ketika vania menatap makanan yang berada di meja, denish mengikuti tatapan mata gadis yang tak lain adalah adik kandungnya. Saat vania hendak mengambil salah satunya, denish terlebih dahulu mengambil dari hadapan nya.
"Stop!! Itu bukan milikmu. Pergilah, beli sendiri!"
"Hem..., kakak pelit sekali. Mencicipi saja tidak boleh."
"Tentu saja tidak boleh, masakan dari tangan istriku."
"Apaa..., kakak ipar yang memasak? Vania tidak percaya."
Vania mengerucutkan bibirnya tak berhasil membujuk kakaknya.
"Ayolah, kak. Sedikit saja."
"Tidak. Keluarlah, pintu itu menantimu!"
Ucap denish menunjuk arah pintu.
"Huh..., dasar pelit!!"
Vania harus keluar dengan tangan kosong setelah tak berhasil mencicipi hidangan lezat di depan nya. Saat hendak keluar, vania berlari kembali ke arah meja, namun sayang sekali rupanya denish lebih sigap dari yang vania bayangkan. Denish menyusun kotak itu kembali menutupnya rapat, kemudian berdiri di depan vania.
"Huh..., dasar pelit."
Vania akhirnya kembali ke ruang kerjanya setelah tergiur dengan makanan yang dibuat kakak iparnya.
"Sudah selesai makan nya?"
"Hem."
"Habis?"
"He em."
"Apaa..., semua habis? Katanya ingin makan berdua, tapi dihabisin sendiri."
Gumam zea.
"Tak ada romantisnya."
Mendengar gumaman zea meskipun tak terdengar jelas, denish mendekatinya istri kecilnya duduk disampingnya lalu mengangkat tubuh ramping itu ke atas pangkuan nya.
"Kau tidak bilang ingin makan denganku?"
__ADS_1
"Iya, tidak bilang."
"Bibi ha lah yang salah memberitahu."
Ucap memalingkan wajahnya meskipun di atas pangkuan denish.
"Baiklah, kita makan diluar."
"Makan diluar? Kau ingin makan lagi? Astaga, terbuat dari apa perutmu makan segitu banyak masih mau makan lagi."
Zea terkejut mendengar perkataan denish, tentu saja heran karena dia memang memasak sedikit lebih untuk mereka berdua.
"Hahahaha..., bercanda sayang. Makanlah! Aku akan menyuapimu."
"Tidak. Aku bisa makan sendiri."
Ucap zea turun dari pangkuan nya meraih rantang yang masih ada beberapa lauk untuknya. Sedangkan denish kembali duduk di kursi kebesaran nya, melanjutkan pekerjaan nya.
Zea mengupas udang satu per satu menyisihkan nya lalu berjalan menyuapi denish.
"Aaak... ."
Denish mengerutkan dahinya ketika zea menghampirinya dengan piring udang di tangan nya. Denish pun tak menyia- nyiakan kesempatan romantis yang jarang ia dapatkan dari istri nya meskipun saat sedang berdua.
Melihat istrinya yang berdiri disampingnya, denish menariknya duduk di pangkuan nya.
"Aaa..., nanti bisa kotor mejanya dan kertas putih itu akan ternoda."
"Aku akan membereskannya dulu."
"Aak... ."
"Kenapa tidak memakan nya? Tidak menyukainya? Atau terlalu besar udang nya? Atau terlalu kecil?"
"Tidak. Aku memang tidak memakan nya karena punya alergi terhadap udang."
Ucap zea yang terlalu fokus pada udang di depan nya.
"Lalu..., kenapa kau memasaknya?"
"Untuk suamiku memangnya untuk siapa?"
"Siapa suamimu?"
"Siapa...? Tentu saja kau, memangnya ada yang lain? Aku tidak sepertimu mempunyai tunangan lain saat sudah beristri."
Lagi- lagi zea membahas perempuan itu yang tentu saja membuat denish semakin senang.
"Hahahaha..., cemburu?"
"Tidak. Untuk apa?"
"Lalu..., kenapa membahasnya?"
"Mengingatkan."
"Mengingatkan!!"
"Mengingatkan...? Mengingatkan apa?"
Zea menyipitkan kedua matanya menatap denish yang cuek sengaja menanggapi pernyataan zea meskipun tak sedang menatapnya.
"Oh..., aku lupa. Mengingatkan aku sudah beristri? Apa kau menganggapku sebagai suami sementara kau selalu bicara terpaksa menikah dengan ku?"
Deg...
Benar perkataan nya, zea selalu mengatakan menikah karena terpaksa. Jadi untuk apa mengingatkan? Tunggu..., tunggu..., atau jangan- jangan zea mulai jatuh cinta padanya. Zea berpikir keras kenapa harus mengingatkan? Ia bahkan tak menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri. Bagaimana tidak suaminya mencari wanita lain? Lalu..., pernikahan ini?
Zea tampak sedang bingung tak mempunyai jawaban yang tepat untuk semua pertanyaan denish yang memang benar adanya. Atau jangan- jangan ia memang cemburu pada wanita itu?
Bersambung🙏😊
__ADS_1