
Nico memutus sambungan telepon setelah mengetahui kalau zea ada di rumah sakit .
Pria muda itu begitu khawatir dengan zea apalagi setelah mengetahui semalam bermimpi buruk.
Nico melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi namun tetap mengutamakan keselamatan nya .
" Kenapa tak menunggu ku jika ingin ke rumah sakit ?"
" Hah,,, dasar bandel."
Nico mengumpat sendiri saat mengetahui kebandelan zea.
Jarak tempuh dari rumah zea ke rumah sakit tak begitu jauh hanya belasan menit saja akhirnya nico sampai ke rumah sakit .
Dengan setengah berlari , nico mencari dimana zea berada dan juga membawa sarapan untuk mereka.
Ketika nico hampir sampai ke ruang icu dimana ibu zea dirawat , sebuah tangan kekar menarik lengan nya .
" Kau ,,,?"
Nico tampak terkejut setelah mengetahui kalau rizal yang menarik nya .
" Iya, aku rizal . Kau masih ingat dengan ku ?"
" Tentu saja."
Jawaban singkat nico membuat rizal sedikit tersenyum.
" Apa aku boleh bicara sebentar ?"
" Tentu. "
Nico mulai curiga dengan rizal yang menariknya dan ingin berbicara dengan nya.
" Aku harap kau bisa berbesar hati untuk menjauhi zea. Aku tidak suka kau dekat dekat dengan nya ."
Ternyata firasat nico terbukti juga atas ucapan rizal pada nya.
" Aku menjauhi zea ? Atas dasar apa aku harus menjauhi nya ?"
Nico semakin tertantang dengan ucapan rizal pada nya untuk menjauhi zea.
" Tidak baik seorang teman menjadi pihak ketiga atas hubungan seseorang."
" Pihak ketiga ,,,?"
" Iya, aku adalah tunangan zea . Jadi aku berharap kau bisa bersikap selayaknya seorang teman ."
Ucap rizal .
" Hah,,, tunangan ? Apa aku tidak salah ? Zea menembakku menjadi pacar nya dan aku menerima nya . Menjaganya selama beberapa tahun ini , tidak mungkin seorang yang mempunyai tunangan menembak cowok lain ?"
Rizal tercengang atas ucapan nico merasa tak percaya dengan lelaki yang ada di depan nya tersebut.
" Tidak , tidak mungkin . Kau ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan kami ."
Rizal masih bersikukuh menyatakan kalau nico orang ketiga.
" Maaf, aku tidak seperti apa yang kau pikirkan . Justru kau adalah orang ketiga dalam hubungan kami ."
" Aku orang ketiga ? Hah,,,, hahaha,,,kau tidak mengenalku ? Aku pacar zea sejak sekolah menengah dan ibu ku telah melamarnya ,jangan karena kau teman kuliah zea jadi lupa status mu."
Rizal mulai menatap sinis pada nico yang sama sekali tidak mau mengalah atas perkataan nya.
Dari kejauhan zea tampak melihat dua orang yang bersitegang begitu familiar , semakin mendekat zea semakin terkejut melihat rizal dan nico bersitegang . Ingin segera mendekati mereka dan melerai nya tetapi zea mengurungkan niat nya.
Zea lebih memilih mengamati kedua nya dari kejauhan namun mendengar apa yang mereka ucapkan.
__ADS_1
" Status bahwa aku pacar zea , tentu aku tidak akan lupa hal itu."
Ucap nico .
" Kau,,,, ."
Rizal meraih kerah kemeja nico terpancing emosi atas perkataan nico.
" Jangan memancing emosi ku ! Aku peringatkan kau , jauhi zea ! Jika tidak kau akan tahu akibat nya ."
Ucap rizal melepas kerah kemeja nico .
Rizal terkejut melihat zea yang berada tak jauh dari mereka .
" Zea,,,. Sejak kapan kau berada disana ?"
Rizal terkejut dengan kedatangan zea tetapi tidak dengan nico yang lebih santai.
" Sejak kau mengamcam nya menjauhi ku ."
Ucap zea dingin berlalu meninggalkan mereka berdua.
" Zea , aku tak bermaksud ,,,,."
" Sudahlah, sebaiknya kau menjauhi ku ."
Ucap zea pada rizal .
" Apaaa,,, menjauhi mu ? Kenapa ? Apa salahku ? "
Rizal mengejar zea yang berjalan berlalu meninggalkan nya.
" Tidak ada yang salah, aku yang salah ."
Zea tak ingin menyakiti nico lebih dalam lagi pergi begitu saja.
" Ibu ku sedang tak berdaya dan aku tidak ingin membuatnya bersedih berurusan dengan mu ."
Zea bersikap semakin dingin tak mengindahkan perkataan rizal bahkan menghempas tangan rizal saat akan memegang tangan nya.
" Zea, aku tidak mengerti maksudmu ?"
Zea tak menjawab pertanyaan rizal hanya berlalu meninggalkan nya.
" Tanyakan pada ibumu ? Benarkah ibumu melamarnya atau mencaci maki zea dan ibu nya ?"
Nico menimpali perkataan zea dan juga sebagai jawaban atas pertanyaan rizal , menahan rizal yang akan mengejar nya.
" Aku tidak ada urusan dengan mu , jangan ikut campur masalah kami !"
Zea berhenti melangkah membalikkan badan nya menatap lelah pada rizal.
" Apa yang nico katakan benar , dan aku mohon padamu menjauhlah dariku !"
Ucap zea menyatukan tangan nya meminta pada rizal.
Rizal tercengang mendengar pernyataan zea, bagai pisau menyayat jantung hati nya bahkan sulit sekali merasakan sakit nya.
" Dan mengenai hubungan ku dengan mu , aku hanya menganggapmu teman tidak lebih ."
" O ,,ya , aku belum mengenalkan nico padamu . Dia adalah kekasihku . Ayo, sayang !"
Untuk pertama kali zea bersikap mesra pada nico tentu bukan tanpa alasan melainkan ingin rizal menjauhi nya .
Ibunya sedang tidak baik baik saja , zea tak ingin kehilangan ibunya karena masalahnya.
Nico tersenyum dengan sikap zea meskipun ia sebenarnya tahu kalau zea terpaksa melakukan nya karena keberadaan rizal.
__ADS_1
" Darimana kau tahu ibu rizal mengancam ku dan mencaci maki ibuku ?"
Ucap zea menoleh pada nico.
" Tante ira memberitahu ku ."
Zea menghela nafas panjang nya.
" Kenapa pagi pagi ke rumah sakit ? Ada masalah dengan ibu ?"
Nico menyentuh pelan tangan zea.
" Tidak , ibu baik baik saja . Hanya dini hari tadi mimpi buruk , jadi aku kesini pagi pagi . Cuma memastikan keadaan nya baik baik saja."
" Ini ,,makanlah !"
" Aku sudah makan , kau saja. Aku akan menunggu mu setelah itu pulang, aku ngantuk sekali ."
Ucap zea.
" Kalau begitu kita pulang sekarang ."
Zea tercengang dengan ajakan nico hingga pantat nya berhenti bergerak ketika ia akan duduk di bangku depan ruang icu.
" Pulang ,,? Baiklah ."
Zea mengiyakan ucapan nico .
Zea berjalan beriringan dengan nico yang menggenggam tangan nya menyusuri koridor rumah sakit hingga ke tempat parkir .
" Kenapa kau membawaku ke parkir mobil ? Aku bawa sepeda motor."
Ucap zea .
" Aku akan menyuruh orang mengambil sepeda motor mu ."
Zea melongo dengan ucapan nico.
" Cih,,,, berasa orang kaya saja."
Zea mencebirkan bibir nya hingga mengerucut saat mendengar ucapan nico.
" Hem,,, kita lihat saja nanti ."
Zea tak mau ambil pusing dengan perkataan nico memilih mengabaikan ucapan nya .
Nico tampak menelepon seseorang saat zea masuk ke dalam mobil sebelum nico melajukan mobil nya menuju rumah zea.
Sementara rizal yang berjalan menyusuri koridor rumah sakit tak tentu arah berjalan, antara kaki dan otak nya sedang tak sinkron melangkah .
Rizal masih memikirkan perkataan zea tentang ibu nya dan juga tentang zea yang saat ini berpacaran dengan nico .
" Bagaimana mungkin kau melupakan perasaanku begitu saja , zea ?"
" Apa salah ku pada mu ? Kau gores luka begitu dalam."
" Setelah penantian beberapa tahun , kau tidak menungguku tapi jalan dengan orang lain."
" Kau selingkuh dari ku , zea."
" Bagaimana mungkin kau menyalahkan ibu ku ,zea ? Yang jelas jelas melamar mu ."
" Kau tega ,zea."
Rizal berhenti di penghujung lorong rumah sakit yang merupakan kamar mayat .
Ia seakan tak mempedulikan dimana sedang berada , hanya bergelayut dalam pikiran nya.
__ADS_1
Bersambung 😊🙏