Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
cicilan


__ADS_3

Zea tengah memasak makanan ringan yang mungkin juga makanan kesukaannya maupun denish, meskipun tak berharap suaminya menyukai bahkan makan masakannya namun hanya sekedar menjalankan kewajiban nya lah zea bertekad memasak untuk suaminya.


Ada sedikit rasa kagum pada dirinya namun zea tak boleh terlena dengan segala bentuk sikap denish yang sedikit mesra dengannya.


"Nyonya muda, kenapa tidak memberitahu akan memasak di dapur?"


Ucap bibi ha yang terkejut melihat zea berada di dapur dan juga beberapa pelayan yang mondar- mandir sedikit ketakutan sesekali melihat ke arah zea yang tengah memasak.


"Bibi, bisa menyuruh pelayan menyiapkan masakan yang anda inginkan."


" Ah..., bibi mengagetkan saja. Tidak apa- apa bi, lagipula zea bosan harus berdiam diri tanpa mengerjakan sesuatu."


"Tapi nyonya..., anda tak perlu mengerjakan semuanya sendiri."


" Lagipula apa nyonya ingin pelayan dapur mendapat hukuman dari tuan muda?"


Zea menghentikan aktivitas nya, kening zea mengerut lalu membalikkan badan nya menatap bibi ha.


"Apa maksud bibi? Jangan katakan kalian akan mendapat hukuman dari denish?"


"Tentu saja, sayang."


Denish muncul seperti jalangkung, tiba- tiba ada dan juga secara tiba- tiba pula menghilang.


" Kenapa memasak sendiri? Apa kau ingin para pelayan mendapat hukuman atas apa yang kau kerjakan?"


Denish memeluk zea tanpa aba- aba dan juga didepan para pelayan dapur utamanya bibi ha yang sedikit tersenyum melihat tingkah dan sikap denish pada zea. Zea masih diam terpaku menerima sikap dan perlakuan denish tak bergerak sedikitpun bahkan seakan menjadi patung disana.


" Ada apa? Apa pelukan ku begitu erat? Oh ... maaf, sayang. Aku hanya sedang merindukan mu."


Kening zea semakin mengkerut ketika mendengar kata mesra dari mulut denish. Zea sedikit terpukau dengan semua rayuan gombal yang dilontarkan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


" Eh...hem."


Zea mendorong tubuh suaminya begitu saja ketika sadar dari lamunan dan juga karena sebuah suara kecil bibi ha.


"Ada apa? Kau tidak merindukan ku?"


Melihat reaksi bibi ha yang sedikit terkejut dengan sikapnya, zea lalu mendekat dan berbisik pelan pada denish meskipun terdengar juga ke telinga bibi ha.


"Sayang, malu ada bibi disini."


Kesempatan yang diberikan zea tak disia- siakan oleh denish, dengan sigap menggendong zea dalam bilah dadanya.


"Aaa... ."


Zea berteriak spontan atas apa yang dilakukan denish.


"Sayang... ."


Puk..., puk..., puk.


"Bibi, tolong bawa makanan nya ke kamar!"


" Baik, tuan."


Bibi ha membungkuk tersenyum melihat kemesraan antara tuan mudanya dengan nyonya muda istrinya.


Zea hanya mampu menyembunyikan wajahnya dibalik bilah kekar dada denish tersungut malu dengan sikapnya, tak menyadari kalau mereka sudah sampai di kamar mereka.


"Kau menginginkan pelukanku, sayang?"


"Tidak. Turunkan aku!"


Menyadari ejekan denish dengan senyum simpulnya membuat zea menjadi kesal. Semula ia tengah membayangkan terbang tinggi ke langit angkasa mendapat perhatian dan sikap romantis denish, ternyata masih ada ejekan dari mulut pedas denish.

__ADS_1


Zea mencoba meronta meminta diturunkan meskipun akhirnya denish melemparnya ke ranjang milik mereka.


"Ih..., dasar tak punya perasaan."


"Baru saja bersikap romantis, sudah seperti serigala berbulu domba."


Gumam zea bernafas kasar setelah mendapat perlakuan mengejutkan denish. Denish yang mendengar gumaman istrinya ketika berlalu meninggalkan nya, kembali menghampiri zea yang mengerucutkan bibirnya mencoba bangun dari tempat tidur.


"Ah..., aaa."


Lagi- lagi zea dibuat terkejut dengan sikap denish yang tiba- tiba sudah berada di atas tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan!"


"Bukankah baru saja kau mengatakan untuk bersikap romantis?"


Ucap denish mengedipkan salah satu matanya. Zea tercengang mendengar ucapan denish menatap pria yang berada di atasnya itu tak berkedip sama sekali.


"Hah..., payah. Jadi dia mendengar ucapanku."


Gumam zea dalam hatinya.


Denish menatap manik mata coklat yang dimiliki zea yang tak bereaksi dengan kekangannya memanfaatkan sedikit kesempatan itu mencium bibir ranum warna peach yang dimiliki zea.


Zea sadar dari lamunan nya mencoba mendorong tubuh denish, namun sia- sia saja pria kekar itu tak mudah dikalahkan dengan tenaganya.


Denish mengakhiri ciunan itu dengan sebuah gigitan kecil saat mendengar bunyi ketukan pintu dari luar kamarnya.


Tok... tok... tok...


"Masuk, bi!"


"Terima kasih cicilan nya, sayang."


Bisik denish tepat ditelinga zea.


Gumam zea merasa sedikit kesal dengan sikap denish mengusap bibirnya yang sedikit memerah karena gigitan nya.


"Apa kau ingin melunasinya?"


Ucap denish tersenyum mengedipkan sebelah matanya.


"Kau... , awas kau!!"


Melihat bibi ha yang telah masuk dengan troly makan yang ada di depan nya, zea mengurungkan niatnya beradu mulut dengan nya. Yah, beginilah hidup penuh dengan sandiwara yang membuat zea merasa muak mengikuti semua skenario yang ditulis sutradara. Setelah belasan tahun menjalani kehidupan penuh dengan kebohongan dan juga tipu daya dengan ibu angkatnya.


"Nyonya membutuhkan sesuatu? Atau ada yang kurang dari hidangan ini?"


" Tidak, bibi ha. Terima kasih banyak."


Zea tersenyum pada bibi ha yang sangat perhatian padanya.


"Kalau begitu bibi permisi, nyonya."


"Baiklah, bi. Terima kasih sekali lagi."


"Sama- sama, nyonya muda. Sudah sepantasnya bibi melayani nyonya dengan baik."


Zea hanya tersenyum pada bibi ha yang membungkukkan badan nya menghirnati tuan nya. Wanita paruh baya itu, yang telah bekerja sangat lama di kediaman keluarga angkasa mempunyai tingkat sopan santun yang tinggi.


Menunggu suaminya yang saat ini tengah mandi sangat menjenuhkan, zea memilih berbaring disofa melihat layar televisi didepan nya. Entah keberuntungan apa yang menghampirinya menjadi nyonya muda atau lebih tepatnya menjadi istri dari ceo terkenal di seluruh penjuru kota itu.


Mata zea terpejam setelah lama menunggu yang empunya tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Denish rupanya tengah berada di ruang kerjanya melalui pintu rahasia yang ada dibalik lemari wardrobe kamarnya.

__ADS_1


"Katakan, bi!! Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?"


Ucap denish ketika melihat bibi ha masuk ke ruang kerjanya.


"Tuan, sebaiknya berhati- hati dengan nona raina apalagi nyonya muda."


"Raina? Maksud bibi?"


"Gadis itu bukan gadis sembarangan, tuan. Hampir saja nyawa nyonya muda melayang jika saya tidak cepat mengganti salad yang diberikannya pada nyonya."


Denish mengerutkan dahinya mendengar penjelasan bibi ha.


"Salah seorang pelayan dapur menyimpan salad dan memakan nya, akibatnya pelayan itu mengeluh kesakitan dibagian perutnya."


"Sepertinya gadis itu sengaja menggunakan obat aborsi dosis tinggi, tuan."


"Aku mengerti, bi. Dia adalah seorang dokter di salah satu klinik ilegal yang saat ini dibekukan."


Ucap denish.


"Tolong jaga zea baik- baik, bi! Aku sangat menyukainya."


Ucap denish kembali melanjutkan perkataan nya berdiri lalu duduk di sofa ruang tersebut.


"Seharusnya aku tidak membawanya pulang, terlalu berbahaya untuknya."


"Baik, tuan. Sesuai perintah tuan, bibi akan berusaha sekuat tenaga."


Bibi ha mengerti apa yang dirasakan tuan mudanya.


''Sebaiknya tuan lebih mewasdai gadis itu, bibi permisi tuan."


"Denish mengerti, bi."


Bibi hamembungkukkan badan nya sebelum ia benar- benar keluar dari ruangan denish. Sementara denish mengepalkan kedua tangan nya, tersirat jelas di kedua bola mata denish sosok dingin kejam dan juga acuh pada hal lain kemarahan dan kebencian yang mendalam.


"Rupanya kau ingin bermain dengan ku tikus kecil."


"Aku akan membuatmu menyesal."


Denish masih terlena dengan kemarahan nya, melupakan makan malamnya.


"Lama sekali. Padahal cuma mandi."


Gumam zea setelah menutup kembali layar televisi.


"Denish...,denish."


Zea menggedor pintu kamar mandi.


Dok dok dok...


Dok dok dok...


Beberapa kali tak mendapat jawaban, zea memutuskan membuka pintu tersebut. Merasa ada sedikit kejanggalan.


"Eh..., kemana dia?"


"Kenapa tidak ada?"


"Apadia keluar kamar? Tidak, tidak mungkin. Aku melihat jelas dia ke arah kamar mandi."


Gumam zea.


"Aaaaa... ."

__ADS_1


Bersambung🙏😊


__ADS_2