Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Mengenal isi rumah


__ADS_3

Tok tok tok...


" Nyonya, apa sarapan nya sudah selesai?"


"Sudah, bi. Terima kasih, lezat sekali hidangan nya."


Ucap zea yang selesai merapikan piring kotor, hingga membuat bibi ha tercengang. Meskipun telah menjadi nyonya keluarga angkasa, zea sangat mandiri.


"Apa yang nyonya lakukan? Biar bibi yang membereskan nya nyonya."


"Tidak apa- apa, bi. Hanya pekerjaan kecil saja."


Jawaban yang sungguh sederhana tapi sangat bermakna bagi bibi ha.


" Nyonya muda seperti nyonya devi, nyonya pasti bahagia di atas sana."


Gumam bibi ha dalam hatinya.


"Bibi, apa zea boleh jalan- jalan?"


"Tentu, nyo.... nya. Bibi akan menemani nyonya."


Bibi ha lagi- lagi dibuat terkejut dengan cara berpakaian zea yang terlihat sederhana namun sangat elegant, apalagi make up natural menjadi perpaduan yang sangat sempurna.


Hingga membuat bibi ha sendiri sempat terperanga bahkan mencuri curi pandang pada zea.


"Ada apa bi? Apa bibi sedang sibuk? Zea akan berjalan sendiri jika mengganggu kesibukan bibi."


" Tidak, nyonya. Bibi tidak sibuk, lagipula banyak pelayan di rumah ini."


"Baiklah, jika memang tidak mengganggu bibi."


Zea tengah merapikan bajunya dan juga memakai sedikit perhiasan yang ada di meja rias. Zea sedikit melihat bibi ha yang tengah mencuri pandang terhadapnya, tak menegur maupun berkata apapun hanya tersenyum sendiri.


Tak berapa lama bibi ha mendorong troly yang berisi sisa sarapan zea ke luar kamar zea, menekan tombol intercom yang berada di samping kamar zea memanggil pelayan untuk membawanya ke dapur bawah.


Zea hanya mengikuti bibi dari belakang membiarkan bibi ha menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


"Mari nyonya, bibi akan tunjukkan setiap detil rumah ini."


"Terima kasih, bibi ha."


Bibi ha tercengang dengan ucapan terima kasih zea yang selama ini jarang di dengarnya setelah nyonya devi meninggal.


"Ada apa bi? Apa bibi melupakan sesuatu?"


Pertanyaan zea membuat bibi ha sedikit tercengang menyadarkan nya dari lamunan.


"Ah..., tidak nyonya. Hanya sedikit lupa memberitahu pelayan."


"Apa bibi sedang sibuk? Zea bisa jalan sendiri."


" Tidak, nyonya muda. Tuan muda menyuruh bibi menemani nyonya, bibi tak ingin mengecewakan tuan maupun nyonya besar."


" Nyonya besar?"


Zea menatap penuh penasaran, siapa yang yang dipanggil nyonya besar.


" Nyonya besar adalah nyonya salamah. Nenek dari tuan muda, nyonya muda."


" Oh..., nenek."


"Benar, nyonya muda."


"Kenapa bibi memanggil zea nyonya muda? Panggil zea saja! Zea agak kaku kalau dipanggil nyonya muda."


Ucap zea yang menyentuh tangan bibi ha dengan sigap menolaknya hingga membuat zea mengerutkan dahinya. Mata zea tercengang dengan sikap dan penolakan bibi ha.

__ADS_1


" Maaf, nyonya muda. Bibi tak seperti yang nyonya pikirkan, hanya tak pantas seorang bawahan seperti bibi."


"Bibi apa zea boleh baik pada bawahan? Zea manusia mereka juga manusia. Lagipula zea juga bukan orang dari kalangan atas, santai saja bi."


" Meskipun begitu tetap saja tidak boleh nyonya. Nyonya muda tidak boleh bersikap sembarangan apalagi dirumah ini."


" Bibi sama dengan mbok ijah."


"Mbok ijah? Apa saya boleh bertanya pada nyonya?"


"Tentu, bi. Apa yang ingin bibi tanyakan?"


" Apa mbok ijah mengatakan sesuatu tentang rumah ini?"


" Tentang rumah ini? Maksud bibi?"


" Maksud bibi?"


Zea mengerutkan dahinya tak mengerti apa maksud dari pertanyaan bibi ha.


"Bagaimana ini? Tidak mungkin aku bertanya tentang hal yang tidak wajar pada nyonya muda. Sama saja memberitahukannya."


Gumam bibi ha dakam hati yang diam membisu dengan pertanyaannya sendiri.


" Bibi..., bibi melamun? Zea tak mengerti apa yang bibi maksudkan? Tapi mbok ijah hanya bilang tentang nyonya devi yang sangat baik."


Ucap zea menyadarkan lamunan bibi ha.


"Ah... syukurlah."


Bibi ha sedikit lega mendengar perkataan zea kalau mbok ijah tak mengatakan sesuatu tentang rumah itu. Bibi ha sangat khawatir kalau zea akan meninggalkan rumah angkasa yang di kuasai segelintir orang.


"Maksud bibi? Rumah mewah ini ada hantu nya?"


" Ah..., tidak nyonya. Maksud bibi memang benar nyonya devi, mama tuan muda sangat baik."


Bibi ha menunjukkan setiap detil ruangan dan tempat- tempat yang ada dirumah mewah tersebut. Termasuk kamar-kamar yang ditempati setiap orang penghuni rumah tersebut.


Hingga saat berhenti di paviliun belakang, bibi ha mendapat telepon dari pelayan dapur tentang menu makanan yang akan disajikan untyk makan siang nanti.Terpaksa meninggalkan zea sejenak dan menyuruh zea untuk tidak pergi meninggalkan taman tersebut.


"Nyonya, bibi ada kepentingan sebentar. Apa nyonya bersedia menunggu beberapa menit atau nyonya ingin kembali ke kamar?"


Ucap bibi ha.


" Tidak, bi. Zea akan disini menunggu bibi dan juga menikmati udara taman sebentar."


" Baiklah, nyonya muda. Bibi akan menyuruh pelayan membawakan cemilan dan minuman untuk nyonya."


" Terima kasih, bi."


Bibi ha membungkukkan badannya unfur diri meninggalkan zea di sebuah taman dekat paviliun.


"Besar sekali rumah ini, sampai bingung dengan semua ruangannya."


Gumam zea.


Tak berapa lama zea duduk melihat kolam ikan di seberang berniat menghampiri kolam tersebut, namun terhenti ketika sebuah suara menghentikannya.


" Permisi, nyonya muda. Camilan dan juga minuman anda."


" Terima kasih."


Zea membalikkan badan nya tersenyum dengan seorang pelayan yang mengantarkan camilan dan minuman untuknya.


Zea menegak minuman setelah rasa dahaga hilang dari tenggorokannya. Zea kembali meletakkan gelas minumnya, kembali melangkahkan kakinya ke kolam ikan yang dari kejauhan terlihat ikan- ikan koi yang menyembul ke permukaan.


"Wah... banyak sekali ikan koi."

__ADS_1


" Kenapa tak ada makanan nya disini?"


" Sayang sekali."


Gumam zea.


"Maaf ya, zea tidak bawa makanan. Lain kali, zea akan membawa makanan untuk kalian."


"Pasti menyenangkan kalian bisa bebas berenang di kolam."


Zea terdiam saat sebuah suara teriakan datang dari arah paviliun mengagetkan zea hingga mengerutkan dahinya.


"Brengsek."


"Bodoh kalian."


" Kenapa bisa kecolongan?"


" Bagaimana mungkin kalian membiarkannya membawa gadis itu?"


"Dasar tidak berguna."


" Tidak becus."


"Aku tidak mau tahu, cari informasi sedetil mungkin tentang gadis itu."


Zea berjalan melepas sandal rumah yang dikenakannya, setengah berlari ke taman dimana minumannya berada disana. Zea tidak ingin terjadi masalah saat ia tak sengaja mendengarkan pembicaraan orang yang ada di paviliun tersebut. Suara yang dikenalnya, bahkan sedikit cemas dengan orang itu.


Dengan nafas setengah ngos- ngosan zea meraih gelas minum di meja bangku taman tersebut, meneguknya hingga habis. Mengatur nafas agar tidak tampak seperti tengah dilanda kecemasan.


"Siapa gadis yang kakek maksud?"


" Zea..., zea, kenapa harus mendengar semua ini?"


"Mendengar apa nyonya muda?"


"Hah...,bibi mengagetkan saja."


Zea menepuk dadanya sendiri terkejut mendengar suara bibi ha yang mengagetkannya.


" Maafkan bibi, nyonya. Telah mengagetkan nyonya muda. Tapi kalau boleh bibi tahu nyonya mendengar apa?"


Zea diam sejenak dengan pertanyaan bibi ha, yang jelas tidak mungkin zea mengatakan apa yang didengarnya.


" Tidak, bi. Suara ikan- ikan itu membuat zea tertarik menghampirinya hingga kemunculannya ke permukaan membuat zea agak terkejut."


Ucap zea menunjuk ikan- ikan yang ada di kolam ikan tak jauh dari sana menutupi yang sebenarnya.


" Oh... ikan- ikan itu memang sedikit nakal nyonya. Mari nyonya, bibi akan mengajak ke satu tempat yang sering di kunjungi mendiang nyonya devi."


" Terima kasih, bi."


" Bibi berharap nyonya muda tak mwndenhar teriakan umapatan tuan suryo."


Gumam bibi ha dalam hati.


"Maaf bi, zea tidak bisa bilang pada bibi. Zea tak ingin terjadi masalah, apalagi zea orang baru di rumah ini."


Gumam zea dalam hati.


Zea hanya menurut mengikuti arah bibi ha mengajaknya ke satu tempat yang mungkin agak jauh dari kamarnya.


"Silahkan, nyonya!"


"Wah..., bagus sekali."


" Ha... ."

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2