
Denish sangat memperhatikan nya bahkan membuat zea sedikit melembut juga merasakan getaran aneh dalam hatinya.
Zea tertidur terlelap memeluk denish yang entah sejak kapan? Yang di ingat, zea merasakan nyeri yang sangat hebat malam tadi ketika tak sengaja bertumpu pada kakinya.
"Kenapa aku bisa memeluk nya?"
Gumam zea dalam hati.
Zea tak lantas berpindah tempat namun menatap dalam- dalam wajah tenang denish yang menurutnya sangat menyejukkan dan juga memberi kehangatan padanya. Entah rasa apa yang ada di dalam hati zea hingga membuat detak jantungnya berdebar- debar.
"Apa aku mulai menyukainya?"
"Kenapa wajah mu sangat menyenangkan? Membuatku nyaman saat berada di dekat mu?"
"Hah..., aku tidak boleh berharap lebih padanya."
"Bagaimana kalau dia hanya memanfaatkan ku saja?"
"Mengambil manis nya lalu membuang nya? Entahlah?"
''Meskipun hati ku terasa nyaman tapi kemungkinan buruk selalu ada."
"Aku tak boleh mempercayainya begitu saja."
Gumam zea dalam hati. Zea terlarut dalam lamunan nya tak menyadari sepasang mata tengah menatap nya.
" Memikirkan apa?"
Zea tersentak kaget saat mendengar suara denish, menatap sang suami lalu menarik jari tangan yang ada di atas hidung denish.
Namun tangan zea kalah cepat dengan tangan denish menangkap jari tangan nya lalu mencium jari tersebut. Zea tercengang dengan apa yang dilakukan denish padanya.
"Mengagumi ketampanan suami mu?"
"Cih..., percaya diri sekali."
Gumam zea lirih namun terdengar oleh
"Tentu saja, bukankah kenyataan nya begitu?"
Ucwp denish yang berulang kali mencium tangan istrinya.
"Dasar sok ganteng."
Gumam zea lirih menoleh ke arah samping.
"Bukan kah aku memang ganteng dan tampan?"
" Ya..., ya..., ya..., kau memang tampan."
Mengalah akan lebih baik untuk zea daripada terus berdebat yang tak kunjung akhirnya akan menguntungkan musuhnya.
Ketika zea hendak beranjak dari tempat tidur, sedangkan denish tersenyum devil meletakkan salah satu tangan nya dibawah kepala nya tanpa menyadari kalau istrinya tengah berusaha turun dari tempat tidur.
"Aaaaaa...., sakit."
Teriakan zea membuat lamunan denish buyar bahkan terkejut mendengar suara teriakan zea.
"Sayang, kau tidak apa- apa?"
"Sakit."
Denish mengangkat zea yang hendak turun kembali ke atas tempat tidur.
"Sepertinya kita harus ke rumah sakit. Aku tak ingin melihat mu kesakitan lagi."
Ucap denish.
"Hah..., tidak. Sebentar lagi juga sembuh."
"Belum tentu jika kau terus menerus kesakitan seperti ini."
"Ya baiklah."
__ADS_1
Ucap zea mengalah.
"Aku ingin ke kamar mandi."
" Aku akan membantumu."
Denish dengan sigap menggendong zea sampai di kamar mandi, denish tak lantas pergi dari kamar mandi bahkan terlihat santai membersihkan diri di samping zea yang terperanga dengan keberadaan nya.
Sadar tengah diperhatikan, denish menoleh pada zea yang tak berkedip menatapnya.
"Kenapa? Ada yang salah?"
Ucap denish setelah menggosok bagian giginya.
"Kenapa disini? Bagaimana aku akan mandi?"
"Mandi saja."
Ucap denish dengan santai nya.
"Memangnya kenapa? Aku suami mu."
Zea hanya mampu menahan nafasnya ketika denish selalu menyebutkan kata- kata yang tak bisa ditolak maupun dilawan olehnya.
Dan lagi- lagi zea harus mengalah dengan perdebatan tersebut.
"Huf..., mau sampai kapan orang ini mengaku suami?"
Gumam zea lirih.
"Apaa...., mengaku?"
Denish menoleh ke arah zea yang tengah duduk di closet cemberut bergumam sesuka hatinya.
"Kau kan memang istriku, bagaimana kau bisa bilang aku mengaku- ngaku?"
Ucap denish setelah berkumur sehabis menggosok giginya.
"Hah..., berapa kali aku katakan? Apa pun yang terjadi kau adalah istriku, meskipun kau menolak pun tak mengubah apapun. Kau tetap istriku."
Ucap denish mengedipkan sebelah matanya, berjalan menuju shower lalu menyalakan air shower.
"Aaaa."
Zea menutup kedua matanya ketika denish membuka kaos yang dipakainya.
"Kenapa?"
"Kenapa buka baju disini?"
"Kalau tidak buka baju disini, dimana? Aku ingin mandi."
"Hah..., setidaknya biarkan aku mandi dulu atau kau bisa mandi terlebih dahulu."
Ucap zea yang masih menutup kedua matanya dengan kedua tangan nya. Denish tak menjawab tetapi tersenyum devil melihat ke arah zea yang masih menutup kedua matanya.
"Cepatlah! Aku tidak ingin mengotori mata suciku."
Gumam zea sedikit kesal.
"Tidak apa- apa, hanya sedikit. Bahkan seluruh bagian tubuh ini adalah milikmu."
Zea semakin geram dengan perkataan denish yang sengaja menggodanya.
"Ih."
Tanpa basa basi denish yang telah basah air shower meraih pinggang zea menariknya masuk ke dalam ruang shower yang tepat berada disebelah closet dimana zea duduk disana.
"Aaa..., aaaa."
"Ssts..., kau ingin se isi rumah mendengar teriakan mu? Dan berpikir kita sedang melakukan sesuatu?"
Dengan cepat zea menutup mulutnya dengan kedua tangan nya dan juga menggeleng menatap denish yang saat ini memegang pinggang nya di bawah guyuran air shower.
__ADS_1
Kesempatan yang bagus dan tidak disia- siakan denish memadu kasih dengan nya meskipun belum mendapat kepercayaan sepenuhnya dari hati zea, tapi denish yakin sang istri mulai membuka hati padanya.
Mulut mungkin berkata lain, tapi tubuh zea merespon setiap sentuhan dan belaian denish. Apalagi gerak reflek kedua tangan zea yang mengalung ke leher denish, membalas ciuman panas yang sengaja diberikan denish.
Kedua tangan denish bergerak cepat membelai tubuh mulus zea, menyelinap dibalik baju tidur yang dikenakan zea memberikan sensasi yang berbeda padanya.
Deru nafas zea tersengal- sengal setelah ciuman itu dilepaskan denish, tak sampai disana saja bahkan denish semakin berani bermain- main dengan gundukan kenyal dibalik baju zea yang telah basah hingga yang empunya mengeluarkan suara ******* syeitan yang sangat disukai kaum lelaki.
Mode on off yang dirasakan zea seakan memberi lampu hijau pada denish ketika jari jemari menyentuh area sensitif zea.
"Stop!!"
Teriakan zea tak mendapt respon dari denish yang tengah asyik bermain dengan kedua squisy zea.
"Stop!! Aku tidak tahan."
Senyum devil tersirat diwajah denish yang melepaskan permainan nya, mengecup bibir mungil miliknya lalu berlalu mengambil bathrobe dn meninggalkan zea dalam guyuran air shower.
Mata zea seketika tercengang tak percaya ketika denish meninggalkan nya sendiri di ruang shower.
Zea hampir pingsan dengan sikap denish yang semula akan menyentuh lebih dari itu, nyatanya hanta bermain setengah jalan.
"Aku tak percaya laki- laki itu hanya mempermainkan ku."
"Hem...., zea...., zea...., mungkin hanya kau yang berharap lebih."
"Dan kenapa aku begitu mudahnya terpedaya tipu muslihatnya?"
"Mungkin hanya aku yang menginginkan nya."
"Tidak sayang, aku pun juga."
Zea tercengang ketika tiba- tiba denish muncul dibalik pintu menjawab ocehan nya, setelah itu pergi saat zea menoleh ke arah pintu, juga sempat mengedipkan sebelah matanya.
Zea semakin tercengang dengan sikap denish bahkan jawaban dari ocehan nya.
Deg deg....
Deg deg....
Zea meraba bagian dadanya merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Entah getaran apa yang dirasakan nya hingga seperti pacuan kuda yang tak beraturan.
"Apaa...., apa aku tidak salah dengar?"
Seperti ketiban durian runtuh senyum zea mengembang merasa sangat bahagia. Entah sejak kapan gadis itu mulai mengharap perhatian suaminya, bahkan terbesit dalam hati memiliki seutuhnya.
Dengan tertatih- tatih zea keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe, berjalan mencari baju ganti membawanya ke atas ranjang. Zea merasa tak cukup mampu berdiri terlalu lama untuk memakai bajunya.
Menoleh ke sekeliling ruangan tak memperlihatkan keberadaan denish, zea merasa lega. Zea memilih duduk di depan meja rias, mengeringkan rambut nya yang tidak terlalu panjang dengan hair dryer.
Entah apa yang ada dalam pikiran zea hingga ia tersenyum saat mengeringkan rambutnya dengan kedua mata yang terpejam.
"Memikirkan apa sampai tersenyum sendiri?"
Zea terkejut membuka mata nya ketika menatap ke arah cermin, denish memeluk nya dari belakang dagu bersandar pada bahu zea.
"Sejak kapan dia ada disini?"
Gumam zea dalam hati.
"Tidak ada."
"Tidak ada? Kenapa tersenyum sendiri?"
"Memang nya tidak boleh?"
"Boleh."
Denish sengaja bermain main di leher jenjang zea hingga yang empunya memejamkan mata , salah satu tangan zea beroegangan pada kursi yang didudukinya.
"Eughh... ."
Bersambung🙏🙃
__ADS_1