Terjerat Cinta Penguasa

Terjerat Cinta Penguasa
Ketakukan zea.


__ADS_3

Zea tampak gemetar setelah sampai di depan ruang rontgen , sementara nico mendaftar sesuai dengan surat rekomendasi dari dokter radit.


Sesekali nico melihat zea dari kejauhan yang tampak khawatir , ingin rasanya menghampiri zea segera namun pendaftaran administrasi belum selesai.


Selang beberapa menit nico berjalan menghampirinya tampat jelas raut wajah mimik zea yang terlihat khawatir dan takut.


" Minumlah !"


Zea mengambil botol air meneral yang di bawa nico , lumayan menghilangkan sedikit kegugupan zea.


Beberapa orang yang ikut antri membuat zea harus menunggu sedikit lama . Meskipun zea tampak khawatir dengan kemungkinan buruk yang terjadi padanya namun zea tahu semua adalah takdir yang harus ia jalani.


Bukan tentang apa yang terjadi padanya namun ibunya yang terbaring lemah di ruang icu membutuhkan banyak biaya yang kini menghantui pikiran zea.


" Zeavelia."


" I,,, i,,,iya."


Rasa gugup tampak jelas dari suara jawaban zea .


Nico duduk di depan kursi roda nya memegang kedua tangannya sangat erat .


" Tenanglah ! Aku ada disini untukkmu ."


Ucap nico .


" Tak akan terjadi sesuatu denganmu ."


Zea setidaknya bernafas lega dengan ucapan nico yang begitu tulus pada nya .


Sejauh ini tak ada cowok yang mendekatinya setelah mengetahui tentang kisah hidupnya.


Zea sedikit tersenyum menganggukkan kepalanya , lalu nico membantunya ke ruang rontgen .


Beberapa saat setelah selesai mereka menunggu hasilnya di ruang tunggu sesekali zea tersenyum membalas pesan masuk dari mely maupun tina .


Tak banyak yang tahu tentang zea , selama ini memang zea membatasi pergaulannya karena kondisi keluarganya . Zea enggan berdekatan dengan siapa pun , di jaman sekarang sudah sangat hafal mereka hanya memanfaatkan kesempatan saja.


" Zeavelia."


" Ya,,,."


Sebuah panggilan dari perawat dan juga jawaban zea memaksa nico bangun dari tempat duduknya lalu mengambil hasil rontgen tersebut.


Nico memberikannya pada zea lalu mendorong kusi roda zea kembali ke ruang praktek dokter radit.


Entah mengapa zea merasa nyaman dengan kehadiran nico yang menegarkan hatinya untuk lebih kuat lagi.


Lagi lagi mereka harus menunggu , dokter radit sedang memeriksa pasien lain.


Namun penantian itu tak membuat mereka menunggu lama karena sudah tak ada pasien , nico membawa hasil rontgen memberikannya pada suster jaga .


Tak berapa lama suster menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan dokter radit.


" Nona zeavelia silahkan masuk !"


Salah seorang suster jaga memanggil zea untuk masuk dalam ruangan .


" Terima kasih , suster."


Suster hanya tersenyum tanda mengiyakan perkataan zea.

__ADS_1


Dengan di dorong oleh nico , zea kembali ke ruang praktek dokter radit.


" Silahkan !"


Ucap dokter radit yang mengetahui nico datang bersama zea.


" Menurut hasil rontgen ini , nona tak ada patah tulang pada pergelangan kaki . Jadi rasa nyeri itu hanya keseleo saja."


" Saya akan memberikan resep pereda nyeri dan antibiotik untuk menghilangkan rasa nyeri yang ada."


Penjelasan dokter radit setidaknya bisa membuat zea tenang , meskipun harus cuti beberapa hari tapi masih bisa bekerja.


" Terima kasih ,dokter."


" Sebaiknya untuk beberapa hari ke depan hindari pekerjaan yang terlalu berat."


" Baik ,dokter."


" Baiklah , Ini resep yang harus kalian ambil di apotek. Semoga cepat sembuh ."


" Terima kasih , dokter. Kami permisi dulu ."


Ucap zea tersenyum berpamitan pada dokter radit.


" Terima kasih banyak ,bro."


Ucap nico mengepalkan tangannya bersentuhan dengan dokter radit yang melakukan hal yang sama. Seperti salam yang di berikan antara sesama anggota geng ketika bertemu maupun berpisah.


" Kau banyak perubahan."


Bisik dokter radit pada nico yang dijawab dengan satu senyuman yang belum pernah zea lihat sama sekali selama satu jurusan dengannya .


Zea hanya diam menatap kedua nya berbisik yang entah apa yang mereka bicarakan.


Bisik nico pada dokter radit namun dokter radit hanya memberi isyarat pada tangannya setelah melihat pasien lain masuk ke dalam ruang prakteknya ketika nico dan zea berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Nico mendorong kursi roda zea menuju kantin , mengisi perut sejenak meskipun mungkin zea tak ingin makan sekalipun setelah menebus obat di apotik.


" Kenapa kesini ?"


Zea mendongakkan kepala nya menatap nico.


" Kau butuh asupan gizi."


" Aku tidak lapar ."


Benar saja apa yang di pikirkan nico , zea pasti menolak nya meskipun hanya sedikit .


" Tapi aku lapar , setengah hari mendorongmu ."


Nico memang sengaja berkata demikan untuk mengalahkan ego zea yang keras kepala pada dirinya sendiri.


" Kalau begitu kau saja yang ke kantin."


" Tidak ada penolakan atau kita akan pulang sekarang tanpa menjenguk ibumu ."


Zea tak menyangka akan mendapat ancaman seperti itu bahkan tentang ibunya.


" Kalau begitu pulang saja ! Aku bisa pulang sendiri ."


Perkataan zea sedikit membuat nico geram namun tak menyurutkan niatnya pergi ke kantin .

__ADS_1


Banyak cara membuat gadis itu mengerti jika yang dilakukannya untuk kebaikannya .


" Setelah kita makan , okay."


Sia sia saja menolak permintaan nico , zea hanya ingin menengok ibunya meskipun hanya bisa melihat dari balik pintu kaca.


Di kantin nico memesan makanan bahkan makanan kesukaan zea dan juga sedikit cemilan pendamping makanan yang di pesan.


" Dari mana tahu makanan kesukaanku ?"


Zea terperanga melihat apa yang ada di depannya.


" Makan ! Setelah itu kita akan menengok ibumu sebentar lalu pulang."


Cowok dingin yang ada di depannya mulai bersikap dingin bahkan kadang zea tak mengerti dengan perubahan sikapnya yang cepat sekali berubah.


Zea hanya tahu dibalik semua sikapnya sebenarnya nico adalah pribadi yang lembut.


" Sampai kapan kau akan terus memandangi makanan itu ?"


Zea tersadar dari lamunannya , dengan sangat berat mengambil sendok makan mulai memakannya.


"Mau ku suapi ?"


Sekali lagi ucapan nico berhasil membuatnya ternganga.


" Aaak,,,,."


" Ti,,,,ti,,,tidak."


Nico tersenyum berhasil membuat si jutek semakin mengerucutkan bibirnya.


" Apa apain sih malu malu in ."


Gumam zea lirih meskipun terdengar oleh nico namun nico tak memperdulikan celotehan zea.


Kenyang dengan perutnya telah terisi , nico mendorong kursi roda zea ke ruang icu dimana ibu zea dirawat.


Tampak dari kejauhan tante ira duduk di depan ruang icu , zea tampak khawatir melihat tante ira yang mengusap airmata di sudut pipi nya.


" Tante ira , apa terjadi sesuatu dengan ibu ?"


Gumam zea lirih .


Tak sadar zea bersama siapa , zea mencoba untuk berdiri namun sebuah tangan memegang erat bahu nya tanda untuk tetap duduk .


Zea sadar dari lamuanan nya , mendongakkan kepalanya menatap wajah nico . Terlintas di benaknya tentang keberdaannya , bagaimana jika ia bicara macam macam dengan tante ira ?


" Aduh, bagaimana ini ? Apa yang akan dikatakan tante ira ? "


Gumam zea dalam hatinya.


" Menolaknya sangat tidak mungkin , cowok pemaksa ini pasti akan berbuat apapun ."


" Hah,,, aku harus bilang apa ? Bagaimana jika ia bilang pacarku ?"


" Aduh ,,, mati aku ."


" Apa yang harus ku lakukan ?"


Masih terbang ke alam lamunan nya , zea pun tak menyangka akan bertemu tante ira di rumah sakit.

__ADS_1


" Zea,,,,."


Bersambung 😊🙏


__ADS_2